
"Semua... sudah terlambat," ucap Ayumi dengan suara parau, matanya perlahan mulai membuka, telapaknya masih berada di atas dada bidang Erik dan ia bisa merasakan jantung pria itu berdetak hebat di balik kemeja putihnya, sama halnya dengan jantung miliknya sendiri yang tak bisa berdetak dengan normal.
"Semua sudah terlambat... semua sudah selesai," ulangnya sambil menatap Erik yang masih terlihat bingung dengan reaksinya.
Setelah sadar apa maksud Ayumi, Erik menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Tidak... tidak... semua belum terlambat, Iris... kita bisa memulainya lagi... hanya... hanya beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan kita akan kembali bersama."
"Tidak... semua sudah selesai, Erik... diantara kita sudah tidak terjalin apapun."
"Tidak... Iris,dengarkan aku, jangan katakan itu... aku mohon... aku mohon maafkan aku, itu semua salahku, aku terlalu egois dan keras kepala… aku mohon maafkan aku… beri aku kesempatan lagi… aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
"Erik... kau sudah bertunangan, apa kau ingat?" Seperti tersambar petir Erik terdiam ketika diingatkan akan statusnya, "Kau sudah bertunangan dengan Yuri... gadis yang kau bilang sangat mencintaimu dan setia padamu... gadis yang menerimamu apa adanya bahkan setelah kau campakkan.. gadis yang sekarang terbaring di Rumah Sakit.. gadis yang hari ini akan menjalani pencangkokan ginjal, apa kau ingat dia!" Teriak Ayumi putus asa, tanpa terasa air mata mulai bergulir membasahi pipi mulusnya.
Seperti di tampar Erik kini hanya berdiri mematung, matanya menatap Ayumi sendu, "Tapi gadis yang aku cintai hanyalah dirimu." Suara Erik terdengar lirih.
Ayumi menggelengkan kepala, "Itu sekarang tidak penting lagi... tidak penting siapa yang kau cintai karena ketika kau menyetujui untuk bertunangan dengannya maka lahir kewajiban bagimu untuk melindungi dan juga... mencintanya."
Erik menggelengkan kepala, "Aku akan membicarakan ini dengan Ayahku, aku akan memohon padanya untuk membatalkan pertunangan, aku akan berlutut dihadapan Yuri dan keluarga untuk meminta maaf.. apapun.. apapun akan ku lakukan."
"Dan menurutmu aku akan kembali padamu setelah kau meninggalkannya?" Tanya Ayumi dengan putus asa membuat Erik terbelalak tak percaya akan menerima reaksi seperti itu.
"Kau pikir aku akan hidup bahagia denganmu ketika mengetahui seorang wanita tak berdosa tengah terluka?" Mata Ayumi memicing penuh amarah menatap Erik yang masih terdiam.
"Aku seorang wanita yang tahu bagaimana rasanya sakit hati ketika dikhianati.. apa kau pikir aku akan membiarkan wanita lain merasakan sakit yang sama seperti yang ku alami kemarin?" Ayumi menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak, aku tak akan membiarkan seseorang mengalami apa yang sudah ku rasakan, apalagi itu disebabkan oleh diriku sendiri."
Ayumi menatap Erik yang masih terdiam, "Yuri tidak salah apapun, Erik... kesalahannya hanya satu, kesalahan yang sama yang aku lakukan... yaitu terlalu mencintaimu," ujar Ayumi dengan lirih sambil menatap Erik dengan sorot terluka. "Jangan kau pernah lukai seorang perempuan demi perempuan lain karena itu sama saja kau melukai Ibumu."
Erik masih terdiam mencerna semua ucapan Ayumi, ini semua karena kebodohannya yang mengambil keputusan dalam keadaan emosi dan terburu-buru, dia memang mencintai Ayumi tapi yang gadis itu ucapkan benar, dia tak mungkin menyakiti Yuri yang kini terbaring sakit.
"Apa kau tak mencintaiku lagi?" Ayumi menghela napas berat mendengar pertanyaan itu.
"Itu tidak penting, Erik."
"Itu penting untukku!" Seru Erik putus asa, "Katakan, Iris, aku mohon,katakana. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
Ayumi terjebak dalam sorot mata terluka milik Erik yang membuat hatinya bergetar, tenggorokannya tercekat, matanya mulai berkaca-kaca.
"Tidak... aku membencimu!" Teriak Ayumi sambil berurai air mata, "Aku benci keegoisanmu, aku benci kebodohanmu, aku benci karena kau telah membuatku seperti orang gila tiga tahun terakhir ini, aku benci karena kau pergi meninggalkanku.. aku sangat membencimu!"!
Tangannya ditepis tapi itu tak membuatnya menyerah, ia melangkahkan kakinya mendekati Ayumi yang masih terisak, kemudian tanpa ragu menariknya ke dalam pelukan, tanpa memedulikan gadis itu yang memberontak, dia semakin mengeratkan pelukannya.
Ayumi berusaha mendorong tapi tubuh kekar pria itu tak bergeming, kini ia memukuli dadanya tapi pelukannya malah semakin erat. Erik bisa merasakan pukulan Ayumi semakin melemah, kini yang terdengar hanya isak tangis gadis itu yang menyayat hatinya. Erik hanya terdiam membiarkan Ayumi menumpahkan semua emosi yang selama ini telah menjadi beban hidupnya.
