Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 20


__ADS_3

Kejutan malam itu ternyata belum berakhir bagi Ayumi, ia harus dihadapkan pada kenyataan lainnya yaitu suami ibunya itu telah mendaftarkan Ayumi dengan beasiswa penuh untuk mengambil specialis di Universitas kedokteran Busan, dan sebagai kepala Rumah Sakit Busan Internasional, ayah Kevin itu telah memasukkan nama Ayumi Maheswara sebagai residen tahun pertama di sana.


Mulutnya sudah akan memprotes keputusan yang diambil tanpa sepengetahuannya itu tapi ia urungkan ketika melihat senyum bahagia dan mata penuh harap dari kedua mata ayahnya.


"Papah, terserah kamu, Yu, tapi Papah akan merasa tenang kalau kamu di Korea bersama mereka," ucap Tn. Maheswara dengan suara bijak dan memandang putri tertuanya dengan mata berbinar yang membuat Ayumi harus menelan semua protesnya.


"Bagaimanapun di sini kamu seorang diri, dan selama ini Papah sangat khawatir memikirkan keadaanmu, jadi Papah akan merasa lebih tenang kalau kamu berada bersama mereka, karena bagaimanapun mereka sekarang menjadi keluargamu, Yu."


Ayumi hanya terdiam mendengar ucapan ayahnya, jujur saja egonya cukup tinggi ketika membayangkan ia akan menggapai gelar specialis dengan uang dan kemampuannya sendiri, tapi di sisi lain, ini adalah kesempatan emas yang datang dalam hidupnya dan yang dikatakan ayahnya itu benar, dia tidak akan sendiri lagi tinggal di negara orang. Selama ini memang ada teman dan sahabat seperti John yang akan membantunya, tapi teman berbeda dengan keluarga, seringkali ia merasa rindu berada di sekeliling keluarganya sendiri dan merasa iri ketika teman-temannya berkumpul dengan keluarganya.


Jadi disinilah ia sekarang berada, menjadi residen yang bekerja seperti orang gila di Busan International Hospital, jangankan untuk pergi ke mall, untuk tidur saja ia hampir tidak memiliki waktu. Para residen tahun pertama tidur di sela-sela waktu kosong mereka yang hanya beberapa jam saja, kasur busa di ruang istirahat merupakan benda favorit hampir semua dokter muda itu.


Masa-masa awal Ayumi bekerja di Rumah Sakit adalah masa tersulit untuknya, selain kendala bahasa karena gadis itu belum begitu fasih berbahasa Korea membuatnya selalu menjadi sasaran empuk para seniornya, belum lagi nama Dr. Choi sebagai orang yang membawa Ayumi masuk ke sana membuatnya dipandang sebelah mata oleh hampir semua dokter di Rumah Sakit itu, mereka menganggap gadis itu hanya mengandalkan hubungan keluarga saja tanpa adanya kemampuan.


Tapi seiring waktu dan hasil kerja kerasnya, semua orang bisa mengetahui kejeniusan gadis itu, ia memanfaatkan waktu istirahatnya untuk belajar bahasa Korea, hasilnya saat ini dia bisa dengan fasih menggunakan bahasa itu walaupun dengan logat yang sedikit kaku.


Aktifitas Ayumi itu membuat Kevin uring-uringan karena hampir tidak ada waktu dia bertemu dengan adiknya.


Dan Kevin menepati janjinya untuk menjaga Ayumi serta menendang para pria yang berusaha mendekatinya, seperti saat ini ia tengah berdiri berhadap-hadapan dengan Dr. Lee Soo Hyuk, dokter spesialis bedah yang selain terkenal karena keahliannya, ia juga terkenal karena ketampanan dan seorang playboy, telah banyak dokter wanita dan juga perawat di sana yang dibuatnya menangis, dan beberapa bulan terakhir ini semua orang telah mengetahuinya kalau dokter dengan tinggi badan 188 cm, berkulit pucat, dan bentuk wajah seperti di pahat yang mengingatkan Ayumi kepada visual vampire-vampire tampan dalam novel itu tengah mengejar-ngejarnya, tapi semua usahanya hanya sia-sia karena dia selalu berakhir dengan penolakan dari gadis bermata bulat itu, dan hasilnya adalah Dr. Lee membuat Ayumi seperti hidup di neraka karena tugas yang diberikannya.


"Aaah, jadi dia yang telah membuatmu terlihat seperti Panda sekarang ini, Angel," ucap Kevin dengan mata tajam menghujam pria yang berdiri di depannya dengan santai, tanganya di masukan kedalam saku jas putihnya.


