
Tempat rahasia yang Kevin ucapkan tadi adalah sebuah salon ekslusif tempat para orang kaya Busan merawat kecantikan mereka, dan setelah menjalani beberapa proses yang membuang waktu, disinilah Ayumi berdiri di depan kaca menatap pantulan dirinya, rambut hitamnya kini berubah warna menjadi coklat muda dan dibuat sedikit bergelombang, dengan make up yang terkesan natural menutupi lingkaran hitam matanya akibat kurang tidur, ia terlihat lebih segar dan cantik, dengan mengenakan dress sederhana dan high heel, lengkap sudah penampilan baru gadis itu. Dari gadis cuek dan kutu buku berubah menjadi gadis cantik yang anggun dan elegan.
"Wow, siapa sekarang yang sudah berubah menjadi angsa cantik?" Ucap Kevin dengan mata berbinar penuh bangga menatap Ayumi yang terlihat malu-malu.
"Jadi selama ini aku bebek jelek?" Tanyanya dengan berpura-pura cemberut.
"Tidak, tentu saja kau bukan bebek jelek... kau angsa jelek."
"Yaah!" Seru Ayumi sambil tertawa, dan dengan senyum mengembang di bibir keduanya, mereka meninggalkan tempat itu dengan tas belanjaan yang memenuhi tangan Kevin, tanpa Ayumi ketahui disaat dia di make over, kakaknya itu pergi ke butik yang ada di lantai bawah dan membelikan beberapa pakaian, tas dan juga sepatu untuknya.
Mereka melanjutkan kembali perjalanan malam itu dengan berjalan di pinggir pantai, Kevin telah memakai topi dan maskernya kembali lengkap dengan jaket hoodi abu-abu miliknya.
"Kau terlihat seperti penjahat." Ayumi berkata sambil mengamati penampilan kakak tirinya itu.
"Kau lupa sekarang aku sudah terkenal? Semua orang kini mengenaliku sebagai idola halyu yang tampan," Ayumi mendengus sambil tertawa mendengar Kevin memuji dirinya sendiri, "Ayumi, ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu." Kevin tiba-tiba berhenti berjalan dan menatap Ayumi dengan serius yang membuat gadis itu mengangkat alisnya.
"Ada apa?" Tanyanya dengan penasaran.
Awalnya Kevin tidak mau memberitahu Ayumi tentang gosip yang sedang beredar di internet, tapi ia harus memberi peringatan terlebih dahulu seandainya ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, dan bisa dipastikan wartawan kini telah berkeremun di depan rumah sakit dan rumah mereka, dan Kevin tidak mau membuat Ayumi mengalami hal buruk tanpa persiapan. Jadi Kevin memutuskan untuk menceritakan semuanya tanpa menutupi sedikitpun bahkan tentang keputusan yang telah ia pikirkan tentang merahasiakan status mereka untuk saat ini.
"Itu terserah padamu, kalau kau mau aku mengumumkan tentang status keluarga kita, dengan senang hati aku akan memberitahu kepada semua kalau kau adikku, tapi mungkin kau akan kehilangan privasi dan setiap gerak gerikmu akan jadi sorotan semua orang."
Kevin memandang Ayumi yang terdiam dan melihat itu ia merasa sangat bersalah karena telah memberikan masalah baru dalam kehidupan gadis itu, "Seandainya kau tidak mau hal itu terjadi, kau hanya perlu memercayakan masalah ini kepada ku dan agensi, kami akan membereskan masalah ini. Tapi, mungkin beberapa hari ke depan kau akan sedikit terganggu karena ulah fans dan wartawan. Jadi semua tergantung keputusanmu, Ayumi."
Ayumi masih terdiam memikirkan masalah yang hanya disebabkan oleh makan siang bersama dengan kakaknya sendiri, apa yang salah dengan itu?
"Maafkan aku, seharusnya tadi aku lebih hati-hati dan tidak mengajakmu makan siang ditempat terbuka seperti taman Rumah Sakit."
