Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 29


__ADS_3

Lagi-lagi Ghevin yang mengatakan pada Mama dan Papanya soal hubungan Melly dengan Miko. Kali ini dia menyampaikan Melly sudah putus dengan Miko. Mereka memang sempat heran karena Miko tidak lagi mengantar-jemputnya. Dengan penjelasan Ghevin, akhirnya mereka mendapatkan jawaban.


Tapi Ghevin tetap tidak bisa mengantar-jemput Melly sekolah karena Tristan pasti masih memata-matai Melly. Jadi, untuk sementara Melly meminta Rani yang melakukannya. Untung saja Mama dan Papanya tidak menanyakan alasannya. Mungkin mereka menganggap Melly sedang sangat membutuhkan teman karena baru patah hati.


Tentu saja Rani dengan senang hati menerima tugas itu. Kesempatannya untuk bertemu Ghevin akan menjadi lebih besar, dan itu membuatnya bersemangat. Dia bahkan meminta Melly untuk tetap memberikan tugas itu padanya meski Tristan tidak lagi memata-matainya.


Pagi itu, Melly tetap di meja makan bersama Papanya sementara Mamanya membukakan pintu gerbang untuk Ghevin. Tidak lama Mamanya masuk dan memberitahu Melly bahwa Rani sudah menunggunya di luar. Melly segera pamit pada Mama dan Papanya, kemudian berjalan keluar untuk menyambut Rani.


Rani sama sekali tidak menoleh ke arah Melly, bahkan ketika Melly sudah berdiri di sebelahnya. Tatapannya terpaku pada mobil Ghevin. Rupanya Ghevin belum berangkat. Dia malah keluar dari mobil dan menghampiri mereka.


"Hai, Rani," sapa Ghevin pada Rani.


"Hai, Kak Ghevin," balas Rani lengkap dengan senyum memuja.


"Maaf ya, lo jadi harus repot nganter-jemput Melly," kata Ghevin. Tangannya dengan iseng mengacak-acak rambut Melly. Melly menggerutu sambil berusaha merapikan kembali rambutnya.


"Nggak apa-apa," tanggap Rani. Senyum masih memenuhi wajahnya. "Gue nggak keberatan kok. Malah gue seneng bisa ngebantu Melly."


"Lo emang yang terbaik," puji Ghevin. Sebelum berbalik, dia berkata, "Hati-hati, ya!" sambil lagi-lagi mengacak-acak rambut Melly.


Sementara Melly ditinggal Ghevin dengan perasaan gondok luar biasa, Rani malah terlihat berbinar-binar seolah baru menang lotre. Melly harus menahannya agar tidak berjingkrak-jingkrak setelah mobil Ghevin melaju.


"Ran, dia masih bisa ngelihat lo dari kaca spion, tahu." Melly memperingatkannya.

__ADS_1


Rani tampak tidak peduli. Dia malah memeluk Melly. "Lo denger nggak, Mell?!" serunya girang. "Dia bilang gue yang terbaik."


Dengan susah payah Melly berusaha melepaskan diri dari pelukan Rani. "Iya, gue denger," sahut Melly. "Emang lo kira gue budek apa?"


"Ya ampun, Mell," kata Rani. "Gue senang banget!"


"Gue tahu," tanggap Melly. "Mendingan kita berangkat sekarang daripada ntar telat."


Melly memaksa Rani untuk segera naik ke motor. Perasaan senangnya terus bertahan hingga mereka tiba di sekolah. Setelah memarkir motor, mereka berjalan memasuki pintu gerbang sekolah


Betapa terkejutnya Melly ketika melihat Tristan sedang duduk di bangku panjang yang biasa didudukinya jika sedang menunggu Melly. Dia berdiri begitu menyadari kehadiran Melly dan langsung menghampirinya.


"Bukannya hukuman gue udah selesai?" tanya Melly begitu dia tiba di dekatnya.


Melly tidak langsung mencerna kata-kata Tristan. Bagi Melly sangat aneh dia mau mengantarnya ke kelas, bukan seperti biasa menyuruh Melly membawakan tasnya.


"Ayo!" ajak Tristan, ketika dilihatnya Melly tidak juga berjalan.


Melly melirik Rani dan kelihatannya dia pun merasa aneh. Tapi ketika melihat Tristan sudah melangkah, mereka pun memutuskan untuk mengikutinya.


Tristan benar-benar mengantar Melly ke kelas, tepatnya ke depan pintu kelas. Melly dan Rani tidak langsung masuk karena dia mulai berbicara.


"Meskipun sekarang hukuman lo udah selesai, gue mau lo tetep ke kantin kayak biasanya," kata Tristan. "Gue nggak akan nyuruh lo buat beliin makanan lagi, tapi gue mau ngajak lo makan bareng."

__ADS_1


"T-tapi..." Melly kembali melirik Rani. Meskipun senang dengan ajakan Tristan, dia tidak ingin meninggalkan Rani sendirian lagi pada jam istirahat.


"Lo boleh ajak dia juga kok," kata Tristan. Dia menoleh pada Rani dan bertanya, "Lo Rani Adellia Lynn, kan?"


Rani terlihat terkejut karena Tristan tahu namanya. "Iya, saya Rani Adellia Lynn, Kak," jawabnya.


"Ntar lo ikut Melly ke kantin juga ya," undang Tristan. "Kita makan bareng-bareng di sana."


Tanpa berpikir panjang Rani langsung mengangguk. "Iya, Kak," katanya. "Ntar saya ikut Melly dateng ke kantin deh."


Tristan tampak puas mendengarnya. Dia bahkan tidak membutuhkan jawaban Melly lagi dan langsung berjalan pergi. Melly tidak percaya dia masih mau bersamanya meskipun hukumannya sudah berakhir.


"Kayaknya ada yang perasaannya berbalas nih," komentar Rani.


Melly langsung menoleh padanya. "Kenapa lo bisa ngomong begitu?" tanyanya.


"Astaga, Melly!" seru Rani putus asa. "Apa lo masih belom sadar juga? Jelas dia suka sama lo, buktinya dia tetap nyuruh lo ke kantin. Tujuannya, biar dia bisa deket terus sama lo."


Tristan seakan membuktikan kata-kata Rani ketika mereka berada di kantin. Saat itu Rani sedang membelikan Melly makanan, sementara Melly tetap duduk bersama Tristan. Beberapa teman Tristan memprotes karena Melly tidak lagi melayani mereka, tapi cukup dengan satu lirikan maut dari Tristan, mereka langsung mingkem.


🍎Bersambung🍎


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.

__ADS_1


__ADS_2