
Waktu terus bergulir dan Ayumi melewati harinya seperti orang gila, ia hanya tidur selama tiga sampai empat jam sehari, dan itu membuat Kevin sangat khawatir, tapi semua ucapan pria itu hanya dianggap angin lalu oleh Ayumi, karena hanya dengan menyibukan dirinya seperti itu ia bisa melupakan sejenak kekasih yang telah pergi entah kemana.
Dan akhirnya tahun berganti tahun menyisakan duka yang semakin dalam pada gadis itu. Hari kelulusan Ayumi yang kini telah bergelar dokter telah tiba, ia lulus dengan predikat suma cum laude dan nilai sempurna. Semua hadir dalam acara itu termasuk Ayah dan adiknya yang sengaja datang dari Indonesia, senyum bahagia mengembang dari wajah semua orang begitu juga dengan gadis bermata bulat itu, tapi tidak dengan hatinya. Seolah ada kepingan yang hilang ia tidak bisa lagi merasakan kebahagiaan yang membuncah.
Kejutan yang ia rasakan adalah ketika ia menerima satu buket besar mawar putih dengan kartu ucapan bertulisan hangeul.
"Selamat atas kelulusannya, Uri Dongsaeng (*adikku)."
-Oppa-
Ayumi mengerutkan keningnya membaca tulisan itu, dia tidak pernah bertemu sekalipun dengan kakak tirinya itu kecuali dengan Ayah tirinya yang juga ikut hadir di acara kelulusan, hubungan gadis itu dengan suami almarhum ibunya berjalan semakin baik. Pria yang menjabat sebagai Presdir di Rumah Sakit Busan itu sering menghubunginya hanya untuk menanyakan kabar Ayumi, awalnya ia merasa risih mendapat perhatian dari orang yang baru ia temui tapi lama kelamaan akhirnya Ayumi bisa menerimanya.
"Yong Jung meminta maaf dia tidak bisa hadir di acara wisudamu." Ayah tirinya itu berkara sambil tersenyum menatap Ayumi dengan lembut.
"Yong Jung?" Ayumi bertanya sambil mengerutkan alis mendengar nama yang baru ia dengar.
"Iya, Yong Jung, Kakakmu. Tapi ia berjanji akan hadir pada saat acara makan malam nanti malam."
Perkataan Dr. Choi itu sukses membuat Ayumi membelalakan matanya karena terkejut.
"Kita akan makan malam bersama?"
"Iya, aku telah memesan restoran di hotel dan telah mengundang Ayah serta Adikmu, kita akan merayakan kelulusanmu." ucap Dr. Choi sambil tersenyum membuat Ayumi tak kuasa untuk menolaknya dan hanya bisa tersenyum miris.
"Bagus, semua keluarga kita akan hadir dan akhirnya kau akan bertemu dengan anak nakal itu."
"Anak nakal?"
"Iya, Kakakmu itu sangat nakal dia membuatku kelimpungan karena tiba-tiba menghilang selama hampir dua tahun terakhir ini, tapi sebenarnya dia anak yang sangat baik, kau akan menyukainya," ujar Dr. Choi dengan sorot mata bangga ketika ia bercerita tentang anak laki-lakinya.
__ADS_1
Dalam hati Ayumi bertanya, apa Ayah tirinya itu akan menampakan sorot bangga yang sama ketika ia membicarakan dirinya? Seperti Ayahnya yang kini tersenyum lebar karena bahagia dan bangga putrinya lulus dengan sangat memuaskan.
Jam menunjukan angka tujuh malam saat Ayumi bersama Ayah dan adiknya berjalan memasuki restoran hotel Grand Vancouver dimana Dr. Choi menginap. Ayah tiri Ayumi itu menunggu mereka di meja yang telah ia pesan, posisi meja mereka berada di dekat jendela dan dari puncak hotel berlantai 26 tempat restoran berada, mereka disuguhkan pemandangan malam kota yang gemerlap.
"Kalian terlihat sangat cantik," puji Dr. Choi setelah melihat kedua gadis di hadapannya mengenakan gaun yang ia hadiahkan kepada mereka. Gaun sutra biru muda selutut dengan model sederhana dan terlihat pas di badan Ayumi membuat ia terliat sangat anggun, begitu juga dengan Rama yang mengenakan gaun selutut berwarna hijau pupus membuat ia terlihat sangat cantik dan segar.
"Dimana putramu?" Tanya Tuan Maheswara, setelah mereka duduk di kursi yang disediakan.
"Dia akan segera datang," jawab Dr. Choi dengan ramah.
Beberapa saat mereka berbincang-bincang ringan sambil menikmati minuman sebelum makanan datang.
"Selamat malam, maaf terlambat," suara berat milik seorang pria yang kini berdiri di hadapan mereka dengan mengenakan stelan berwarna hitam dan kemeja biru didalamnya, rambut tersisir rapi, pria itu terlihat sangat tampan. Rama hampir saja meneteskan air liurnya ketika melihat pria bertubuh tinggi menjulang dengan badan tegap itu.
"Perkenalkan nama saya, Choi Yong Jung, Kakak Ayumi," ucap pria itu sambil menatap Ayumi yang terlihat pucat, mata bulatnya hampir saja keluar, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
Secara refleks dia berdiri, dengan terbata-bata dia berkata, "Kevin?"
