
I remember years ago
(Teringatku tahun lalu)
Someone told me I should take
(Seseorang bilang padaku agar aku)
Caution when it comes to love
(Berhati-hati berhubungan dengan cinta)
I did, I did
(aku telah berhati-hati)
And you were strong and I was not
(Dan kau begitu kuat sedang aku tidak)
My illusion, my mistake
(Ilusiku, salahku)
I was careless, I forgot
(Aku ceroboh, aku lupa)
I did
(Aku lupa)
Ayumi berdiri memandang hamparan laut Pasifik di hadapannya, tangannya berpeganan kepada pagar mercusuar, rambut hitammya yang terurai diterpa hembusan angin yang mengelus lembut memberi kenyamanan untuk hati yang terasa perih. Lagu dari Sontelle mengalun lembut dari earphone yang selalu setia menemani, seolah-olah membenarkan kebodohan yang ia lakukan ketika berusaha membuka hati dan perasaan kepada pria yang baru saja ia kenal. Selama ini ia selalu menutup diri dari para pria yang berusaha mendekati karena kebodohan dan kecerobohannya sekarang ia terluka.
"Dasar bodoh, apa yang telah aku lakukan?" Bisiknya merutuki diri sendiri karena dengan gampangnya membuka hati kepada seorang pria hanya karena instingnya berkata kalau ia bisa mempercayainya.
__ADS_1
Erik tak perlu meneriakannya di atas atap atau bahkan menuliskannya di garis langit, semua orang kini telah mengetahuinya, mencemooh, menghakimi tanpa ada pembelaan. Ayumi membuang napas berat mengingat bisik-bisik dan pandangan mengejek yang ia terima dari seisi kampus tapi hatinya kembali tercabik ketika mengingat perkataan pria itu yang menghinanya.
Ia membuka hati kepada pria untuk pertama kali, menceritakan semuanya, sebulan yang lalu Erik menguatkan hatinya memberi rasa nyaman tapi hari ini ia menertawakan, menganggapnya bodoh. Ini bukan kesalahan Erik sepenuhnya, ini hasil dari kebodohannya sendiri, ia yang pertama kali membuka diri kepada pria itu, ia yang mengajaknya menghabiskan libur bersama, ia yang menceritakan rahasianya tanpa ada paksaan, ia yang tertidur di bawah pohon itu. Iya, semua ini adalah salahnya.
Ayumi kembali membuang napas berat, matanya memandang langit yang kini berwarma jingga, seharusnya ia sudah bisa menyiapkan diri bukankah ayahnya selalu mengatakan 'persiapkan hatimu, kadang hidup tak sesuai harapan, realita tak seindah mimpi'. bukankan ia sudah terbiasa dengan perasaan dikhianati dan dibuang? Bahkan orang yang telah melahirkannya membuangnya tanpa ragu, ibu tiri yang ia harapkan bisa mengisi kekosongan dan rasa haus akan kasih sayang seorang ibu malah tak pernah menganggapnya ada dan kini seorang pria telah melukai hati dan kepercayaannya.
"AAARRGGGHH.. DASAR BODOOH!" Ayumi berteriak membelah lautan mengagetkan kumpulan burung yang terbang di atasnya, teriakan itu berfungsi sebagai obat ajaib, dadanya tak lagi terlalu sesak ia bisa bernapas sedikit ringan. Seperti yang biasa ia lakukan ketika memiliki masalah, begitu juga hari ini ia akan meninggalkan semua permasalahan yang menimpanya bersaman dengan tenggelamnya matahari sore, dan esok ia siap menyambut hari baru.
Ayumi merentangkan kedua tangan sambil menengadahkan kepala, matanya terpejam merasakan hembusan angin yang memeluknya lembut, membawa terbang semua duka lara yang menghimpit dada, untuk terakhir kalinya ia mengambil napas dalam-dalam mengisi paru-parunya dengan udara segar sebelum ia kembali menghadapi kemelut duniawi.
"Semangat, Ayu!" Ia berteriak memberi semangat kepada dirinya sendiri sambil mengangkat kedua tangannya ke angkasa, dengan semangat baru yang dimiliki ia membalikan badannya berniat meninggalkan tempat itu, tapi...
