Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 24


__ADS_3

Keesokan paginya, Miko masih mengantar Melly ke sekolah, tapi mereka hanya bicara seperlunya. Melly masih sempat membawakan tas milik Tristan sebelum dia masuk ke kelas. Untungnya Rani sudah datang. Melly pun langsung mengeluarkan seluruh unek-uneknya pada Rani.


"Gue sih nggak heran denger Kak Miko suka sama lo," kata Rani. "Gue udah menduganya dari dulu. Walaupun gue jarang ketemu dia, gue bisa ngelihat ada cinta di matanya setiap kali dia memandang lo."


"Kok lo nggak bilang sama gue?" protes Melly.


"Gue nggak mau bikin lo ge-er sebelum gue tahu pasti," kata Rani. "Lagian gue kira lo juga udah tahu."


"Gue cuma nebak-nebak aja sih," gumam Melly.


"Nah, sekarang masalahnya, gimana dengan perasaan lo sendiri?" tanya Rani. "Apa lo juga suka sama dia?"


Melly mendesah. "Itu yang bikin gue bingung," keluhnya. "Gue masih belum yakin sama perasaan gue ke dia."


"Apa yang lo rasain waktu tahu dia suka sama lo?"


"Takut," Melly mengakui.


"Takut karena lo belum siap pacaran sama dia, atau takut karena lo harus nolak dia?"


Melly memikirkan pertanyaan Rani. Mendadak, dia tahu jawabannya. Ya, sekarang Melly mengerti alasan di balik rasa takutnya. Itu bukan karena dia belum siap pacaran dengan Miko. Melly memang menyukainya, tapi sepertinya perasaannya pada Miko hanyalah sebatas teman. Jadi, sebenarnya Melly takut karena dia tidak tahu bagaimana cara menolak Miko tanpa harus kehilangan dia sebagai teman.


"Kayaknya lo udah bisa menyimpulkan sendiri," komentar Rani saat melihat ekspresi wajah Melly.


"Gue sih pengennya terus berteman sama dia," kata Melly. "Tapi gimana dengan perasaannya ke gue?"


"Biar Kak Miko sendiri yang mikirin perasaannya," kata Rani. "Lagian lo nggak punya hak buat ngatur perasaan dia ke lo."


"Gue cuma nggak mau nyakitin hatinya," gumam Melly.


"Gue tahu," kata Rani mengerti. "Tapi itu bukan berarti lo harus maksain diri lo buat suka sama dia, kan?"


Rani benar. Betapa pun Melly tidak ingin menyakiti hati Miko, dia juga tidak bisa memaksakan perasaannya sendiri.


"Terus apa yang harus gue lakukan sekarang?"

__ADS_1


"Ya tetep berteman sama dia," jawab Rani. "Dia nggak minta lo jadi pacarnya, kan?"


Melly mengangguk.


"Cuma ngungkapin perasaannya doang, kan?"


Lagi-lagi Melly mengangguk.


"Jadi gampang lah," kata Rani. "Lo malah nggak perlu capek-capek mikir gimana caranya nolak dia. Selama lo tetep bersikap layaknya seorang temen dan nggak ngasih dia harapan, dia bakal sadar sendiri kok."


Melly berharap Miko bisa menyadari sendiri bahwa dirinya hanya ingin berteman dengannya. Jadi Melly tidak perlu menolaknya, apalagi sampai menyakiti hatinya. Itu akan lebih bagus, dan dengan begitu mereka akan tetap bisa terus berteman.


"Tapi gue penasaran, Mell," kata Rani tiba-tiba. "Apa nggak ada alesan lain kenapa lo nggak bisa nerima Kak Miko, selain karena lo cuma nganggep dia sebagai temen?"


"Apa emang perlu ada alasan lain?" Melly balik bertanya.


"Siapa tahu aja ada," kata Rani. "Misalnya, ada cowok lain yang lo suka, gitu?"


