Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 16


__ADS_3

"Ya ampun, badanku terasa seperti hancur," ucap Ayumi sambil dengan perlahan berusaha duduk di atas kursi restoran resort ski yang tengah mereka datangi. Karena terjatuh dengan posisi duduk beberapa kali ia merasakan sakit di sekitar belakang tubuhnya.


"Tapi tadi kau terlihat sangat luar biasa," puji Erik yang terlihat baik-baik saja, dengan sweater warna biru langit yang ia kenakan membuat ia terlihat lebih segar dan luar biasa tampan, dan itu membuat Ayumi mengutuknya dalam hati karena merasa tidak adil, ketika ia yang seorang perempuan terlihat berantakan bahkan untuk berjalanpun sekarang ia merasa sakit, bagaimana bisa penampilan Erik yang seorang pria masih terlihat sempurna tanpa cela sedikitpun.


"Luar biasa memalukan maksudmu." Ayumi menyesap coklat panas yang baru saja diantarkan oleh pelayan, Erik tertawa mendengar ucapan kekasihnya. Sehari ini entah sudah berapa kali Erik tertawa, itu di luar kebiasaannya selama ini yang seolah terbuat dari es yang dingin. Setelah berpacaran dengan Ayumi, Erik terlihat lebih santai, senyum selalu terukir diwajahnya di saat ia bersama gadis bermata bulat itu, ia tidak sekaku dan sedingin biasanya membuat semua orang yang mengenalnya merasa heran dan sekaligus bahagia atas perubahan itu.


"Aku pikir kau setidaknya pernah belajar bermain ski mengingat kau selalu membantu John di resortnya setiap musim dingin."


"Aku hanya membantu di bagian resepsionis saja," jawab Ayumi sambil menikmati poutine, makanan khas Kanada yang berupa kentang goreng dengan taburan keju dan disiram kaldu sapi. Mereka memesan satu porsi besar poutine untuk dinikmati berdua, sambil menunggu steak dihidangkan.


"Aku lebih suka menikmati pemandangannya. Kau tahu, aku suka melihat salju atau matahari terbenam... entahlah setiap melihat itu aku seperti tersihir dan masuk kedunia lain. Di negaraku tidak pernah turun salju, jadi setiap melihat salju turun itu seperti sebuah keajaiban, warnanya yang putih terlihat sangat suci dan murni dengan melihatnya saja aku merasa tenang. Rasa dinginnya seolah-olah bisa membuat hati yang sedang kacau menjadi lebih baik."


Erik memerhatikan Ayumi yang terlihat sangat cantik walaupun tanpa riasan dan memakai baju sederhana. Kali ini ia hanya memakai sweater warna kuning cerah yang membuat kulit putihnya lebih cerah, rambut hitamnya dikuncir kuda, sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk bunga es dan bertahtakan berlian ditengahnya menyepurnakan penampilan gadis itu.


Kalung itu sendiri Ayumi terima sebagai hadiah dari Erik, awalnya tentu saja ia menolak menerima hadiah semahal itu tapi bukan Erik namanya kalau tidak berhasil membujuk kekasihnya hingga akhirnya walaupun dengan berat hati menerima dan memakainya. Ia mengatakan kalau itu hanya perhiasan palsu yang harganya tak seberapa, hingga akhirnya Ayumi bisa tenang menerima perhiasan yang harga sebenarnya bisa membuat gadis itu kena serangan jantung dadakan.


"Bagaimana dengan matahari terbenam?" Erik memotong sirloin steak untuk Ayumi yang baru saja diantarkan pelayan.


"Entahlah... itu seperti ritual untukku, ketika memiliki masalah aku akan mencari tempat yang tinggi untuk melihat matahari terbenam, dan berharap semua masalahku akan ikut menghilang seiring tenggelamnya matahari. Dan esok harinya ketika matahari terbit, aku akan memulai hariku dengan lembaran baru."


Ayumi memerhatikan Erik yang tengah memotong steaknya menjadi potongan-potongan kecil, ia sering dibuat terkejut oleh perlakuan kekasihnya yang membuat hatinya membuncah karena bahagia, walaupin itu hanya tindakan-tindakan sederhana seperti saat ini, atau membukakan pintu mobil untuknya atau bahkan memberikan jaketnya sendiri untuk ia kenakan karena Erik takut Ayumi kedinginan dan sakit. Ya, patung es itu sedikit demi sedikit telah mencair dan berubah wujud menjadi pangeran berkuda putih.


"Aaa..." perintah Erik yang langsung dilaksankan Ayumi tanpa banyak protes, ia menyukai ketika Erik menyuapinya seperti itu. "Enak?"


