
Pria bermata tajam itu berdiri di antara kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan keramaian di depan Rumah Sakit Busan. Jantungnya berdebar hebat, amarah menyeruak kepermukaan, tangannya terkepal kuat di balik saku jaketnya, mata tajamnya nyalang menatap orang-orang yang kini tengah memaki gadis bermata bulat itu, napasnya memburu menahan amarah ketika mereka mulai melempari gadis itu, kakinya baru saja hendak melangkah untuk melindungi gadis yang selama ini dirindukan ketika ia melihat seorang pria membelah kerumanan itu lalu memeluk gadis itu, melindunginya.
Untuk sesaat ia terdiam, jantungnya seolah berhenti berdetak ketika melihat Ayumi dalam pelukan pria yang ia kenal sebagai ssahabat dan juga kakak dari tunangannya itu. Ia melihat bagaimana Lee Soo Hyuk dengan berani mengancam semua orang yang tadi memaki Ayumi sebelum akhirnya tanpa memedulikan semua orang, dokter specialis bedah itu mengangkat tubuh ringkih Ayumi dalam dekapannya lalu membawanya masuk ke dalam gedung Rumah Sakit.
Kerumanan yang menonton 'pertunjukan' tadi terbelah ketika pria itu berjalan menuju mereka, semua mata kini tertuju kepada pasangan itu termasuk Erik, giginya gemerutuk menahan amarah ketika melihat bagaimana pucatnya wajah Ayumi yang tersembunyi di balik dada bidang Soo Hyuk, rambut dan pakaiannya terlihat kotor oleh tepung dan juga telur yang kini juga mengotori kemeja putih dokter tampan itu yang terus berjalan menuju ruangannya tanpa memedulikan tatapan dan bisik-bisik di sekitarnya, Erik terus memerhatikan keduanya dengan dada yang terasa sesak sampai akhirnya siluet tubuh mereka menghilang dari pandangannya.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju cafe yang berada di lantai dasar Rumah Sakit untuk membeli kopi, setelah memesan Americano ia duduk di salah satu kursi menunggu pesanannya, ketika telinganya menangkap pembicaraan beberapa perawat tentang apa yang terjadi barusan.
"Apa kalian lihat apa yang Dr. Lee lakukan tadi? Ya Tuhan, itu sangat keren seperti yang ada di drama-drama."
"Kau benar.. aahh dr. Ayumi sangat beruntung."
"Setelah menaklukan Dr. Lee yang tampan itu, dia bahkan digosipkan berpacaran dengan Kevin, penyanyi yang juga sangat tampan."
"Itu bukan gosip, aku melihatnya kemarin di taman Rumah Sakit ketika mereka makan siang bersama.. kalian harus lihat bagaimana genitnya perempuan itu merayu Kevin yang sangat polos."
"Omo! Jadi dia merayu keduanya?"
"Cih.. aku tak menyangka di balik wajahnya yang terlihat seperti malaikat tak berdosa ternyata dia seekor rubah dengan sembilan ekornya."
"Yaahh! Kecilkan suaramu, apa kau ingin dipecat? Kalau sampai Presdir Choi mendengarmu menyebut putrinya rubah berekor sembilan, habis riwayatmu."
"Ya Tuhan, kau benar! Aku lupa."
"Kalian tahu, aku dengar kalau dr. Ayumi adalah anak haram."
"Yaah! Hati-hati dengan apa yang kau bicarakan."
"Ini benar, aku dengar Dr. Choi hanya memiliki satu putra kandung."
"Ya Tuhan, benarkah?"
__ADS_1
"Iya, aku mendengar kalau Dr. Choi baru mengetahui tentang putrinya itu beberapa tahun yang lalu, temanku pernah melihat dr. Ayumi waktu dia masih kuliah di luar negri, katanya dia bekerja di bar untuk membiayai hidupnya di sana." Semua orang yang berada di meja itu terlihat terkejut mendengar cerita dari perawat dengan pipi tembem itu.
