Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 10


__ADS_3

Perlahan Ayumi menatap punggung Kevin yang berjalan menjauh dengan membawa tas ransel dan gitar di masing-masing bahunya, ia seperti dilempar pada dua tahun lalu ketika baru datang dari Indonesia untuk mencari ibunya, ia hampir meninggal karena hipotermia tapi ada John yang menolongnya saat itu yang bahkan tidak mengenal Ayumi sama sekali, tapi sekarang siapa yang akan menolong Kevin? Ya Tuhan, apa yang telah ia lakukan? Ia malah menghina pria itu.


"Tunggu!" Seru Ayumi sambil berlari mengejar Kevin yang tetap saja berjalan, "Tunggu! Maafkan aku.. aku tak bermaksud menghinamu hanya saja, hari ini adalah salah satu hari terburuk untukku," ucap Ayumi sambil terengah-engah karena harus mengikuti langkah Kevin yang panjang.


"Tidak apa-apa, Nona, bukankah sudah ku bilang kalau ini bukan salahmu." Kevin berkata tanpa mengurangi kecepatan berjalannya yang membuat Ayumi harus berlari kecil.


"Dengar, aku tahu telah kurang ajar dengan menghinamu tadi, aku tidak bermaksud seperti itu, tolong maafkan aku," ucap Ayumi dengan tulus dan Kevin bisa melihat itu dari sorot mata hitam milik gadis itu.


Kevin menghentikan langkahnya lalu mengambil napas dalam-dalam, "Baiklah aku memaafkanmu, tapi tolong lain kali kau tidak boleh menilai orang dengan sembarangan." Ayumi mengangguk dengan semangat menyetujui hal itu yang membuat Kevin kembali tersenyum, "Jadi sekarang aku boleh tahu namamu?" tanya Kevin sambil kembali berjalan tapi kali ini ia berjalan dengan santai di samping Ayumi.


"Ayumi."


"Ayumi? tapi sepertinya yang tadi bukan bahasa Jepang," ujar Kevin sambil menatap Ayumi penasaran.


"Bukan, aku dari Indonesia," jawab Ayumi sambil tersenyum, ia merekatkan cardigan tipisnya, malam ini sepertinya akan sangat dingin batin Ayumi. Kevin membuka syalnya lalu memasangkannya di leher Ayumi yang terbelalak mendapat perlakuan seperti itu dari pria yang baru saja dikenalnya beberapa menit yang lalu.


"Kau terlihat kedinginan, tadinya aku ingin seperti di drama Korea memberikan jaketku untukmu, tapi aku juga kedinginan," ujar Kevin santai yang membuat Ayumi tertawa.


"Terima kasih." Ayumi membetulkan syalnya hingga menutupi leher dengan hangat, "Jadi apa kau datang kesini untuk mencari saudaramu?" Mereka berjalan menuju halte bis tak jauh dari taman.


"Iya, tapi sepertinya dia sudah pindah entah kemana, aku mendatangi alamat terakhir yang ku miliki tapi dia tidak ada di sana."


Seperti dejavu yang dialami Ayumi dua tahun lalu membuat hati gadis itu tergerak, ia merasakan apa yang dirasakan Kevin sekarang.


"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Ayumi sambil memeluk dirinya sendiri karena teringat perasaan sedih yang ia rasakan dua tahun lalu, perasaan sendiri di negara orang tanpa ada yang bisa dijadikan sandara.


"Sekarang aku harus mencari tempat untuk tidur malam ini, besok aku akan mencari pekerjaan supaya bisa dapat uang dan kembali pulang ke Korea." Kevin menengadahkan kepalanya memandang langit Vancouver yang gelap tanpa bintang.


Ayumi terdiam beberapa saat, mencoba mencari jalan keluar untuk teman barunya yang memiliki nasib yang sama dengan dirinya.


