
Taman itu terlihat sepi hanya ada mereka berdua yang kini duduk di bangku taman yang terbuat dari besi tempa dengan motif bunga dan daun-daun yang menjalar, tak jauh dari tempat mereka duduk terdapat lampu taman berbentuk bola kristal yang memancarkan warna temaran di sekitarnya. Tangis Ayumi kini telah mereda, walau musim semi tapi angin malam cukup dingin hingga Kevin membuka jasnya dan memakaikannya di tubuh Ayumi yang hanya berbalut gaun sutra berlengan pendek.
Mereka duduk berdampingan, untuk beberapa saat mereka berdua hanya terdiam tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya, sebelum akhirnya Ayumi memecah keheningan.
"Jadi apa kau mengetahiunya dari pertama kali kita bertemu?" Ayumi bertanya dengan mata menatap pada kumpulan bunga-bunga yang tertata dengan rapi dihadapannya.
"Iya," jawab Kevin jujur, tak akan ada lagi yang ia tutup-tutupi, sudah cukup ia melihat kekecewaan dan bagaimana terlukanya gadis di sampingnya saat ini ketika mengetahui tentang jati dirinya yang sebenarnya.
"Bagaimana bisa kau mengenaliku?"
Kevin menarik napas panjang sebelum ia memulai ceritanya, "Ayahku menikah dengan Ibumu ketika aku berumur lima tahun dan aku sendiri belum merasakan bagaimana memiliki seorang Ibu sampai mereka menikah. Ibuku meninggal ketika melahirkanku," ucapan Kevin itu sontak membuat Ayumi menatap Kevin dengan sorot mata rasa iba yang membuat pria berlesung pipit itu tersenyum.
"Selama kami tinggal bersama setiap tanggal 23 Juli, Ibumu selalu membuatkan sup rumput laut dan dia akan memasak hidangan istimewa lainnya bahkan lengkap dengan kue ulang tahun."
Ucapan Kevin itu membuat dada Ayumi berdetak hebat, 23 Juli adalah tanggal kelahirannya.
"Ketika aku bertanya siapa yang ulang tahun? Ibumu menjawab kalau pada tanggal 23 Juli seorang bidadari telah lahir ke dunia ini, jadi kami harus merayakannya."
Tanpa terasa airmata Ayumi kembali berlinang ketika mendengar cerita Kevin, dadanya merasa lega seolah bebannya sedikit terangkat ketika akhirnya ia mendengar kalau selama ini ibunya tidak pernah melupakan hari ulang tahunnya.
"Ibu menyebutnya tenshi no hi yang artinya hari bidadari." Kevin tersenyum lembut sambil memandang Ayumi yang masih terdiam.
"Ketika aku mulai beranjak dewasa aku curiga kalau ada sesuatu yang dirahasiakannya. Setiap malam ulang tahunmu dia selalu menangis sambil memeluk sebuah foto yang ia sembunyikan di dalam dompetnya."
Kevin menarik napas panjang sebelum melanjutkan kembali ceritanya, "Sampai beberapa tahun yang lalu ketika ia terbaring dengan lemah, Ibumu memanggilku dan menceritakan tentangmu."
Mata coklat pria itu menerawang mengingat kembali ketika wanita yang telah membesarkan dan melimpahinya kasih sayang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dengan segala peralatan yang menempel pada tubuhnya. Sambil berurai airmata dan napas terengah-engah ia menceritakan tentang penyesalan dan rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya seumur hidup, yaitu meninggalkan bayi perempuan yang ia lahirkan di sebuah panti asuhan di Jepang.
"Bukan hanya kamu yang merasa sedih dan menderita tapi begitu juga dengan Ibumu. Sepanjang hidupnya ia harus menanggung penyesalan dan dihantui rasa bersalah."
"Kalau dia menyesal, kenapa dia tidak mencariku?"
__ADS_1
"Dia kehilangan kontak kalian ketika kami pindah dari Vancouver, itulah sebabnya Ayahmu hanya mengetahui alamat terakhir Ibumu di sini."
Kevin mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto lalu memberikannya kepada Ayumi yang kini membelalakan matanya ketika melihat foto itu. Di dalam foto itu terdapat gambar dirinya ketika berusia tiga tahun dengan memakai gaun mengembang seperti seorang putri, rambutnya dikuncir dua, bibirnya tersenyum menatap kamera.
"Ini..."
"Iya, ini kau ketika berumur tiga tahun. Aku mendapatkan ini ketika Ibu menceritakan tentangmu dan memintaku berjanji untuk mencarimu."
Kevin terdiam beberapa saat menatap Ayumi yang kini tengah menatapnya dengan tatapan sendu.
"Ibumu tidak memintamu untuk memaafkannya, karena menurutnya ia tidak pantas dimaafkan atas tindakkannya yang telah meninggalkanmu."
Kevin melihat Ayumi mengusap air mata yang kembali membasahi pipi mulusnya.
"Ia hanya memintaku berjanji untuk menjagamu."
Ucapan Kevin itu membuat Ayumi kembali menatap pria di sampingnya yang baru ia ketahui ternyata kakak tirinya.
Kevin menarik napas panjang, "Aku mendapat kabar dari Ibumu kalau Ayahmu membawamu ke Indonesia. Aku memiliki beberapa teman di sana yang membantuku mencarimu, tapi Indonesia terlalu besar untuk mencari seorang anak perempuan bernama Ayumi Maheswara."
