Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 26


__ADS_3

"Aku bisa mengobatinya sendiri." Ayumi berusaha berdiri tapi bahunya ditahan oleh tangan kokoh milik pria yang telah menyelamatkan hidupnya.


"Aku tahu, tapi aku ingin mengobatimu," ucap Dr. Lee dengan santai sambil membersihkan luka di kepala gadis itu. Lukanya tidak serius hanya benjolan dan sedikit goresan kecil tapi ia heran kenapa pendarahannya tidak berhenti-berhenti? Masih ada saja darah yang keluar dari luka itu walaupun sudah diberikan obat.


Dr. Lee mengambil kain kasa lalu menekan luka itu yang membuat Ayumi mengernyit menahan sakit, setelah ditekan sedikit lama dan kembali diberi obat akhirnya pendarahannya terhenti, tanpa membuang waktu dokter tampan itu menutup lukanya dengan kain kasa baru.


"Sudah selasai," ujarnya sambil menatap Ayumi yang masih sedikit pucat, gadis itu telah berganti pakaian dan membersihkan tubuhnya dari kotoran akibat lemparan tepung dan juga telur yang ia terima tadi.


"Terimakasih." Ayumi bangkit berdiri lalu menunduk memberi hormat membuat Lee Soo Hyuk mengangkat alisnya.


"Tidak usah mengucapkan terima kasih kepadaku, sudah kewajiban setiap pria untuk melindungi wanita yang ia sukai." Dr. Lee berkata dengan santai smbil menatap Ayumi yang berdiri mematung.


"Sunbaenim, seharusnya kau tidak usah melakukan hal itu."


"Dan membiarkan mereka membunuhmu di depanku?"


"Mereka tidak akan membunuhku."


"Benarkah?" Dr. Lee bertanya sambil berdiri kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, matanya menatap Ayumi tajam yang juga tengah menatapnya.


"Tidak... tepung dan telur tidak akan bisa membunuhku... tapi bagaimanapun, sekali lagi saya ucapkan terimakasih." Ayumi menganggukkan kepala lalu berjalan menuju pintu.


"Sudah ku bilang tidak perlu mengucapkan terimakasih," ucapan Dr. Lee itu membuat Ayumi menghentikan langkahnya untuk sesaat sebelum ia kembali melangkah dan tanganya hendak membuka pintu ketika pria itu melanjutkan ucapannya, "Tidak perlu mengucapkan terimakasih, cukup meneraktirku makan malam saja."


Ayumi membalikkan badannya hendak protes tapi sepertinya akan sia-sia karena pria itu kini telah pura-pura sibuk membereskan berkas-berkas pasiennya lalu mendahului Ayumi keluar dari ruangan itu untuk melakukan kunjungan.


"Apa yang kau lakukan? Mengapa masih berdiri di sana? Kau tidak akan melakukan kunjungan pasien?" Serunya setelah melihat Ayumi yang masih berdiri di dalam ruangan dengan pintu terbuka, Ayumi melihat beberapa rekan residennya telah berdiri di belakang pria itu lengkap dengan catatan di tangan masing-masing, dan kini mereka menatapnya dengan penasaran.

__ADS_1


Ayumi membuang napas berat, "Maafkan saya," ucapnya sambil berjalan lalu bergabung dengan rombongan dokter itu untuk melakukan kunjungan pasien, rutinitas mereka setiap pagi.


Kunjungan hari itu terasa berat bagi Ayumi, hampir semua mata memerhatikannya, berbisik-bisik di belakangnya malah tak sedikit yang bergunjing tentang gosip dirinya, Kevin dan Dr. Lee. Berbeda dengan dengan Dr. Lee yang mendapat tatapan memuja dan pujian tentang aksi heroiknya pagi ini dari pasien-pasien perempuan, Ayumi mendapat cibiran dan pandangan menyelidik dari mereka. Yang bisa Ayumi lakukan hanya berpura-pura tidak mendengarnya, menutup telinganya rapat-rapat, dan menundukkan kepala mencoba bersembunyi di balik rambut panjangnya.


"Semangat, Ayumi! Tinggal satu lagi!" Seru Ayumi dalam hati berusaha menyuntikan kekuatan kepada dirinya sendiri. Naas baginya ketika ia memasuki kamar rawat yang terakhir karena di sana diisi oleh enam pasien wanita paruh baya dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.


Semua pasien itu menyambut Dr. Lee dengan senyuman hangat. Dokter itu boleh bersikap cuek terhadap yang lainnya, tapi ia akan memerlakukan pasien sehangat matahari pagi, apalagi terhadap pasien-pasien tua maka ia akan berubah dari pesona seorang Vampire yang dingin menjadi pesona seorang Pangeran yang baik hati. Itulah kenapa ia sangat terkenal dikalangan para pasien paruh baya, seperti sekarang ia sedang mendapat pujian karena aksinya tadi pagi.


"Aigo, Dr. Lee, kau memiliki hati yang sama tampannya dengan wajahmu," puji seorang wanita tua dengan rambut kriting pendek beruban.


"Dr. Lee apa kau sudah memiliki kekasih? Aku akan mengenalkanmu kepada cucu perempuanku yang sangat cantik."