"Aaah, jadi kau bidadari, pantas saja kau sangat cantik" Dr. Lee mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda ke arah Ayumi yang hanya memutar bola matanya malas.


Kevin berjalan mendekati Dr. Lee dengan santai tapi sorot matanya yang tajam menghujam menyiratkan ancaman yang tak main-main, "Kau, kalau kau masih berani mengganggu adikku, aku berjanji akan membuat matamu yang satu itu tidak akan membuka lagi." Pria bermata coklat itu menunjuk mata kanan Dr. Lee yang tadi mengedip kepada Ayumi, "Apa kau paham?" Lanjut Kevin dengan suara sarat akan ancaman yang membuat Ayumi harus menariknya, saat ini mereka tengah berada di lorong Rumah Sakit dan percakapan mereka menarik perhatian beberapa orang perawat yang lewat.


"Kevin cukup," bisik Ayumi sambil menarik pria itu menjauh dari Dr. Lee yang hanya menatap mereka sambil menaikan alis matanya, "Maafkan kami, permisi." Ayumi menundukan kepala lalu pergi dan menarik Kevin yang masih menatap pria berhidung runcing itu dengan tajam.


"Mengapa kau meminta maaf padanya? Kita tidak salah, Angel."


"Jangan memanggilku Angel, dan iya kau salah."


"Aku salah?"


"Kevin," Ayumi menghentikan langkahnya lalu berdiri menghadap Kevin yang terlihat tidak suka dengam komentar adiknya itu, "Dia adalah seniorku dan pembimbingku di sini, bagaimana bisa kau mengancamnya hanya karena dia… berkedip kepadaku."


"Dia tidak berkedip, dia menggodamu."


"Baiklah, anggap saja dia menggodaku tapi aku masih bisa mengatasinya, kau tahu akukan?"


Tentu saja Kevin sangat mengenal adiknya itu, hatinya kini telah sedingin musim salju, dan sampai saat ini hampir dua tahun dari kepergian Erik kekasihnya yang entah kemana, belum ada satupun yang berhasil mencairkannya.


Kevin membuang napas berat, "Baiklah aku percaya kau bisa mengatasinya, tapi kalau kau memerlukan bantuanku, katakan padaku. Aku akan menendang pantatnya dengan kencang."


"Aku akan sangat senang melihatmu menendang pantatnya," ucap Ayumi sambil tertawa yang membuat Kevin ikut tersenyum hanya dengan melihatnya tertawa.


"Ayo kita pergi makan siang, aku membuatkan makanan kesukaanmu." Kevin merangkul bahu Ayumi keluar menuju taman Rumah sakit dimana beberapa pasien, perawat dan dokter tengah menikmati hangatnya cahaya matahari.


"Apa?" Tanya Ayumi dengan antusias.


"Kau akan mengetahuinya nanti," jawab Kevin dengan senyum mengembang dari bibirnya.


"Bagaimana kau suka?" Tanya Kevin setelah mereka duduk di kursi taman dan membuka bekal makan siang yang pria itu bawakan khusus buat Ayumi yang hanya diam mematung menatap hidangan di hadapannya.

__ADS_1


Dada Ayumi serasa di tusuk dengan jarum yang melemparkan ingatannya kepada pagi hari hampir dua tahun yang lalu dimana ia menikmati sarapan terakhirnya bersama pria yang telah membuat hatinya membeku.


"Nasi goreng seafood," bisik Ayumi sambil terus menatap hidangan di hadapannya, kenangan-kenangan yang berusaha ia kubur seolah menyeruak kembali ke permukaan dan itu membuat dadanya terasa sakit.


"Iya, bukankah ini makanan favoritmu? Aku sengaja membuatkannya untukmu. Aku bahkan mencari resepnya di internet." Kevin berkata dengan bangga, bahkan wajah pucat gadis di hadapannya itu luput dari perhatiannya.


"Ayo dimakan, apa kau mau aku menyuapimu?" Lanjut Kevin setelah melihat Ayumi hanya diam tak bergerak.


"Kau pasti sangat terharukan, aku membuatkannya untukmu," Kevin menepuk lengan Ayumi yang membuatnya kembali dari lamunan akan kenangan masa lalu.


"Hei, kau tidak usah sampai menangis seperti itu, sekarang kau tahukan kalau kau memiliki Kakak yang hebat, jadi sudah saatnya kau memanggilku 'Op-pa'."


Mendengar itu Ayumi hanya mendecak dan berusah tersenyum walaupun hatinya masih terasa sakit mengingat pria yang telah meninggalkannya, "Kita lihat saja nanti," ucap Ayumi sambil memasukkan satu sendok makanan yang telah membuka kenangan masa lalunya itu.


