Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 7


__ADS_3

"Ayumi!" gadis itu baru saja memarkirkan sepedanya ketika suara cempreng milik Yuki memanggilnya.


"Hai!" Sapa Ayumi sambil tersenyum, rambut hitam panjangnya dikuncir kuda memerlihatkan leher jenjangnya yang putih, cuaca siang ini sangat cerah untuk ukuran akhir musim gugur, semua orang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati kehangatan sinar matahari sebelum musim dingin datang.


"Kau tidak lupa acara malam inikan?" Yuki bertanya dengan antusias, mereka berjalan menyeberangi lapangan rumput yang hampir dipenuhi kumpulan mahasiswa yang tengah asik duduk bercengkrama menikmati hangatnya sinar matahari.


"Acara malam ini?" Ayumi menatap Yuki bingung.


"Malam ini… acara pembukaan restoran Ibuku. Ya Tuhan! bagaimana kau bisa melupakannya?!" Yuki mengangkat kedua tangannya tak percaya Ayumi melupakan undangan dari ibunya.


"Oh maafkan aku, aku tak bermaksud melupakannya." Ayumi menatap Yuki dengan mata bulat hitam miliknya yang terlihat sangat lelah, "Kau tahu satu bulan terakhir ini aku seperti sebuah robot." Ia membuang napas berat, mereka kembali melanjutkan perjalannya ke arah perpustakaan, "Malam hari aku harus magang di rumah sakit, pagi bekerja di cafe, siang sampai sore kuliah, aku hanya tertidur dua sampai tiga jam sehari, maafkan aku, aku lupa kalau acaranya malam ini," ujar Ayumi dengan wajah memelas yang membuat Yuki meringis merasa iba.


"Sekarang aku tidak tahu apa aku harus iri dengan kejeniusanmu atau aku harus bersyukur karena aku biasa-biasa saja." Ayumi tersenyum mendengar ucapan gadis berkacamata yang tengah menatapnya dengan sorot mata iba.


Ayumi memang seorang yang jenius, ia berhasil masuk fakultas kedokteran di UBC dengan beasiswa penuh, bahkan satu bulan terakhir ini ia diterima magang sebagai asisten dokter di Vancouver General Houspital atas rekomendasi dari rektor kampus dan sepertinya tidak lama lagi gadis itu akan segera mendapatkan gelar dokternya.


"Aku bukan dari keluarga kaya sepertimu Yuki-san," ujar Ayumi sambil tersenyum menggoda sebelum melanjutkan ucapannya, "Jadi hanya isi kepalaku yang jadi modal untuk merubah garis hidupku."


Yuki terdiam beberapa saat, ia memerhatikan gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu ia menatap Ayumi dengan wajah serius, "Dengar! Kau tidak perlu jadi jenius untuk merubah garis hidupmu." ia menunjuk Ayumi dari atas sampai bawah, "Dengan wajah sepertimu, yang harus kau lakukan adalah mencari seorang pria kaya raya dan menikahinya." Yuki mengangguk-anggukan kepalanya dengan serius, sedangkan Ayumi malah tertawa terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Aku serius! Dengar, kau sangat cantik semua orang tahu itu kecuali dirimu tentu saja, bahkan hanya dengan penampilan seperti ini kau terlihat luar biasa." Yuki kembali meringis mengingat kejeniusan temannya itu tidak termasuk dalam hal penampilan, Ayumi lebih suka mengenakan celana jeans, kemaja atau kaos dan tanpa make up sedikitpun.


"Hei tidak ada yang salah dengan penampilanku!" Ayumi menunduk melihat pakaian yang dia kenakan hari ini, sepatu kets, celana jeans, kemeja putih dan cardigan biru muda. Tidak ada yang salah dengan penampilannya, iyakan?

__ADS_1


"Tapi... kau akan terlihat sangat luar biasa kalau misalnya kau mengenakan gaun dengan sedikit make up dan high heels." Sekarang giliran Ayumi yang meringis membayangkan ia naik sepeda dengan mengenakan gaun dan high heels?


"Dengar, kau memiliki rambut hitam yang sangat indah, kulitmu putih mulus semua orang yang tidak mengenalmu akan mengira kalau kau menghabiskan waktumu di spa dan salon mahal, bukannya di ruang UGD dan cafe." Ayumi tersenyum mendengarkan ocehan Yuki, ia menyandarkan badannya di dinding perpustakan kampus, sedangkan Yuki berdiri di hadapannya dengan semangat mengomentari penampilan dirinya.


