
“Senior... bukan aku yang perlu diobati, tapi kau.” Ayumi duduk di kursi ruang praktek Dr. Lee yang kini berjongkok di hadapan gadis itu sambil membersihkan luka di lutut menggunakan alkohol sebelum akhirnya mengoleskan salep lalu menutupnya menggunakan kain kasa.
Walaupun tugasnya sudah selesai tapi pria itu masih berjongkok tak bergerak, tangannya kini menggenggam tangan mungil milik Ayumi, “Maafkan aku,” ujarnya lirih, matanya menatap mata Ayumi dengan rasa penyesalan yang dalam.
“Aku tak bermaksud melukaimu... aku salah... dia benar, aku tak bisa mengendalikan emosiku… aku begitu marah ketika melihat kalian berdua dan mendengarkan apa yang dia ucapkan.” Dr. Lee mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya, “Seketika aku digelapkan oleh amarah.”
Ayumi merasa kasian melihat kekasihnya yang terlihat sangat menderita karena rasa bersalah, ia mengambil napas dalam lalu tersenyum.
“Kau seperti anak kecil,” ucapnya sambil menatap Dr. Lee yang terkejut mendengar ucapannya.
“A-apa?”
“Iya, kau terlihat seperti anak kecil yang cengeng,” Ayumi mencibir yang membuat Dr. Lee membelalakan mata tapi kemudian tersenyum, “Kau tahu?” lanjut Ayumi sambil menarik Dr. Lee berdiri lalu memintanya duduk di sampingnya, “Ketika emosi mengalahkan akal sehat maka kau hanya akan jadi orang yang paling merugi,” lanjutnya sambil menatap Dr. Lee lembut, “Kau harus mulai bisa mengendalikan emosimu. Sandainya marah, memaki dan memukul orang lain bisa menyelesaikan masalah, maka sudah aku lakukan dari dulu, tapi tidak! Itu semua hanya akan menambah masalah baru dan sia-sia, jadi jangan menambah masalah yang sudah ada dan melakukan hal yang sia-sia. Selesaikan masalahmu dengan kepala dingin, masalah tidak akan selesai hanya dengan sebuah pukulan.” Dr. Lee terdiam mendengarkan ucapan gadis itu yang kini bergantian mengobatinya.
“Dan mengenai aku dan Erik... yang harus kau lakukan hanya percayalah padaku, aku hanya butuh rasa percaya darimu... aku tak mungkin kembali padanya disaat dia sudah bertunangan dengan Yuri, adikmu. Aku tak mungkin membiarkan hati orang lain terluka karena keegoisanku sendiri... jadi... maukah kau percaya padaku?”
Dr. Lee menatap Ayumi lama sebelum akhirnya ia mengangguk, “Aah, aku akan gila karena melihatmu dengannya, tapi... baiklah aku akan percaya padamu.”
Ayumi tersenyum karena merasa bahagia pria di hadapannya memercayainya dan tanpa disadari ia memeluk pria yang terkejut mendapat pelukan tiba-tiba dari kekasihnya, menyadari kekhilapannya Ayumi segera melepaskan pelukannya tapi terlambat karena lengan kokoh itu kini mendekapnya erat.
“Sudah terlambat,” ucap Dr. Lee sambil tersenyum, “Aah, ini adalah obat paling manjur untuk mengobati luka-lukaku.” Dr. Lee semakin mengeratkan pelukannya, ia menghirup wangi tubuh Ayumi dalam-dalam, mengisi setiap bagian paru-parunya dengan wangi yang selalu memabukannya.
Gosip berkembang dengan cepat tentang luka-luka yang dialami dokter tampan itu, berbagai macam spekulasi mulai beredar dan Ayumi selalu menjadi bagian dari cerita-cerita tak benar itu. Untung saja, tugas Ayumi sudah selesai jadi ia bisa pulang dan tidak harus mendengar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan rekan sejawatnya.
Ayumi berjalan menuju halte bis, udara malam pada musim semi yang segar langsung menerpa tubuhnya yang berbalut rok biru tua selutut dengan atasan blus biru muda berlengan panjang, ransel kulit coklat bertengger manis di punggungnya, tak ketinggalan earphone putihnya yang setia menemani terpasang di kedua telinganya.