Ayumi berusaha menghabiskan makan siangnya itu hanya sekedar untuk menghargai usaha dari Kevin yang kini terlihat begitu bahagia karena melihatnya memakan hasil masakanya. Makan siang itu dihabiskan dengan mendengar cerita Kevin album pertamanya yang menduduki puncak penjualan di seluruh Korea dan Asia, yang tentu saja membuat Ayumi ikut berbahagia untuknya.


Dengan langkah gontai gadis berambut hitam itu berjalan kembali menyusuri lorong Rumah Sakit, kenangannya bersama seorang pria bermata hitam tajam dengan senyum miring khasnya kembali mengisi kepala gadis itu, dan hatinya kembali merasakan kekosongan karena sebagian telah pergi bersama kekasihnya yang tak kembali.


"Ayumi!" Suara seorang pria menyadarkan gadis itu atas lamunannya.


Kepalanya memunduk memberi hormat kepada ayah tirinya yang menjabat sebagai Kepala Rumah sakit, pria paruh baya itu tersenyum hangat sambil berjalan mendekatinya, di belakangnya ia melihat Dr. Lee yang sedang menatapnya.


"Apa kau baru pulang makan siang?" Dr. Choi bertanya dengan ramah yang membuat Ayumi tersenyum.


"Iya, Oppa datang membawakanku makan siang," jawab Ayumi, tanpa sepengetahuan Kevin, Ayumi memanggilnya Oppa hanya ketika ia berbicara dengan Ayahnya untuk menunjukan rasa hormat, budaya Korea yang sangat menjunjung senioritas telah mengajarinya hal itu.


"Anak nakal itu, dia bahkan tidak mengunjungiku untuk menanyakan kabarku," protes Dr. Choi membuat Ayumi kembali tersenyum.


"Urusan penting apa, selaian menendang setiap pria yang mendekatimu. Kalau dia seperti itu terus kapan aku akan menimang cucu darimu."


Ayumi hanya tertawa mendengar ucapan pria paruh baya itu, diam-diam Dr. Lee mendengarkan semua percakapan ayah dan anak itu.


"Apa kau sibuk sekarang?"


Ayumi menggeleng, "Tidak, aku masih istirahat sekarang."


"Bagus, aku akan mengenalkanmu kepada seseorang. Kau ikut aku ke lantai 5."


"Lantai 5?"


Lantai 5 adalah tempat yang diperuntukan khusus untuk pasien VVIP dari mulai pejabat sampai artis yang menginginkan privasi dalam menjalankan perawatan dan hanya dokter dan perawat pilihanlah yang bisa ke sana.


"Iya, putri temanku sedang menjalani perawatan dan mereka baru saja menghubungiku kalau sekarang mereka ada di sini."


Ayumi mengikuti Dr. Choi yang berjalan memasuki lift, ia menatap Dr. Lee yang juga ikut masuk ke dalam liftnya, pria bermata tajam itu balik menatapnya sambil mengangkat sebelah alis mata yang membuat Ayumi memalingkan wajah dan berusaha tak memedulikannya.


Setelah mereka keluar dari lift mereka terus berjalan hingga berada di kamar 508, kamar paling ujung yang ada di lorong itu, Dr. Choi mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki kamar bernuansa putih khas rumah sakit dan yang membedakannya hanya luas kamar dan interiornya yang dibuat senyaman mungkin.


Sepasang suami istri menyambut ayah tirinya dengan ramah dan Ayumi bisa melihat seorang gadis cantik dengan rambut coklat lurus sebahu dengan hidung mancung dan mata hitam yang tengah duduk di atas tempat tidur.


"Bagaimana keadaanmu, Yuri?" Tanya Dr. Lee sambil berjalan kearah gadis itu yang menyambutnya manja.


"Oppa, aku di rawat dari kemarin dan kau baru datang menjengukku hari ini? Sepertinya percuma aku mempunya Kakak seorang dokter," ucapnya sambil cemberut yang membuat semua orang tersenyum, sedangkan Ayumi hanya diam sambil memerhatikan keduanya. Jadi gadis itu adalah adik dokter vampire, ucap Ayumi dalam hati.

__ADS_1


"Bukankah kau suka aku tinggalkan hanya berdua dengan tunanganmu itu?"


"Oppa!" Seru gadis bernama Yuri dengan pipi memerah, dan orangtuanya kembali tertawa melihat itu. Keluarga yang bahagia, kembali Ayumi berkata dalam hati.


"Oh aku lupa mengenalkanmu pada seseorang. Ayumi, kenalkan ini Tuan. Lee Chang Young, dan ini istrinya Ny. Park Minsoo, mereka berdua temanku dan Ibumu dulu." Dr. Choi mengenalkan Ayumi kepada suami istri itu.