"Tidak, ini bukan salah kita, Kevin. Orang-orang cenderung mengambil kesimpulan dari hanya apa yang mereka lihat atau mereka dengar tanpa tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi." Ayumi menatap mata coklat Kevin sebelum mengalihkan pandangannya ke lautan luasan yang terlihat gelap walau terdapat cahaya lampu-lampu kota yang gemerlap di pinggirannya.
"Kita tidak bisa menghindari ini lebih lama, karena nama baikmu yang dipertaruhkan."
"Tidak, jangan pikirkan aku. Untuk saat ini aku masih bisa menjaga diriku sendiri, tapi yang ku khawatirkan adalah dirimu, karena aku tak akan selalu ada di dekatmu untuk melindungimu."
Ayumi tersenyum, mata hitamnya menatap lembut mata coklat Kevin yang terlihat cemas, dalam hati ia bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati mengirimkan seseorang seperti Kevin yang selalu ada untuknya.
__ADS_1
"Dengarkan aku, aku akan baik-baik saja. Yang harus aku lakukan beberapa hari ke depan adalah menghindari wartawan dan juga fansmu. Aku hanya tinggal memakai masker dan topi seperti yang kau lakukan." Kevin mendengus tersenyum mendengar ucapan Ayumi, "Lagipula bukankah sekarang aku sudah berubah menjadi angsa cantik? Jadi tidak adalagi yang akan mengenaliku," lanjut Ayumi meyakinkan kakak tirinya itu kalau dia akan baik-baik saja.
Beberapa saat Kevin hanya terdiam menatap mata Ayumi yang penuh keyakinan, "Jadi kau tidak mau aku memberi tahu mereka tentang status hubungan kita?"
"Tidak, aku tidak mau hobiku makan makanan di warung pinggir jalan terganggu gara-gara orang-orang menatap dan memotretku," ujar Ayumi sambil tersenyum.
Kevin mengangguk tanda setuju, "Baiklah kalau begitu aku akan menghubungi pihak agenai dan segera melakukan konfrensi pers. Kau tenang saja karena kita memiliki seorang PR yang handal, ia bisa membereskan masalah ini dengan mudah."
Ayumi tertawa mengerti siapa PR yang dimaksud pria itu, dia adalah Rama adik Ayumi yang semenjak pertemuan pertama kali dengan Kevin langsung menjadi fans nomer satunya, sekuat tenaga ia mencari beasiswa di Seoul hanya untuk bisa lebih dekat dengan idolanya itu, dan karena kemampuannya berkomunikasi dalam beberapa bahasa ia diterima menjadi PR di agensi tempat Kevin bernaung.
"Jadi masalah ini yang membuat anak itu meneleponku dan melarangku membuka internet, dan keluar dari rumah?" Ayumi tersenyum mengingat bagaimana tadi adiknya itu mewanti-wantinya agar tidak membuka internet.
"Dia menghubungimu?"
"Iya ketika di salon tadi."
"Kau tahu dia bahkan mengancamku, kalau sesuatu terjadi padamu dia akan berhenti jadi fans no 1-ku dan beralih menjadi fansnya Heechul Super Junior, agar dia bisa meminta seniorku itu untuk memarahi dan menggangguku seumur hidup."
Ayumi tertawa mendengar cerita tentang Rama yang mengancamnya, itulah adiknya yang selalu bisa membuat suasana menjadi ceria, berbeda dengan dirinya yang lumayan tertutup, Rama memiliki sifat terbuka, dia akan mengatakan apa saja yang ada dalam pikirannya, dia sangat supel hingga mudah berteman dengan siapa saja, itulah kenapa sangat mudah untuk menyukai seorang Cindy Ramadita, selain karena kecantikannya, dia pintar bergaul dan juga sangat baik, dia mudah sekali menangis walau hanya menonton film kartun.
"Aku harus kembali Seoul, untuk menyiapkan konfrensi pers."
"Nanti malam."
"Secepat itu?"
