
Hari ini Ayumi libur dari kerja, seperti biasa pagi-pagi Kevin sudah datang ke rumah adiknya itu untuk membawa Ayumi dan Minami jalan-jalan. Senyum lebar menghiasi wajahnya membayangkan wajah keponakannya yang lucu. Tapi setibanya di depan pintu rumah senyumnya menghilang. Matanya membaca catatan yang tertempel di pintu, kemudian tertawa sambil menggelengkan kepala.
”*Hyungnim, aku mengikuti saranmu untuk bangun pagi-pagi dan pergi berlibur dengan istri dan putriku. Jangan tunggu kami karena kami tak akan pulang hari ini. Aku akan mendoakanmu semoga kau cepat menikah supaya bisa berlibur dengan keluargamu sendiri.”
Adik iparmu, tersayang.
Kim Seung Won*
***
Senyum lebar tak pernah lepas dari wajah tampan Erik membayangkan reaksi Kevin ketika mengetahui kalau dia kalah cepat dari dirinya. Ia menatap Minami yang bermain pasir pantai dengan menggunakan ember dan skup mainan. Kemarin sepulang Ayumi dari Rumah Sakit karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menghabiskan liburan bersama istri dan putrinya, ia langsung membawa keduanya ke bandara dan terbang ke pulau Jeju.
“Sangat indah bukan?” Erik berjalan mendekati Ayumi yang duduk di atas pasir memandang lautan sambil mengawasi putri kecilnya yang bermain tak jauh darinya.
“Iya,” jawab Ayumi sambil tersenyum, “Aku selalu menyukai pemandangan seperti ini.”
“Aku tahu.” Erik duduk di samping Ayumi, “Aku ingat pertama kali saling mengenal adalah ketika kau sedang menatap pemandangan matahari terbit di atas laut Pasifik. Hari dimana kau baru mengetahui kematian ibumu.”
Ayumi tersenyum sambil mengangguk mengingat hari itu, “Aku pikir hari itu kau tidak melihatku karena kau terlau asyik dengan kameramu.”
“Aku terlalu terpesona oleh kecantikanmu saat itu.”
Ayumi terkekeh mendengar pujian Erik sambil menggelengkan kepala.
“Seingatku, kau bahkan mengacuhkanku saat itu, tapi tiba-tiba saja kau duduk di sampingku dan kita mulai berkenalan.”
“Saat itu aku bingung bagaimana caranya untuk mendekatimu, jadi aku berpura-pura mengambil foto sambil berpikir apa yang harus aku ucapkan pertama kali.”
__ADS_1
“Dan foto itu adalah fotoku.”
Erik tertawa membenarkan ucapan istrinya, “Iya, karena kecantikanmu bahkan telah mengalahkan kecantikan matahari terbit.”
Ayumi kembali tertawa mendengar ucapan gombal suaminya.
“Kau tahu? Kau sangat berubah.”
“Aku? Berubah?” tanya Erik sambil mengangkat alisnya.
“Iya, kau sangat berubah, sekarang sangat romantis dan pandai sekali merayu, sedangkan dulu,” Ayumi menggelengkan kepala dengan prihatin, “Kau seperti patung es.”
Erik tersenyum mendengar perkataan Ayumi, “Itu semua karenamu.”
“Karena aku?”
“Aku tak melakukan apapun, kau yang telah mengubah dirimu sendiri menjadi lebih baik, karena hanya dirimu sendirilah yang bisa melakukan itu, dan pada dasarnya kau memang lelaki yang baik karena itulah aku dengan setia mencintai dan menunggumu selama ini.”
Mereka saling pandang dengan penuh cinta dan senyum tak pernah pudar dari wajah keduanya.
“Terima kasih karena kau mau menerimaku menjadi suamimu, terimakasih karena kau selalu setia menungguku bahkan pada saat aku berpaling darimu, terimakasih karena telah memberikan cinta yang begitu besar, terimakasih karena telah menjadi istri yang luar biasa, dan terimakasih karena telah memberikanku seorang putri yang cantik dan pintar.”
Ayumi tersenyum sambil mengangguk kemudian menatap putrinya yang masih terlihat asyik dengan pasir dan mainan pantainya. Gadis kecil itu terlihat menggemaskan dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaus membalut tubuh montoknya.
“Kevin Oppa bilang dia persis sepertiku,” ucap Ayumi tanpa melepaskan pandangannya dari Minami yang kini tengah berusaha mengisi ember mainannya dengan pasir.
Erik ikut menatap putrinya kemudian tertawa ketika melihat Minami terlihat kesulitan membawa embernya yang telah penuh, membuat wajah bulatnya memberengut karena mengeluarkan tenaga ekstra.
__ADS_1
“Kali ini aku setuju dengannya, dia adalah kau versi kecil, sangat menggemaskan. Aaah! Aku harus siap-siap sepertinya dia akan membuat banyak pria patah hati.”
Erik tersenyum masih menatap purinya yang kini berjalan dengan susah payah, kedua tangan mengangkat ember, wajahnya terlihat serius sampai akhirnya dia berhasil sampai di tujuannya dimana terdapat tumpukan pasir yang telah dia ambil sebelumnya. Tangan kecilnya kini menepuk-nepuk tumpukan gunungan pasir.
“Kau harus belajar dari Soo Hyuk tentang itu.” Ayumi tersenyum sambil kembali menatap lautan.
“Kau benar.” Erik mengangguk serius, “Kemarin dia bercerita kalau dia merasa tersaingi oleh anak berumur 12 tahun.”
Ayumi tertawa dengan mata membulat, “Dia berlebihan.”
“Tidak, karena aku juga akan merasakan hal yang sama kalau Minami mengatakan kalau temannya lebih tampan daripada aku.”
Ayumi kembali tertawa sambil menatap suaminya, “Alice mengatakan kalau Soo Hyuk kalah tampan dari temannya?”
“Iya, Soo Hyuk bilang bahkan anak itu masih memliki gigi ompong di depan, tapi Alice bilang kalau itu cute.”
Ayumi kembali tertawa membayangkan bagaimana wajah Soo Hyuk mendengar Alice memuji teman prianya.
“Aku kini tahu bagaimana perasaan para Ayah di dunia ini ketika melihat putri mereka membawa teman prianya ke rumah, jadi wajar saja kalau mereka sampai membawa sapu untuk mengusirnya.”
“Jadi kau akan mengusir setiap pria yang mendekati Minami?”
“Tentu saja!” seru Erik dengan serius, “Sampai aku menemukan pria yang menyayangi dan mencintainya lebih daripada aku.”
Ayumi tersenyum mendengar itu, Erik mungkin telah berubah menjadi suami yang hangat bagi Ayumi, dan ayah yang penuh kasih sayang bagi Minami. Tapi sepertinya ia akan kembali mengenakan topeng esnya ketika berhadapan dengan para pria yang mendekati putrinya nanti.
***** THE END *****
__ADS_1