
"Hyung!" Seru Joonie dengan wajah bahagia.
"Kenapa dengan wajahmu? Apa yang terjadi?" Tanya pria beralis tebal itu dengan suara cemas setelah melihat kondisi adiknya, dia berdiri menjulang dihadapan Joonie tanpa memerhatikan orang lain yang duduk di depan adiknya.
"Beberapa orang memukuliku, mereka mengambil uang dan teleponku... untung saja Noona datang dan menolongku."
"Noona?"
"Iya, Ayumi Noona," jawab Joonie sambil tersenyum ke arah Ayumi yang masih diam mematung, Erik membalikkan tubuhnya dan seketika napasnya tercekat ketika melihat perempuan yang selalu mengisi pikirannya itu tengah duduk sambil menatapnya.
"Noona.. ini Kakakku, Kim Seung Won... Hyung, dia orang yang telah menyelamatkanku, Ayumi Noona," ujar Joonie santai tanpa memerhatikan wajah keduanya yang terlihat sama-sama terkejut.
Keheningan yang sangat canggung menyeruak kepermukaan dan akhirnya menyadarkan Joonie ada sesuatu yang salah dengan kedua orang dihadapannya itu.
"Apa kalian saling mengenal?" Tanyanya memecah keheningan.
"Kakakmu sudah datang... sebaiknya aku pergi sekarang." Ayumi cepat-cepat berdiri, dia baru saja akan melangkah pergi ketika seseorang menghentikannya.
"Noona, sebentar!" Seru Joonie sambil memegang tangannya, "Hyung, aku lapar bagaimana kalau kita makan malam? Kita harus mentraktir Ayumi noona karena telah menyelamatkanku," lanjutnya sambil menatap Erik.
"Tidak perlu, kalian berdua saja yang pergi makan malam, aku akan pergi sekarang."
"Noona, ikutlah bersama kami." Joonie memohon dengan wajah memelas seperti anak kucing menggemaskan.
"Ayo kita pergi makan malam," ucap Erik setelah melihat Ayumi tak mungkin menolak permintaan adiknya.
"Ti.. tidak usah, aku pulang saja."
"Kita pergi sekarang." Erik berkata seolah tak mendengarkan penolakan gadis itu, ia berjalan meninggalkan Ayumi dan Joonie di belakang karena tahu adiknya bukan orang yang gampang ditolak, dia pasti berhasil mengajak gadis itu pergi bersama mereka.
"Ayo kita pergiiii!" Seru Joonie dengan nada riang gembira sambil merangkul tangan Ayumi dan menariknya supaya ikut bersama mereka.
Ayumi mengira mereka hanya akan makan di sekitar Haeundae, tapi ternyata Erik membawa mereka ke pantai Gwanganli, pantai yang tak kalah cantiknya dari pantai Haeundae yang dekat dengan pusat kota.
__ADS_1
Joonie yang sepanjang perjalanan duduk di kursi belakang bersama Ayumi karena takut gadis itu kabur membuat Erik terlihat seperti supir mereka. Dan sepanjang jalan adiknya itu terus saja mengeluh karena jaraknya lumayan jauh berbeda dengan Ayumi yang terlihat bahagia akhirnya bisa berkeliling kota Busan, karena selama tinggal di Busan dia belum pernah kemana-mana selain sekitar Haeundae.
"Waaah.. keren!" Teriak Joonie setelah mereka sampai di salah satu restoran seafood yang ada di 'Kota Cafe' itu, mereka duduk di kursi luar yang menyuguhkan pemandangan jembatan Gwangan (Gwangan Bridge) sepanjang 7,42 kilometer yang dihiasi lampu sehingga menambah keindahan pantai di malam harinya.
"Noona, apa ini juga pertama kalinya kau ke sini?" Tanya Joonie setelah melihat gadis itu tak kalah antusias darinya, Ayumi mengangguk sambil tersenyum bahagia yang membuat Erik tanpa sadar ikut tersenyum.
"Hyung, aku pinjam teleponmu sebenar."