Ia berjalan gontai dengan sekali-kali membuang napas berat, pikirannya berkelana memikirkan seseorang yang tengah terluka. Apa dia baik-baik saja? Apa lukanya sudah diobati? Ayumi mengerucutkan bibirnya berpikir apa dia perlu mencari keberadaanya? Ia kini duduk di kursi halte, kepalanya ia sandarkan di papan iklan sebuah merk kosmetik dengan seorang artis terkenal sebagai modelnya yang terpasang di halte bis itu.
Ia kembali membuang napas berat, kini tangannya dengan lincah mencari nama Kevin di dalam telepon genggamnya, tapi tiba-tiba jari-jari tangannya berhenti, matanya menatap layar telepon itu dengan serius, jantungnya berdetak kencang ketika tanpa sengaja ia memijit daftar no telepon keluar, dimana di sana terdapat no yang tak terdaftar. No yang Joonie gunakan untuk menghubungi kakaknya.
Setelah bergulat dengan pikiranya sendiri akhirnya Ayumi membuang napas panjang dan nekad untuk menghubungi no telepon itu. Jantungnya berdetak hebat ketika mendengar suara sambungan telepon, kakinya bergoyang karena tegang, giginya menggigit kuku jari telunjuk, tapi setelah menunggu lama pria itu tak juga mengangkatnya. Apa mungkin dia teluka parah? Ayumi menggelengkan kepala menghalau pikiran buruk itu, ia baru saja akan menutup teleponnya ketika terdengar suara berat menyapanya.
__ADS_1
“Hallo.” Ayumi terkesiap mendengar suara Erik mengangkat teleponnya.
“Hallo.. Ayumi?Apa ini kau?” Ayumi membuang napas panjang untuk menenangkan jantungnya.
“Iya, ini aku.” Hening beberapa saat, tak ada satupun yang berbicara sampai akhirnya Ayumi mengingat maksudnya menghubungi pria itu, “Apa kau baik-baik saja?”
“Iya.”
“Apa kau telah mengobati lukamu?”
“Hmm.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Erik.
“Hmm... baiklah kalau begitu, aku... aku hanya ingin menanyakan itu.”
“Ayumi, tunggu!” Ayumi baru akan menutup teleponnya ketika Erik memanggil namanya, “Apa kita bisa bertemu sekarang?”
“Erik...”
”Ini yang terakhir, aku janji.” Ayumi kembali terdiam, membiarkan logika dan perasaannya bertarung.
Ayumi melirik Erik yang sepertinya belum mengobati luka-lukanya, dia masih terlihat berantakan seperti tadi siang. Tanpa banyak bicara ia mengeluarkan obat-obatan yang sengaja ia siapkan di dalam tasnya, dan ia pun mulai membersihkan luka itu terlebih dahulu sebelum mengolesinya dengan salep dan menutupnya. Erik hanya terdiam menerima pengobatan itu, matanya menatap Ayumi yang duduk di hadapannya tanpa berkedip seolah jika dia melakukannya maka gadis itu akan hilang.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” ucap Ayumi sambil memasukkan kembali obat-obatannya.
“Aku akan bertanya untuk terakhir kalinya... apa kau tidak mau pergi bersamaku? Ayo kita pergi ke tempat dimana tak akan ada yang mengenal kita, hanya kita berdua, bersama, selamanya. Kita akan mempertahankan cinta kita.”
Ayumi menatap Erik yang telihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya, dia sudah merasa lelah dengan ini semua, entah harus seperti apa lagi dia menjelaskan kepada pria itu kalau itu tidak mungkin terjadi, mereka mempunya keluarga yang harus dijaga perasaannya.
“Erik...”
“Demi Tuhan, Ayumi, jangan keras kepala! Aku tahu kalau kau masih mencintaiku!” Seru Erik dengan putus asa.
__ADS_1
“Aku memang masih mencintaimu! Apa kau puas sekarang?” Ayumi menatap Erik dengan mata berkaca-kaca, “Tapi semua sudah terlambat, Erik! Semua sudah terlambat!” Seru Ayumi, dan dia sudah tidak bisa lagi membendung airmatanya.
“Ayumi.”
Ayumi menepis tangan Erik yang berusaha menggapainya.