"Semakin cepat kita menyelasaikan ini maka akan semakin baik."
Ayumi mengangguk menyetujui, "Baiklah, tolong berhati-hati dan... jaga Rama untukku."
Kevin mengangguk, "Pasti! Kau juga berhati-hati, tidak perlu khawatir tentang adikmu karena banyak yang dengan senang hati akan menjaganya," ujar Kevin sambil tersenyum,"Yang ku khawatirkan adalah siapa yang akan menjagamu selama aku tak ada?"
Ayumi tersenyum berusaha menenangkan pria yang menatapnya dengan sendu, "Tidak usah khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri... bukankah kau tahu sendiri, aku bisa bertahan di negri orang seorang diri selama bertahun-tahun, dan sekarang yang harus aku lakukan hanyalah bertahan selama beberapa hari saja sambil menunggu kau dan Rama membereskan masalah ini."
Kevin terdiam beberapa saat, memikirkan tentang apa yang diucapkan adik tirinya itu memang benar, gadis itu adalah gadis yang kuat tapi Ayumi belum tahu hal apa saja yang bisa dilakukan seorang fans fanatik terhadapnya, tapi disisi lain dia juga harus kembali ke Seoul untuk membereskan masalah ini.
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku mohon untuk beberapa hari bisakah kau izin dulu tidak ke Rumah Sakit?"
"Kevin, itu tidak mungkin."
"Dengarkan aku, saat ini pasti sudah banyak wartawan dan juga fans yang berkerumun di depan Rumah Sakit."
"Malam ini aku sudah ijin untuk tidur di apartemen, dan besok pagi aku baru akan ke Rumah Sakit. Dengar, mungkin Rumah Sakit adalah tempat teraman untukku karena ada banyak orang dan mereka pasti tidak akan membiarkan putri dari kepala Rumah Sakit disakiti, kecuali kalau mereka ingin dipecat."
Kevin memikirkan ucapan Ayumi, dan untuk kali ini gadis itu benar, para fans tidak akan berani melukainya karena terlalu banyak saksi dan ayah mereka tidak akan membiarkan ada seorangpun yang menyakiti anak-anaknya.
"Baiklah, aku akan menghubungi Appa sebelum kembali ke Seoul dan menceritakan tentang apa yang terjadi. Tapi kalau ada sesuatu yang menimpamu, aku mohon hubungi aku atau aku bersumpah akan membunuh siapapun yang berani melukaimu walaupun hanya sehelai rambut," ujar Kevin bersungguh-sungguh dan membuat Ayumi menganggukan kepala setuju hanya untuk menenangkan hati pria dihadapannya saat ini.
Seperti yang diperkirakan Kevin, paginya ketika ia sampai di depan Rumah Sakit para wartawan dan fans sudah berkerumun di tempat itu. Ayumi tidak menyangka kalau yang selama ini ia hanya lihat di drama kini ia mengalaminya secara langsung, dan itu menyeramkan. Sambil mengepalkan tangan ia menghembuskan napas berat, "Fighting!" Ayumi memberi semangat dirinya sendiri sebelum ia berjalan menuju tempatnya bekerja.
Ia menaikan syal putihnya hingga menutupi hidung, dan mulai melangkah dengan cepat, dadanya berdebar hebat setelah melihat dari dekat jumlah orang yang berkerumun, tulisan-tulisan dan teriak-teriakan para remaja yang memintanya keluar seolah memekakan telinga, para wartawan di sisi lain siap dengan kamera masing-masing.
Ia terus berjalan berharap tak ada seorangpun dari mereka akan mengenali dirinya dengan penampilan baru, jantungnya semakin berdetak kencang ketika jaraknya semakin mendekat, dia berusaha berjalan senormal mungkin walaupun tubuhnya bergetar hebat, matanya menatap sekeliling terlihat cemas, beberapa kali ia menghembuskan napas di balik syalnya hanya untuk mengurangi kegugupan dan rasa takut yang menjalar kesuluruh tubuh.