Kevin tersenyum menatap Ayumi, "Sampai akhirmya dua tahun yang lalu aku mendengar dari temanku kalau ada anak perempuan yang mencari Ibuku... Ibumu maksudku," ucap Kevin meralat ucapannya, "Untuk memastikannya aku datang ke sini dan setelah melihatmu aku yakin kalau kau adalah orang yang selama ini aku cari."
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku dari awal kalau kau... Kakakku," ucap Ayumi dengan suara pelan ketika menyebut kata kakak yang membuat Kevin tersenyum.
"Aku takut kau akan menolakku dan menjaga jarak dariku," ujar Kevin yang membuat Ayumi kembali menatap mata coklat pria disampingnya.
"Aku harus memperoleh kepercayaanmu untuk bisa menjagamu, seringkali aku ingin berkata jujur tapi aku takut kalau kau akan pergi menjauh dariku, dan setiap kali kau bercerita tentang Ibumu yang telah membuangmu, ingin rasanya aku memberitahumu kalau Ibumu juga menderita tentang hal itu."
Ayumi menatap kejauhan, perasaannya berkecambuk di satu sisi ia merasa dikhianati oleh sahabat baiknya, tapi di sisi lain ia merasa bersyukur karena kesalah pahaman tentang ibunya telah berakhir, walaupun terlambat ia mengetahui kalau perempuan yang telah melahirkannya tidak pernah melupakannya.
Apakah ini saatnya ia berdamai dengan masa lalu? Iya, Ayumi memutuskan ini saatnya ia melupakan semua kesedihan masa lalunya, dia sekarang memiliki dua orang ayah yang luar biasa, seorang adik yang selalu mendukungnya dan kini ia mempunyai seorang kakak sekaligus sahabatnya yang selalu menjaga dan berada disisinya. Apa lagi yang ia perlukan? Selain ya tentu saja seseorang yang telah menjadi bagian lain dari hatinya yang kini telah menghilang tanpa kabar. Ayumi mendengus yang membuat Kevin menatapnya bingung.
__ADS_1
"Jadi, bunga mawar itu darimu?"
"Kau menyukainya?"
Ayumi bersandar ke belakang tangannya dilipat di depan dada, matanya menatap Kevin beberapa saat.
"Iya aku menyukainya, tapi... Oppa?" Ayumi kembali mendengus, "Yang benar saja."
"Yah! mulai sekarang kau harus memanggilku, Oppa! Paham?"
Ayumi hanya mengangkat alis mata dan bahunya, "Kita lihat saja nanti," ucap Ayumi sambil menatap gelapnya malam tanpa bintang. Kevin tahu ia tidak boleh memaksa gadis itu untuk langsung menerima kehadirannya sebagai seorang kakak, tapi ia akan bersabar hingga suatu hari atas kemaunnya sendiri Ayumi akan memanggilnya 'Oppa'.
"Jadi apa kau memaafkanku?" Kevin bertanya sambil menatap Ayumi yang menatapnya sesaat sebelum akhirnya kembali menatap gelapnya langit malam.
"Entahlah." Ayumi mengambil napas panjang, "Kau tahu, di satu sisi aku bahagia karena penilaianku tentang Ibuku selama ini salah, tapi di sisi lain aku seperti kehilangan sosok sahabat tempat aku bergantung dan bersandar selama ini."
"Tidak, Angel, tidak!" Kevin berjongkok berlutut dihadapan Ayumi, tanganya menggenggam tangan dingin milik gadis itu, "Itu tidak benar, aku tetap sahabatmu, Angel. Sampai kapanpun aku akan selalu mejadi sahabatmu yang selalu ada untukmu."
Ayumi memerhatikan kesungguhan di mata pria itu, "Tapi... bagaimana bisa aku kini melihatmu sebagai seorang sahabat, kau adalah anak dari suami Ibuku, kau adalah kakakku."
Kevin tersenyum menatap mata bulat dihadapannya, "Bukankah itu lebih baik, kau bukan hanya memiliki seorang sahabat, tapi sekarang kau juga memiliki seorang Kakak yang akan selalu ada untukmu, Kakak yang sangat keren yang akan menendang setiap pria yang berusaha mendekatimu."
"Hei! Kau ingin aku jadi perawan tua!" Protes Ayumi sambil tertawa yang membuat Kevin merasa bahagia karena akhirnya gadis itu kembali tertawa.
"Aku berjanji, aku tak akan berubah, aku tetaplah Kevin, sahabatmu yang kau kenal selama ini," lanjut Kevin dengan sorot mata tulus nenatap Ayumi yang kini tengah tersenyum lembut nenatapnya.
Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk dengan penuh keyakinan, "Baiklah, aku memaafkanmu," ucap Ayumi yang membuat Kevin langsung memeluknya.
"Terima kasih, Angel," ucapnya sambil tersenyum menatap langit malam berharap arwah ibunya melihat mereka saat ini, dia pasti tersenyum bahagia seperti dirinya. Dalam hati Kevin kembali berjanji bukan hanya untuk ibunya saja tapi juga untuk Ayumi, adiknya, dia berjanji akan selalu melindungi gadis itu dengan nyawanya sendiri.
***
__ADS_1