
Tuan Radit, Dr. Choi dan Tuan Lee telah meninggalkan ruangan itu tapi Kevin dan Rama hanya diam tak bergerak, melihat hal itu Rama langsung mengambil tindakan.
“Oppa, temani aku makan, aku sangat lapar... kau juga Erik Oppa,” ucap Rama, tangan kirinya menggapit lengan Kevin dan tangan kanannya menarik Erik yang terlihat garang menatap Lee Soo Hyuk yang seperti tak terpengaruh dengan tatapan itu karena matanya tak pernah lepas dari Ayumi.
Ruangan itu tiba-tiba terasa hening sepeninggalan mereka semua meninggalkan Ayumi dan Lee Soo Hyuk yang hanya terdiam, mata mereka beradu pandang untuk beberapa saat.
“Ayumi, aku...”
“Tidak, tolong jangan katakan kalau kau akan meminta maaf,” ucap Ayumi memotong ucapan Lee Soo Hyuk.
“Tidak,” ujar pria berhidung mancung itu, “Aku tak akan meminta maaf. Aku memintamu untuk jangan memaafkanku karena aku tak pantas untuk dimaafkan.”
Ayumi terkesiap mendengar perkataan pria itu yang terlihat serius dengan ucapannya, mereka kembali saling pandang, Ayumi mencari kebenaran dalam mata tajam yang terlihat sendu dan teduh itu.
__ADS_1
“Kau tahu, aku hampir saja jatuh cinta padamu.” Dr. Lee terperanjat mendengar ucapan Ayumi yang masih menatapnya dengan lembut, tapi tidak ia tidak menyukai tatapan itu karena ada rasa sakit dibalik semuanya, dan ia tahu ia lah penyebabnya.
“Dengan semua perhatian palsumu, kau berhasil membuatku membuka diri untuk pertama kalinya semenjak aku terluka. Aku pikir kau adalah pria yang bisa membuatku melupakan kesedihanku, memberiku kenyamanan dan tak akan meninggalku seperti yang lain. Aku berpikir, ah akhirnya Tuhan mengirimkan pangeran berkuda putih untukku dalam sosokmu, tapi seharusnya aku tahu kalau pangeran berkuda putih hanya ada dalam dongeng pengantar tidur untuk memberikan mimpi indah, tapi mimpi tetaplah sebuah mimpi pada akhirnya akan berakhir dan kembali dihadapkan pada kenyataan pahitnya kehidupan.”
Lee Soo Hyuk hanya terdiam mendengar ucapan Ayumi, hatinya terasa sakit karena penyesalan yang begitu hebat tapi ia tak bisa berkata apa-apa karena dia tahu, dia salah dan gadis itu berhak menghukumnya.
“Tapi bagaimanapun aku mengucapkan terimakasih karena kau hadir disaat-saat masa sulitku, kau menjadi penopang supaya aku tak terjatuh, kau mendorongku supaya aku tak menyerah dan kau berdiri di depanku sebagai tameng untuk membelaku, walaupun itu semua hanya kepalsuan... aku ucapkan terimakasih.”
“Ayumi...”
Dengan lemah Soo Hyuk menerima kalung yang sengaja ia beli sebagai ungkapan perasaannya pada gadis itu, tapi semua sudah berakhir walaupun perasaannya tulus tapi ia tak mungkin mengharapkan Ayumi akan memaafkannya dan bisa menerima dirinya dan keluarganya, mengingat sudah berapa banyak mereka membuat gadis itu terluka.
“Aku harap mulai saat ini kita tak lagi saling mengenal, selama aku berada di rumah sakit aku harap kau hanya menggapku sebagai seorang pasien seperti yang lainnya tidak lebih, kalau kita saling berpapasan di luar anggap saja aku orang asing.”
__ADS_1
Soo Hyuk tertunduk dengan mata terluka dan Ayumi bisa melihat itu, ia tahu ia telah berkata kasar pada pria dihadapannya, ia tahu kalau pria itu terluka, tapi tidak, ia tidak boleh lemah saat ini karena pria itu sudah lebih menyakitinya daripada yang dia sadari. Ya, pria itu tidak tahu kalau ia telah memercayainya dan menaruh harapan besar kepadanya untuk masa depan mereka.
