Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 54


__ADS_3

Tristan tampak terkejut dengan sikap yang ditunjukan Melly padanya dan juga anggota gengnya. Tapi Tristan tetap bersikap tenang. Dia tahu Melly sedang berusaha melindungi Ghevin, seperti Ghevin dan Miko yang juga berusaha melindungi Melly dari gangguannya.


"Sebenernya tanpa lo minta pun, gue udah berniat memperbaiki hubungan gue dengan Melly," kata Tristan pada Ghevin. "Dan sepertinya sekaranglah waktu yang tepat."


Perlahan Melly melepaskan pelukannya dari Ghevin ketika menyadari Tristan tidak berniat untuk menyerangnya.


Tristan berpaling pada Melly. Dia menatap Melly sambil tersenyum. Awalnya Melly ragu, tapi akhirnya dia membalas senyum Tristan. Betapa Melly sangat merindukan senyumnya...


Di sebelah Melly, Ghevin mendengus. Melly pun langsung menoleh padanya. Ghevin menatap Melly dan Tristan secara bergantian dengan ekspresi tersiksa.


"Bisa gila gue kalo begini caranya," sungut Ghevin, dan setelah itu, dia langsung membalikkan badan dan berjalan pergi tanpa pamit lagi.


Dengan perginya Ghevin, kini semua mata terfokus pada Melly. Melly berdiri dengan salah tingkah, sementara Tristan juga masih menatapnya. Melly ingin sekali bicara padanya, tapi ada yang harus dia selesaikan dengan Ghevin terlebih dahulu.


"Mmm... kamu bisa tunggu aku sebentar?" tanya Melly. "Aku nggak bisa membiarkan Ghevin pergi begitu aja."


"Tentu," sahut Tristan.


Untuk lebih meyakinkan Tristan agar mau menunggu, Melly berkata, "Aku akan segera kembali."

__ADS_1


Tristan mengangguk. Melly pun segera berlari menyusul Ghevin. Dari suara-suara yang mengiringi kepergiannya, sepertinya orang-orang mulai membubarkan diri.


Ghevin berjalan cepat sekali. Melly menangkap sosoknya sudah hampir sampai ke pintu gerbang. Ketika Melly memanggilnya, Ghevin berhenti dan menoleh ke arahnya.


Hal pertama yang Melly lakukan, begitu dia tiba di hadapan Ghevin, adalah langsung memeluknya tanpa memberinya kesempatan untuk bicara. Ghevin memprotes dan berusaha melepaskan diri dari Melly, tapi Melly tidak membiarkannya.


Karena akhir-akhir ini Melly sedang cengeng, tidak mengherankan jika air matanya kembali mengalir. Ghevin pun langsung berhenti memberontak begitu menyadari Melly menangis.


"Gue mau minta maaf sama lo, Ghev," kata Melly sambil terisak. "Gue udah ngatain lo macem-macem. Waktu itu gue lagi marah banget, jadi gue sembarangan ngomong."


"Tapi yang lo bilang ada benernya kok," kata Ghevin. "Gue emang pengecut. Gue udah pake HP lo untuk mancing Tristan dateng sendirian, tapi tetep aja, gue nggak berani menghadapinya satu lawan satu. Gue malah ngajak anggota geng gue untuk ngeroyok dia."


"Sebenernya gue melakukan itu bukan untuk membuktikan apa-apa," kilah Ghevin. "Gue cuma nggak pengen ngelihat lo sedih terus."


Tangisan Melly semakin menjadi-jadi mendengarnya. Dia berusaha menguasai diri sementara air matanya terus berjatuhan membasahi baju Ghevin.


"Lo emang kakak yang baik, Ghev," puji Melly. "Lo sangat perhatian, dan selalu menjaga gue dari hal-hal yang mungkin bisa melukai gue. Gue-nya aja yang nggak sadar dan malah mengira lo mau mengekang gue. Gue bahkan bilang kalo gue benci lo. Itu nggak benar. Gue nyesel udah bilang begitu. Lo harus tahu, Ghev, gue sayaaaaaang banget sama lo."


Ghevin melepaskan pelukan dan langsung mengusap air mata Melly. "Kalo lo emang benar sayang sama gue, berarti lo nggak boleh nangis lagi," katanya. "Udah nggak kehitung berapa kali gue lewat depan kamar lo dan denger lo lagi nangis. Terus terang, gue jadi tertekan karena itu."

__ADS_1


Ghevin pasti begitu tertekan sampai-sampai dia rela memohon pada Tristan. Untuk membuat perasaan Ghevin lebih baik, Melly pun menunjukkan cengirannya yang paling lebar pada Ghevin.


Ghevin berjengit. "Kenapa tiba-tiba lo nyengir begitu?"


"Kan lo bilang gue nggak boleh nangis lagi," sahut Melly.


"Ya tapi nggak perlu nyengir kayak gitu juga kali," sungut Ghevin. Dia bersiap untuk melanjutkan langkahnya. "Gue mau pulang. Lo mau sekalian ngikut, nggak?"


"Lo duluan aja," kata Melly. "Gue mau ngomong dulu sama Tristan."


Mendengar itu, Ghevin pun menggeleng-geleng sambil mendesah. "Entah kapan gue bisa membiasakan diri ngelihat lo sama Tristan," keluhnya. "Asal lo tahu ya, gue belum bisa sepenuhnya merestui hubungan kalian."


"Nggak apa-apa," tanggap Melly. "Pelan-pelan aja." Lalu Melly menggandeng tangan Ghevin. "Ayo, gue anter lo nyampe ke mobil."


Mereka pun kemudian berjalan bersama-sama. Meskipun Ghevin berulang kali berusaha melepaskan tangannya dari gandengan Melly, tapi Melly tetap menggandengnya. Melly ingin menunjukkan ke semua orang, betapa sayangnya dia pada kakaknya.


🍨Bersambung🍨


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.

__ADS_1


__ADS_2