Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 45


__ADS_3

Dering telepon ruangan itu memecah keheningan, Dr. Choi berdiri lalu berjalan ke arah mejanya untuk mengangkat telepon yang berbunyi nyaring.


“Hallo... baiklah, kami akan ke sana sekarang.”


Dr. Choi menutup teleponnya lalu menghadap kedua pria yang sedang menatapnya, mereka sedang menunggu apa telepon itu ada hubungannya dengan kondisi Ayumi.


“Dia baik-baik saja, sekarang akan dipindahkan ke ruang rawat inap walaupun masih dalam pengawasan penuh dokter.”


Semua orang kini bisa bernapas lega, melupakan sedikit ketegangan yang dari tadi mengisi udara ruangan itu. Radit Maheswara menatap Kim Minhyuk yang terlihat hancur mendengar kenyataan yang baru terbuka lebar setelah lebih dari 20 tahun tertutup rapat. Ia sedikit merasa bersimpati kepada pria di hadapannya itu karena bagaimanapun semua ini tidak sepenuhnya mutlak adalah kesalahannya.


Mereka bertiga memasuki ruangan VVIP dimana Ayumi terlihat masih terbaring tak sadarkan diri, tapi kali ini tak ada selang yang membantu pernapasannya yang ada hanya mesin EKG yang terhubung dengan alat yang di jepitkan ke jari telunjuk gadis itu, selang inpus yang masih menempel di tangan kirinya. Kevin dan Rama terlihat duduk di sofa berwarna krem sedangkan Erik dengan setia duduk di kursi samping tempat tidur Ayumi tak melepaskan genggaman tangannya.


Kevin dan Rama langsung berdiri ketika melihat ketiga pria paruh baya memasuki ruangan tapi tidak dengan Erik yang tetap fokus menatap wajah Ayumi yang masih terlelap. Dr. Choi mengangguk menjawab pertanyaan Kevin yang tak terucap membuat pria bermata coklat itu membelalakan mata tak percaya, ia kini menatap ke arah Ayumi dan juga Erik dengan perasaan sedih yang terdalam.


“Seung Won.” Kim Minhyuk memanggil putranya dengan lemah sambil berjalan mendekati Erik dan juga Ayumi, putri yang baru saja ia ketahui. Erik masih terdiam tak menjawab, tangannya semakin kencang menggenggam tangan mungil kekasihnya, matanya yang memerah karena amarah dan kecewa manatap Ayumi yang terlihat damai walau luka di sekujur tubuhnya.


“Bagaimana keadaannya?” Kim Minhyuk bertanya sambil menatap wajah putrinya yang hampir saja kehilangan nyawa dengan perasaan sedih yang terdalam, ia hampir saja kehilangannya untuk kedua kalinya dan seandainya itu terjadi entah apa yang akan ia lakukan selain berkubang dalam rasa penyesalan seumur hidupnya.


“Dia sudah stabil,” jawab Erik singkat tanpa mengalihkan pandangannya.


“Syukurlah,” jawab Kim Minhyuk dengan tulus, ruangan kembali hening tak ada yang berani berkata apapun, sampai akhirnya Kim Minhyuk kembali memecah keheningan.


“Seung Won, ada yang perlu kita bicarakan tentang...dia...”

__ADS_1


“Cukup! Tidak ada yang harus kita bicarakan apapun tentangnya.” Erik memotong perkataan ayahnya yang terlihat terkejut melihat reaksi putranya. Ia terdiam beberapa saat dan melihat situasi saat ini ia sangat mengerti kenyataannya kalau ternyata perempuan yang dicintai putranya tak lain dan tak bukan adalah adiknya sendiri, tapi tidak ia tak boleh membiarkan hubungan yang salah ini semakin menjadi, sekuat apapun perasaan cinta diantara mereka itu adalah sebuah hubungan yang salah, hubungan yang terlarang.


“Tapi kau harus mengetahuinya,” ujar Kim Minhyuk berusaha berkata dengan tenang.


“Tidak! Aku tak mau mendengar apapun!” Erik berdiri sambil memandang ayahnya dengan mata berkaca-kaca, ia menggelengkan kepalanya memohon supaya pria yang selalu ia hormati sejak kecil itu tak mengatakan apapun juga tentang kenyataan yang akan membuat dunianya hancur berkeping-keping.


“Maafkan aku tapi kau harus mengetahuinya, dia...”


“Aku bilang hentikan, Abeoji! Kau hanya memiliki darah yang sama dengannya, hanya itu tidak lebih,” seru Erik dengan berurai airmata sambil menganggukkan kepala memohon ayahnya itu untuk menyetujui ucapannya kali ini.


