
Akhir-akhir ini Erik telah berperan sebagai seorang kekasih yang baik, ia menemani kemanapun Yuri, tunangannya pergi walaupun dengan berat hati tapi ia harus membiasakan hal itu. Seperti hari ini dia telah berjanji untuk menemani Yuri melakukan fitting pakaian pengantin, jujur ia masih sering membayangkan kalau Ayumilah yang mengenakan gaun pengantin itu maka ia akan dengan senang hati melawati prosesi itu. Tapi nasi telah menjadi bubur, semua telah terjadi yang harus dia lakukan sekarang adalah mengikuti takdir yang telah tertulis untuknya.
Dengan langkah gontai ia memasuki butik itu, para pelayan di sana telah mengenalnya dan langsung menyambutnya hangat kemudian mengatakan kalau Yuri dan juga Soo Hyuk telah datang dari tadi dan sekarang sedang ada di lantai atas. Erik langsung naik ke lantai atas dan langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang sangat dia rindukan tengah berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka, ia mengerutkan alis ketika melihat tubuh gadis itu kaku.
Erik dengan perlahan berjalan mendekati Ayumi yang masih belum menyadari kedatangannya, ia baru saja akan menyapanya ketika mendengar percakapan antara Yuri dan Soo Hyuk yang membuat darahnya mendidih, napasnya memburu, jantungnya berdetak kencang karena amarah, tak ingin memercayai dengan apa yang di dengarnya kalau selama ini kedua kakak beradik itu telah mempermainkan kehidupan mereka semua dengan sangat apik.
Tapi kali ini bukan hanya dirinya saja yang mendengarnya, ada seseorang yang sama terlukanya tengah mendengarkan itu semua. Tubuh gadis bermata bulat itu bergetar hebat hingga tangannya tak bisa lagi menggenggam gelas plastik yang berisi jus strawberi, yang akhirnya jatuh ke lantai dan membuat kedua orang yang berada di dalam ruangan menatap ke arah mereka dengan mata terbelalak terkejut.
"Seung Won Oppa." Suara Yuri terdengar gugup.
"Ayumi." Lee Soo Hyuk langsung berdiri dari duduknya, matanya menatap mata hitam Ayumi yang juga menatapnya dengan sorot mata terluka.
"Kalian... jadi selama ini kalian telah mengetahuinya dan merencanakan ini semua?" Suara dingin dan tajam milik Erik membuat Ayumi membalikan badannya dan baru menyadari kalau pria itu juga mendengarkan apa yang membuat hidupnya kembali di dera rasa kecewa. Tak ingin berada di sana lebih lama ia memutuskan pergi, tak menghiraukan teriakan Lee Soo Hyuk yang memanggilnya ia terus berlari meninggal semuanya.
Erik menghadang Lee Soo Hyuk yang hendak mengejar Ayumi.
"Kau! Aku telah memercayaimu dan menyerahkan perempuan yang paling aku cintai untuk kau jaga, tapi apa yang telah kau lakukan!" Erik berteriak tepat di hadapan Soo Hyuk yang berusaha melepaskan diri dari cengkraman Erik untuk mengejar Ayumi.
__ADS_1
"Seharusnya aku tak memercayai b*j*ng*n sepertimu." Erik menghempaskan tubuh dokter ahli bedah itu hingga terhuyung ke belakang, kini matanya menatap tajam Yuri yang telah memucat.
"Pertungan kita telah berakhir, tak akan ada pernikahan!" ucapnya tegas dengan suara dingin ciri khasnya yang membuat Yuri semakin memucat.
"Oppa.. oppa, tunggu! Oppa, kau tidak bisa melakukan itu padaku! Oppa, kau tidak bisa membatalkan pernikahan kita!"
Erik tak memedulikan ucapan Yuri yang kini berteriak seperti orang gila, ia setengah berlari mengejar Ayumi. Ia berhenti ketika melihat Kevin yang terlihat bingung mendengar teriakan dari lantai atas.
"Apa kau melihat, Ayumi?" Erik bertanya dengan terburu-buru.
"Kalau kau ingin memukul orang, kau salah sasaran. Sebaiknya kita cari dulu adikmu sekarang! Aku akan menjelaskannya nanti."
