
"Coklat panas paling pas disaat dingin seperti ini." Kevin membelikan Ayumi coklat panas di salah satu cafe yang ada di dekat halte.
"Gamshahapnida," ucap Ayumi dalam bahasa Korea yang terdengar kaku dan aneh karena aksen pengucapannya, tapi hal itu sukses membuat Kevin terkejut dan tersenyum bangga.
"Ckk... setelah selama ini aku mengajarimu bahasa Korea, hanya itu saja yang bisa kau ucapkan," ujar Kevin sambil tersenyum di balik gelas plastik yang berisi kopi americanonya, mereka melanjutkan berjalan kaki menuju apartemen gadis itu dengan gelas hangat di tangan masing-masing setidaknya dapat sedikit mengurangi rasa dingin akibat hujan salju yang baru saja reda.
"Dengan waktu belajar hanya di antara sela-sela waktu senggangku yang sangat terbatas, aku rasa aku lumayan hebat," ucap Ayumi tak mau kalah dengan membanggakan dirinya sendiri.
Akhir-akhir ini memang gadis itu sedang giat-giatnya belajar bahasa Korea, Kevin yang menjadi guru pribadinya, disaat senggang ia akan menonton drama korea atau reality show yang telah ia download sebelumnya, list lagu di ipod miliknya-pun mulai diisi beberapa lagu Korea yang kebanyakan adalah soundtrack dari drama yang ia tonton. Erik tidak mengetahui kegiatan kekasihnya itu, ia ingin memberikan kejutan kepada pria yang satu minggu terakhir ini mengisi hari-harinya.
"Angel."
"Hmm."
"Mengenai Ibumu, yakinlah dalam hatinya Ia akan merasakan penyesalan karena telah meninggalkanmu. Seorang Ibu tetaplah seorang Ibu yang telah berjuang bertarung dengan nyawa ketika melahirkanmu, semua pasti ada alasannya."
Ayumi masih terdiam mendengarkan ucapan Kevin, mereka berjalan dengan santai dan sesekali menikmati minuman hangat yang ada dalam genggaman masing-masing.
"Bukankah suaminya mengatakan kalau Ia orang baik, dan aku percaya itu. Ia telah membesarkan seorang anak yang bukan darah dagingnya dengan penuh kasih sayang, dia pasti seorang perempuan yang hebat terlepas dari ia meninggalkanmu. Semua orang pernah melakukan kesalahan, Angel, mungkin ia berharap dengan membesarkan anak orang lain setidaknya di luar sana ada orang lain yang membesarkanmu dengan penuh kasih sayang, walaupun hal itu tidak bisa menghapus kesalahnnya."
"Tapi..." Ayumi ingin membantah semua ucapan Kevin, tapi tidak ada yang keluar dari mulut gadis itu, saat ini mereka tengah berdiri berhadapan di depan gedung apartemen Ayumi.
"Aku mengerti, Angel, kau merasa ini semua tidak adil, benarkan?" Ayumi mengangguk sebagai jawaban, "Kalau memang Ibumu tidak menginginkanmu, Ia pasti telah menggugurkan kandungannya... tapi tidak, ia mempertahankanmu dan memberimu kesempatan melihat dunia ini."
"Tapi semua sama saja, ia membuangku, Kevin!"
"Semua pasti ada alasannya, Angel, percayalah," ucap Kevin dengan lembut mencoba menenangkan gadis di hadapannya yang sedang terluka, dan ia tidak mau gadis itu larut dalam duka dan kebencian yang kembali muncul setelah sebelumnya ia mencoba berdamai dengan kenyataan masa lalunya.
"Angel, selama ini kau larut dalam kekecewaan dan amarah terhadap Ibumu. Dan aku paham itu, tapi sekarang sudah saatnya kau berbahagia, sudah saatnya kau berdamai dengan masa lalumu dan memaafkan Ibumu, semua sudah terjadi. Aku yakin Ibumu telah menerima hukumannya sendiri," ucapan terakhir Kevin itu membuat Ayumi tersentak dan menatap pria dengan mata coklat itu dengan sorot mata tak percaya.
"Iya, Angel, percayalah dengan tidak bisa memeluk dan mencium putri secantik dirimu yang telah ia lahirkan dengan bertarung nyawa, itu adalah hukuman terberat yang harus dijalani Ibumu sepanjang hidupnya," ucap Kevin dengan lembut membuat Ayumi menunduk dan memainkan salju-salju di atas trotoar dengan ujung sepatunya.
