
"Neng Ayu, kemana aja dah lama gak ke sini?" seorang pria dengan logat Sunda yang sangat kental keluar dari dapur dan menyapanya, pria bertubuh kurus dengan kemeja batik lengan pendek sebagai seragam karyawan di sana.
"Biasa, Mang, sibuk kuliah." Ayumi tersenyum sambil duduk di kursi paling pojok agar ia bisa melihat pemandangan jalanan area China's town yang ramai.
"Siapa ini, Neng? Meuni ganteng kaya artis Korea, pacar neng Ayu yah?" Ucapan pria itu sukses membuat semua orang yang berada di sana tiba-tiba terserang batuk, mereka tersenyum menggoda Ayumi yang kini sudah memerah.
"Bukan Mang, ini teman Ayu, kenalin namanya Erik dari Korea." Setelah mendengar nama Korea sontak pria itu membungkukkan badannya sambil berkata dengan satu-satunya kosakata bahasa Korea yang dia tahu.
"Annyeonghaseo," sapanya masih dengan logat sunda yang kental, Erik tersenyum mendengar logat aneh pria ramah itu lalu berdiri untuk membalas sapaannya.
"Mau makan apa?" Tanya Ayumi setelah Erik kembali duduk di hadapannya.
"Aku belum pernah mencoba makanan Indonesia, ada saran?"
Ayumi berpikir beberapa saat sambil melihat buku menu sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada sate ayam buat Erik.
"Mang Dadang, bakso ya Mang seperti biasa mang sate ayam satu porsi." Ayumi berteriak memesan makanan.
"Siap! Dapid, Neng, ah si Eneng mah lupa aja, kalau di sini Mang Dadang teh jadi Dapid." parkataan pria itu sontak membuat seisi restoran tertawa.
"David, Mang Dadang bukan Dapid." Salah seorang pengunjung wanita yang Ayumi kenal berasal dari Bengkulu membetulkan pengucapan pria itu.
"Iya itu Neng Sonya, Dafid," dan akhirnya semua orang menyerah mengajari pria itu mengucapkan namanya sendiri.
Entah berapa lama mereka berada di sana dan entah karena Erik sangat menyukai makanan Indonesia atau karena dia benar-benar lapar, pria itu telah menghabiskan sate ayam, sop iga dan siomay yang membuat Ayumi menganga tak percaya lalu diam-diam dia melihat isi dompetnya menghitung uang yang ia miliki kemudian meringis setelah mengetahui jumlah uangnya, beberapa hari kedepan sepertinya ia harus puasa.
Seorang pelayan di restoran itu mendatangi mereka dengan membawa tagihan yang membuat Ayumi menghembuskan napas lega karena jumlahnya masih aman untuk dompetnya.
"Ini." Erik memberikan kartu kreditnya.
"Tidak, aku yang mengajakmu ke sini jadi aku yang mentraktirmu." Ayumi mengeluarkan beberapa lembar dolar dari dompetnya tapi tangannya ditahan oleh pria yang kini menatapnya dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Jangan lukai harga diriku sebagai laki-laki dengan membayarkan makan siang, apa kau paham?" ujar Erik dengan suara dingin yang membuat Ayumi membeku lalu menganggukkan kepala dengan patuh. Mereka keluar dari restoran itu lalu kembali berjalan ke arah terminal skytrain.
"Apa petualangan hari libur kita sudah selesai?" Erik bertanya sambil berjalan di samping Ayumi.
"Belum, kita akan pergi ke tempat tujuan terakhir." Ayumi tersenyum setelah melihat kereta tujuan mereka telah datang.
Tanpa banyak bicara Erik mengikuti Ayumi, suasana di dalam kereta saat itu lumayan sepi mungkin karena masih jam kerja dan sekolah jadi mereka bisa santai duduk sampai akhirnya kereta berhenti di terminal Waterfront.
"Sebenarnya kau menculikku kemana?" Erik bertanya sambil mengikuti Ayumi yang terus berjalan menuju halte bis.
"Aku akan mengajakmu ke tempat favoritku," Ayumi berkata sambil tersenyum karena bis tujuannya telah datang, "Ayo cepat!" Ayumi menarik tangan Erik menaiki bis ke arah Seymour street lalu duduk di bangku paling belakang.
"Bukankah kau suka memotret, aku jamin kau akan menyukainya." Ayumi tersenyum penuh semangat tapi Erik hanya mengangkat bahu santai lalu bersandar dengan nyaman sambil memejamkan mata. Beberapa menit kemudian Ayumi membangunkan Erik yang sempat tertidur.
"Bangun kita telah sampai." Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya ia berusaha mengenali tempatnya sekarang berada, mereka turun dari bis lalu meneruskan berjalan kaki.
"Ya Tuhan, sebenarnya kau akan mengajakku kemana?" Erik terlihat putus asa karena sepertinya perjalanan mereka tidak ada akhirnya.
"Kau jauh-jauh mengajakku ke sini hanya untuk minum kopi?" Ujar Erik dengan suara dingin yang bisa membuat siapa saja ketakutan tapi Ayumi malah tersenyum dengan polos sambil terus berjalan ke arah antrian di depan kasir.
"Iya kita akan membeli kopi, tapi ini bukan tempat tujuannya." Ayumi tertawa kecil ketika ia melihat Etik memutar bola matanya.
"Dan kali ini aku yang bayar, kau telah mentraktirku makan tadi jadi kali ini aku yang bayar, adilkan?" Erik menatap Ayumi yang tengah menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangkat bahunya lalu memfokuskan diri membaca menu yang tertera di atas dinding cafe. Beberapa saat kemudian mereka telah kembali melanjutkan perjalanannya dengan satu gelas amerikano di tangan mereka lalu akhirnya Ayumi berdiri di antara gedung pencakar langit, kepalanya menengadah ke atas melihat ujung menara di hadapannya.