"Apa kau tidak keberatan tidur di rumah sakit?" Akhirnya Ayumi memecah keheningan, untuk waktu yang lumayan lama setelah ia berpikir matang-matang, tidak mungkin dirinya meninggalkan Kevin begitu saja di jalanan tanpa uang sepeserpun dan harga diri pria itu terlalu tinggi untuk menerima uang pemberian darinya.

__ADS_1


"Maksudmu aku harus berpura-pura sakit?" Ayumi bisa mendengar nada bingung dari suara pria itu.


"Tidak, aku bekerja magang di rumah sakit malam ini dan aku tahu tempat yang bisa kau gunakan untuk tidur, tidak begitu nyaman tapi minimal kau tidak akan kedinginan," jelas Ayumi dengan semangat, Kevin terdiam beberapa saat memikirkan hal itu.


"Apa tidak akan jadi masalah untukmu?" Kevin bertanya dengan serius, ia tidak mau mengundang masalah untuk gadis itu.


"Tidak akan ada masalah, ada satu lantai di atas yang sedang renovasi tapi tenang saja perlengkapan tidurnya masih lengkap kita tinggal menyingkirkan plastik penutupnya saja dan kau bisa tidur, dan yang pasti tidak akan ada yang ke sana selain para pekerja bangunan dan malam hari mereka akan pulang, jadi aku akan menyelinapkanmu ke sana malam ini, dan besok pagi sebelum mereka datang kita sudah pergi dari sana, bagaimana?" Ayumi bertanya dengan senyum cerah karena bisa menyelesaikan masalah tempat menginap malam ini untuk Kevin.


"Baiklah, ide yang sangat bagus," jawab Kevin dengan senyum cerah menghiasi wajah tampannya, saat ini mereka tengah duduk di kursi halte bis menunggu jurusan yang akan mereka naiki.


"Ayo! Bisnya sudah datang." Ayumi menarik Kevin masuk ke dalam bis lalu memilih bangku belakang untuk mereka duduki.


"Bukankah sekarang masih terlalu sore untuk aksi menyelinap?" bisik Kevin yang membuat Ayumi tersenyum.


"Tidak, kita akan makan gratis dulu, malam ini aku ada undangan dari temanku untuk pembukaan restoran keluarga mereka." Kevin tersenyum bahagia ketika mendengar kata makan.


"Wah! Itu berita yang bagus, aku sangat lapar," ucap Kevin sambil meringis menyentuh perutnya. Mereka kembali terdiam larut dalam keheningan untuk beberapa saat.


"Dua tahun lebih, kita memiliki cerita yang hampir sama." Ayumi tersenyum lalu menceritakan kisahnya tapi ia tidak menceritakan mengenai ibu kandungnya, ia belajar dari pengalaman dengan Erik dan ia tidak mau kecewa untuk kedua kalinya.


"Jadi John adalah malaikat penyelamatmu dan kau adalah malaikat penyelamatku, my angel," ujar Kevin sambil tersenyum yang membuat pipi Ayumi memerah.


"Hei!" Ayumi teriak sambil bertepuk tangan mengagetkan Kevin yang kini menatapnya dengan bingung, "Bagaimana aku bisa lupa, dasar bodoh," umpat Ayumi sambil menepok jidatnya, sedangkan Kevin hanya bisa menganga bingung melihat gadis di sebelahnya itu.


"Apa kau bisa bermain snowboarding atau ski?" Mata bulat Ayumi bercahaya penuh harap sambil menatap Kevin yang masih terlihat bingung.


"Iya, aku bisa bermain snowboarding dan ski."


"Bagus, aku rasa aku sudah mendapat pekerjaan untukmu," ujar Ayumi sambil tersenyum bahagia, sedangkan Kevin hanya bisa mengangkat alis matanya terlihat bingung.


***

__ADS_1


"Ayolah, John, sebentar lagi musim dingin dan kau akan memerlukan tambahan karyawan di resort, kau lihat dia sangat… menarik, dia juga bisa bahasa Korea dan Jepang jadi tidak perlu lagi menyewa penerjemah, all in one." Ayumi berkata dengan suara meyakinkan seperti seorang marketing handal, John hanya menatapnya sambil membuang napas berat.


