
Dengan langkah gontai Melly masuk ke kelasnya dan disambut oleh Rani. Rani bertanya apakah dia berhasil berbaikan dengan Tristan, dia hanya menjawabnya dengan gelengan.
Apakah Melly harus menyerah sekarang? Bukankah setidaknya dia harus mencobanya lagi? Mungkin Tristan akan memikirkan kata-katanya dan memutuskan untuk memberi kesempatan lagi pada hubungan mereka.
Melly menghampiri Tristan di kantin pada jam istirahat. Bangku yang biasa dia duduki masih kosong, tapi ketika dia mencoba untuk mendudukinya, Tristan melarangnya.
"Bangku itu udah ada yang nempatin," kata Tristan.
Melly sedang bertanya-tanya siapa yang menempati bangku itu, ketika Vionna muncul sambil membawa makanan.
"Minggir dong!" katanya pada Melly, karena Melly menghalangi jalannya. Melly pun menyingkir dan Vionna segera duduk di bangku itu.
Jadi sekarang Vionna yang menggantikan Melly? Apa Vionna sendiri yang berinisiatif duduk di bangku itu, atau Tristan yang menyuruhnya? Melly memandang Tristan, berusaha menemukan jawaban, tapi Tristan malah sengaja mengajak Vionna mengobrol.
Melly pun berpaling pada anggota geng Tristan. Tapi mereka berpura-pura sibuk dengan makanan mereka, meskipun sesekali meliriknya. Mungkin Tristan sudah memberitahu mereka bahwa dirinya adik Ghevin, karena itu menyangkut masalah geng.
"Mell, udahlah." Rani menarik tangan Melly.
Sedari tadi Rani memang mengikuti Melly di belakang. Melly tidak ingin bergerak, tapi Rani berhasil menariknya hingga ke meja yang lain.
__ADS_1
"Mau makan apa?" tanyanya pada Melly.
Melly menggeleng. "Gue nggak mau makan," jawabnya lesu.
"Tapi ntar lo laper," kata Rani. "Gue beliin roti aja, ya." Tanpa menunggu persetujuan Melly, dia langsung menuju konter makanan. Tak lama dia sudah kembali sambil membawa roti sosis untuk Melly.
Untuk menghargai Rani, Melly mulai memakan roti sosis itu. Melly memaksakan diri menelannya meskipun lidahnya mati rasa, mungkin karena kesedihannya melihat Tristan dengan Vionna. Melly memang dapat melihat mereka dengan jelas dari mejanya. Mereka masih saja mengobrol.
Namun ketika Melly melihat Vionna mengambil makanan dari piring Tristan dan Tristan membiarkannya, dia tidak bisa lagi menahan tangisnya. Tanpa memedulikan Rani yang memanggilnya, Melly segera berlari pergi dari kantin.
Bukan hanya hubungan Melly dengan Tristan, tapi hubungan Melly dengan Ghevin tidak juga membaik. Ghevin masih tidak mau berbicara dengannya, tidak peduli sekeras apa pun usahanya.
"Mell, ada Miko tuh di depan," kata Mamanya, membuat Melly langsung melompat turun dari ranjang.
Sudah lama Melly tidak bertemu Miko, Melly baru sadar betapa dia merindukannya. Melly merapikan penampilannya dan segera keluar ke teras. Di sana Miko sedang duduk sambil setengah melamun.
Mengingat pertemuan terakhir mereka yang berakhir dengan kesedihan, Melly jadi agak kikuk harus berhadapan dengannya. Tapi dia berusaha menghilangkan perasaan itu.
"Kak Miko," panggil Melly.
__ADS_1
Miko menoleh, dan tersenyum saat melihatnya. Senyumnya menenangkan Melly seolah segala kegundahan hatinya belakangan ini lenyap tak berbekas. Andai saja dia datang lebih cepat...
"Hai, Melly," sapa Miko. "Udah lama ya kita nggak ketemu. Gimana kabar lo?"
Melly duduk dan menggelengkan kepala. "Nggak begitu baik," Melly mengakui.
"Gara-gara ribut sama Ghevin?" tebak Miko.
"Salah satunya itu," kata Melly membenarkan.
"Ghevin juga lagi kacau banget," cerita Miko. "Dia suka marah-marah nggak jelas terus anggota geng kami yang jadi korbannya. Ada aja tindakan mereka yang bikin Ghevin jadi darah tinggi."
Melly jadi kasihan pada anggota geng Ghevin. "Apa Ghevin mukulin mereka?" tanyanya.
"Nggak bener-bener mukulin sih," sahut Miko. "Paling cuma kena getok. Tapi digetok sama Ghevin ya berasa juga sakitnya."
Mau tak mau Melly pun tergelak. Sementara Miko terlihat tampak senang karena berhasil menghiburnya.
🍟Bersambung🍟
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.