Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 17


__ADS_3

Kepergian Erik ke negara asalnya meninggalkan luka bagi Ayumi, hari berganti tapi tak satupun kabar dari pria berjulukan patung es itu, semua pesan yang ia kirimkan tak ada yang dibalasnya, bagai tertelan bumi Erik menghilang tanpa jejak.


"Dia belum menghubungimu juga?" Kevin bertanya ketika ia melihat Ayumi yang lagi-lagi melamun di depan meja kasir cafe John.


"Belum... mungkin dia sibuk."


"Yeah, sibuk sekali sampai-sampai tidak bisa meluangkan waktu hanya satu menit untuk membalas pesanmu."


Ayumi hanya bisa membuang napas berat mendengar ucapan dingin dari pria yang terkenal dengan gaya bicaranya yang blak-blakan, tapi anehnya itu pula yang membuat dia banyak digilai para perempuan di sini atau entah karena virus korean wave sedang melanda seluruh dunia termasuk Kanada, dan Kevin yang notabanenya orang Korea asli dengan wajah tampan, kulit putih dan bentuk badan tinggi atletis, rambutnya yang sedikit gondrong membuat dia terlihat sedikit liar dengan gaya pakaian ala rockernya, itu membuat setiap hari para penggemarnya semakin bertambah, yang tentu saja itu memberi keuntungan lebih kepada John karena cafenya selalu ramai pada saat akhir pekan.


Setiap malam sabtu dan malam minggu Kevin akan menampilkan kepiawaiannya dalam bernyanyi dan bermain gitar, seperti saat ini cafe telah dipenuhi oleh para Kevinisme, sebutan yang teman-temannya di cafe sematkan untuk para perempuan yang selalu berkerumun hanya untuk melihat laki-laki itu. Dan hari ini dimana Kevin dijadwalkan bernyanyi, cafe telah dipenuhi para perempuan yang menatap Kevin dengan mata berbinar.


Tapi sayang pria yang hari ini mengenakan celana jeans robek dibagian dengkul, kaos oblong putih bergambar Merelyn Manson yang terlihat menyeramkan di mata Ayumi, dan jaket kulit hitam melengkapi penampilannya malam ini malah terlihat lebih tertarik mengganggu Ayumi yang terlihat murung daripada meladeni para perempuan yang menatapnya penuh damba.


"Apa kau tahu dia tinggal dimana?" Kevin kembali bertanya yang membuat Ayumi menatapnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggelengkan kepala yang membuat Kevin terlihat putus asa.


"Jadi kau-pun tidak tahu dia tinggal dimana?"


Ayumi menggeleng sambil menumpukan dagunya di atas tangan, mulutnya terlihat cemberut, melihat itu Kevin hanya bisa menarik napas berat.


"Bagaimana kalau sebuah kota? Apa dia pernah memberitahumu dia tinggal di kota apa?"


Ayumi terdiam beberapa saat sebelum kembali menggeleng dan itu membuat Kevin ikut terlihat frustasi dan sempat mengumpat dalam bahasa Korea yang telah Ayumi ketahui.

__ADS_1


"Jangan mengumpat di depanku!" Seru Ayumi sambil menatap Kevin dengan sorot mata tajam yang membuat Kevin tersenyum.


"Baiklah, maafkan aku. Apa kau tahu nama Koreanya?"


Ayumi kembali membuang napas berat dan membuat Kevin semakin frustasi, ia merasa kasihan terhadap sahabatnya itu, tapi di sisi lain ia juga merasa gemas karena perempuan jenius dihadapannya itu tiba-tiba jadi begitu bodoh ketika berhadapan dengan yang namanya cinta.


"Apa kau tahu ada berapa orang yang bermarga Kim, di Korea?" Kevin bertanya sambil berpangku tangan, tubuhnya bersandar di meja kasir, kaki panjang disilang dan menatap Ayumi sambil menaikan alis matanya.


"Aku tahu... banyak," jawab Ayumi dengan lemas.


"Iya, banyak dan yang bermarga samapun mereka belum tentu bersaudara atau saling kenal, jadi bagaimana aku bisa membantumu mencari kabar tentangnya kalau kau hanya mengetahui nama marganya saja?"


Ayumi membelalakan matanya setelah mendengar ucapan Kevin, "Kau akan apa?"


"Apa kita tidak bisa menggunakan nama Inggrisnya?" Ayumi bertanya dengan penuh harap, jujur saja dia sangat ingin mengetahui kabar kekasihnya itu, apa dia tiba dengan selamat? Apa dia baik-baik saja? Hanya itu yang ingin Ayumi ketahui, selain tentu saja dia sangat merindukan Erik.


"Dan mencarinya di seluruh Korea?" Erik bertanya yang membuat Ayumi kembali terdiam dan terlihat lesu.


"Aku punya ide!" Seru Kevin sambil menepuk tangan yang membuat Ayumi terlonjak karena semangat, matanya berbinar menatap Kevin penuh harap.


"Aku akan membuat selebaran dengan foto kekasihmu, kita tulis dengan huruf besar 'DICARI, BURONAN TAK BERTANGGUNG JAWAB YANG TELAH MENINGGALKAN KEKASIHNYA'... AWW!"