"Maafkan aku," bisik Erik dengan suara parau, "Ini semua salahku hingga kau terluka seperti ini," lanjutnya tanpa melepaskan pelukan dari tubuh Ayumi yang masih terisak.
Entah berapa lama Ayumi menangis dalam pelukan Erik, tapi ia bisa merasakan beban dan sakit yang selama ini menghimpit dadanya sedikit terangkat, perlahan ia melepaskan diri dari pelukan pria yang menatapnya dengan sendu. Kini Ayumi bisa menatap mata pria itu lagi tanpa ada benci dan amarah yang dirasakannya.
__ADS_1
"Kita harus mengakhiri semuanya di sini, Erik."
Erik menggeleng lemah tapi ia tahu percuma ia mendebatnya karena yang dikatakan Ayumi benar, semua sudah selasai ketika ia mengambil keputusan untuk bertunangan dengan Yuri, keputusan yang ia ambil ketika emosi mengalahkan logika dan perasaan.
"Lupakan aku, belajarlah untuk mencintai tunanganmu. Jadilah pria yang bertanggung jawab dengan apa yang telah menjadi keputusanmu, jadilah pria sejati yang selalu menepati janjinya, jadilah pria dewasa yang bisa menekan egonya sendiri. Jangan sampai ada hati lain yang terluka karena keegoisanmu."
"Tapi bagaimana bisa aku melupakanmu, bahkan disaat semua ingatanku hilang, hatiku selalu mencarimu."
Hati Ayumi bergetar mendengar itu semua, tapi tidak! Dia tidak boleh goyah lagi, karena kini ada beberapa hati yang harus dijaga, bukan cuma Yuri, tunangan Erik tapi juga hati pria yang baru saja Ayumi pilih untuk belajar membuka diri lagi.
"Perlakukan aku seperti kau memerlakukanku akhir-akhir ini, anggap saja kau tak mengenalku. Aku yakin perlahan kau akan terbisa dengan itu."
Ayumi menatap Erik lembut, dia sangat memahami perasaannya karena dia juga merasakan hal yang sama, tapi nasi telah menjadi bubur, semua telah terjadi. Apa yang di katakan Kevin dan juga Ayahnya benar, sudah saatnya dia melanjutkan hidupnya jangan hanya terpaku pada masa lalu dan berkubang dalam kesedihan, karena kita hidup untuk hari ini dan masa depan, bukan untuk masa lalu. Masa lalu biarlah hanya menjadi sejarah yang membesarkan kita, dan kenangan yang akan kita kenang.
"Kau harus melanjutkan hidupmu, Erik, dan kau telah memiliki seseorang untuk mengisinya... sedangkan aku, biarkan aku mencari hidupku sendiri...kau akan selalu menjadi bagian dari hidupku, tapi mungkin kau tidak ditakdirkan untuk menjadi bagian dari masa depanku... sekarang, mari kita akhiri semua yang mengikat kita di masa lalu supaya tidak adalagi hati yang akan tersakiti."
Hati Erik terasa terjun dari ketinggian mendengar semua ucapan Ayumi yang menatapnya dengan lembut.
"Kau salah... kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, mungkin saja nanti Tuhan berbaik hati untuk mengembalikanmu ke dalam pelukkanku, kalau saat itu tiba ku mohon jangan kau mencoba lari atau pun bersembunyi karena aku akan mengejarmu walaupun harus pergi ke dunia yang berbeda."
Ayumi terdiam, hatinya kembali bergetar mendengar ucapan tulus dari pria yang menatapnya sendu. Kalau memang Tuhan berbaik hati menyatukan mereka, bagaimana mungkin ia melarikan diri sedangkan yang ia inginkan hanya menghabiskan sisa hidup bersamanya... bersama pria yang menjadi cinta sejatinya.
"Kita tidak akan mungkin lari dari tulisan takdir yang telah Tuhan buat untuk kita di masa depan... tapi saat ini, ada seseorang yang sedang menunggumu, seseorang yang tangannya perlu kau genggam sebagai penyemangat hidupnya.. ingat, Erik, kaulah yang pertama kali mengulurkan tanganmu kepadanya, dia hanyalah seseorang yang telah memercayaimu untuk menjaga hatinya yang rapuh, jadi jangan pernah kau lepaskan genggamanmu hanya karena kau masih berpegang pada masa lalu. Kita lupakan semuanya... mari kita mulai dari awal untuk menata masa depan kita, kau telah mengambil jalanmu sendiri ketika kau memutuskan bertunangan, maka ijinkan aku untuk memilih jalanku sendiri."
__ADS_1
Musim gugur tiga tahun lalu ketika bunga dan daun berguguran cinta mereka mulai tumbuh di bawah pohon maple yang menguning. Dan sekarang di musim semi, ketika semua bunga mulai bermekaran mereka harus mengakhiri jalinan cinta yang mengikat mereka. Matahari bersinar terik di atas pantai Songjeong dan menyinari keduanya, merangkul mereka dalam kehangatan seolah menjanjikan awal yang bahagia, tapi bagi Ayumi dan Erik semua telah berakhir, takdir yang mengikat mereka di masa lalu telah terputus, cinta dan kenangan akan terkubur bersama dengan separuh hati mereka berdua.
*****