"Maafkan Ibumu, beri sedikit kesempatan untuk jiwamu merasa damai dengan terbebas dari rasa kecewa dan amarah. Bukankah ada ayah dan adikmu yang menyayangimu? Jangan lupakan ada aku dan juga John yang selalu ada untukmu, dan... tentu saja, pria itu..."
"Erik," ucap Ayumi sambil tersenyum menatap Kevin yang memutar bola matanya, ia tak pernah mau menyebut nama pria yang telah menjadi kekasih Ayumi selama satu minggu terakhir ini.
"Iya, dia, pria yang katanya mencintaimu itu." Kevin kembali memutar bola matanya yang membuat Ayumi tertawa. Itulah kelebihan Kevin, dia bisa membuat Ayumi tertawa sekaligus memberinya nasihat tanpa menggurui, memberi tahu kalau yang ia lakukan salah tanpa harus menyalahkan, memberi jalan keluar yang diperlukan gadis itu disaat ia terjepit, menjadi seorang pendengar yang baik ketika ia memerlukan tempat untuk mengeluarkan semua unek-uneknya. Itulah mengapa Ayumi merasa nyaman untuk menceritakan segala sesuatunya kepada pria dengan tinggi 190cm itu.
__ADS_1
"Berbahagialah, Angel. Kamu memiliki hak untuk itu dan yakinlah kamu tak sendiri, banyak orang yang menyayangimu. Jadi, berbahagialah karena itu doa yang selalu dipanjatkan Ibumu untukmu setiap hari dalam setiap hembusan napasnya, yakinlah itu," ucap Kevin sambil mengelus kepala Ayumi dengan penuh kasih sayang. Gadis itu hanya diam membisu mencerna semua perkataan Kevin dan ia menyadari semua yang di ucapkannya itu adalah benar adanya, sudah waktunya ia berdamai dengan segala yang membelenggu diri dan sudah waktunya ia untuk berbahagia.
Ayumi menatap Kevin ketika mendengar pria dihadapannya itu berdecak kesal, matanya menatap kebelakang tubuh gadis itu.
"Dia pikir dengan memandangku dengan tatapan seperti itu akan membuatku takut," ujar Kevin sambil terus menatap ke arah belakang Ayumi yang kini memutar kepalanya untuk melihat objek yang telah membuat Kevin sedikit kesal.
Ayumi tersenyum ketika melihat Erik tengah berdiri tidak jauh dari mereka dengan memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya dengan pandang tajam menatap mata mereka berdua. Seandainya pria itu bukan Kevin pasti mereka akan merasa terintimidasi oleh tatapan dingin milik pria tampan itu, seperti halnya yang selalu ia lakukan setiap hari ketika ia harus mengusir para pria yang berusaha mendekati atau hanya sekedar menatap Ayumi.
Erik termasuk pria yang sangat posesif, ia tak akan membiarkan pria manapun berada dekat dengan kekasihnya, tapi hal itu tidak berlaku bagi Kevin yang berani menantang Erik bahkan dengan sengaja mengajak gadis itu keluar, seperti halnya hari ini. Di saat Ayumi libur kuliah maka dengan sengaja sepulang kerja di cafe Kevin 'menculiknya' seharian yang membuat Erik uring-uringan karena ia sendiri harus menjalankan kewajibannya sebagai dosen.
***
"Kenapa kau harus pergi dengan pria kurang ajar itu."
"Namanya Kevin bukan pria kurang ajar, dan aku pergi dengannya karena hari ini hari liburku."
"Kenapa kau tidak pergi denganku?"
"Karena kau harus pergi mengajar."
Erik mengacak-acak rambutnya merasa putus asa, dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa kuning yang berada di apartemen Ayumi.
"Tidak usah khawatir, dia juga tidak menyukaimu," ucap Ayumi santai sambil membuatkan teh hangat untuk kekasihnya itu.
"Bagaimana bisa dia tidak menyukaiku?" Tanya Erik sambil meniup teh panasnya.
"Alasan yang sama dengan kau yang tidak menyukainyu."
"Karena mencintaimu?" Perkataan Erik itu sukses membuat Ayumi tersedak, ia berjalan ke dapur untuk minum sambil terbatuk-batuk.
"Lagi-lagi kau berbicara yang tidak-tidak," ucap Ayumi setelah dia menghabiskan satu gelas air mineral untuk meredakan tenggorokannya.
"Aku tidak menyukai semua pria yang berusaha mendekatimu karena aku mencintaimu, bukankah kau bilang dia tidak menyukaiku karena alasan yang sama?"