“Aku mau istirahat,” lanjut Ayumi sambil memiringkan badannya memunggungi Lee Soo Hyuk yang menatap nanar tubuh ringkih dihadapannya.
“Baiklah... aku pergi,” ucap Lee Soo Hyuk dengan suara bergetar, ia membalikkan badannya tapi langkahnya terasa berat, ia hanya berdiri tak bergerak untuk beberapa saat sampai akhirnya ia membuang napas panjang.
“Ada yang perlu kau tahu, perasaanku kepadamu itu nyata bukan sebuah kepalsuan, semua tindakkanku selama ini didasari oleh perasaanku. Aku tahu aku salah karena telah menyetujui permintaan adikku, tapi yang dia tidak tahu kalau jauh sebelum permintaannya itu... aku telah jatuh cinta sejak pertama melihat seorang gadis dengan mengenakan celana jeans biru tua, sepatu kets putih dan kemeja putih memasuki pintu masuk rumah sakit ini dengan bahasa Korea yang terdengar aneh, ia telah mencuri hatiku, ia seorang residen tahun pertama yang terlambat dihari pertama tugasnya.”
Ayumi terhentak mendengar ucapan pria itu, ia ingat hari itu. Hari pertama ia bekerja sebagai seorang residen dan ia datang terlambat, Lee Soo Hyuk yang menjabat sebagai dokter pembimbingnya memberikan hukuman kepadanya selama beberapa hari yang membuatnya terlihat seperti panda karena kurang tidur.
“Aku tak menyesali karena telah menghukummu saat itu, karena dengan begitu aku jadi bisa bersamamu sepanjang waktu, aku juga tak menyesali mengabulkan permintaan adikku untuk mendekatimu karena tanpa dia suruh aku telah jatuh cinta padamu, walaupun mengkhianati keluargaku sendiri aku tak akan melepaskanmu, aku berencana akan membawamu pergi dari Korea menjauh dari semua orang yang telah menyakitimu. Kita akan menikah dan hidup bahagia walaupun tanpa keluargaku, kita akan tinggal di sebuah rumah sederhana, kemudian membuka sebuah klinik kecil tak jauh dari rumah sehingga aku tak perlu meninggalkanmu dan anak-anak kita, itulah mimpiku. Dan yang aku sesali karena tak bisa menjalankan semua rencana yang telah ku susun dengan rapi... itu adalah salahku... ya karena kebodohanku sendiri. Aku bahkan telah menyiapkan semuanya.”
Dr. Lee mengambil dua lembar tiket pesawat dari saku jasnya dengan tujuan Paris, tercetak dengan jelas nama Ayumi dan dirinya di sana. Dengan tangan gemetar ia menaruhnya di atas nakas sebelah tempat tidur Ayumi, ia menatap lembaran kertas itu dengan mata berkaca karena kini mimpinya telah berakhir. Lee Soo Hyuk menengadah menatap atap rumah sakit dan terdiam beberapa saat, sebelum ia melanjutkan kembali ucapannya, “Selamat tinggal Ayumi... tenang saja kau tak akan bertemu denganku lagi, mulai besok aku akan mengundurkan diri dari rumah sakit ini dan pergi dari hidupmu untuk selamanya... aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu... selamat tinggal.”
__ADS_1
Lee Soo Hyuk pergi dari ruangan itu dengan airmata yang mulai membasahi pipinya tapi tanpa dia ketahui Ayumi-pun tengah menahan isak tangisnya dengan menyurukan kepalanya kedalam bantal. Ia tahu dokter ahli bedah itu adalah seorang pria yang baik, ialah yang menjadi sandarannya selama ini, ia pula yang mengajarinya untuk kuat menghadapi apapun, ia yang membelanya di depan umum tanpa memedulikan pandangan semua orang, ialah yang selalu ada disisinya di saat semua orang berpaling, jadi bagaimana mungkin ia bisa membenci pria itu dengan begitu mudah? Tidak ia tidak membencinya. Demi Tuhan ia tak akan pernah bisa membenci pria itu, pria yang selalu percaya padanya disaat orang lain termasuk pria yang ia cintai dengan mudah meragukannya... tapi, untuk saat ini, ia hanya ingin terbebas dari semua perasaan yang membelenggu hatinya, untuk saat ini dia hanya ingin sendiri dan mulai menata kembali hatinya yang telah pecah berkeping-keping.
****