Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 29


__ADS_3

"Ini bukan salah Kakakmu, aku yang menyuruhnya untuk berbicara jujur tentang status hubungan kalian," ucap Dr. Choi sambil menatap Ayumi dengan lembut, saat ini mereka tengah berada di ruangan Presdir Rumah Sakit Busan, Ayumi sedang berjalan ke arah ruang UGD ketika matanya menangkap sosok Kevin yang tengah melakukan konfrensi pers di layar kaca yang berada di ruang tunggu, ia terkejut ketika kakaknya itu mengungkapkan status hubungan mereka yang sebenarnya, dan pada saat yang bersamaan ayahnya menghubungi dan meminta datang keruangannya di lantai tujuh.


"Aku tahu," jawab Ayumi lirih sambil bersandar di sofa putih yang ada di ruangan itu.


"Ini adalah satu-satunya cara supaya tidak ada masalah ke depannya, kalau Yong Jung mengatakan kalian hanya sebatas teman maka gosip ini tidak akan hilang dan kau pasti akan terus di kejar-kejar para wartawan dan jadi bahan bulian para penggemarnya seperti yang terjadi tadi pagi." Dr. Choi membuang napas panjang mengingat dia terlambat datang dan hanya mendengar dari asistennya tentang apa yang menimpa anak perempuannya.


"Kalau seandainya suatu hari nanti hubungan kalian terbongkar maka saat itu Kevin akan dianggap melakukan kebohongan publik dan itu bisa berakibat vatal terhadap karir dan juga kehidupannya."


Ayumi terbelalak mendengar penjelasan pria yang masih terlihat tampan di usianya yang hampir menginjak setengah abad itu.


"Itu benar, aku tak berpikir sampai sana.. maafkan aku," ucap Ayumi dengan lirih yang membuat Dr. Choi tersenyum sambil mengangguk.


"Hmmm... baiklah, karena sekarang semua orang sudah mengetahui kalau aku adalah Ayah dari seorang penyanyi terkenal, apa menurutmu aku perlu merubah penampilanku?" Tanya Dr. Choi serius yang membuat Ayumi tertawa, "Mengapa kau tertawa? Aku serius... jadi apa aku perlu mengecat rambutku jadi merah atau kuning?"


"Appa... kau akan terlihat seperti lampu lalulintas berjalan," ujar Ayumi di antara tawanya, melihat putrinya tertawa seperti itu cukup membuat Dr. Lee bisa bernapas lega karena ia mengetahui gadis itu sudah melewati hari yang sangat sulit.


"Aigo... apa kau tidak lihat bagaimana tampannya anak kurang ajar itu di televisi? Dia mewarisi ketampannya dari aku."


"Aigo.. sekarang aku tahu dari siapa Oppa mewarisi sifat narsisnya," ujar Ayumi yang membuat Dr. Choi tertawa.


"Kau harus membiasakan memangil dia dengan nama Koreanya.. Yong Jung Oppa, seperti itu."


"Kalau aku memanggilnya seperti itu, dia akan tambah besar kepala."


"Kau benar... aish! Kenapa dia memakai nama Kevin Choi saat debut kemarin.. aku lebih suka Choi Yong Jung."


"Karena matanya yang coklat dan kulitnya yang putih, dia lebih cocok menggunakan nama baratnya."


"Ckk.. aku tak tahu bagaimana bisa dia memiliki mata coklat itu."


"Oh, aku pikir dia mewarisi mata Ibunya."


"Tidak, kami tidak ada yang memiliki mata seperti itu."


"Apa mungkin dia bukan anakmu? Apa perlu kita melakukan tes DNA," bisik Ayumi dengan nada bercanda.


"Yaah! tidak perlu... aku sudah melakukannya."


"Appa!"


Dr. Choi tertawa melihat reaksi terkejut dari putrinya itu, "Ketika dia lahir dia terlihat seperti orang asing.. benar-benar sangat tampan dengan mata coklatnya."


"Apa kau benar-benar melakukan tes DNA?" Tanya Ayumi tak percaya, yang membuat ayahnya kembali tertawa.


"Dasar bodoh! Tentu saja tidak, aku ada diruangan itu ketika dia dilahirkan jadi bagaimana mungkin dia bukan anakku… dia mewarisi mata Kakek dari Ibunya yang keturunan Inggris."


"Oooh..." Ayumi menganggukan kepala mengerti darimana datangnya mata coklat dan kulit seperti orang barat milik Kevin, yah walaupun di Korea banyak yang memiliki kulit putih dan mata coklat, tapi kulit Kevin sedikit merah saking putihnya dan mata coklatnya benar-benar terang.


"Cukup tentang Kakakmu, sekarang bagaimana denganmu?"


"Aku?"


"Iya, kapan kau akan mulai kuliah?"

__ADS_1


"Besok rencanya aku akan ke kampus untuk mulai menyusun jadwal mata kuliah."


Dr. Choi mengangguk bahagia, "Apa kau sudah tentukan akan mengambil specialisasi apa?"


"Ahli bedah." Jawab Ayumi mantap, mendengar jawaban gadis itu Dr. Choi menaikan alisnya tapi kemudian tersenyum.