"Kau salah, Erik, dia tidak mencintaiku sebagai seorang wanita tapi ia menyayangiku seperti seorang adik, sama seperti aku yang menyayanginya seperti seorang Kakak."
"Apa kau yakin, dia merasakan hal yang sama seperti mu?" Erik menatap Ayumi dengan ekspresi dingin ciri khasnya.
__ADS_1
Ayumi terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk dengan sangat yakin.
"Iya, aku percaya padanya."
Erik mengangkat alis matanya mendengar jawaban Ayumi yang terdengar begitu yakin.
"Aku seorang pria dan aku tahu bagaimana seorang pria menatap wanita yang dicintainya, dan dia menatapmu dengan pandang itu."
Ayumi terbelalak mendengar ucapan Erik tapi setelah beberapa saat ia tertawa menyadari betapa tidak masuk akalnya perkataan pria itu. Betulkan? Tidak mungkin Kevin mencintainya.
"Itu tidak mungkin, Erik, percayalah padaku dia tidak seperti itu," ucap Ayumi dengan keras kepala yang membuat Erik hanya bisa membuang napas panjang.
"Tidak bisakah kau jangan pergi dengannya lagi? Aku tidak suka melihatmu dengan pria lain." Erik mengambil remot televisi dan mulai mengganti-ganti salurannya. Ayumi hanya bisa mengangkat alis matanya mendengarkan ucapan pria yang kini tengah asik nonton acara olahraga.
"Erik, apa kau tidak memercayaiku?" Tanya Ayumi sambil duduk disamping kekasihnya yang masih fokus menatap televisi.
"Tentu saja aku memercayaimu, tapi aku tak percaya dengan para prianya," ucap Erik santai sambil menyenderkan badannya di atas senderan sofa.
Ayumi tersenyum mendengar ucapan pria itu, ia mengambil boneka minion ukuran besar hadiah dari Erik lalu memeluknya kemudian ikut bersandar di atas sofa.
"Itu yang penting, kau hanya perlu percaya padaku. Tidak peduli aku pergi dengan siapa yang perlu kau ingat adalah aku tak akan menghianatimu," ucap Ayumi sambil menatap Erik lembut dan membuat pria itu balik menatapnya sambil tersenyum, perlahan tangannya terulur utuk mengelus rambut hitam miik gadis itu.
"Kau janji tidak akan menghianatiku?"
"Aku janji... bagaimana denganmu, apa kau akan menghianatiku?"
Erik tersenyum sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Ayumi, "Setelah aku bersusah payah menjauhkan semua pria yang mendekatimu apa kau pikir aku akan melakukan tindakan bodoh itu?"
Ayumi mengangkat bahunya sebagai jawaban yang membuat Erik kembali tersenyum dan tangannya kembali mengelus-elus rambut gadis itu.
"Beberapa hari ketika kau menghindariku itu sudah seperti neraka untukku, dan aku tak mau merasakan itu untuk kedua kalinya. Aku tak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi, aku tak akan meninggalkanmu apalagi mengkhianatimu walau apapun yang terjadi," ucap Erik, matanya menatap Ayumi dengan penuh kasih sayang yang membuat pipi gadis itu memerah.
Untuk beberapa saat mereka hanya saling pandang, Erik mulai salah fokus ketika melihat bibir Ayumi yang merah ranum, jantungnya berdetak kencang, perlahan ia mendekatkan kepalanya dengan kepala Ayumi yang kini terlihat terbelalak, dadanya semakin bergemuruh seiring jarak di antara mereka yang semakin dekat, mata tajam Erik menatap bibir kekasihnya yang hanya berjarak beberapa centi saja, ia bisa melihat bibir kekasihnya sedikit membuka, tanpa di komando mata Erik mulai terpejam ketika bibirnya hanya berjarak satu hembusan napas saja.
"Aku harus siap-siap ke rumah sakit!" Seru Ayumi sambil berjalan cepat menuju kamarnya dengan jantung bertalu tak karuan, meninggalkan Erik yang masih terdiam dengan posisi badannya condong ke arah dimana Ayumi tadi berada.
Erik mulai membuka matanya sambil membuang napas berat dan di hadapannya hanya ada boneka minion yang tadi dilemparkan Ayumi, sambil tersenyum putus asa ia mengambil boneka kuning itu lalu memeluknya erat sambil menyurukan kepalanya kedalam boneka itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, aku sudah gila!" Bisik Erik dengan suara teredam di dalam boneka.
****