
Ayumi berjalan menyusuri jalan-jalan yang dindingnya penuh dengan mural warni-warni, saat ini ia tengah berada di Gamcheon Culture Village atau desa seni Gamcheon, desa yang semua atap dan dinding rumahnya di cat warna warni dengan berbagai macam lukisan dan tempelan berbagai macam benda seni. Bertemankan earphone yang selalu setia menemaninya ia terus berjalan menikmati pemandangan hasil karya tangan-tangan kreatif para seniman.
Ia tersenyum ketika melihat rombangan para turis remaja yang sebagian mengenakan hijab sedang berceloteh dan bercanda menggunakan bahasa Indonesia. Bagaimanapun ia sangat merindukan tanah kelahirannya, ia merindukan matahari yang selalu bersinar terik membakar kulit, ia sangat merindukan udara Jakarta yang panas, ia merindukan minum es kelapa muda di pinggir jalan bersama teman-temannya, ia merindukan suara mangkuk yang dipukul sendok abang tukang bakso yang lewat depan rumahnya setiap sore, ia merindukan banyak hal bahkan ia merindukan para ibu-ibu yang selalu bergosip di warung sayur.
Bukan hanya sekali dua kali ia ingin pulang ke Indonesia, tapi ia tidak siap dengan sambutan yang akan ia terima dari ibu tirinya, dadanya kembali bergetar dan terasa sesak ketika mengingat bagaimana ibunya Rama itu memerlakukan dia selama tinggal bersama.
Ayumi ingat ketika awal ayahnya menikahi tante Widi... ya bukan mamah ataupun ibu tapi tante Widi, panggilan yang harus Ayumi gunakan ketika berbicara dengan istri ayahnya itu, wanita itu akan sangat marah bahkan tak sungkan untuk memukulnya hanya gara-gara Ayumi memanggilnya mamah karena mengikuti Rama.
"Aku bukan Mamahmu!"
Ayumi masih terlalu kecil untuk memahami teriakan ibunya waktu itu. Tapi ia ingat ketika ulang tahunnya yang ke 7, ayahnya mengajaknya makan malam keluarga di restoran yang baru saja buka di daerah Ancol, tapi yang ada ketika mereka pulang ke rumah, orangtuanya bertengkar hebat. Ayumi dan Rama yang ketika itu berumur 4 tahun saling berpelukan di dalam kamar karena takut mendengar teriakan ibunya.
Sayup-sayup Ayumi mendengar wanita itu berteriak kalau Ayumi bukan anak mereka yang membuat jantung kecilnya seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat. Keesokannya gadis kecil itu memberanikan diri bertanya kepada ayahnya dan saat itulah dia mengetahui kalau Tante Widi bukanlah ibunya. Semenjak itulah Ayumi mulai mengerti posisinya di dalam keluarga itu, ia tidak pernah mengharapkan dirinya akan mendapatkan kasih sayang atau apapun juga yang sama yang di terima Rama. Tapi dia bersyukur masih mendapat kasih sayang itu dari ayah dan juga adiknya.
"Permisi."
Lamunan Ayumi terpecah ketika sepasang kekasih memintanya untuk memotret mereka di depan hiasan warna warni berbentuk ikan raksasa, yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Ayumi kembali tersenyum melihat sepasang kekasih itu yang terlihat sangat mesra, dalam hati ia merasa iri melihat mereka. Ia teringat bagaimana hubungannya dan Erik saat ini telah benar-benar menjadi seperti dua orang asing yang tak saling mengenal.
Operasi transplantasi ginjal Yuri telah sukses dilaksanakan dan sekarang masih dalam tahap penyembuhan, hal itu menyebabkan mereka masih sering bertemu di Rumah Sakit dan bagaimanapun hal itu masih membuat hati Ayumi bergetar ketika ia melihat tatapan tajam dan senyum dingin milik pria itu.
Sering kali Ayumi mendapati pria itu berada di atap Rumah Sakit pada sore hari, biasanya mereka hanya akan saling terdiam tanpa ada sepatah katapun terucap, berusaha menikmati pemandangan matahari tenggelam, jarak mereka berdiri memang hanya beberapa meter saja tapi seolah ada tembok tak kasat mata yang menjulang di antara mereka. Setelah matahari benar-benar tenggelam biasanya salah satu dari mereka akan meninggalkan tempat itu terlebih dahulu tanpa ucapan perpisahan, hanya meninggalkan seorang di antara mereka kembali dalam kesunyian berteman gelapnya malam.
Ayumi kini berdiri di samping patung anak dan anjing yang sedang melihat pemandangan atap rumah warna warni berlatar laut luas dan birunya langit siang itu. Ia menghirup udara sejuk dalam-dalam, sudah beberapa bulan ia tinggal di Busan tapi baru sekarang ia bisa menikmati hari liburnya dengan berjalan-jalan. Ia sangat menyukai pantai oleh karena itu ia bersyukur karena tinggal di Busan dimana ia bisa melihat pantai kemanapun kakinya dipijak.