"Nenek Cho, bukankah cucumu masih berumur 10 tahun? Putriku yang cocok dengan Dr. Lee, selain cantik dia juga sangat pintar memasak, kau pasti menyukainya."


"Tidak.. tidak.. keponakanku..."


Dan perebutan tentang siapa yang paling cocok untuk menjadi istri dokter itupun terus berlanjut, untuk sesaat pemandangan itu membuat Ayumi tersenyum dan melupakan kejadian yang menimpanya tadi pagi, sampai suara seorang wanita menghentikan kegaduhan diruangan itu.


"Kau benar!" Seru salah satu dari mereka dan seperti efek domino, komentar satu itu membuat semua berkomentar sama, kini semua orang benar-benar telah memokuskan pandangannya kepada Ayumi yang kembali memucat, ia memejamkan mata meringis mengingat kejadian tadi pagi ketika orang-orang berteriak kepadaya sambil melemparkan berbagai macam benda.


"Jadi katakan pada kami, apa benar kau berpacaran dengan penyanyi tampan itu?"


Ruangan itu tiba-tiba hening menunggu jawaban Ayumi atas pertanyaan dari pasien paruh baya yang tangannya terlihat memakai penyangga.


"Dr. Lee, bukankah dokter itu yang kau selamatkan tadi pagi?" Salah satu pasien itu kini bertanya kepada Dr. Lee yang tersenyum menatap wanita itu.


Dengan tenang pria itu berjalan menuju Ayumi yang memucat, tiba-tiba kedua tangannya memegang pundak gadis itu yang langsung terlonjak kaget, matanya langsung menatap Dr. Lee dengan sorot mata terkejut yang dibalas dokter itu dengan pandangan lembut yang menenangkan.

__ADS_1


Dr. Lee berdiri di belakang Ayumi, tangannya dengan lembut menarik bahu gadis itu hingga kini ia berdiri tegak, jarinya yang panjang mengangkat dagu Ayumi hingga tak lagi tertunduk, seolah secara tidak langsung ia memberi tahu gadis itu untuk tidak menundukan kepala dan bersembunyi.


"Iya, memang dia yang aku selamatkan tadi pagi, bukankah dia jauh lebih cantik aslinya daripada di TV?"


"Aaah.. kau benar, dia jauh lebih cantik aslinya," ucap Nenek Cho sambil tersenyum yang disambut gumaman setuju dari yang lainnya.


"Kalian bisa menjaga rahasia?" bisik Dr. Lee di balik bahu Ayumi dengan mata yang memandang para pasien paruh baya itu. Sekarang bukan hanya mereka saja yang terlihat penasaran tapi para dokter residen dan juga perawat yang ada di sana terlihat antusias mendengar lanjutan ucapan pria itu.


"Kau bisa memercayai kami," ucap salah satu dari mereka yang di dukung dengan anggukan semangat dari semuanya.


"Sebenarnya dia... kekasihku."


Semua orang terlihat terkejut, para wanita paruh baya itu refleks menutup mulutnya menggunakan tangan, mata mereka terbelalak menatap mereka berdua, Ayumi sama kagetnya dengan semua orang yang ada diruangan itu tapi berbeda dengan Dr. Lee yang hanya tersenyum santai.


"Jadi... jadi... kalian berdua berpacaran?"


"Ti..."


"Iya, kami berpacaran, bukankah kami sangat serasi?" Ujar pria itu memotong ucapan Ayumi yang hendak menyangkal ucapannya.


"Tapi... bagaimana dengan penyanyi pria itu? Bukanah foto mereka berdua sudah beredar di internet?"


"Itu hanya foto ketika mereka sedang makan siang bersama di taman belakang, bukankah kita biasa makan dengan teman kita? Tidak ada yang istimewa." Dr. Lee sambil berdiri di samping Ayumi, "Coba kalian bayangkan, kalau mereka benar-benar pacaran apa mungkin mereka akan makan di tempat ramai seperti taman Rumah Sakit?" Lanjutnya sambil menatap kumpulan wanita itu yang kini terlihat antusias mendengarkan penjelasannya,"Tentu saja tidakkan? Mereka pasti akan makan di tempat rahasia. Para wartawan itu terlalu membesar-besarkan masalah, gara-gara sebuah foto makan siang saja dan itu telah membuat hidup seorang gadis berantakan."


Para wanita paruh baya itu kini menatap Ayumi dengan sorot mata prihatin, "Kau benar, mereka keterlaluan," ucap seorang dari mereka yang kini tengah menatapnya.


"Apa kau tidak terluka?" Tanya Nenek Cho lembut dengan sorot mata keibuannya yang membuat Ayumi merasakan desakan rasa haru di dasanya, ia hanya bisa menggeleng sambil tersenyum getir.

__ADS_1


"Tentu saja dia tidak apa-apa, karena ada aku yang akan menjaganya dengan sangat baik," ucap Dr. Lee sambil merangkul bahunya lembut, dan aksinya itu sukses membuat para wanita paruh baya itu kembali tersenyum sumringah dan melontarkan godaan-godaan khas orang tua.


*****


__ADS_2