"Matamu yang bulat selalu terlihat bercahaya dan yang membuat semua perempuan iri adalah badanmu yang tak pernah gemuk walaupun kau menghabiskan seisi restoran." Ayumi tertawa mendengar ucapan Yuki yang kini tengah melipat tangannya di atas dada.


"Baiklah-baiklah aku mengerti maksudmu, kau tahu Yuki, aku rasa kau salah mengambil jurusan kuliah," ujar Ayumi sambil tersenyum melihat Yuki yang selalu terlihat anggun, badan mungilnya dibalut dress hitam motif bunga-bunga kecil selutut dipadu padankan dengan both tinggi.


"Kau benar aku seharusnya mengambil jurusan fashion." Ayumi mengangguk menyetujui perkataan Yuki.


"Dan kau akan menjadi kritikus fashion handal." Perkataan Ayumi itu membuat keduanya tertawa.


"Tapi ideku sangat baguskan? Kau hanya perlu sedikit berdandan, menikahi orang kaya lalu kau gunakan kejeniusanmu untuk mengelola keuangan suamimu."


"Kalau prianya dia, aku tak akan mengenalkannya padamu," balas Yuki sambil tertawa.


"Baiklah, Mrs. Grey, kau harus belajar untuk ujian hari ini dan aku akan menikmati satu jam kosongku di taman belakang, menikmati kehangatan sinar matahari ditemani para pria tampan." Ayumi tersenyum menggoda sambil menepuk tasnya memberi isyarat kalau ia membawa novel di dalamnya.


"Untuk sekarang, aku sangat iri dengan kejeniusanmu." Yuki memutar bola matanya sambil membuang napas berat, melihat itu Ayumi hanya tertawa lalu mulai berjalan menuju taman belakang.


"Jangan lupa nanti malam atau Ibuku akan sangat marah."


"Baiklah aku akan datang," jawab Ayumi sambil sambil terus berjalan meninggalkan teman baiknya yang walaupun mereka bersahabat tapi memiliki sifat safat yang berbeda. Ayumi yang menyukai pakaian casual berbanding terbalik dengan Yuki yang fashionable, Yuki yang menyukai menghabiskan waktunya di tempat keramaian seperti mall berbanding tebalik dengan Ayumi yang lebih menyukai kesendiriannya bertemankan novel dan musik.

__ADS_1


Seperti saat ini ia masih memiliki waktu luang kurang lebih satu jam maka ia akan menghabiskannya di taman belakang yang jarang dikunjungi mahasiswa sambil meneruskan membaca novel favoritnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia melihat beberapa orang tersebar di taman itu dengan buku sketsa di hadapan mereka, ia memicingkan mata untuk beberapa saat dan tanpa disadari sebuah senyum manis terbit menghiasi wajah cantiknya ketika matanya menangkap sosok pria tinggi dengan rambut hitam tengah berjalan dengan santai di antara orang-orang itu, matanya yang tajam mengamati hasil sketsa para mahasiswanya.


Erik Kim, pria yang hampir satu bulan terakhir ini selalu hadir dalam kesehariannya, diawali dengan menghabiskan hari libur bersama mereka menikmati sunset di ketinggian 130 meter waktu itu, sampai sekarang hampir setiap hari mereka bertemu walaupun hanya beberapa menit disaat pria itu berkunjung ke cafe tempat Ayumi bekerja untuk sarapan bahkan kadang ia akan mengantarkan Ayumi pulang untuk mandi dan berganti pakaian sebelum pergi ke rumah sakit.


Ayumi kembali tersenyum melihat penampilan pria itu hari ini, badannya yang tinggi tegap dibalut oleh celana hitam dan kemeja kotak-kotak pendek memerlihatkan otot lengananya yang kokoh, Ayumi menyukai ekspresi Erik ketika bekerja yang hanya akan fokus kepada kanvas di hadapannya, tapi jujur ia lebih menyukai pria itu ketika tersenyum, mata tajamnya akan bersinar lembut tapi itu merupakan pemandangan yang langka, pria itu lebih banyak diam tanpa ekspresi dan bersikap dingin tapi entah kenapa Ayumi percaya kalau sebenarnya Erik adalah pria yang baik, lembut dan hangat.