"Kita sudah sampai, ayo!" Ayumi berjalan diikuti Erik yang lagi-lagi memutar bola matanya.
"Jadi ini tujuanmu? Menara Vancouver Look Out?"
"Iya, kita tidak boleh melewatkan matahari terbenam hari ini cuacanya sangat bagus," mereka memasuki lift yang langsung mengantarkan ke puncak menara. Ayumi dengan semangat berdiri di pinggir puncak menara yg dikelilingi kaca dan dengan takjup memandang kota Vancouver dari ketinggian 130 meter, mereka berjalan mengelilingi 360 derajat bangunan itu sampai akhirnya berhenti di depan kaca yang memerlihatkan pemandangan laut Pasifik.
"Kau akan melihat matahari terbenam yang indah di atas sini." Ayumi memandang ke kejauhan dimana ia bisa melihat kota Olympic Peninsula, Seattle.
__ADS_1
Erik melihat Ayumi yang berdiri tak jauh darinya tengah memandang serius ke kejauhan, mengenakan jeans, sepatu boot, jaket merah dan earphone yang telah menggantikan headsetnya, rambut hitamnya membingkai wajahnya yang putih bersih, matanya selalu bercahaya, Ayumi adalah gadis yang menarik dan Erik tidak memungkiri itu, bahkan seharian tadi entah berapa kali ia melihat pria-pria memandang gadis cantik itu yang bahkan tidak menyadari perhatian yang sedang ia terima.
Semburat merah mulai menghiasi langit pesisir utara Canada Place, memberikan warna keemasan yang memukau tidak mau kehilangan moment itu Erik mengeluarkan kameranya dan memotret gadis itu berlatar belakang matahari tenggelam di antara kemegahan kota Vancouver dan laut pasifik.
"Apa yang kau dengarkan?" Erik membuka sebelah earphone Ayumi lalu memasang di telinganya, melihat pria itu mengernyit membuat Ayumi tersenyum lalu memberikan iponenya. Erik melihat-lihat list lagu di dalam benda mungil itu, lalu memilih satu lagu yang membuat Ayumi menatapnya sambil tersenyum, keduanya kembali menikmati pemandangan ditemani oleh petikan gitar akustik dan suara merdu milik Adam lavine menemani keheningan mereka berdua dalam balutan cahaya jingga langit sore itu.
Langit telah gelap ketika mereka memutuskan pulang menggunakan bis, Erik kembali tertidur sedangkan Ayumi menikmati pemandangan malam kota yang gemerlap ditemani lagu-lagu yang memanjakan telinganya, walaupun bahunya terasa berat karena harus menahan beban kepala pria disampingnya yang tertidur lelap karena lelah. Ayumi membangunkan Erik ketika telah sampai di halte dekat apartemennya, "Kau tak perlu mengantarkanku," Ayumi berkata sambil menatap Erik yang berjalan di sampingnya sambil meregangkan kedua tangannya.
"Apartemenku tak jauh dari sini," ujar Erik santai.
"Benarkah? Aku tak pernah melihatmu."
"Aku jarang keluar."
"Aaah, seharusnya aku sudah bisa menebaknya." Ayumi mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Erik." Mereka sekarang berdiri di depan gedung apartemen sederhana tempat Ayumi tinggal selama ini, "Mengenai ceritaku tadi, tolong lupakan saja," Ayumi menatap Erik yang juga tengah memandangnya, "Entah kenapa tadi aku menceritakan itu semua padamu, jadi tolong lupakan saja ok?"
Erik diam beberapa saat lalu akhirnya mengangguk menyetujui permintaan gadis itu yang kini tersenyum manis.
"Baiklah, aku sudah sampai, terima kasih untuk hari libur yang menyenangkan, sampai jumpa." Ayumi tersenyum sambil berbalik melangkah memasuki pintu gedung ketika Erik memanggilnya, ia kembali berbalik lalu mengangkat alisnya menatap Erik yang masih berdiri menjulang dihadapannya.
"Ayumi, kau tidak egois percayalah kau adalah gadis yang baik dengan hati yang sangat besar." Ayumi terdiam beberapa saat mencerna ucapan pria yang kini menatapnya dengan sorot mata lembut, seolah topeng esnya telah mencair selama beberapa saat.
"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, kau hanyalah gadis kecil yang merindukan sosok seorang Ibu dan itu tidak egois sama sekali." Erik melangkah mendekati Ayumi yang masih diam mematung.
"Kau berhak berbahagia, seperti yang kau bilang hidup hanya sekali, jadi berbahagialah jangan terlalu menyalahkan diri sendiri karena kau tidak salah sama sekali," Erik tersenyum dan Ayumi bisa melihat ketulusan di dalam sorot matanya yang menatap dengan hangat.
Perlahan Ayumi ikut tersenyum lalu mengangguk, hatinya terasa hangat mendengar ucapan Erik yang begitu memahaminya. Erik berdehem dan Ayumi bisa melihat topeng esnya kembali terpasang sempurna.
"Masuklah sudah malam." Erik memberi perintah sambil berjalan mundur, "Aku pergi sekarang, sampai jumpa." Ia lalu berbalik dan mulai berjalan menjauhi Ayumi yang masih diam memerhatikan sosok pria itu di bawah temaran lampu jalanan dan hembusan angin malam musim gugur.
__ADS_1
*****