
Ayumi kembali menarik napas panjang mengingat apa yang telah dokter pembimbingnya itu katakan tadi di depan orang-orang, dan hasilnya sekarang orang-orang lebih penasaran tentang hubungan dengan pria itu daripada Kevin.
"Dengarkan aku, semua orang kini telah mengetahui kalau kita berpacaran."
"Tapi kita tidak berpacaran."
"Belum, bukannya tidak."
"Tidak akan."
"Kau yakin?"
"Iya."
Dr. Lee terdiam beberapa saat mendengar ucapan tegas Ayumi, saat ini mereka tengah berdiri di lorong Rumah Sakit yang sepi, "Kita lihat saja nanti," ucapnya sambil tersenyum miring. Entah pria itu selalu mengikuti Ayumi atau bagaimana tapi ia selalu ada ketika orang-orang mulai kembali menggunjingnya, yang ia lakukan hanya merangkul bahu Ayumi sambil menatap tajam orang-orang itu hingga mereka tertunduk dengan wajah pucat pasi.
Seperti saat ini Ayumi tengah duduk sendiri di kantin Rumah Sakit dan berusaha memasukan makan siangnya walaupun dengan malas, napsu makannya menguap begitu saja karena bisik-bisik dan tatapan penuh penasaran dari orang-orang di sekelilingnya, earphone yang bertengger manis hanya bisa menghalau suara-suara sumbang tapi tidak dengan tatapan-tatapan itu. Dari sudut matanya ia bisa melihat beberapa rekan dokternya tengah berjalan ke arahnya dengan nampan di tangan masing-masing, dan seperti yang ia perkirakan mereka duduk di meja yang sama dengan dirinya.
Sebagai permulaan mereka tersenyum ramah padanya, dan atas nama sopan santun Ayumi membuka earphonenya, dan mereka pun mulai basa basi menanyakan tentang keadaan pasien dan kegiatannya hari.
‘Ok, sebentar lagi,’ ucap Ayumi di dalam hati setelah melihat mereka saling sikut dan memberikan tanda untuk bertanya padanya.
"Hmmm... dr. Ayumi..."
‘Ini dia.’ Ayumi membuang napas perlahan sebelum menatap Eun Soo, perempuan berwajah bulat dengan rambut di bob pendek yang mengingatkan Ayumi kepada Jaiko adiknya Gian tokoh kartun di Doraemon, film yang menjadi tontonannya setiap hari minggu ketika ia masih kecil dulu.
"Apa gosip itu benar?" Tanyanya dengan hati-hati, "Tentang hubunganmu dengan Kevin, penyanyi tampan itu?"
Ayumi tidak begitu terkejut mendengar pertanyaan dari rekannya itu, karena cepat atau lambat akhirnya akan ada seseorang yang berani menanyakannya secara langsung, dan untunglah orang itu adalah Eun Soo, rekan residennya yang lumayan ia sukai.
__ADS_1
"Tidak, itu tidak benar," jawab Ayumi berusaha terdengar santai.
"Aaahhh.." ucapan serempak semua orang yang berada di meja itu membuat Ayumi menatap mereka semua dengan senyum dipaksakan.
"Jadi apa hubunganmu dengannya?" Kali ini Woo Young yang bertanya, pria dengan wajah imut dan cenderung cantik daripada tampan itu bertanya dengan mata membulat, dan membuat ketiga rekanya yang lain mencondongkan badan ke arah Ayumi yang hanya bisa membuang napas panjang entah untuk keberapa kalinya.
Sebenarnya ia menyukai ke empat rekan residennya itu, bagaimanapun mereka adalah rekan seperjuangannya, mereka begadang bersama, dimarahin bersama dan saling berebut kasur busa di tempat istirahat, walaupun selama ini ia selalu berusaha menjaga jarak dari semuanya tapi mereka tidak pernah menganggapnya sebelah mata, mereka menganggap kalau Ayumi adalah gambaran wanita sempurna dengan kecantikan dan kepintaran yang ia miliki dan jangan lupakan kalau ia adalah putri dari Presdir Rumah Sakit tempat mereka bekerja saat ini.
"Kami hanya berteman," jawab Ayumi singkat.
"Aaahhh..." mereka kembali berucap serempak.
Dari seberang meja mereka bisa mendengar suara perempuan yang mencibirnya ketika mendengar jawaban Ayumi tadi, dan menyindirnya dengan sebutan Gumiho.
"Jangan dengarkan, dia hanya iri padamu," ucap Eun Soo yang didukung anggukan dari semuanya, dan reaksi sederhana itu membuat hati Ayumi sedikit diliputi rasa hangat.
"Dia marah karena Dr. Lee menyelamatkanmu, kau tahu sendiri bagaimana Dr. Mi Rae sangat sakit hati ketika pria itu mencampakannya," bisik Ga In, seorang gadis cantik dengan rambut coklat panjang dan selalu terlihat modis.
"Tentu saja kami berpacaran!"