Ayumi mengangguk dengan mata berbinar yang membuat Erik tersenyum bahagia. Ia menerima piring dengan steak yang telah dipotong oleh Erik dan mulai memakannya sendiri.


"Apa kau sering melakukam ini?"


"Hmm?" Erik kini tengah mengiris steak miliknya sendiri.


"Memotongkan makanan untuk seorang perempuan dan menyuapinya makanan?"


Erik menatap Ayumi yang tengah menyantap makanannya tapi matanya tak lepas dari dirinya. Erik hanya mengangkat bahu acuh sebagai jawaban.


"Dasar playboy."


"Bukan playboy, aku hanya tak mau berbohong kepadamu dengan mengatakan kalau kau kekasih pertamaku. Katakan kepadaku, apa aku kekasih pertamamu?"


Ayumi kini mengambil poutine sambil mengangkat alisnya sebagai jawaban, yang membuat pria itu tersedak.


"Tunggu.. jadi, aku kekasih pertamamu?"


Ayumi terdiam beberapa saat sambil menikmati kentang goreng dengan keju itu, sedangkan Erik dengan setia menunggu jawaban gadis itu sambil menatapnya dengan mata berbinar.


"Maafkan aku, tapi kau bukan kekasih pertamaku. Kau mungkin tak percaya, tapi waktu aku sekolah dulu, aku cukup terkenal," ujar Ayumi sambil tersenyum dan mengangkat alis matanya.


Dengan malas akhirnya Erik melanjutkan makannya setelah mendengarkan jawaban Ayumi, dalam hati ia tak mau membayangkan berapa banyak pria yang telah mengejar-ngejar kekasihnya itu, sekarang saja ia begitu kesulitan menghadapi pria-pria yang berusaha menarik perhatian Ayumi. Gadis itu tidak pernah menyadari betapa cantik dan menarik dirinya di balik kesederhaan yang ia tampilkan. Mata hitam bulat berbingkai bulu mata lentik, kulit putih nan mulus, tinggi dan bentuk badan yang ideal serta rambut hitam panjang yang sedikit bergelombang, membuat dirinya secantik boneka barbie, tapi selain kecantikan fisik ia memiliki hati yang sangat cantik dan kepintaran yang melengkapi keindahannya. Yang disukai Erik adalah ia selalu bersikap sederhana dan tidak pernah membanggakan kecantikan fisiknya.


"Lupakan tentang masa lalu, ceritakan tentang keluargamu."


"Hmmm... seperti kau tahu, aku memiliki seorang adik perempuan, Cindy Ramadita, tapi ketika ia dilahirkan Ayahku sangat mengharapkan anak laki-laki karena itulah kenapa ia dipanggil Rama, kau akan menyukainya. Rama gadis yang menyenangkan, ia sangat cantik dan yang pasti ia sangat tergila-gila dengan budaya Kpop." Ayumi tersenyum, matanya menerawang mengingat adiknya.


"Maksudmu, ia menyukai lagu-lagu Korea?"


"Iya, aku bahkan pernah mengantarnya nonton konser Super Junior di Jakarta, tentu saja aku tak ikut masuk, aku hanya menunggunya di luar saja."

__ADS_1


"Apa kau tidak suka lagu-lagu Korea?"


Ayumi terdiam beberapa saat, "Tidak, waktu itu aku lebih menyukai lagu-lagu barat, tapi sekarang aku menyukai drama Korea dan variety shownya."


"Wooow... jadi sekarang kau menonton drama Korea?" Tanya Erik sambil tersenyum menggoda membuat pipi Ayumi memerah, ia menundukan kepalanya berpura-pura serius dengan makanannya, ia tak mau Erik mengetahui kalau dirinya sedang belajar bahasa Korea sampai nanti ia bisa dengan bangga berbicara dengan fasih menggunakan bahasa negara kekasihnya itu.


"Dan Ayahmu?" Erik bertanya sambil kembali menikmati makanannya.


"Ayahku hanya seorang karyawan biasa di salah satu perusahaan pemerintah. Ia seorang Ayah yang sangat luar biasa, sangat tegas untuk beberapa hal tapi sangat penyayang dan murah hati untuk hal lainnya, kami berdua lebih dekat dengan Ayah daripada Ibu."


Ayumi terdiam, matanya menerawang ketika pembicaraan sudah mengarah ke ibu tirinya. Erik bisa melihat perubahan itu, ia telah menghabiskan makanannya, kedua sikunya bertumpu di atas meja, matanya fokus menatap gadis di hadapannya.