Sambil memaki Kevin ikut berlari di belakang Erik untuk mencari Ayumi, setelah mereka berpencar di sekitar Haeundae dan tak menemukan gadis itu, mereka memutuskan untuk mencari menggunakan kendaraan masing-masing ketempat-tempat yang selalu didatanginya.
Erik ingat kalau Ayumi selalu melihat matahari tenggelam di atas ketingian ketika ia memiliki masalah, maka ia mencari gadis itu kesemua tempat yang menyuguhkan pemandangan matahari terbenam dengan cantik, dari mulai atap rumah sakit tempatnya bekerja sampai dengan menara Busan, tapi ia tak menemukan gadis itu disemua tempat yang ia datangi.
Begitu juga dengan Kevin, ia mendatangi apartemen gadis itu dan juga rumah ayahnya berharap Ayumi ada di sana, tapi sayang harapannya sia-sia ketika mendapati kedua tempat itu sepi tak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu, sampai akhirnya tanpa sengaja ia melihat foto ayah dan ibunya yang terpasang di salah satu dinding rumah mereka, dengan harapan yang tersisa ia berlari menuju kendaraanya, sambil menghubungi Erik.
__ADS_1
"Aku tahu dimana dia!"
Langit sudah memerah, sang senja sudah akan kembali ke ufuk barat dan rembulan akan menggantikan tugasnya untuk menerangi bumi dikala gelap malam menyelimuti. Ayumi terduduk di samping pusara ibunya, menatap ke arah matahari tenggelam. Tempat pemakaman ibunya yang di atas bukit menyajikan pemandangan yang tak kalah cantiknya di kala senja.
"Sangat indah bukan, Mah?" ucap Ayumi pelan sambil tersenyum seolah ibunya tengah duduk di samping gadis itu dan sama-sama menikmati pemandangan kota Busan di sore hari.
"Apa, Mamah, bahagia di sana?" Ayumi menatap gundukan tanah di sebelahnya yang tertutup hamparan rumput hijau.
"Ayu, yakin Mamah pasti bahagia karena tak perlu lagi merasakan sakit dan kecewa." Ayumi kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan sambil membuang napas berat.
"Tapi kenapa Mamah sangat egois pergi sendiri tanpa mengajak Ayu?... tenang saja, Mah, Ayu sudah tak marah lagi sama Mamah, tapi... kali ini Ayu berharap Mamah ada di sini." Suara Ayumi mulai tercekat, matanya mulai berkaca- kaca.
"Apa Ayu ditakdirkan untuk tidak bahagia? Apa Ayu dilahirkan hanya untuk merasakan rasa kecewa? Di dunia ini tidak ada yang menginginkan Ayu, Mah, jadi tak bisakah Mamah menjemput Ayu sekarang?" Pandangan gadis itu sudah mulai buram karena air mata yang mulai membasahi pipinya. Hening beberapa saat seolah ia menunggu jawaban dari jasad yang terbaring di bawah batu nisan.
"Ayu sudah sangat lelah, Ayu sudah tidak sanggup lagi untuk menghadapi semua ini seorang diri, ini terlalu berat bagi Ayu ketika semua orang yang Ayu sayangi meninggalkan Ayu dengan gampangnya. Ketika masih bayi, Mamah orang yang telah melahirkan Ayu malah membuang Ayu, walaupun sekarang Ayu tahu Mamah sangat menyesal, perempuan yang Papah nikahi untuk mengisi sosok ibu bagi Ayu malah tak pernah menganggap Ayu ada.” Ayu menarik napas dalam-dalam, “Erik, pria yang membuat Ayu jatuh cinta memilih untuk bertunangan dengan perempuan lain dan meninggalkan Ayu, dan sekarang... Dr. Lee, pria yang membuat Ayu membuka diri untuk kedua kalinya hanya menganggap Ayu sebuah permainan. Mamah dengar itu, tidak ada yang menginginkan ayu, Mah, jadi tolong jemput Ayu sekarang! Tidakkah Mamah merindukan Ayu? Kita bisa hidup bahagia di sana nanti, kita berdua... hanya kita berdua."
****
__ADS_1