Ia terus berjalan sambil menunduk, jantungnya berpacu semakin cepat, hanya tinggal beberapa meter saja ketika matanya beradu pandang dengan mata salah satu dari para fans remaja yang tengah membawa kertas karton dengan tulisan yang menghinanya, rasa dingin menjalari tubuh, jantungnya seperti berhenti berdetak untuk beberapa detik ketika ia mendengar gadis itu berteriak.
"ITU DIA!"
Tubuhnya membeku, matanya membelalak ketika hanya dalam hitungan detik kerumunan orang itu berlari ke arahnya, kilatan blitz kamera para wartawan dengan berbagai pertanyaan dan teriakan para fans yang menghujatnya membaur menjadi satu. Seperti lupa bagaimana caranya berlari Ayumi hanya berdiri mematung, ketakutan seolah mencekik dirinya, rasa dingin semakin menjadi menjalari tulang belakang hingga tengkuk, wajahnya memucat.
Mereka mulai melemparinya dengan berbagai macam benda, kaleng minuman, botol bekas, telur dan juga tepung. Sebuah kaleng minuman soda yang masih penuh mengenai kepalanya hingga isinya menyembur keluar, seperti diguyur air es perlahan logikanya mulai kembali, kakinya kini mulai berjalan mundur ketika melihat mereka hanya berjarak beberapa meter dihadapannya, dadanya naik turun, tubuhnya gemetar.
"Lari bodoh!" akal sehatnya memberi perintah, ia bersiap untuk menjalankan perintah itu ketika sebuah jaket menutupi kepalanya hingga ia tak bisa melihat apapun dan tiba-tiba sebuah lengan kokoh menariknya kedalam pelukan yang hangat.
"Apa yang kalian lakukan kepadanya!" Teriaknya dengan suara dingin yang penuh amarah dan membuat semua orang kini terdiam membeku begitu juga dengan Ayumi yang berada dalam pelukannya.
"Ahjushi, kau jangan ikut campur, serahkan dia pada kami!" Teriak salah satu dari remaja pemberani itu yang menyulut keberanian yang lainnya.
"Kau! Siapa namamu? Apa orangtuamu tahu kalau mereka mempunyai anak seorang penjahat?" Tanyanya dengan suara menggeram yang membuat remaja tadi tergagap, "Kau tidak perlu mengatakan kepada mereka, karena polisi yang akan mengatakannya kepada orangtua kalian semua," lanjutnya yang membuat mereka semua terbelelak kaget, "Apa kau tidak liat CCTV itu?" Ia bertanya sambil memberi tanda dengan kepalanya kearah kamera pengawas, "Itu akan menjadi bukti yang cukup untuk menghukum kalian semua." Ancamnya yang membuat para remaja itu semakin pucat pasi walaupun sorot amarah masih mengisi mata mereka.
"Dan kalian," Kevin kini menatap kerumunan para wartawan yang tengah mengambil fotonya, "Kalau sampai aku membaca berita yang tidak-tidak dan merugikan kami, aku akan menuntut kalian semua!" Lanjutnya dengan suara menggeram, semua orang kini hanya saling pandang satu sama lain dan mulai berjalan mundur, "Sekarang aku minta kalian bubar, sebelum aku menghubungi polisi!"
__ADS_1
Perlahan kerumunan itu mulai membubarkan diri. Ia membuka jaket yang menutupi kepala Ayumi untuk kemudian disampirkan ke bahu gadis itu, "Kau tak apa-apa?" Tanyanya dengan lembut, tangannya merapikan rambut Ayumi yang berantakan, matanya kembali penuh dengan amarah ketika melihat bagaimana pucatnya gadis di hadapannya saat ini, dan sebuah bejolanan menghiasi keningnya. Tanpa aba-aba terlebih dahulu ia mengendong tubuh ringkih gadis itu dalam dekapannya lalu dengan langkah panjang mulai berjalan memasuki Rumah Sakit tanpa memedulikan tatapan orang-orang yang mengiringi langkahnya.
****