Telepon genggamnya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk, senyum kembali terbit ketika dia membaca pesan dari Dr. Lee, ya akhir-akhir ini hubungan mereka memang lebih dekat. Ayumi mulai membuka diri walaupun hatinya belum bisa menerima pria itu seutuhnya, Kevin yang sering mengingatkannya untuk tidak lagi gampang jatuh cinta kepada siapapun dan itu membuat Ayumi lebih hati-hati.
Hari sudah senja ketika Ayumi turun dari bis yang mengantarnya pulang dari desa seni Gamcheon ke Haeundae yang merupakan pusat kota Busan, ia baru akan kembali memasang earphonenya ketika sayup-sayup terdengar suara orang berteriak kesakitan, ia menajamkan pendengarannya, alisnya berkerut tanda ia tengah konsentrasi, tanpa disadari kakinya melangkah ke sebuah gang sempit yang di apit butik pakaian pengantin dan sebuah swalayan 24 jam.
Entah datang darimana keberanian gadis itu ketika semakin dalam memasuki gang gelap itu dimana suara beberapa orang pria yang sedang mengancam seseorang semakin jelas terdengar.
"Dasar bodoh, apa yang kau lakukan, Ayumi?" Gumamnya kepada diri sendiri, dadanya berdetak kencang karena takut, akal sehatnya menyuruhnya untuk lari pergi dari sana, tapi rasa penasaran membuatnya semakin jalan mendekat.
Tangannya memegang telepon genggam dengan erat seolah benda mungil itu bisa menjadi pelindungnya. Kakinya tiba-tiba berhenti melangkah, matanya terbelalak ketika melihat tiga orang pria tengah mengeluarkan semua isi tas yang sepertinya milik pria yang tengah tergelak dengan beberapa luka memar di wajahnya.
Ayumi menutup mulutnya berusaha tak bersuara, "Ayo, berpikir, Ayumi!" umpatnya dalam hati, dalam kecemasannya itu ia melihat tangannya yang gemetar tengah memegang telepon genggam, seketika ia berbalik sambil memijit beberapa no telepon.
"Halo, kantor Polisi!" Teriak Ayumi sambil berlari menjauh dari ketiga pria yang kini memandanginya dengan terkejut.
"AAAH... sial!" Teriak Ayumi ketika melihat ketiga pria itu kini berlari ke arahnya, ia berlari secepat kilat lalu masuk ke butik pakaian pengantin dan bersembunyi di balik manekin yang mengenakan pakaian pengantin dengan bagian bawah yang sangat lebar hingga bisa menyembunyikan tubuhnya yang mungil.
Pelan-pelan ia berusah mengintip dari balik rok dan akhirnya bisa bernapas lega ketika melihat ketiga pria itu berlari melewati tempat ia bersembunyi. Setelah merasa aman ia keluar dari tempat persembunyiannya dan kembali ke tempat dimana pria yang tadi terluka kini sedang berusaha memasukan barang-barangnya kembali ke dalam tas.
"Ya Tuhan! Kau tidak apa-apa?" Tanya Ayumi sambil berjongkok melihat kondisi pria itu yang terlihat meringis, "Kau perlu diobati," lanjutnya lalu membantu pria itu berdiri yang langsung mengaduh kesakitan sambil memegang perutnya.
"Kau perlu ke Rumah Sakit."
__ADS_1
"Tidak, aku tak apa-apa," jawab pria itu dan Ayumi kini bisa melihat pria itu pasti lebih muda darinya dengan mata tajam dan bibir tipis, rambutnya berwarna coklat terang, pria muda yang tampan.
"Tunggu di sini, aku akan membeli obat," ucap Ayumi setelah mendudukan pria itu di kursi depan swalayan, kemudian ia secepatnya masuk ke dalam untuk membeli obat dan air mineral.
Ayumi membersihkan luka di bibir dan wajah pria itu, mengolesinya dengan salep dan menutupnya, ia kemudian memeriksa luka lain di tangan dan perut pria itu.
"Apa yang kau lakukan? Yaah! Hentikan, aku baik-baik saja!" Seru pria itu ketika Ayumi mengangkat kaosnya untuk melihat luka di bagian perut.
"Aku hanya memeriksa, sepertinya tadi mereka menendang perutmu, kau kesakitan ketika berjalan."
"Yaah! Yaah! Hentikan, semua orang menatap kita!" Serunya kembali setelah Ayumi masih dengan sibuk berusaha mengangkat kaos yang dia kenakan.
Menyadari tindakannya Ayumi akhirnya berdehem lalu kembali duduk tegak, "Sepertinya bukan luka serius."
"Aku sudah mengatakannya dari tadi," ucapnya sambil meringis karena perih di bibirnya.
"Apa kau mengenal mereka bertiga?"
"Apa kau pikir aku mengenal mereka?"
Ayumi terdiam beberapa saat kemudian mengangkat bahunya sebagai jawaban.
"Aku tak mengenal mereka, apa sekarang kau puas?"
