Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 50


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


Rumah mewah itu terlihat sepi, semua penghuninya dirundung duka mendalam, mereka masih mengenakan pakaian serba hitam sebagai tanda berkabung karena bagaimanapun mereka baru saja kehilangan ayah dan juga kakek yang selama ini sangat mereka hormati.


Erik untuk pertama kalinya setelah dua tahun kembali pulang ke Korea, selama ini ia kembali ke Vancouver dan keliling dunia untuk melakukan pameran lukisannya. Ia kini telah kembali menjadi pribadi penyendiri yang lebih menyukai menghabiskan waktunya di dalam apartemen dan melukis. Tapi sering kali ia menghabiskan waktunya di Stanley Park, tempat yang memiliki sejuta kenangan untuknya, hampir setiap pagi ia akan pergi hiking dan menikmati matahari terbit sambil duduk di atas batu raksasa yang ada di puncak area hiking itu, atau ia akan pergi menikmati matahari terbenam di Vancouver Look Out.


Ia tahu kalau itu hanya akan mengingatkannya pada seseorang tapi biarlah semua kenangan itu menjadi harta paling berharga baginya. Erik membuang napas panjang, matanya menatap langit kota Seoul yang cerah di atas balkon lantai dua rumah orantuanya, hanya beberapa kilo, ya hanya beberapa kilo jarak yang memisahkan dirinya dengan gadis itu, gadis yang sangat ia cintai tapi juga terlarang untuknya.


“Apa yang sedang kau pikirkan, Nak?”


Erik membalikkan badan dan melihat ayahnya tengah berjalan ke arahnya.


“Tidak ada,” jawabnya singkat.


Kim Minhyuk kini duduk di kursi balkon di sebalah Erik yang masih terdiam menikmati pemandangan langit biru muda dengan arak-arakan awan putih.


“Apa kau masih belum bisa melupakannya?”


tanyanya memecah keheningan yang membuat Erik mengalihkan perhatiannya sesaat kepada ayahnya.


“Apa terlihat aku sudah melupakannya?” Erik balik bertanya yang membuat Kim Minhyuk memerhatikannya untuk beberapa saat dan dia sudah tahu jawabannya, selama dua tahun ini ia sudah melihat bagaimana putra sulungnya melewati hari seperti mayat hidup yang sudah tak memiliki gairah dan itu membuatnya kembali dirundung perasaan bersalah.

__ADS_1


“Nak, boleh aku bertanya sesuatu?”


Erik hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.


“Kalau kau bisa memilih antara keluargamu dan gadis itu, siapa yang akan kau pilih?”


Erik terlihat bingung dengan pertanyaan ayahnya itu, ia mengangkat alisnya tak mengerti kenapa ayahnya mengajukan pertanyaan seperti itu.


“Apa maksudmu?” Erik balik bertanya dengan serius.


“Seandainya dia bukan adikmu, tapi kami tidak merestui hubungan kalian, apa kau akan nekad menikahinya dan pergi meninggalkan kami?”


Erik kembali terdiam sebelum akhirnya ia membuang napas panjang dan mengalihkan pandangannya kembali ke atas langit, “Seandainya itu adalah kenyataan maka aku tak akan berpikir dua kali untuk membawanya lari, tapi masalahku tak sesederhana itu,” ucap Erik dengan lemah yang membuat Kim Minhyuk merasakan penderitaan yang sedang dialami putranya.


Kim Minhyuk membuang napas berat sebelum dia berkata yang memecah keheningan, “Apa kau mau mendengar ceritaku?” Erik melirik ayahnya sebentar lalu mengangguk sebagai jawaban.