Tanpa banyak bertanya Erik memberikan teleponnya yang langsung disambar dengan gembira, beberapa kali dia melakukan foto selfie dengan beberapa gaya, sampai akhirnya dia merangkul bahu Ayumi.
"Noona... kimchiii!" Seru Joonie sambil memerlihatkan deretan gigi putihnya walaupun setelah itu ia meringis kesakitan karena luka di ujung bibirnya.
Awalnya Ayumi terlihat malu-malu sampai akhirnya ia tersenyum manis di depan kamera telepon yang dipegang Joonie di hadapan mereka.
"Hyung, kemarilah kau ikut berfoto bersama kami!"
Untuk beberapa saat Ayumi dan Erik saling pandang ketika mendengar permintaan Joonie, penolakan Ayumipun hanya dianggap angin lalu olehnya, sedangkan Erik tak mau melewatkan kesempatan itu tersia-siakan, ia langsung berdiri di samping Ayumi.
"Hyung, tanganmu yang paling panjang kau yang pegang kameranya," ujar Joonie sambil menyerahkan telepon. Berlatar pemandangan jembatan Gwangan yang terlihat gemerlap pada malam hari mereka bertiga mengabadikan saat kebersamaan itu dengan tersenyum ke arah kamera.
"Hyung, apa kau sering kemari bersama tunanganmu?" Tanya Joonie setelah para pelayan menyajikan kepiting dengan ukuran besar, cumi bakar dan tentu saja berbagai macam hidangan laut yang tersaji menjadi shasimi dengan aneka ragam saus, kecap dan wasabi sebagai bahan pelengkap yang merupakan makanan khas Busan yang terkenal dengan kesegaran makanan lautnya.
Ayumi berpura-pura tidak mendengarkan ucapan Joonie yang kini tengah berusaha menghancurkan capit kepiting menggunakan tang. Ia sibuk membuka cardigan dan juga syal yang dipakainya kemudian menyampirkannya di belakang kursi.
"Oh Noona, aku belum memberi tahumu, Seung Won hyung sudah bertunangan..." ucapan Joonie terhenti karena dia harus mengerahkan tenaganya untuk menekan tang yang akhirnya berhasil memecah capit kepiting raksaaa itu, "Tapi aku tak menyukai tunangannya itu..." Joonie mengeluarkan daging kepiting untuk kemudian dilahapnya dengan nikmat, "Dia seperti tuan putri manja yang akan marah kalau keinginannya tidak dipenuhi," lanjutnya dengan mutut penuh.
Erik hanya terdiam mendengar ucapan Joonie, seolah-olah dia sudah sering mendengarkan itu dari mulut adiknya. Erik memecahkan kepiting dengan gampang, dia mengeluarkan dagingnya lalu memberikannya kepada Ayumi yang awalnya terkejut dengan perlakuan Erik tapi akhirnya ia menerimanya.
Erik kini diam mematung ketika matanya menatap sesuatu yang menghiasi leher Ayumi yang terbuka... sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk bunga salju bertahtakan berlian ditengahnya... kalung pemberiannya.
Tak menyadari tatapan Erik, Ayumi dengan semangat menikmati kepiting yang telah dibukakan pria itu. Celotehan Joonie menyadarkan kembali Erik dan perlu beberapa menit baginya untuk kembali bersikap normal.
"Kau tahu, Hyung, aku paling pandai dalam menilai orang... aku rasa dia hanya berpura-pura bersikap baik dan aku tak menyukai orang yang berpura-pura."
__ADS_1
"Jangan suka menilai orang lain kalau kau tak mengenalnya," ucap Ayumi santai sambil mengambil potongan cumi bakar yang telah diberi saus cabe merah.
"Aku tak perlu mengenalnya dengan baik untuk menilai sifatnya, kita baru bertemu tadi tapi aku tahu kau orang yang baik." Joonie berkata sambil kembali fokus menghancurkan kepitingnya.
"Kau tahu, Joonie... mencari keburukan orang lain lalu menghakiminya itu sangat gampang, tapi mempertanggung jawabkannya itu yang susah."