Ayumi mengerutkan keningnya, dia tidak menyukai sikap pria muda itu, bagaimanapun dia telah menyelamatkannya jadi tidak seharusnya pria itu bersikap kasar kepadanya.
"Jangan pergi! Maafkan aku... mereka... mereka mengambil semua uang dan teleponku," ucapnya dengan wajah memelas, kini Ayumi benar-benar bisa melihat kalau pria itu benar-benar masih muda.
Ayumi menarik napas panjang, merasa kasihan kepada pria yang menatapnya dengan memelas dan ia yakin kalau pria itu bukan dari Busan mengingat dia tidak menggunakan dialek khas Busan.
"Siapa namamu?"
"Kim Joon Seo, kau boleh memanggilku Joonie."
"Berapa umurmu?"
"Yaah! Apa kau sedang mewawancaraiku?"
Ayumi tidak berkata apa-apa, dia hanya memandangnya sambil menaikkan alis.
"Baiklah, aku 24 tahun."
"Dengar, aku lebih tua 3 tahun darimu, jadi berhenti bicara banmal (informal) kepadaku... dan panggil aku Ayumi noona, apa kau paham?"
"Baiklah... maafkan aku, Noona," ucap Joonie pelan, tapi itu cukup membuat Ayumi puas. Dia kembali duduk di hadapan pria yang ternyata sangat lucu ketika cemberut.
"Baiklah, Joonie, apa yang sedang kau lakukan di Busan?"
__ADS_1
"Aku mau mengunjungi Kakakku, tapi sekarang alamatnya sudah hilang bersama telepon dan juga uangku."
"Kita harus melaporkannya ke Polisi."
"Tidak, jangan ke kantor polisi!" Seru Joonie yang membuat Ayumi menatapnya heran.
"Apa kau... buronan (dengan berbisik)?"
"Noona! Bagaimana mungkin wajah malaikat seperti ku ini seorang penjahat!" Joonie protes dengan wajah cemberut menggemaskan yang membuat Ayumi tersenyum, pria dihadapannya ini mengingatkan ia pada Rama adiknya.
"Baiklah maafkan aku, apa kau dari Seoul?"
"Iya, aku tak mau Orangtuaku tahu kalau aku sedang ada di Busan, karena itulah aku tak mau ke kantor Polisi," jelasnya sambil meminum air mineral sisa tadi yang dibeli Ayumi.
"Jadi sekarang apa rencanamu?"
"Boleh aku meminjam teleponmu? Aku akan meminta Kakakku menjemputku di sini."
Ayumi menyerahkan teleponnya yang langsung di sambut Joonie dengan senyum cerah, dia menghubungi kakaknya kemudian meminta di jemput setelah sebelumnya bertanya alamat mereka berada saat ini kepada Ayumi.
Ayumi tidak memerhatikan dengan jelas apa yang pria itu bicarakan di telepon dengan kakaknya, ia lebih menikmati pemandangan matahari tenggelam di atas pantai. Haeundae memang tempat yang luar biasa indah bagi penyuka laut, di satu sisi berdiri gedung-gedung perkantoran dan pertokoan tapi di sisi lain kita disuguhkan pemandangan pantai yang indah. Dan sebagai penyuka laut, merupakan sebuah anugrah bagi Ayumi bisa tinggal di Busan ketika harus pindah ke Korea.
"Noona, terima kasih, Kakakku akan segera menjemputku," ucap Joonie sambil menyerahkan telepon genggamnya, dan saat itulah Ayumi bisa mendengar suara perut keroncongan dari arah pria yang kini meringis sambil memegang perutnya.
"Kau belum makan?" Tanya Ayumi yang dijawab gelengan kepala oleh Joonie.
"Ya Tuhan, tunggu di sini aku akan membeli makanan untukmu."
"Noona, tidak perlu, Kakakku akan segera datang nanti aku bisa meminta dia membelikan makan untukku."
"Kau harus makan sesuatu sambil menunggu Kakakmu." Tak mau mendengar penolakan Ayumi masuk ke dalam swalayan dan membelikannya kimbap segitiga, roti, susu rasa pisang dan sebotol air mineral yang langsung dilahap Joonie dengan buru-buru.
"Pelan-pelan, makan seperti itu tidak bagus untuk pencernaanmu."
Joonie meminum air mineralnya untuk mendorong kimbap yang memenuhi mulutnya.
"Noona, apa kau seorang dokter?"
"Iya."
"Waah, benarkah? Kau sangat keren."
Ayumi tersenyum mendengar pujian dari pria dengan senyum menawan yang kini tengah menghabiskan susu pisangnya seperti anak kecil. Dia telah menghabiskam satu kimbab, satu roti coklat dan satu bolot susu, Ayumi hanya bisa tersenyum melihat napsu makan pria muda itu yang nengingatkan pada dirinya sendiri.
"Joonie?"
Jantung Ayumi langsung berhenti berdetak sepersekian detik sebelum akhirnya menggila ketika mendengar suara berat itu, ia tak perlu menoleh kebelakang untuk melihat siapa pemilik suara itu, karena dia sudah sangat mengenalnya.
__ADS_1
*****