"Well, Ibu tiriku selalu menganggapku tak pernah ada, aku seperti makhuk tak kasatmata. Itulah sebabnya aku seperti bisa bernapas dengan lega ketika keluar dari rumah." Ayumi memandang Erik yang tengah menatapnya dengam serius, ia berusaha tersenyum walaupun terpaksa.


"Apa kau tidak merindukan Ayah dan Adikmu? Kau tidak ada keinginan untuk pulang ke Indonesia?"


"Tentu saja aku sangat merindukan mereka, kami masih bisa saling telepon dan ulang tahunku kemarin mereka datang ke sini." Ayumi kembali tersenyum, "Ayahku bilang aku hanya harus fokus kepada kuliahku saja, gak usah memikirkan yang lain soal pulang atau apapun, karena mereka tahu kalaupun aku pulang ke Indonesia, aku hanya akan merasa tertekan dengan sikap Ibunya Rama."


Mereka terdiam beberapa saat, Ayumi telah menghabiskan makanannya ia kini bersandar di kursi sambil mendesah karena kekenyangan, Erik mengikuti gaya Ayumi tapi ia terlihat begitu elegan hanya dengan bersandar di kursi sambil berpangku tangan dengan senyum miring menghiasi wajah tampannya.


"Sekarang ceritakan padaku tentang keluargamu?"


"Keluargaku?" Erik mengangkat alis mata sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku memiliki adik laki-laki, umurnya hanya tiga tahun dibawahmu."


"Seumuran dengan Rama?" Erik mengangguk lalu melanjutkan kembali ceritanya.


"Aku tidak begitu dekat dengan kedua orangtuaku, mungkin karena mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, tapi aku cukup dekat dengan Joonie, adikku namanya Kim Joon Seo, ia sangat berbeda denganku kalau aku lebih suka menyendiri dan tidak suka keramayan, dia sebaliknya, anak kurang ajar itu sangat pandai membuat masalah," ujar Erik sambil tersenyum, Ayumi bisa melihat sorot mata penuh kasih sayang ketika ia membicarakan adiknya.


"Aku yakin dia akan menyukaimu juga, tapi aku akan menghajarnya kalau dia berani merayumu." Erik tersenyum. Percakapan ringan diantara keduanya terus berlanjut sampai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kota karena hari sudah mulai senja.


Nuansa natal masih terasa dengan masih terpasangnya hiasan natal di setiap bangunan yang berada di segala penjuru kota dan saat ini mereka sedang berada di Harbour Center Complex tepatnya di menara Vancouver look out, tempat pertama kali mereka berdua menikmati pemandangan matahari terbenam, dan sekarang mereka tengah menikmati pemandangan malam kota Vancouver yang gemerlap walaupun sebagian tertutup salju putih membuat pemandangan kota itu seperti dalam lukisan.


Sama seperti saat itu mereka berdua berdiri bersisian ditemani oleh lagu yang mengalun indah melalui earphone yang terpasang di telinga keduanya, bedanya kali ini tangan Erik merangkul pundak Ayumi dengan posesif.


"Iris."


"Hmm."


"......"


"Ada apa?" Ayumi mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang indah ke arah Erik yang masih memandang ke kejauhan.


"Apa kau mau ikut denganku ke Korea?" Erik bertanya dengan serius, mata tajamnya menatap Ayumi yang terlihat tercengang.


"Dengar, bukankah kita sedang libur kuliah dan kau bisa ijin kepada John dan rumah sakit untuk libur beberapa hari, aku mohon ikutlah denganku."


Ayumi masih diam membisu, matanya menatap Erik yang tengah menatapnya dengan sorot penuh harap.


"Apa... apa kau akan pulang ke Korea?" Ayumi bertanya setelah bangun dari keterkejutannya. Erik membuang napas berat lalu mengangguk.


"Ibuku menghubungiku, memintaku untuk pulang sebentar. Sudah lebih dari tiga tahun aku tak pulang, Ibuku… dia memintaku untuk menghabiskan liburan natal kali ini di rumah, tapi kemarin aku lebih memilih untuk memghabiskan liburan ini bersamamu."


"Erik, seharusnya kau tidak melakukan itu demi aku," ucap Ayumi karena merasa telah menjadi penghalang untuk Erik pulang dan berkumpul dengan keluarganya.

__ADS_1


"Tidak, itu bukan untukmu, tapi untukku sendiri. Untukku, Iris, karena aku tak bisa walau sehari saja tak bisa melihatmu, mendengar suaramu dan memelukmu. Tidak, aku tak bisa membayangkan kalau aku harus berpisah ribuan mil darimu. Tapi Ibuku kemarin menghubungiku lagi dan memohon kepadaku agar aku pulang walaupun hanya beberapa hari, dan aku tak mau mengecewakan Ibuku untuk kedua kalinya dengan menolak pulang, jadi aku mohon ikutlah denganku, Iris."