Sontak saja perkataanya itu membuat Ayumi memukulinya tanpa ampun, "Tidak lucu!" seru Ayumi dengan muka memberengut menatap Kevin yang tengah mengelu-elus lengannya yang sakit akibat pukulannya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat pria itu terdiam dan menatap Ayumi dengan perasaan iba, dalam hati ia sangat geram kepada Erik yang menghilang begitu saja tanpa kabar berita, tapi ia juga sangat yakin kekasih Ayumi itu bukan pria tanpa tanggung jawab yang akan meninggalkan perempuan yang sangat ia cintai begitu saja, dan Kevin yakin Erik memiliki alasan yang sangat kuat dibalik semua ini.


"Dengar, dia hanya pergi selama libur musim dingin ini, bukankah dia bilang akan pulang ketika libur telah berakhir? Dan itu minggu depan. Jadi yang harus kau lakukan sekarang adalah bersabar sampai minggu depan dan ketika dia kembali kau bisa memukuli dan memarahinya sesuka hatimu, ok?"


Ayumi memikirkan perkataan Kevin, seperti biasa sahabatnya itu selalu berkata benar. Libur musim dingin akan segera berakhir minggu depan dan Erik pasti kembali sesuai janjinya untuk menunaikan kewajibannya sebagai dosen, jadi yang perlu ia lakukan adalah bersabar selama satu minggu lagi.


Hari berganti, satu minggu itupun dilalui Ayumi dengan perasaan bahagia yang membuncah karena kuliah akan segera dimulai yang artinya Erik akan segera datang. Tapi satu minggu berlalu pria itu tak menampakan batang hidungnya, minggu berganti bulan dan Erik belum juga kembali, musim telah berganti, udara dingin Vancouver berganti dengan udara hangat musim semi memberi keceriaan kepada semua orang tapi tidak bagi Ayumi, hati gadis itu telah membeku ketika mendengar kabar kalau kekasihnya, sang Dosen seni telah mengundurkan diri dari kampus tempat yang sama dimana ia menimba ilmu.


Udara hangat musim semi membuat semua orang banyak melakukan aktifitas di luar untuk menikmati sinar matahari, begitu pula dengan Ayumi yang menikmati hari liburnya di taman Stanley, sebuah tempat yang menjadi tujuan hampir semua orang untuk menikmati hari liburnya di alam terbuka. Taman yang menjadi tujuan para turis asing dan tempat dimana sering diadakan berbagai festival itu memang tak pernah kehilangan pesonannya.


Sudah terlalu lama semenjak gadis itu larut dalam kesibuk dengan aktifitas di Rumah Sakit, kuliah dan juga cafe ia seolah-olah tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Ayumi duduk di bawah pohon maple dan menghadap ke danau Logan dimana beberapa bebek tengah berenang. Mata Ayumi menatap lembar demi lembar novel yang ada dalam pangkuannya, kakinya berselonjor, punggungnya bersandar di pohon, headset yang terhubung ke ipod putih miliknya menutup kedua telinganya. Seolah-olah larut dalam bacaannya, ia tak menghiraukan keadaan sekeliling yang terdengar ramai oleh teriakan anak-anak yang bermain dengan anjing peliharaan mereka, suara orangtua yang meneriaki anaknya karena terlalu dekat dengan danau, atau suara beberapa orang dewasa yang tengah berbincang tak jauh darinya.


Posisi tubuhnya bisa mengecoh siapapun yang melihatnya karena tidak menampakkan perasannya yang tengah campur aduk dan pikirannya yang berkelana kepada musim gugur lalu, ketika ia bertemu dengan Erik di sini dan berakhir dengan perjalanan mereka menghabiskan hari libur di China’s town dan Vancouver look out.


Entah siapa yang hendak ia bohongi atau mungkin ia mau menipu diri sendiri, karena di dasar lubuk hatinya yang terdalam ia berharap pria itu muncul di balik pohon lengkap dengan kamera di tangannya seperti saat dulu, atau ketika hampir setiap pagi ia akan pergi haiking di taman itu hanya dengan harapan kekasihnya itu akan ada di sana tengah duduk di atas batu, menatap matahari yang baru terbit di ufuk timur dan tersenyum cerah padanya, tapi itu semua hanya sebuah mimpi di siang bolong karena pria dengan mata tajam yang membuat Ayumi jatuh cinta itu tak pernah lagi muncul dihadapannya.


Akhirnya Ayumi menyerah ketika suara lembut milik gitaris CNBlue mengalun ditelinganya, ia menutup novelnya, matanya kini menerawang ke kejauhan dimana para bebek tengah berenang. Dalam hati ia benar-benar meresapi setiap bait yang dinyanyinkan Jonghyun CNBlue itu, lirik lagu crying in the rain benar-benar menggambarkan persaannya saat ini.


Dia tak tahu lagi bagaimana melangkah melanjutkan hidupnya tanpa pria itu, ya anggap saja dia cengeng karena bisa terluka sedalam itu hanya karena seorang pria yang belum lama mengisi hari-harinya. Tapi hati dan perasaan tidak ada yang bisa mengontrol, tanpa ia sadari ia telah meyerahkan hampir seluruh hatinya untuk pria itu dan kini walaupun musim telah berganti menampakan hengatnya matahari musim semi tapi hati gadis itu masih membeku sedingin musim salju.


Tapi entah mengapa tidak ada airmata yang mengalir membasahi pipinya, mungkin karena ia masih berharap kalau Erik akan kembali lagi padanya suatu hari nanti. Ya ia berharap, Tuhan masih berbaik hati padanya dengan mengirimkan kembali pria yang telah mencuri separuh jiwanya itu kepada dirinya.


****

__ADS_1


__ADS_2