Erik terdiam mendengar ucapan Ayumi, lalu ia kembali mengambil potongan abalon dan mencelupkannya ke dalam kecap yang telah diberi wasabi.
"Seperti akhir-akhir ini aku mendengar seorang artis muda yang salah menjawab tentang sebuah soal sejarah yang ditanyakan, dan seketika seluruh Korea menghakiminya dengan sebutan bodoh, para netizen menghakiminya sampai aku melihat dia menangis si depan televisi untuk meminta maaf."
"Aaah kau benar aku melihatnya, aku juga kasian padanya."
Ayumi mengangguk mendengar ucapan Joonie yang kini mulai menjarah shasimi, "Tapi Joonie, apa semua orang yang menghinanya itu tahu jawaban yang sebenarnya? Tidak, seorang Profesor bahkan sampai melakukan riset dan ternyata dari seluruh siswa di Korea hanya 40% yang mengetahui jawaban yang benar, sisanya 60% menjawab salah seperti artis tadi."
Ayumi berhenti untuk mengunyah potongan ikan tuna dalam shasimi dan menelannya kemudian melanjutkan ucapannya kembali.
"Jadi orang akan dengan mudah melihat kesalahan orang lain hanya karena sedikit kesalahan, daripada melihat kebaikkannya sendiri. Orang dengan mudah menghinanya bodoh hanya karena satu pertanyaan yang mereka juga belum tentu bisa menjawabnya, daripada memujinya karena sederet prestasi yang didapatkannya yang bahkan mereka juga belum tentu bisa mencapai setengah dari prestasinya itu."
Erik dan Joonie kini terdiam mencerna ucapan Ayumi yang kini dengan santai menikmati daging kepiting yang telah dibukakan Erik.
"Jadi maksudmu, aku belum tentu benar ketika menyebutnya orang yang suka berpura-pura?"
Ayumi mengangguk sambil tersenyum menatap Joonie yang terlihat sedang berpikir, "Kau belum mengenalnya dengan baik, jadi kau tidak ada hak untuk menilainya seperti itu. Seperti orang-orang yang menghina artis tadi, mereka hanya tahu artis itu dari televisi jadi mereka tidak berhak menghinanya sampai seperti itu."
"Aaah Noona... aku memang tidak salah menilaimu, kau memang orang baik!" Seru Joonie sambil tersenyum hingga membuat matanya hanya tinggal segaris dan itu malah membuatnya semakin menggemaskan.
"Tenang saja, Noona, aku pandai nenilai orang jadi aku tak mungkin salah menilainya, dia memang pandai berpura-pura," ucap Joonie sambil tersenyum penuh semangat yang membuat Ayumi hanya bisa membuang napas panjang karena ucapannya tadi yang sampai berbusa-busa tidak didengarkan sedikitpun oleh pria yang kini tengah menghabiskan shasiminya dengan wajah cerah.
Erik hanya terdiam mendengarkan pembicaraan keduanya, dia melihat bagaimana Joonie sangat menyukai Ayumi, dia bahkan memilihkan bagian-bagian terenak dari makanan di hadapan mereka dan memberikannya kepada gadis itu yang terlihat bahagia. Mereka berdua bahkan saling bercanda layaknya kakak beradik dan itu membuat Erik merasa tenang dan damai, tanpa disadarinya ia akan ikut tersenyum ketika Joonie melontarkan candaan-candaannya yang membuat Ayumi tertawa lepas, seandainya bisa ia akan menghentikan waktu saat ini untuk selamanya, waktu disaat ia bisa melihat kedua orang yang disayanginya tertawa bahagia disampingnya.
"Ayumi, apa yang kau lakukan di sini?" Suara dingin milik seseorang menghentikan tawa mereka bertiga, Ayumi membelalakan matanya ketika melihat pria yang memiliki kulit sepucat Vampire, rahang yang tegas dengan mata tajam yang kini menghujam dirinya berdiri dihadapan mereka.
"Dr. Lee," ujar Ayumi lirih.
__ADS_1
*****