Mendengar ucapan Erik, Ayumi merasa bahagia karena ia memiliki arti yang sama bagi pria itu seperti halnya arti Erik bagi dirinya. Ayumi masih terdiam tak kuasa menatap mata tajam milik pria itu yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata penuh harapan.


"Erik, maafkan aku, aku tak bisa." Ya Tuhan, Ayumi tak sanggup menatap sorot kekecewaan di dalam mata hitam yang biasa menatapnya dengan penuh cinta itu.


"Seandainya aku hanya bekerja bersama John, aku akan langsung setuju ikut denganmu tapi saat ini aku telah menandatangani kontrak kerja magang di rumah sakit, dimana profesionalismeku diuji. Aku mohon mengertilah, aku tidak bisa begitu saja meminta ijin cuti sedangkan aku masih pekerja magang baru."


Ayumi berusaha menjelaskan dan mengharapkan kekasihnya itu bisa mengerti dengan posisinya saat ini.


"Kau bilang hanya beberapa harikan?" Tanya Ayumi sambil menggenggam kedua tangan Erik, "Pulanglah… aku... aku akan baik-baik saja. Aku akan menunggumu." Ayumi menatap Erik yang masih terdiam membisu.


"Oooh... aku mohon jangan menatapku dengan sorot mata itu. Itu membuatku merasa bersalah," lanjut Ayumi setelah kembali melihat sorot kekecewaan di mata kekasihnya.


Erik mencoba tersenyum walaupun masih merasakan kecewa karena Ayumi tidak bisa ikut dengannya pulang ke Korea, dengan perlahan ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Aku mengerti, Iris, maafkan aku karena untuk beberapa saat tadi aku terlalu egois."


Kepala Ayumi menggeleng dalam pelukan Erik, ia tidak menyalahkan kekasihnya. Ia sangat mengerti sebesar apa Erik ingin mengajaknya berlibur di negara kelahiran pria itu.


"Kau akan kembalikan?" Ayumi bertanya masih dalam pelukan Erik.


"Tentu saja aku akan kembali, jadi jangan macam-macam ok?"


Ayumi tertawa mendengar ucapan kekasihnya itu, ia semakin menyurukan kepalanya di dada Erik dan menghirup wangi tubuh kekasihnya dalam-dalam.


"Kapan kau pergi?"


"Besok."


"Besok?" Ayumi terkejut mendengar hari keberangkatan kekasihnya, kepalanya mendongak menatap Erik yang juga tengah memandangnya kemudian ia mengangguk sebagai jawaban.


"Sampai kapan?" Tanya Ayumi masih menatap kekasihnya. Erik kembali menarik gadis itu dalam pelukkannya, mencium kepala Ayumi sebelum akhirnya menaruh dagunya di atas kepala Ayumi.


"Hanya selama liburan." Erik menghirup wangi shampo gadis itu yang menyegarkan. Mereka terdiam beberapa saat larut dalam pikiran masing-masing.


"Itu hanya sebentar, Erik, kita akan baik-baik saja."


"Tentu saja kita akan baik-baik saja. Tunggu aku, ok? Jangan macam-macam. Jangan pergi keluar dengan pria manapun. Ingat pria manapun! Apalagi pria kurang ajar itu!"


Ayumi tertawa mendengar ucapan Erik dan dia sangat paham siapa yang di maksud Erik di sini.


"Termasuk John?" Tanya Ayumi dengan sorot mata geli.


"Kecuali dia. Dia tidak termasuk dalam golongan pria," jawab Erik membuat keduanya tertawa. Mereka kembali terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Ayumi mengeratkan pelukannya.


"Ooh.. aku sudah mulai merindukanmu."


"Aku juga." Erik kembali mencium kepala Ayumi dengan lembut.


Mereka masih berpelukan saat terdengar suara petasan dan cahaya warna warni menghiasi langit malam kota Vancouver yang gelap. Ayumi memutar badannya menghadap kaca raksasa di hadapannya, menikmati pemandangan gemerlap cahaya kembang api dengan Erik yang memeluknya dari belakang.


Tak ada kata yang terucap, mereka hanya terdiam menikmati kebersamaan saat ini yang tengah mereka rasakan sebelum akhirnya besok mereka akan terpisah ribuan mil untuk pertama kalinya.


****

__ADS_1


__ADS_2