Pada detik yang sama Rani menanyakan itu, pikiran Melly langsung lari ke sosok Tristan. Melly sampai harus menggeleng untuk mengusir bayangannya.


Melly ragu apakah dia harus jujur pada Rani atau tidak. Tapi mungkin dia bisa meminta saran Rani terkait Tristan juga.


"Sejujurnya," kata Melly, "emang ada cowok lain yang akhir-akhir ini selalu mengisi pikiran gue."


Rani langsung memasang telinga lebar-lebar. "Siapa?"


Melly mulai memainkan ritsleting tas dengan gugup. Membuka, menutup, kemudian membukanya kembali. Rani sampai jengah dan menarik tas dari pangkuannya.


"Siapa?" ulangnya.


Sulit sekali untuk Melly menjawabnya. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Kak Tristan."


"APA?! KAK TRISTAN?!" suara Rani menggelegar di seantero kelas.


Beberapa teman sekelas mereka mengira Tristan datang, dan mereka sampai berpaling ke arah pintu. Para cewek memasang tampang berharap, sedangkan para cowok memasang tampang siap kabur seakan mereka telah berbuat kesalahan dan takut Tristan datang untuk mengebiri

__ADS_1


mereka.


Melly langsung memelototi Rani untuk memperingatkannya. Dia justru hanya cengengesan tanpa rasa bersalah.


"Sorry, bukan Kak Tristan Ivander kok," dustanya pada teman-teman sekelas mereka.


Desahan kecewa dari cewek-cewek terdengar bercampur dengan desahan lega dari cowok-cowok. Melly menunggu hingga perhatian teman-temannya telah teralih dari mereka, baru kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan Rani.


"Ntar gue suruh si Ghevin buat ngegunting bibir lo nih," kata Melly kesal pada Rani. "Kebeneran dia lagi gatel mau ngegunting bibir orang."


"Bibir gue mah bukan buat digunting, tapi buat dicium Kak Ghevin," kata Rani sambil sengaja memonyong-monyongkan bibir.


Melly menarik bibirnya dan membuatnya mengaduh, lalu mereka tertawa bersama-sama. Memang sulit bagi Melly kalau harus berlama-lama marah pada Rani.


"Tapi serius deh, Mell," kata Rani setelah mereka selesai tertawa. "Kak Tristan? Lo suka sama dia?"


"Bukannya suka sih," elak Melly. "Tapi nggak tahu deh. Gue cuma sering mikirin dia aja akhir-akhir ini."


"Sejak kejadian di perpus itu?" tebak Rani.


"Iya," angguk Melly. "Gue sempet mikir, aneh aja waktu itu gue ngerasa kecewa karena ternyata dia bukan mau nyium gue."


"Menurut gue itu nggak aneh," kata Rani. "Lo kecewa karena berharap dia beneran nyium lo. Kenapa lo berharap begitu? Ya jelas karena lo suka sama dia."


"Tapi kalo benar begitu, berarti gue udah suka dia dari sebelumnya," kata Melly. "Waktu itu kan gue lagi benci-bencinya sama dia karena udah ngejadiin gue pesuruhnya."


"Apa lo pikir perasaan benci itu nggak bisa berubah jadi cinta?"


"Emang bisa sih," kata Melly. "Tapi nggak secepet itu juga kali."


"Justru karena perubahan itu berlangsung dengan cepet, lo nggak tahu kapan perasaan benci lo berakhir, dan kapan perasaan cinta lo dimulai," kata Rani. "Mungkin karena lo sering bareng dia, lo jadi lebih mengenal dia dan itu bikin lo jadi suka sama dia."


Benarkah itu? Benarkah Melly menyukai Tristan? Dia kan cowok yang sangat Melly benci, yang tega menjadikan Melly pesuruhnya dan memperlakukan Melly dengan seenaknya. Masa sih Melly lebih memilih untuk menyukai Tristan dibandingkan Miko.


🍈Bersambung🍈

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biat Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.


__ADS_2