“Dulu aku dan Ibumu menjalin hubungan tanpa ada perasaan cinta di antara kami, kami dijodohkan. Ibumu adalah perempuan yang cantik dan banyak pria yang menyukainya salah satunya adalah asisten Kakekmu, Yoon Shin, seorang pria yang baik tapi dia mengetahui kalau perasaannya adalah hal yang mustahil mengingat status yang membedakan mereka berdua. Aku tahu perasaannya karena sebagai pria tentu saja aku mengetahui bagaimana seorang pria menatap perempuan yang dicintainya, tapi Ibumu saat itu terlalu jatuh cinta padaku atau itulah yang aku pikirkan.” Kim Minhyuk terdiam beberapa saat dia menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.


“Sampai suatu hari Ibumu menghilang tanpa kabar berita tidak ada yang mengetahui keberadaannya, saat itu aku tengah melanjutkan kuliahku di Jepang... pada saat itulah aku bertemu dengan Minami, Ibu Ayumi. Aku sangat mencintainya dan bermaksud untuk menikahinya, tapi semuanya berantakan ketika tiga tahun kemudian aku pulang ke Korea untuk memberitahu orangtuaku kalau aku akan menikahi Minami. Pada saat itu aku melihat Ibumu di dalam rumah orangtuaku bersama dengan seorang anak laki-laki berusia dua tahun.”


Erik membelalakan matanya, dia bisa menebak siapa anak laki-laki itu dan tebakannya benar ketika dia melihat ayahnya mengangguk sambil menatapnya lembut.

__ADS_1


“Iya, anak itu adalah kau, Nak... Ayahku meyakinkanku kalau kau adalah putraku dan dia mengancamku untuk menikahi Ibumu dan mendaftarkanmu menjadi putraku.”


Erik terdiam mematung mendengar ucapan Kim Minhyuk, jantungnya untuk beberapa saat seperti berhenti berdetak, logikanya mulai berjalan dan mulai menyusun berbagai kemungkinan-kemungkinan tentang apa yang sebenarnya terjadi yang membuatnya menatap ayahnya dengan terbelalak. Kim Minhyuk yang menyadari reaksi putranya hanya bisa tersenyum masam lalu melanjutkan ceritanya.


“Kau adalah hadiah terindah yang Tuhan kirimkan untukku saat itu, aku mungkin sedikit sulit menerima Ibumu kembali tapi kau... kau langsung mencuri hatiku. Walaupun aku mengetahui kebenarannya saat kau berumur tujuh tahun. Saat itu tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Ibumu dan Ayahku tentang alasan Ibumu meninggalkanku dulu. Saat aku belajar di Jepang, ternyata Ibumu mulai jatuh cinta kepada Yoon Shin, diam-diam mereka mulai menjalin hubungan di belakang semua orang, sampai suatu saat Yoon Shin pergi dengan Kakekmu dan mengalami kecelakaan, Yoon Shin yang berusaha menyelamatkan Kakekmu harus kehilangan nyawanya pada hari itu.” Kim Minhyuk kembali menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.


“Kakekmu tidak tahu mengenai hubungan Ibumu dan asistennya yang telah berkorban nyawa untuk menyelamatkannya, sampai akhirnya Ibumu datang dalam keadaan tertekan karena pada saat kematian Yoon Shin dia baru mengetahui kalau dia tengah mengandung anaknya.”


Kali ini tubuh Erik bergetar hebat, wajahnya pucat pasi, jantungnya berdetak hebat menyadari salah satu kemungkinan yang dia bayangkan menjadi kenyataan, matanya menatap ayahnya menuntut penjelasan lebih lanjut, yang membuat Kim Minhyuk menatapnya dengan lembut tapi ada sorot mata sedih.