"Ayolah, aku mohon." Ayumi memohon sambil mengedip-ngedipkan matanya yang selalu berhasil meluluhkan hati teman ajaibnya itu, tapi kali ini John hanya mengangkat alis matanya, "John! Dia adalah orang baik yang malang, apa kau tak kasian padanya?" pertanyaan itu tak berpengaruh apa-apa pada John yang masih berdiri berpangku tangan sambil menatap Ayumi yang kini tengah mengambil napas dalam-dalam karena rayuannya tidak berhasil.


"Baiklah, John, aku menyerah.”


John terlihat kaget karena Ayumi dengan gampangnya menyerah begitu saja dalam upaya merayu dirinya supaya menerima teman baru gadis itu sebagai karyawannya, "Aku akan menelepon Ibumu dan meminta bantuannya mencari pekerjaan untuk Kevin." Ayumi dengan santai mengeluarkan telepon genggamnya.


"Wow-wow tunggu dulu, little girl." Secepat kilat John merampas telepon genggamnya, seharusnya dia sudah mengetahuinya, Ayumi tidak akan semudah itu menyerah dan ibunya adalah kelemahan terbesar pria itu, apalagi ibunya sangat menyayangi Ayumi.


"Tadi aku hanya bercanda, Baby, apa kau pikir aku akan melewatkan pria seperti itu?" Ayumi membelalakan matanya karena bahagia dia melompat ke dalam pelukan pria itu sambil tertawa bahagia.


"Maksudmu, kau akan menerimanya bekerjakan?"


John tersenyum sambil mengangguk menjawab pertanyaan Ayumi yang terlihat sangat bahagia seperti anak kecil yang diijinkan makan satu toples permen.


"Terima kasih, John, kau memang malaikat penyelamat kami," ucap Ayumi dengan tulus sambil mencium pipi John yang kini tersenyum melihat gadis itu begitu bahagia.


"Ayo kita harus memberitahu Kevin, kabar gembira ini," Ayumi berlari keluar dari kantor John yang berada di belakang meja konter.


Seperti yang sudah direncanakan semalam Kevin menginap di rumah sakit, kemudian tadi pagi mereka langsung menuju cafe menghadap John meminta pekerjaan untuk pria itu, Ayumi malah tidak sempat pulang ke apartemnya, masih mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin dan untungnya ia selalu menaruh pakaian bersih di loker café, tapi yang jelas ia baru tidur satu jam tadi malam di rumah sakit.


"Kevin!" Seru Ayumi penuh antusias, senyum mengembang di bibirnya, ia setengah berlari menuju luar dimana tadi Kevin menunggunya, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok pria tinggi menjulang tengah berdiri di sana, menatapnya dengan mata hitam yang tajam, pria yang kemarin membuat hatinya terluka, pria yang selalu membuat jatungnya berdetak tidak normal seperti sekarang, pria yang tanpa ia sadari telah mencuri separuh hatinya, iya dialah Erik Kim.


"Apa dia menerimaku?" tanpa disadari Kevin kini telah berdiri di hapadannya dengan wajah penuh harap.


Ayumi mengalihkan pandangannya dari Erik dan memfokuskan pandangannya ke arah Kevin, "Iya dia menerimamu." Ayumi berusaha menjawab pertanyaan Kevin dengan suara normal menutupi kegugupannya, tanpa peringatan terlebih dahulu Kevin menariknya ke dalam pelukan lalu mengangkatnya seperti ia mengangkat anak kecil sambil tertawa bahagia.


"Kau tahu? kau benar-benar malaikat pelindungku, my angel," ucap Kevin sambil menatap Ayumi dengan sorot mata bahagia.


Di balik tubuh Kevin, Ayumi bisa melihat Erik masih menatap dengan sorot mata tajam, rahangnya sedikit mengeras sebelum akhirnya ia berbalik meninggalkan cafe itu dengan langkah panjang.

__ADS_1


***


__ADS_2