Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 28


__ADS_3

"Ada apa kau mencariku?" Dr. Lee bertanya sambil menatap Erik santai, tubuhnya bersandar di sandaran kursi, tangannya dilipat di atas dada.


"Aku ingin membicarakam soal operasi besok," jawab Erik dengan suara dingin khasnya, Ayumi dapat merasakan aura ketegangan diantara mereka yang membuatnya terasa terhimpit. Jangankan untuk melanjutkan makannya, untuk mengangkat kepala saja ia merasa tak sanggup, bukan karena takut tapi ia tak sanggup untuk menatap pria yang ia benci sekaligus masih dirindukannya itu.


"Tidak usah khawatir, semua sudah siap kalau hasil tesnya bagus maka besok tidak akan ada kendala," jawab Dr. Lee, ia kini menatap Ayumi yang masih mengaduk-aduk makanannya, "Cepat habiskan makananmu atau kau akan terus duduk di sini seharian!"


Ayumi menghembuskan napas berat, sekilas ia melirik dokter pegawasnya itu dengan lirikan mematikan.


"Oh! Bagaimana bisa seseorang melirikku dengan lirikan seperti itu!" Seru Dr. Lee sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ayumi yang semakin menundukan kepalanya.


"Coba ulangi lagi!" Ayumi menggeleng sambil terus menundukan kepala, melihat itu kini giliran Dr. Lee yang menghembuskan napas berat, tangan kirinya memegang dagu Ayumi kemudian mengangkatnya hingga mata bulatnya yang terbelalak kaget kini menatap mata tajam pria itu, "Bukankah sudah ku katakan untuk tidak menundukkan kepalamu di depan siapapun?" Dr. Lee berkata sambil terus menatap Ayumi yang masih terlihat kaget dengan apa yang dilakukan pria itu di depan Erik yang kini hanya bisa menggerutukan giginya.


"Jangan pernah menundukan kepalamu lagi karena kau tidak salah apapun, Ayumi. Jangan biarkan orang-orang yang menghujat kita merasa senang karena melihat kita kalah dan lemah, tunjukan kalau kita kuat dan bisa menghadapi semuanya, tunjukan kalau kita baik-baik saja, apa kau mengerti?"


Ayumi perlahan mengangguk, mata bulatnya masih menatap mata Dr. Lee yang juga menatapnya lembut sekaligus tegas, untuk beberapa saat mereka berdua larut dalam pandangan masing-masing melupakan kalau ada seseorang di hadapan mereka yang hatinya terasa sakit menyaksikan itu semua.


"Aaah.. bagaimana bisa kau memiliki mata sebulat dan seindah ini? Apa kau melakukan operasi pada matamu itu?"


"A..apa?"


"Seung Won, bukankah kau mengenalnya sejak lama, apa dia memiliki mata itu dari dulu?" Tanya Dr. Lee sambil menatap Erik yang tengah menatap mata Ayumi, mata yang dulu membuatnya jatuh cinta, mata yang dulu selalu menatapnya dengan penuh kasih sayang.


"Iya, dia memiliki mata itu dari dulu," ucap Erik lirih, matanya tak lepas memandang Ayumi yang kini tengah berpura-pura menikmati makanannya.


"Waah.. kau pasti membuat Kakakmu sibuk mengancam dan menendang para pria seperti yang dia lakukan kepadaku kemarin," ujar Dr. Lee sambil tersenyum, sedangkan Erik mengerutkan alisnya mendengar ucapan dokter itu.


"Kau bertemu dengan Kakaknya?" Tanya Erik yang membuat Dr. Lee mengalihkan pandangannya dari Ayumi ke arah pria yang memandangnya penanasaran.


"Iya, kemarin aku bertemu dengannya, apa kau mengenalnya juga?"


Ayumi menghentikan makannya untuk sesaat ketika mendengarkan percakapan kedua pria itu, ia ingin segera pergi meninggalkan keduanya dan menyibukkan diri sampai semuanya berakhir.