"Ahli bedah," ucap Dr. Choi sambil mengangguk, "Jalani apa yang menjadi cita-cita dan tujuanmu, aku akan mendukungmu apapun itu."


Dr. Choi menyeruput teh yang ada di hadapannya sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Appa mendengar apa yang terjadi padamu hari ini, dan aku sangat marah sekaligus sedih karena tidak ada di sana untuk melindungimu, untung saja ada Dr. Lee Soo Hyuk yang menggantikanku untuk melindungimu."


Ayumi kini menatap ayahnya bingung ketika pria paruh baya itu mulai menyebut nama Dr. Lee dalam percakapan mereka.


"Ayumi, ada yang ingin ku bicarakan denganmu."


"Appa, bukankah daritadi kita sedang berbicara."


"Maksudku bicara serius denganmu."


Ayumi mengangkat alisnya terlihat bingung.


"Kemarin malam, Dr. Lee Soo Hyuk menemuiku... dia meminta ijin untuk mendekatimu."


"A...apa?"


"Iya, sepertinya dia serius menyukaimu. Dia berjanji akan melindungi serta menjagamu dan dia telah membuktikannya."


Ayumi terdiam mencoba mencerna maksud ucapan ayahnya itu, walaupun sedikit banyak ia telah memahami kemana arah pembicraan ini.


"Appa.." ucap Ayumi dengan lirih, dadanya sesak seperti ada sebuah bongkahan batu besar yang tiba-tiba menghimpit dadanya yang membuatnya ingin menangis, bagaimana bisa ayahnya berbicara tentang perjodohan disaat hatinya masih terluka.


"Tidak usah khawatir, Appa belum menyetujui permintaan mereka. Appa bilang semua terserah padamu, aku tak ingin memaksakan kehendak dan menentukan masa depanmu, karena masa depanmu adalah hakmu jadi kaulah yang berhak menentukannya sendiri."


Ayumi tersenyum mendengar ucapannya ayahnya itu, matanya berkaca-kaca karena bangga memiliki seorang ayah lagi yang sama bijaksananya dengan ayah kandungnya sendiri.


"Tapi kalau boleh Appa menyarankan, berilah kesempatan untuknya mengenalmu lebih baik lagi. Tidak ada salahnya kalian berteman, dia pria baik walaupun sifat yang tampak diluar seperti itu tapi hatinya benar-benar baik, Appa mengenalnya sudah cukup lama, Ayumi, dan Appa akan tenang kalau kau bersamanya," ujar Dr. Lee, matanya memandang Ayumi lembut, tidak ada paksaan dalam nada bicaranya dan hal itu membuat Ayumi tenang.


"Cobalah membuka hatimu untuk nikmati masa mudamu. Ingat, kita hanya hidup satu kali jangan sia-siakan hidupmu hanya dengan berkubang dalam kesedihan dan sakit hati karena itu semata-mata hanya akan merugikan kita sendiri."


Ayumi terdiam mencerna ucapan ayahnya, dan lagi-lagi itu semua benar. Apa yang diucapakan ayahnya sama dengan apa yang diucapkan Kevin semalam, intinya mereka menginginkan dirinya untuk berbahagia dan menikmati hidup.


Suara telepon genggam menyadarkan lamunan gadis itu, ia cepat-cepat mengkat teleponnya setelah melihat nama Eun Soo di layar teleponnya.


"Ayumi, dimana kau? Dr. Park menyuruh kita ke UGD sekarang ada kecelakaan beruntun!"


"Baiklah, aku ke sana sekarang."


Ayumi menutup teleponnya kemudian menjelaskan kondisi di UGD saat ini kepada Dr. Choi, ia sedang berjalan kearah pintu ketika ayahnya itu kembali memanggilnya.


"Ayumi... tolong pertimbangkan ucapanku untuk menikmati hidup dan... bertemanlah dengannya, tidak ada yang salah dengan itu... soal kedepannya, kau yang menentukan aku tak akan ikut campur."


Ayumi terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk, "Baiklah, aku akan mencobanya.. aku pergi dulu," ucap Ayumi yang membuat ayahnya tersenyum bahagia, gadis itu kemudian keluar dari ruangan sambil berlari kearah lift untuk menuju UGD.


Seharian itu Ayumi dan para residen lainnya sibuk membantu senior mereka di UGD dan ia sangat bersyukur karena bisa menyibukan diri sehingga lupa akan masalah yang menimpanya hari ini. Semua masalah yang tengah berkecamuk di dalam hati dan pikirannya seolah menguap ketika ia dihadapkan dengan pasien yang memerlukan pertolongan secepatnya.

__ADS_1


Lembayung sudah menua ketika Ayumi menginjakkan kakinya di atap Rumah Sakit, tempat yang menjadi favoritnya untuk menikmati suasana senja. Matanya terpejam, tangannya direntang, angin musim semi menerpa tubuhnya, menerbangkan segala masalah yang menyelimuti dirinya, perlahan ia menarik napas panjang mengisi paru-parunya dengan udara segar, lalu menghembuskannya kembali. Ditemani suara merdu milik Chris Martin yang melantunkan lagu Fix You dari earphonenya, ia mengulangi kegiatan itu beberapa kali sampai akhirnya ia menghembuskan napas berat dan panjang seolah-olah mengeluarkan semua sesak di dada bersamaan dengan hembusan napas tadi dan itu membuatnya merasa jauh lebih tenang.