"Aku tak menyangkanya.... jangan-jangan selama ini dia hanya pura-pura menolak Dr. Lee?"
"Kau benar, itu pasti taktiknya untuk menjerat para pria."
"Apa kau tak lihat bagaimana dia tadi pura-pura terluka di dalam pelukan Dr. Lee?"
"Aish! Dia benar-benar Gumiho!"
"Kasihan Dr. Lee dan Kevin, mereka telah tertipu oleh rubah itu!"
Erik berdiri dari kursinya sambil menggebrak meja dan mendorong kursinya hingga menimbulkan suara keras ketika nomber-nya dipanggil menandakan pesanannya telah siap, dan aksinya itu sukses membuat kumpulan penggosip itu terlonjak kaget, ia menatap kerumanan itu dengan mata tajam setajam pisau yang membuat mereka bergidik ngeri dan tertunduk takut. Dengan dada yang sesak karena marah setelah mendengar apa ucapan mereka tentang Ayumi, Erik berjalan ke arah counter dengan rahang mengeras untuk mengambil pesanannya lalu keluar dari tempat itu.
Erik sangat marah, dengan tergesa dia memasuki lift menuju lantai lima dimana Yuri dirawat, dadanya masih terbakar amarah ketika ia berjalan di lorong rumah sakit menuju kamar tempat tunangannya berada, dia tak habis pikir bagaimana bisa mereka membicarakan orang yang tidak mereka kenal hanya karena apa yang mereka lihat dan dengar saja tanpa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Erik menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, tubuhnya kaku, aura dingin menjalari seluruh tubuhnya, matanya membelalak ketika menyadari apa yang baru saja ada dalam pikirannya.
"Setiap mata memiliki pandangan sendiri-sendiri tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Kau percayalah apa yang ingin kau percayai walaupun belum tentu itu sebuah kebenaran, dan akhirnya akan menjadikanmu orang yang paling egois."
"Apa yang kau anggap benar belum tentu benar, dan apa yang kau anggap salah belum tentu salah."
Erik kembali mengingat ucapan Ayumi kemarin.
"Kau tahu, kau telah dua kali menghakimiku tanpa bertanya terlebih dahulu padaku."
Erik menundukan kepala, matanya terpejam erat, dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri karena memertahankan ego dan berpegang teguh pada kekeras kepalannya tanpa mau mendengarkan penjelasan dari gadis itu terlebih dahulu, entah berapa lama ia berdiri di lorong itu mengutuki kebodohannya sampai suara seorang perempuan menyadarkan lamunannya.
"Oppa, apa yang kau lakukan disini?"
Erik mengangkat kepalanya dan menatap gadis berambut pendek dengan seragam Rumah Sakit duduk di kursi roda yang sedang menatapnya dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Aku... sedang menunggumu," ucap Erik berusaha bersikap normal, ia berdiri tegak lalu berjalan untuk mengambil alih mendorong kursi roda gadis itu dari tangan perawat.
"Kau seharusnya menungguku di dalam bukannya berdiri di depan pintu seperti itu," ujar Yuri sambil tersenyum, beberapa hari ini ia begitu bahagia karena menerima perhatian lebih dari tunangannya itu.
"Apa kau tadi dari lab?" Erik bertanya setelah mereka memasuki kamar rawat inapnya.
"Iya, aku baru saja melakukan tes darah yang terakhir kalinya, kalau hasilnya bagus maka sesuai rencana besok aku sudah bisa menjalani operasi transplantasi."