"Aaaaahh!" Ia berteriak kaget melihat sosok pria tinggi menjulang di hadapannya, wajahnya tertutup syal abu-abu kecuali mata coklatnya, pria itu ikut berteriak karena kaget melihat Ayumi tiba-tiba berteriak di depannya, dan sekarang setelah berteriak pria itu mengoceh dengan bahasa yang sama sekali tidak ia pahami.
Sambil memegang dadanya yang masih berdetak kencang karena kaget Ayumi menatap pria di hadapannya dengan bingung, yang bisa ia lakukan hanya mengangkat alis matanya sambil menganga, setelah beberapa menit mengoceh akhirnya pria itu diam dan kini tengah menatap Ayumi sambil melipat tangannya di atas dada. Untuk beberapa saat mereka saling pandang dan sama-sama mengangkat alis, karena sepertinya pria itu tidak akan mengalah dalam ajang tatap-tatapan itu akhirnya Ayumi pergi meninggalkan pria itu yang kini berteriak-teriak memanggilnya.
"Hei, yaah!"
Ayumi menganggap itu panggilan untuknya, tapi ia tak peduli sudah cukup pengalamannya dengan pria yang hari ini telah membuatnya sakit hati dan untuk saat ini ia tak mau berhubungan apapun juga dengan yang namanya makhluk berjenis kelamin pria.
"Hei, yaah!"
"Dengar! Gue gak ngerti lu ngomong apaan tadi dan lu pikir gue bakalan peduli? Engga, gue ga peduli lu ngomong apaan jadi sekarang bisa ga lu diem ga usah teriak yah yah yah mulu? Secara nama gue bukan Yayah atau Ijah dan berhenti ngikutin gue! Apa lu paham?" Ayumi bisa melihat kini pria itu menganga melihat dirinya berbicara dengan bahasa Indonesia yang ia yakini kalau pria itu tidak paham sedikitpun, terbukti dengan ekspresinya yang hanya mengedip-ngedipkan mata bingung.
"Bagus, lu ga ngertikan apa yang gue bilang barusan? Sama! Gue juga gak ngerti apa yang lu bilang tadi, jadi sekarang kita impas ok?! Bye, see you, da-dah," lanjut Ayumi sambil mengangkat telapak tangannya dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Untuk beberapa saat pria itu hanya terdiam mematung sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak lalu berlari mengejar Ayumi.
"Tunggu! Maafkan aku, untuk sesaat tadi aku lupa kalau aku sedang tidak berada di Korea," ujar pria itu sambil tersenyum.
Mungkin kalau kondisinya tidak dalam keadaan patah hati seperti sekarang, ia akan mengakui kalau pria di depannya itu sangat tampan, dengan lesung pipit dan mata coklat yang terlihat teduh, walaupun badannya yang tinggi menjulang dibalut celana jeans sobek dibagian lututnya, kaos putih bertuliskan nama band rock n roll di balik jaket kulit hitam yang terlihat pas dibadannya, bahu kanannya membawa ransel berwarna coklat, sedangkan bahu kirinya membawa tempat gitar (?) terlihat seperti remaja yang baru saja kabur dari rumah, tapi Ayumi merasakan kalau pria itu bukanlah orang jahat.
"Bagus! Ternyata kau bisa bahasa Inggris," ucap Ayumi sambil menaikan alis matanya, yang membuat pria itu tertawa untuk kedua kalinya.
"Kevin." Pria itu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman yang mau tak mau akhirnya disambut Ayumi.
__ADS_1
"Senang mengenalmu, Kevin, dan selamat tinggal." Ayumi kembali berjalan meninggalkan Kevin yang masih menganga tak percaya ia baru saja ditinggalkan oleh seorang perempuan sebanyak tiga kali dalam waktu kurang dari satu jam, sambil tersenyum ia kembali mengejar Ayumi.
"Kau belum menyebutkan namamu."
"Apa itu penting?"