"Ya Tuhan!" Seru Ayumi, ia terlonjak, tangannya memegang dada yang berdetak hebat karena kaget, matanya terbelalak menatap sosok pria tinggi berjas putih yang berdiri disampingnya sambil merentangkan tangan, matanya tertutup, jasnya tertiup angin membuatnya terlihat seperti baru saja mendarat dari terbang.


"Kenapa kau terlihat kaget seperti itu?" tanyanya santai, kini kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jasnya, tubuh tingginya bersandar di pagar beton yang mengelilingi atap.


"Se.. sejak kapan kau ada di sini?"


"Kau?" Tanyanya sambil menaikkan alis, mata tajamnya menatap Ayumi ketika dia mendengar gadis itu memanggilnya dengan sebutan non-formal.


"Maaf.. maksudku sejak kapan Senior berada di sini?"


"Sejak kau melakukan adegan Titanic," ucapnya santai yang membuat pipi Ayumi memerah.


Karena malu Ayumi mengalihkan pandangamnya ke kejauhan dimana terlihat pantai Haeundae yang terlihat memantulkan warna orange tua dari matahari yang mulai tenggelam. Hening menyelimuti mereka untuk beberapa saat, keduanya larut dalam pemandangan cantik yang menyihir keduanya sampai akhirnya Dr. Lee Soo Hyuk memecah keheningan.


"Aku lihat tadi siang kau keluar dari ruangan Presdir... apa dia membicarakan sesuatu tentangku?" Tanyanya sambil memandang Ayumi yang masih menatap kedepan, gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Jadi? Bagaimana menurutmu?"


Ayumi terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menatap pria disampingnya mencoba mencari keseriusan di balik mata tajam milik pria itu.


"Entahlah," jawabnya sambil membuang napas berat, Dr. Lee bisa melihat kerapuhan dibalik sorot matanya.


"Apa karena hatimu telah hancur berkeping-keping yang membuatmu takut untuk memulainya lagi?"


Ayumi terdiam, dalam hati ia mengakui itu benar. Telah berkali-kali ia ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi dan itu mulai mengikis rasa percaya dirinya.


"Aku paham itu," ucap Dr. Lee yang kini menatap Ayumi dengan serius, "Tapi kumohon percayalah padaku, aku tak akan memaksamu untuk mencintaiku tapi setidaknya bertemanlah denganku... aku tak akan memaksamu dengan status hubungan kita, tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk membuatmu lebih mengenalku... aku tak akan memaksamu untuk melupakannya, tapi setidaknya beri aku kesempatan yang sama untuk mengobati hatimu... aku tak akan memintamu untuk menyerahkan seluruh hidupmu tapi jadikan aku tempatmu bersandar ketika kau lelah, dan aku tahu saat ini kau sudah sangat lelah."


Ayumi hanya terdiam mendengar perkataan pria pemilik mata tajam itu, hatinya sedikit tergetar, tenggorokannya tercekat ketika memikirkan bagaimana lelahnya ia dengan segala masalah yang menimpa dirinya secara bertubi-tubi, tapi sesaat kemudian dia tertawa ketika mendengar Dr. Lee menyanyikan lagu yang sedari tadi menemaninya dengan suara lantang.


"When you feel so tried but can't sleep.. i will try fix you... Yaah! Kenapa kau tertawa?"


"Senior maafkan aku tapi kau akan membunuh pasien-pasienmu dengan suaramu itu."


"Yaah, perlu kau tahu kalau aku dulu ditawari beberapa agensi untuk menjadi anggota boyband."


Ayumi tertawa terbahak-bahak membayangkan pria itu dengan wajah vampir dan memiliki suara seperti serigala kesakitan itu harus menari dan menyanyi.


"Oh iya dan aku sangat yakin alat penyumbat telinga pasti akan laku di pasaran."


Dr. Lee membelalakan matanya tak percaya mendengar Ayumi berani mengejeknya, tapi dia bahagia karena akhirmya bisa melihat gadis itu tertawa.


"Wow… kau berani menghinaku!"


Ayumi menggelengkan kepala sambil menahan tawanya, yang membuat Dokter itu mendengus tertawa.


Berlatar langit senja kota Busan yang menua mereka berdua tertawa, mengakhiri hari ini dengan lembaran baru bagi keduanya ketika gadis itu secara perlahan mulai membuka diri dan memutuskan menata kembali hatinya yang telah hancur berkeping-keping.


Tanpa disadari keduanya sadari tadi sepasang sorot mata dingin tengah menatap tajam mereka, hatinya kembali terluka ketika menyadari seseorang telah berhasil membuat gadis yang ia cintai tertawa, dan untuk kesekian kalinya ia terlambat...terlambat untuk memertahankan cintanya.


****

__ADS_1


__ADS_2