***


Tangan lincahnya menari di atas buku sketsa, sesekali ia akan memfokuskan tatapan kepada objek di hadapannya dengan raut wajah serius, kadang terlihat kerutan-kerutan halus di alis matanya. Tak akan ada yang berani mengganggu atau bahkan hanya sekedar menyapanya pada saat seperti itu. Erik Kim adalah seorang pelukis jenius, di usia ke 19 tahun ia sudah melakukan pameran tunggal di negaranya Korea Selatan, dunia mulai mengenalnya saat ia berhasil melakukan pameran di Itali pada saat berusia 22 tahun. Dua tahun yang lalu ia dimintai tolong temannya untuk mengajar sementara di UBC sebagai dosen seni lukis, ia menerima itu karena dianggap sebagai tantangan baru dan ternyata menikmatinya walaupun para mahasiswa di sana menjulukinya patung es karena sikapnya yang terlalu serius dan dingin, bahkan mereka jarang sekali melihatnya tersenyum.


Ia menutup buku sketsa birunya, perlahan mulai bangkit dari tempatnya di bawah pohon maple yang ada di taman belakang kampus, kemudian berkeliling untuk melihat hasil kerja para mahasiswanya yang tersebar di taman, sesekali ia akan memberikan masukan kepada mereka. Saat ini ia sengaja mengajak mahasiswanya untuk membuat sketsa di taman belakang, cuaca Vancouver yang terasa hangat sangat sayang untuk dilewatkan, seperti halnya yang dilakukan kebanyakan mahasiswa lain yang berjemur di lapangan rumput yang ada di sekitar kampus.


Sudut matanya tanpa sengaja menangkap sosok gadis berambut hitam tengah berjalan menuju pohon maple tempatnya beberapa saat lalu, seolah matanya mendapat intruksi langsung dari otak kini ia tengah menatap gadis itu dan melupakan sekitarnya. Sudut bibirnya berkedut membentuk senyum walaupun hanya beberapa detik melihat gadis itu mulai duduk bersandar di bawah pohon, kakinya ia selonjorkan, tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam tas, ia melihat gadis itu mengerutkan kening sesaat dan ia reflek melakukan hal yang sama, gadis itu tersenyum setelah menemukan benda yang ia cari. Novel? Kebiasaan gadis itu tak pernah lepas dari novel dan earphone.


Ayumi memasangkan earphone di telinganya dan mulai membuka lembar demi lembar novel itu, entah berapa lama Erik memfokuskan pandangan kepada gadis itu dan tanpa disadari ia mengikuti setiap mimik muka Ayumi, ia ikut tersenyum dan mengerutkan alis setiap gadis itu melakukan hal yang sama. Suara panggilan salah seorang mahasiswa telah mengembalikan fokus dan pikirannya kembali, ia kembali berkeliling mengamati kegiatan para mahasiswa sampai matanya menangkap sosok gadis itu yang kini telah memejamkan mata, kepalanya terantuk-antuk ke samping dan depan, tanpa disadari ia mulai melangkahkan kakinya dengan langkah lebar menuju pohon maple itu.


Erik duduk di samping Ayumi yang kini telah terlelap, perlahan ia menyandarkan kepala gadis itu di bahunya lalu mengambil novel yang tergeletak di atas rumput, ia mengerutkan kening ketika membaca judul buku itu 'Mortal Instrument', lalu tersenyum mengingat kejadian di Stanly Park satu bulan yang lalu. Ia membuka-buka novel Ayumi yang kini berada dalam tangannya dengan penasaran, sebelum akhirnya memutuskan untuk mulai membaca dari awal.


"Mr. Kim." Suara seorang mahasiswi membuatnya mendongakkan kepala ke arah tiga orang perempuan yang tengah berdiri di hadapannya dengan membawa buku sketsa pada masing-masing tangan mereka. Erik hanya mengangkat alisnya dan menatap mereka dengan sorot mata dingin seperti biasa, ia merasakan kepala dibahunya sedikit bergerak dan dengan lembut ia menahan kepala gadis itu dengan tangan kirinya agar tidak terjatuh, setelah merasakan gadis itu kembali tenang ia mengalihkan pandangannya kepada mahasiswi yang menatapnya dengan pandang tak percaya. Erik kembali mengangkat alisnya dan sorot matanya seolah memerintahkan mereka untuk segera berbicara.


"Maafkan kami... Kami telah selesai, apa kami bisa pergi sekarang?" Mahasiswi berambut merah itu berbisik dengan sedikit gugup karena tatapan dingin pria itu.


Erik memandang ke arah para mahasiswanya yang berkerumun tak jauh dari sana tengah memerhatikannya, tak sedikit yang menganga tak percaya dengan apa yang mereka lihat dan tak sedikit yang berbisik-bisik, tapi ia tak peduli. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban seolah takut kalau ia bersuara bisa membangunkan gadis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2