“Harus seperti apalagi aku menjelaskan kepadamu tentang posisi kita saat ini? Apa kau tak paham dengan apa yang ku ucapkan kemarin? Kau ingin aku mengingatkanmu lagi? Baiklah.. kau, iya kau Kim Seung Won, kau telah bertunangan dengan seorang gadis yang kau sendiri yang bilang kalau dia sangat mencintaimu dan menerimamu apa adanya, apa kau ingat dia? Apa kau sekarang sedang mengalami amnesia seperti saat dulu ketika kau meninggalkanku?”
Ayumi mengatakannya dengan penuh emosi yang membuat Erik hanya diam mematung karena untuk pertama kalinya dia melihat gadis itu berapi-api penuh amarah dan juga kesakitan pada saat yang sama.
“Aku mohon, Erik, cukup! Jangan kembali mengingatkanku tentang kenyataan itu, karena itu terlalu sakit untukku.”
Ayumi menatap Erik dengan memelas, airmata membasahi pipinya dan itu membuat hati Erik ikut merasa kesakitan. Lagi-lagi ia telah berbuat egois, ia hanya mementingkan perasaannya sendiri tanpa memikirkan perasaan gadis itu. Tentu saja bagaimanapun Ayumi masih mencintainya, hatinya akan merasa sakit setiap mengingat kalau pria yang dicintainya telah bertunangan dengan perempuan lain, tapi Erik bahkan tidak menyadari itu, yang ia lakukan hanya menabur garam di setiap luka tanpa mengetahui rasanya.
“Maafkan aku... seharusnya aku mengetahui ini, maafkan kebodohanku.”
Ayumi hanya terdiam mendengar ucapan Erik, ia mengatur napas mencoba menenangkan perasaanya, dengan jari-jari lentiknya ia menghapus airmata yang membasahi pipi.
“Aku terlalu egois, maafkan aku,” lanjut Erik sambil menatap Ayumi lembut, “Seharusnya aku tak berpikir seperti itu karena aku tahu kau pasti akan menolaknya, dan mengenai Soo Hyuk...” Erik kembali menarik napas panjang, “ Dia sebenarnya seorang pria yang baik, bukan salah dia kalau para perempuan rela melakukan apapun untuknya, tapi.. aku bisa melihat kesungguhan dimatanya saat dia menatapmu, dan untuk pertama kalinya dia kehilangan kontrol emosi karena seorang perempuan.”
“Tapi, tadi kau bilang kalau dia...”
“Soo Hyuk memang tak pernah bisa mengontrol emosinya ketika ada yang melukai harga dirinya, tapi tidak jika berurusan dengan perempuan, kalau perempuan itu berselingkuh darinya dia hanya tinggal mencari penggantinya dan tidak akan membuang tenaganya untuk meninju orang, tapi tadi? Kita bahkan tidak berselingkuh tapi lihat apa yang telah dia lakukan kepada wajahku ini.” Erik meringis mengingat luka-luka di wajahnya yang tampan.
“Aku rasa dia benar-benar telah jatuh cinta kepadamu,” lanjut Erik pelan sambil menatap Ayumi yang terbelalak mendengar perkataannya, “Aku.. walaupun sulit, tapi aku akan berusaha melepaskanmu karena yakin kau akan ada di tangan yang tepat, dia akan menjagamu walaupun harus mengorbankan nyawanya sendiri... bagaimanapun, kau tetaplah cinta sejatiku dan jangan memintaku untuk melupakanmu karena itu tak akan terjadi,” Erik membuang napas berat, ia menengadah menatap langit tanpa bintang, entah apa yang ada dipikiran pria itu tapi Ayumi bisa merasakan kalau pria itu telah mengambil keputusan yang sulit.
“Dan aku... aku akan berusaha mencintai Yuri, walaupun tak akan sebesar mencintaimu, tapi setidaknya aku tak akan membuatnya terluka.”
Ayumi tersenyum pahit mendengar pernyataan Erik, walau sakit dan sulit tapi memang itu yang harus pria itu lakukan.
“Tadi... aku dipanggil oleh Ayahku, dia bilang kalau mereka telah memutuskan soal pernikahan, kami... kami akan menikah sebelum musim semi ini berakhir.”
__ADS_1
Bagai tersambar petir Ayumi terbelalak mendengar ucapan itu, jantungnya seolah berhenti, tubuhnya terasa lemas. Dia tahu kalau akhirnya berita ini akan datang, tapi tidak secepat ini, tidak disaat hatinya masih belum bisa berpaling
*****