Hati Kim Minhyuk terasa teriris melihat putranya yang selalu bersikap mandiri dan tegar terlihat begitu hancur, matanya menatap Ayumi yang masih terbaring tak bereaksi apapun terhadap kondisi yang sedang terjadi disekitarnya. Kevin dan yang lainnya hanya bisa terdiam melihat semuanya tak bisa melakukan apapun selain merasakan kesakitan dan sedih yang sama yang di rasakan Erik, Rama bahkan sudah tak bisa lagi menyembunyikan airmatanya.


“Maafkan aku.”


“Seung Won!”


“Iya, kami akan menikah setelah dia sadar, kau harus merestui kami.” Erik tak memedulikan protes ayahnya.


“Dia, adikmu!”


“Tidak! Tidak, aku hanya memiliki seorang adik pria, Joon Seo, dia adikku, apa Abeoji lupa?”


“Seung Won, aku mohon sadarlah... dia adalah adikmu, dan dia adalah putriku yang telah lama hilang.”

__ADS_1


“CUKUP!” Erik berteriak dengan berurai airmata.


“Dia adalah Ayumi Maheswara, putri dari Radit Maheswara.” Erik kini menatap Radit Maheswara yang menatapnya dengan penuh empati, “Dia, Ayah Ayumi, dan kau, Abeoji... kau hanya kebetulan memiliki darah yang sama dengannya, hanya itu tidak lebih, jadi jangan katakan yang tidak-tidak, kau bahkan tidak mengenalnya, kau tidak tahu seperti apa dia, jadi kau tidak berhak menyebutnya putrimu!” Teriak Erik membuat Kim Minhyuk hanya terdiam mendengarkan pelampisan amarah putranya.


“Apa kau tahu siapa dia, Abeoji? Dia adalah Iris, perempuan yang selalu ku cari dan kupanggil namanya bahkan disaat aku tak tahu siapa diriku, dia adalah perempuan yang membuatku tersenyum, dia adalah perempuan yang mewarnai hidupku, dia adalah perempuan yang paling berharga melebihi nyawaku sendiri! Dan kau bahkan ingin mengambilnya dariku? Aku mohon jangan lakukan itu.” Erik memohon dengan airmata yang terus keluar membasahi pipinya, dan Kim Minhyuk kembali terperanjat mengetahui kalau Iris nama yang selalu meluncur dari mulut Erik saat dia hilang ingatan adalah Ayumi. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa seandainya Ayumi benar adalah putri Minami dan Radit maka ia akan jauh akan bahagia karena bisa menyaksikan kebahagiaan putranya bersanding dengan orang yang dicintainya, tapi ini...


“Abeoji, aku tak pernah meminta apapun darimu, tapi untuk kali ini, hanya untuk sekali ini tolong kabulkan permohonanku, tolong katakan kalau ini semua hanya sebuah kebohongan, aku mohon.”


Kim Minhyuk terdiam beberapa saat ia menatap putranya dengan pandangan sedih, “Maafkan aku,” hanya itu yang keluar dari mulutnya dengan suara lirih yang membuat Erik menggelengkan kepala.


“Tidak... aku bilang jangan minta maaf, Abeoji, tolong jangan meminta maaf seperti itu... Tuan, aku mohon jelaskan pada Ayahku kalau dia salah, Ayumi adalah putrimukan?”


Erik berjalan mendekati Radit Maheswara sambil memohon, yang membuat pria itu tak bisa menahan airmatanya, dia bisa melihat betapa pria dihadapannya itu sangat mencintai Ayumi.


“Kau benar, Ayumi adalah putriku.” Erik tersenyum mendengar ucapan pria yang ia kenal sebagai ayah Ayumi itu, “Tapi Minhyuk adalah Ayah biologisnya.”


Senyum Erik seketika hilang, dunianya seakan hancur dengan menyeret kakinya ia kembali berjalan ke arah tempat tidur dimana kekasihnya terbaring, kini ia berlutut disamping tempat tidur, tangannya dengan gemetar menangkup wajah Ayumi, bibirnya bergetar hebat menahan tangis tapi kekuatannya sudah habis dan seketika tangisnyapun pecah sambil memeluk tubuh kekasihnya yang tak bergerak.


“Apa salah kami, hingga harus mengalami ini?” ucapnya di antara tangis yang menyayat hati, “Dosa yang dilakukan orangtua kenapa harus kami yang membayarnya... kesalahan kami hanya saling jatuh cinta, apakah itu salah?”


Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan sederhana itu, semua hanya terdiam menyaksikan sepasang kekasih yang tak mungkin untuk bersatu, Rama menahan isak tangisnya dalam pelukan Kevin yang juga telah berkaca-kaca. Dr. Choi dan Radit Maheswara terdiam menyadari seandainya mereka tidak terikat oleh pertalian darah, Erik adalah orang yang bisa mereka percayai untuk menjaga putri mereka. Tapi diantara semuanya, Kim Minhyuklah yang paling merasa menyesal karena dosa dan kesalahanyalah putra-putrinya harus bermain dengan takdir yang menjerat leher keduanya.


****

__ADS_1


__ADS_2