"Apa kalian saling mengenal?" Dr. Choi terlihat bingung sambil menatap keduanya secara bergantian.
Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan itu, mereka hanya terdiam dan saling pandang untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Ayumi memecah keheningan itu.
"Maafkan saya," pamit Ayumi sambil berlari keluar dari ruangan itu membuat semuanya memandang bingung ke arah Kevin yang kini tengah membungkuk memberi hormat sebelum mengejar adiknya dan juga sahabatnya selama ini.
"Angel, tunggu!" Seru Kevin ketika melihat gadis itu masuk kedalam lift tapi sudah terlambat Ayumi menekan benda itu dengan cepat hingga tertutup tepat sebelum Kevin masuk.
Dengan panik Kevin menekan tombol pada lift satunya lagi yang tak berapa lama langsung terbuka dan secepat kilat ia masuk ke dalamnya, sesampainya di lobi hotel Kevin mencari-cari sosok perempuan bertubuh mungil itu, sekilas ia melihat siluet tubuh Ayumi yang berbelok ke arah taman belakang hotel, ia berlari mengikuti dari belakang tak mau sampai kehilangan.
"Angel, tunggu!" Seru Kevin sambil menahan bahu Ayumi yang langsung saja ditepis gadis itu, dengan mata terluka dan penuh amarah ia mematap Kevin yang begitu tercengang menatap reaksi dari perempuan yang selama ini telah ia kenal dengan sangat baik.
__ADS_1
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi!" Geram Ayumi dengan suara yang sarat akan kemarahan.
"Angel," ucap Kevin dengan suara lirih mencoba menenangkan Ayumi.
"Aku bilang, jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi!" Teriak Ayumi dengan emosi yang membuncah, napasnya memburu, wajahnya memerah, matanya nyalang menatap Kevin yang membeku.
"Kau, di antara banyak orang di dunia ini, mengapa harus kau!" Seru Ayumi yang kini tak lagi bisa menahan air matanya yang perlahan bergulir, melihat itu Kevin melangkahkan kakinya mendekati Ayumi yang langsung saja mengangkat tangannya meminta agar dia berhenti melangkah.
"Apa selama ini kau tahu kalau aku adalah... adikmu?" Suara Ayumi yang bergetar hanya mampu dibalas anggukan menyesal dari pria di hadapannya.
"Oh Tuhan! Apa kau tahu, aku begitu mempercayaimu, aku menceritakan semuanya tapi kau... kau telah menipuku."
"Tidak itu tidak benar."
"Berhenti!" Perintah Ayumi ketika ia melihat Kevin kembali berusaha mendekatinya.
"Aku bahkan menangis dihadapanmu ketika menceritakan tentang Ibuku, aku menumpahkan semua kemarahanku padanya kepadamu. Aku mempercayaimu lebih daripada siapapun, tapi kenapa... kenapa kau harus ikut menipuku seperti yang lainnya?"
Suara lirih Ayumi yang bercampur air mata membuat Kevin seperti dirajam, ia mengutuk dirinya sendiri atas kebodohan dan ketakutannya ketika harus memberitahu kebenaran tentang hubungan mereka berdua, ia takut gadis itu akan menutup diri dari dirinya dan menjauh pergi.
"Selama ini... selama ini kau pasti menertawakan kebodohan dan kemalanganku." Ayumi menghapus airmatanya kasar, "Seharusnya aku tak banyak berharap kalau kau tak akan menipuku." Airmatanya kembali membasahi pipinya, "Seharusnya aku tahu, Ibuku saja telah membuangku, Kekasihku meninggalkanku, dan sekarang orang yang ku kira sahabat baikku, orang yang paling aku percaya, tempat aku bergantung ternyata.. ternyata menipuku dari awal."
"Tidak, bukan seperti itu," ujar Kevin dengan sorot mata sama terlukanya seperti Ayumi, kepalanya menggeleng menyangkal ucapan gadis itu, tangannya terulur mencoba menggapai Ayumi yang mundur.
"Jangan mendekat!" Geram Ayumi diantara tangisnya, kepalanya menunduk beberapa saat lalu menatap Kevin dengan sorot mata terluka.
"Tidak... ini bukan salahmu. Ini salahku!" Ayumi menepuk dadanya keras, "Aku dengan nasib sialku!" Suara gadis itu terdengar begitu menyayat hati penuh dengan perasaan terluka, "Aku... yang ditakdirkan untuk menjadi orang terbuang," bisiknya lemah, tangannya kini terkurai lemas di samping tubuhnya yang mulai menggigil menahan isak tangis.
Tanpa memerdulikan dimana ia berada saat ini, Ayumi berjongkok dan mulai menangis menumpahkan semua emosi yang menghimpit dadanya selama ini, ia bisa merasakan Kevin ikut berjongkok di hadapannya, dan tanpa banyak kata ia menarik tubuh ringkih gadis itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Mengapa kau?" Tanya Ayumi diantara tangisnya, tangan lemahnya memukul dada Kevin yang tak bergeming, "Mengapa... mengapa?" Ulang Ayumi di antara isak tangisnya, Kevin semakin mempererat pelukannya yang akhirnya membuat tangis gadis itu pecah tak terbendung lagi.
****