"Iya, kecuali kalau kau ingin aku memanggilmu, hei, " ujar Kevin yang membuat Ayumi meliriknya dengan pandangan membunuh.
"Jadi, hei (?), kemana kita akan pergi?" Ayumi menghentikan langkahnya lalu menghadap Kevin dengan wajah garang.
"Dengar! Namaku bukan hei dan aku yang akan pergi sendiri, bukan kita, apa kau paham?" Ucapan Ayumi itu sukses membuat Kevin terdiam dan Ayumi bisa melihat sorot matanya berubah ada kilat rasa sedih di sana yang membuatnya merasa bersalah untuk beberapa saat, tapi cepat-cepat ia mengesamping rasa itu.
Di saat hening yang mereka berdua rasakan tiba-tiba suara perut keroncongan memecah keheningan itu, Ayumi melihat Kevin langsung memegang sambil menunduk menatap miris perutnya yang rata.
"Dompetku kecopetan tadi pagi, jadi aku belum makan apa-apa," ucapnya memelas, Ayumi terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengerti kemana arah tujuan pembicaraan ini, ia merogoh dompet di dalam tasnya lalu memberikan uang lima dolar kepada Kevin yang hanya menatapnya bingung.
"Ambil, aku mengerti maksudmu, seharusnya kau bilang dari awal kalau kau meminta uang tidak perlu berpura-pura mengajak kenalan segala," ucap Ayumi dengan nada ketus, Kevin hanya terdiam mematung memandang tangan yang masih terulur dengan uang di genggamannya, kemudian ia menatap mata Ayumi dengan sorot mata sedih dan terluka.
"Tidak usah pura-pura naif seperti itu, inikan yang kau inginkan? Ambil saja, aku tak ada waktu untuk bercanda."
Pria itu menarik napas dalam-dalam, "Aku bukan pengemis," ujarnya pelan sambil tersenyum miris, "Aku baru datang dari Korea kemarin untuk mencari keluargaku dan semalam untuk menghemat uang aku tidur di bangku taman ini, tapi rupanya seseorang mengambil dompetku ketika aku tertidur," lanjutnya sambil menatap Ayumi yang kini diam membisu, "Terima kasih, Nona, atas tawaran uangnya tapi aku masih bisa bertahan hidup dengan hanya meminum air putih yang tersedia di sini," lanjutnya sambil membetulkan letak ransel di bahunya.
"Maaf telah mengganggumu, selamat malam." Kevin berjalan meninggalkan Ayumi yang diam mematung.
Tapi langkahnya terhenti, kemudian pria itu membalikan badannya dan kembali berjalan mendekati Ayumi.
"Hanya sedikit masukan untukmu, Nona, jangan pernah menghakimi atau menilai seseorang dengan gampang hanya dari penampilannya saja terlebih lagi kalau kau tidak mengenalnya." ucapan Kevin itu sukses membuat Ayumi seperti ditampar, bukankah itu yang dia katakan kepada Erik tadi siang untuk tidak menilai seseorang yang belum dikenalnya? Dan lihat apa yang dia lakukan sekarang, dia telah menghina dan menuduh orang yang tidak dia kenal.
"Penampilanku memang seperti ini, tapi aku masih memiliki harga diri dan kehormatan... aku pikir karena anda sama-sama dari Asia, anda akan mengerti dan kita akan saling tolong menolong, tetapi rupanya instingku salah untuk mempercayaimu."
Lagi-lagi Ayumi merasa diguyur air es mendengar itu, bukankah tadi siang ia merasa insting dan perasaannya terluka karena mempercayai Erik? dan apa yang terjadi sekarang, ia melukai perasaan pria yang tengah menatapnya dengan sorot mata yang sama ketika ia menatap Erik tadi.
"Maafkan saya, ini bukan salah anda, ini salah saya yang terlalu mempercayai insting kalau anda adalah orang baik," ujarnya sambil tersenyum miris, "Terima kasih untuk uangnya tapi anda bisa memberikan itu kepada orang yang lebih membutuhkan. Selamat tinggal." Kevin pergi meninggal Ayumi yang masih belum sadar dari keterkejutannya.
****
__ADS_1