Erik mengangguk kemudian berjalan ke arah jendela menatap pemandangan taman Rumah Sakit. Lee Yuri, tunanganya itu bukanlah orang yang baru dia kenal, mereka telah mengenal selama beberapa tahun, ia adalah adik dari sahabatnya Lee Soo Hyuk. Mereka pernah menjalin ikatan sebagai kekasih, sebenarnya dia adalah gadis yang baik yang terlalu dilimpahi kasih sayang dan juga materi oleh keluarganya sehingga menjadikan gadis itu sangat manja dan sangat posesif, dia harus memiliki apapun yang diinginkannya, dan karena sifatnya itulah yang membuat Erik meninggalkan gadis itu keluar negri dan akhirnya dia jatuh cinta kepada Ayumi yang memiliki sifat mandiri dan juga sederhana.
Jodoh di antara mereka terjalin kembali ketika ia pulang ke Korea dan hilang ingatan, dengan memanfaatkan hal itu keluarga kedua belah pihak berusaha menjodohkan mereka. Ketika ingatannya telah kembali ia berusaha mengejar cintanya yang sempat hilang tapi melihat Ayumi dan Kevin saat itu membuatnya kehilangan logika dan tanpa berpikir panjang ia menerima perjodohan itu, apalagi setelah Tuan Lee memohon padanya dan mengatakan kalau gadis itu menderita gagal ginjal hingga harus melakukan cuci darah secara rutin, dan akhirnya setelah menunggu lama minggu lalu mereka mendapatkan kabar tentang donor ginjal dan setelah melakukan serangkaian tes, rencannya besok akan dilakukan operasi pencangkokan ginjal.
"Oppa, apa kau tahu kalau tadi ada kejadian yang menggemparkan?" Yuri menatap Erik dengan mata berbinar yang ditanggapi pria itu dengan pandangan dingin.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Kau tahu, aku mendengarnya dari para perawat kalau tadi dr. Ayumi di hadang oleh beberapa wartawan dan juga fans Kevin yang berkerumun semenjak semalam di depan Rumah Sakit, mereka melemparinya dengan segala macam benda, tapi tiba-tiba Soo Hyuk oppa menarik dr. Ayumi ke dalam pelukkannya dan menggendongnya.. aish! Aku tak tahu kalau dia bisa sekeren itu."
Yuri mengakhiri ceritanya dengan tersenyum cerah penuh rasa bangga terhadap kakaknya, "Oppa, apa menurutmu dr. Ayumi dan Kevin berpacaran? Tapi bagaimana dengan kakakku?"
Erik membuang napas panjang sambil mengangkat bahunya, "Aku tidak tahu." Ia kembali menjawab singkat.
"Kalau ternyata gosip itu benar, berarti Soo Hyuk oppa akan patah hati. Kau tahu? Perawat itu bilang kalau Soo Hyuk oppa bahkan melarang siapapun masuk ke dalam toilet karena dr. Ayumi sedang memakainya, dia bahkan bertengkar dengan Dr. Mi Rae yang mau menerobos masuk ke dalam toilet!" Yuri tertawa disela-sela ceritanya, "Dr. Mi Rae pasti sangat marah, mengingat bagaimana Soo Hyuk Oppa mencampakkannya dulu dan sekarang Oppa begitu melindungi perempuan lain di depan semua orang."
Erik terdiam mendengar cerita Yuri yang berapi-api, ada perasaan tidak nyaman di dadanya ketika mendengar bagaimana pria lain melindungi Ayumi yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya untuk melindungi gadis itu, tapi yang dia lakukan hanyalah menyakiti hatinya tanpa jeda.
"Apa dia baik-baik saja? Salah satu perawat itu bilang kepala dr. Ayumi terluka."
Erik membelalakan mata, jantungnya berdebar hebat ketika mendengar ucapan Yuri, "Dia... terluka?"
Yuri mengangguk, "Iya, mungkin terkena lemparan tadi."
__ADS_1
Tangan Erik mengepal menahan amarah mengingat benda apa aja yang tadi di lemparkan para pendemo itu sampai melukai kepala gadis itu. Kevin, semua ini karena pria sialan itu, Erik bersumpah dalam hati ia tidak akan membiarkannya begitu saja kalau sampai ada apa-apa dengan gadis yang masih ia cintai itu.
***