__ADS_1


"Tidak aku tidak mengenalnya."


"Aku sudah menduganya, dia hanya akan mendatangi pria-pria yang berusaha mendekati adik kesayangannya ini," ujar Dr. Lee sambil menatap Ayumi yang sedang lahap makan seolah tak terganggu dengan percakapan keduanya yang menjadikan dirinya sebagai objek pembicaraan.


"Dan pria dingin sepertimu tidak mungkin menyadari ada perempuan cantik di hadapanmu selama ini, perempuan yang luar biasa seperti dia," lanjut Dr. Lee tanpa mengalihkan pandangannya dari Ayumi yang untuk beberapa detik sempat tertegun mendengar ucapannya.


"Tapi aku penasaran, bagaimana bisa pria yang pergi meninggalkanmu itu lolos dari Kakakmu?"


Ayumi kembali terdiam, dadanya kembali berdetak kencang seolah diingatkan kembali kepada pengkhianatan dari pria yang kini duduk di hadapannya, yang mata dinginnya menatap tajam kea rahnya. Tanpa menghiraukan pertanyaan Dr. Lee, Ayumi kembali menyuapkan makannya dalam diam.


"Katakan padaku, apa Kakakmu memberi peringatan kepada pria itu seperti dia memberi peringatanku?"


Ayumi menarik napas panjang sebelum menjawab singkat, "Iya."


Erik mengerutkan keninganya mencoba berpikir, kakaknya Ayumi memeringatinya? Tapi kapan? Dia bahkan belum pernah bertemu dengannya.


"Hmm.. tapi pria itu terlalu mencintaimu sehingga dia terus mengejarmu?"


Ayumi memasukkan sesuap besar nasi dan bulgogi, dia mengunyahnya dengan cepat lalu menelannya, "Tapi aku terlalu naif saat itu, aku percaya kalau dia mencintaiku sebesar aku mencintainya... tapi aku salah, buktinya dia bisa meninggalkanku dengan mudahnya." Ayumi kembali melanjutkan makannya dengan semangat, berusaha secepatnya menghabiskan makannya dan pergi dari sana.


Erik terdiam, jantungnya berdetak kencang mendengar ucapan Ayumi, ada perasaan sakit dari suara gadis itu, dan dia sangat tahu kalau dialah yang menyebabkan rasa sakit itu.


"Jadi Kakakmu belum pernah bertemu ******** itu?"


Ayumi terdiam mendengar pertanyaan Dr. Lee, dia memasukan suapan terakhir makanannya kemudian menelannya hanya dengan mengunyah beberapa kali, lalu mendorong makanan itu dengan satu gelas air putih. Dia membereskan piring yang telah kosong di atas nampan coklat, lalu siap-siap berdiri.


"Sebaliknya, Kakakku sangat mengenalnya dengan baik," ucapnya sambil berdiri, tangannya membawa nampan yang berisi piring dan gelas kosong, kepalanya mengangguk pamit pergi meninggalkan kedua pria yang masih terdiam larut dalam pemikiran masing-masing.


"Jadi Kakaknya mengenal pria itu dengan baik, apa mungkin dia teman Kakaknya?" Dr. Lee merasa penasaran dengan pria yang telah membuat Ayumi menjadi perempuan dingin.


Erik mengerutkan keningnya mencoba berpikir, dia mengenal kakak Ayumi? Tapi dia bahkan belum pernah sekalipun bertemu dengannya.

__ADS_1


"Apa tak pernah terpikir olehmu, mungkin saja Kevin adalah Kakakku?"


Jantung Erik terasa berhenti mengingat ucapan Ayumi kemarin, apa mungkin itu benar? Tapi kenapa dulu Ayumi tidak pernah memberitahunya tentang hubungan mereka berdua, tidak... itu tidak mungkin.


"Kau bilang pernah bertemu dengan Kakaknya, seperti apa dia?" Erik bertanya dengan penasaran.


Dr. Lee mengangkat alisnya, "Kau penasaran?" Erik hanya mengangkat bahunya berusaha bersikap santai.