“Ibumu tak menceritakan soal kehamilannya kepada siapapun selain Ayahku. Ibumu sempat akan menggugurkan kandungannya tapi Ayahku melarangnya dan berjanji akan menolongnya karena bagaimanapun dia berhutang nyawa kepada ayah sang bayi dalam kandungan itu, dan oleh sebab itulah dia mengirim Ibumu keluar negri, membiayai semua kebutuhannya sampai kau berumur dua tahun, dia melakukan itu tanpa siapapun mengetahuinya termasuk keluarga Ibumu, karena dia tahu seandainya keluarga Ibumu mengetahui kalau putrinya tengah mengandung bayi dari seorang pria yang hanya seorang pekerja biasa maka mereka akan mengugurkannya. Ketika kau berusia dua tahun Kakekmu mengetahui tentang hubunganku dengan seorang perempuan asal Jepang dan pada saat itulah Kakekmu merencanakan semuanya, dia membawamu pulang ke Korea dan mengatakan kalau kau putraku hanya untuk mencegah pernikahanku dengan Minami, dia bahkan tanpa sepengetahuanku telah mendaftarkan pernikahan kami dan mendaftarkanmu menjadi putraku.”


Erik benar-benar tak bisa berkata apa-apa mendengar kenyataan yang baru saja disampaikan oleh pria yang selama ini ia kira ayahnya sendiri, pikirannya terasa kosong, tubuhnya terasa tak memiliki tulang bahkan untuk duduk tegak, nyawanya seolah melayang dan ia berharap kalau ini hanyalah sebuah mimpi.


“Jadi kau bukan Ayahku?” Erik bertanya dengan sangat pelan dan sarat akan luka.


“Aku memang bukan ayah kandungmu, tapi sampai kapanpun kau adalah putra kesayanganku. Nak, maafkan aku karena baru menceritakan ini sekarang, sesungguhnya Kakekmu memintaku untuk menjaga rahasia ini sampai mati seperti yang dia lakukan, tapi aku tak bisa diam saja melihatmu selama ini seperti mayat hidup karena seorang gadis yang kau kira adalah adikmu sendiri, aku tak bisa melihatmu menderita lebih lama lagi. Berulangkali aku meminta Kakekmu untuk menceritakan kebenaran ini kepadamu tapi dia terlalu takut, takut kau akan pergi meninggalkan kami semua, yang perlu kau ingat kami semua menyanyangimu dan kami adalah keluargamu, oleh sebab itu Kakekmu membawa rahasia ini sampai akhir hayatnya karena kau adalah cucu kesayangannya. Tapi aku terlalu menyayangimu dan ingin kau bahagia, jadi aku memberanikan diri untuk menceritakan ini semua kepadamu.”


Erik tak dapat berpikir dengan jernih, dia hanya diam mematung mencerna semua cerita yang seperti mimpi itu dan Kim Minhyuk bisa mengerti itu bukanlah hal yang mudah yang bisa diterima semua orang. Dengan lembut dia menepuk bahu putranya yang langsung menatapnya dengan pandangan kosong.


“Nak, sekarang semua keputusan ada ditanganmu, raihlah kebahagianmu sendiri, kejarlah cinta sejati. Aku akan mendukung apapun keputusanmu, bukankah itu fungsinya keluarga? Untuk saling mendukang satu sama lain.”

__ADS_1


Ucapan Kim Minhyuk itu membuat Erik sedikit tersadar dengan kenyataan baru yang artinya kini ia bisa dengan bebas mencintai perempuan yang sangat ia cintai, tapi untuk saat ini ia masih belum bisa berpikir bagaimana ia bisa bahagia setelah baru saja mengetahui kalau dia bukanlah putra dari seseorang yang selama ini ia kenal sebagai ayahnya, sedangkan ayah kandungnya sendiri telah tiada bahkan ketika dia belum lahir. Tidak untuk saat ini dia masih harus berpikir dengan jernih menanggapi apa yang terjadi dalam hidupnya, jadi dia memutuskan kalau saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertemu gadis itu sampai hatinya kembali utuh, dia berjanji suatu saat nanti ia akan berdiri dihadapan gadis itu dan memulainya dari awal, mengubur masa lalu mereka yang kelam dan memulai dengan lembaran baru yang lebih indah.


****


__ADS_2