"Ya Tuhan, kau sangat cantik, persis seperti Ibumu," ucap Ny. Lee sambil tersenyum memeluk Ayumi, yang hanya bisa tersenyum menerima kehangatan dari keduanya.


"Apa kau sudah punya kekasih?" Pertanyaan tiba-tiba wanita paruh baya itu sukses membuat Ayumi terkejut.


"Belum," jawab Ayumi gugup karena pertanyaan mendadak itu.


"Bagus, kalau begitu kenapa kita tidak jodohkan saja mereka," kali ini Tuan. Lee yang berkata yang langsung mendapat persetujuan dari istrinya.


"Maaf?" Ayumi terlihat bingung dengan arah pembicaraan para orangtua di hadapan mereka ini.


"Kau sudah mengenal putra kami kan? Dr. Lee Soo Hyuk." Ny. Lee menatap putranya yang kini tengah berdiri sambil merangkul bahu ibunya, dan sial bagi Ayumi karena sepertinya Dr. Lee senang melihatnya dalam keadaan terjepit seperti itu.


"Eomma, dia telah menolakku beberapa kali."


"Kau apa? Di tolak?" Ny. Lee tak percaya dengan apa yang di dengarnya, karena untuk pertama kalinya seorang perempuan menolak putranya yang ia anggap sangat sempurna dengan ketampanan, kepintaran, kesuksesan dan juga kekayaan serta latar belakang keluarga Lee.


"Iya, dia telah menolakku beberapa kali."


"Nak, kau menolak putraku?" Ny. Lee bertanya sambil menggenggam tangan Ayumi yang terlihat serba salah dan dia bisa melihat Dr. Lee tengah menahan tawanya karena melihat muka Ayumi saat ini.


"Tidak, maksudku..." ucapan Ayumi terhenti oleh suara tawa yang membaha dari kedua pria paruh baya di sampingnya.


"Bagus, kau memang harus menolaknya dulu. Perempuan itu jangan terlalu cepat menyerah hanya oleh rayuan seorang pria, kalian harus memiliki harga diri yang tinggi. Aku sangat menyukai putrimu, aku akan menjadikannya menantuku, apa kau setuju?" Tanya Tuan. Lee yang membuat Dr. Choi tertawa bahagia.


"Tapi…" protes Ayumi terhenti oleh ucapan Dr. Lee yang membuat mereka semua menatapnya.


"Bagus, sekarang kau tidak bisa lari lagi dariku, Angel," ucapnya membuat gadis itu membelalakan mata karena nama panggilan yang dia sematkan padanya.


"Oppa, kau bahkan telah memberinya nama panggilan kesayangan? Kau membuatku merinding," ujar Yuri sambil bergidik yang kembali membuat semua orang tertawa.


Ny. Lee menepuk tangannya menarik perhaatian semua orang, "Aku hampir lupa, kami juga akan mengenalkan kalian pada seseorang," ucap Ny. Lee dengan mata berbinar, ia mencari seseorang dan ia menemukan sosok itu tengah berdiri di ujung ruangan dan diam-diam tengah memerhatikan mereka semua dari tadi.


"Seung Won, kemarilah." Tuan. Lee memanggil pria yang sosoknya terhalang oleh tirai dan cahaya matahari yang masuk dari jendela menyamarkan sosok itu, perlahan pria itu berjalan mendekati mereka semua.


"Kenalkan ini Dr. Choi Yoon Kwan, dia kepala Rumah Sakit di sini dan juga teman kami dari dulu."


Pria itu menjabat tangan Dr. Choi sambil membungkuk mengenalkan diri , "Kim Seung Won, senang berkenalan dengan anda."


"Dan ini putri Dr. Choi, calon menantuku," ucap Tuan. Lee membuat semua orang tertawa kecuali dua orang yang kini tengah berhadap-hadapan.


Jantung Ayumi berdetak hebat ketika pertama kali melihat sosok itu keluar dari silaunya cahaya matahari, kini wajahnya memucat, tubuhnya bergetar, kakinya hampir saja tidak bisa menopang tubuhnya sendiri, giginya menggigit bibir bagian dalamnya untuk menahannya agar tidak menangis.


"Apa kabar Ayumi?" Ucap pria itu dengan suara yang sama yang selama ini ia rindukan, mata tajam yang dulu menatapnya lembut kini tengah menatapnya dengan penuh kerinduan, sosok yang hampir dua tahun ini menghilang kini tengah berdiri dihadapnya.


"Erik," bisik Ayumi dengan suara bergetar.


****

__ADS_1


__ADS_2