"Kau bisa melihatnya sekarang," ucap Dr. Lee sambil memberi tanda dengan kepalanya ke arah televisi yang berada di kantin, Erik memutar badannya menatap benda persegi yang tertempel di dinding, seketika matanya membelalak, jantungnya terasa copot, rasa penyesalan yang terdalam menyeruak kepermukaan ketika melihat Kevin sedang melakukan konfrensi pers mengenai hubungannya dengan Ayumi.


"Namanya Ayumi Maheswara dan dia adalah adik perempuan yang selama ini tinggal di Indonesia kemudian melanjutkan kuliah kedokteranya di Kanada. Dia baru menyelesaikannya beberapa bulan yang lalu, jadi dia baru datang ke sini belum lama ini, setelah ia mendapatkan gelar dokternya dan berencana mengambil specialis di Korea..."


Erik tidak bisa mendengar lagi apa yang Kevin ucapkan di konfrensi persnya, percakapan antara dirinya dan Ayumi kemarin berputar mengisi kepalanya. Wajahnya memucat teringat bagaimana ia menyakiti gadis itu kemarin dengan kata-katanya yang tak termaafkan, semua ucapan Ayumi kembali terngiang di telinganya.


"Kau hanya ingin memercayai apa yang ingin kau percayai."


"Kalau kau percaya padaku kenapa kau tidak bertanya padaku."


"Bagaimana kalau dia adalah Kakak yang baru aku ketahui? Aaah tentu saja kau tak akan memercayainya."


Semua yang dikatakanya benar, seharusnya ia memercayai gadis itu lebih dari siapapun tapi ia lebih memilih percaya dengan egonya sendiri.


"Kau tidak apa-apa?" Dr. Lee bertanya setelah melihat wajah Erik yang memucat, tapi pria itu hanya menatapnya dengan pandangan kosong sebelum akhirnya ia seperti kesetanan pergi sambil berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan Dr. Lee yang terlihat bingung, ia menatap sosok yang semakin menjauh itu lalu kembali menatap televisi dimana Kevin sedang melakukan tanya jawab. Mata tajamnya menatap dingin ke arah dimana Erik menghilang, rahangnya perlahan mulai mengeras menahan amarah.


Seperti orang gila ia berlari menyusuri lorong mencari sosok yang telah ia sakiti, bagaimana bisa ia melakukan kesalahan yang sama? Menghakiminya tanpa bertanya terlebih dahulu.


Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri dan kembali menyalahkan Ayumi, karena hanya gadis itulah yang bisa membuatnya seperti kehilangan akal, hanya gadis itulah yang bisa memporakporandakan hati dan pikirannya, hanya gadis itulah yang bisa membuatnya gila karena marah sekaligus rindu, merasakan benci sekaligus cinta, dan hanya gadis itulah yang bisa mencairkan hatinya yang dingin tak berperasaan menjadi memiliki emosi seperti manusia pada umumnya.


Erik terus berlari menyusuri setiap lorong, dia memeriksanya di UGD tapi ruangan itu tampak sepi tidak ada sosok gadis bermata bulat yang dicarinya, ia mencoba melihatnya di ruangan istirahat para residen tapi lagi-lagi ia juga tidak menemukannya di sana, ia bertanya kepada para suster maupun dokter yang ia temui tapi tak ada yang mengetahui keberadaannya.


Erik mengacak-acak rambutnya putus asa, ia kesal karena tidak bisa menemukan gadis itu dan juga tidak mengetahui no teleponya selama di Korea, ia berdiri di tangga Rumah Sakit menghadap dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan di luar dan segala hiruk pikuknya, matanya menerawang menatap kejauhan mencoba menenangkan diri. Kenapa dia begitu bodoh dengan memertahankan egonya, sendainya saja malam itu ia meminta penjelasan dan percaya pada Ayumi mungkin rasa sakit akibat penyesalan yang di rasa tak akan sehebat ini.

__ADS_1


***


__ADS_2