Suara berat milik seorang pria yang sedang berdiri tak jauh dari sana, tangannya dilipat di atas dada, matanya tajam menatap mereka yang terlihat terkejut melihat pria berpakaian operasi berwarna biru itu yang kini tengah berjalan menuju arah mereka dengan sangat santai. Ayumi mengerutkan alisnya menatap Dr. Lee yang kini tersenyum miring, bagaimana bisa dia tidak bisa menyadari kehadiran dokter specialis bedah itu? Apa dia benar-benar Vampire yang bisa muncul tiba-tiba?
"Aahh.. di sini kau rupanya, aku mencarimu kemana-mana, Chagia, (*sayang)" ucapnya santai yang membuat Ayumi tersedak minumannya berbeda dengan rekan-rekannya yang terlihat tersenyum iri melihat mereka berdua, dan ternyata kedatangan dan ucapan pria itu telah sukses menarik perhatian semua orang yang ada di kantin itu. Ayumi bisa melihat bagaimana seisi ruangan itu kini menatap ke arahnya.
Dengan santai Dr. Lee menarik kursi dari meja sebelah dan duduk di sebalah Ayumi.
"Aku sangat lapar setelah 2 jam operasi, tapi setelah melihatmu aku menjadi sangat kenyang," ujarnya santai membuat Ayumi ingin sekali memukul kepalanya menggunakan nampan di hadapannya.
Ayumi bisa melihat wajah Eun Soo dan Ga In yang menatap pria itu dengan sorot mata penuh rasa memuja, pipi mereka memerah seolah apa yang diucapkan pria itu tadi ditujukan untuk mereka berdua. Sedangkan Ayumi hanya bisa memutar bola matanya saja, sepertinya percuma dia membantah pria itu.
__ADS_1
"Dasar Vampire keras kepala!" Seru Ayumi dalam hati.
"Aigo Dr. Lee, kau membuatku cemburu," ucap Eun Soo dengan senyum menggoda.
"Aaah, dr. Song, maafkan aku tapi hatiku telah seutuhnya milik wanita cantik ini," ucap Dr. Lee santai sambil menatap Ayumi yang menatapnya tajam. Dari seberang meja mereka kembali mendengar sindiran Dr. Mi Rae dengan sebutan Gumiho.
"Aaah ternyata kau Gumiho? Seharusnya aku tahu, mana ada manusia secantik dirimu, ckkk, kau memang Gumiho yang sangat menggemaskan."
Ayumi membelalakan mata mendengar ucapan pria itu yang masih menatapnya dengan santai sambil tersenyum, sedangkan keempat rekannya berusaha menahan tawa mereka dengan susah payah, dari ujung matanya ia melihat Dr. Mi Rae yang memberengut dan terlihat sangat marah.
"Dr. Lee!" Seru mereka berempat berbarengan sambil membentuk tanda hati di atas kepala mereka dengan kedua tangan, yang di balas dokter itu dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Soo Hyuk, aku mencarimu dari tadi," suara dingin milik seorang pria yang membuat jantung Ayumi berdetak dengan hebat, suara yang sangat ia kenal, suara yang sangat ia rindukan.
Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah suara dimana Erik tengah berdiri menjulang berbalut jaket hitam dan celana hitam kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket dan matanya yang tajam memandang Dr. Lee yang juga tengah memandangnya tak kalah tajam, di sisi lain Ayumi bisa melihat Eun Soo dan Ga in yang kini menganga dengan mata berbinar menatap pria dihadapan mereka.
"Kau mencariku?" Tanya Dr. Lee yang dijawab anggukan Erik.
"Kalau begitu kami permisi." Woo Young menyikut Ga In yang tak mau melepaskan pandangannya dari Erik, dan setelah ditarik paksa oleh Woo Young dan Haneul akhirnya kedua perempuan itu berdiri sambil membawa nampan masing-masing, Ayumi sudah berdiri dan hendak mengambil nampannya ketika tangannya di cengkram oleh Dr. Lee.
"Makananmu belum habis, habiskan dulu makananmu!" Perintahnya sambil menatap Ayumi yang kini menatap keempat rekannya yang tengah menunggunya.
"Aku sudah kenyang, aku akan kembali ke ruang UGD."
"Kau bahkan tidak menyentuh makananmu, duduklah dan lanjutkan makananmu. Seung Won, apa kau keberatan kalau kekasihku ini bergabung dengan kita?"
Erik memandang Ayumi beberapa saat sebelum berkata, "Tidak, tentu saja tidak."
"Kau dengar itu, Sayang? Kau bisa melanjutkan makan siangmu di sini."
__ADS_1
Ayumi hendak protes ketika ia merasakan tarikan di tangannya yang membuat ia kembali terduduk, begitu juga Erik yang kini duduk di depan mereka berdua. Aura ketegangan tiba-tiba menyeruak kepermukaan mengisi udara di sekitar mereka dan dapat dirasakan oleh ke empat rekan Ayumi yang cepat-cepat pamit undur diri sambil bergidik merasakan aura ketegangan yang semakin menebal.
*****