Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 38


__ADS_3

Ayumi berjalan dengan gontai, matanya terlihat kosong, pikirannya terus memutar apa yang Erik katakan tadi kalau dirinya akan menikah musim semi ini. Semua akan segera berakhir antara dirinya dengan pria itu. Pria musim gugurnya, pria yang yang telah menjungkir balikkan dunianya. Ia kini berdiri di depan apartemennya, tangannya gemetar ketika harus memijit beberapa angka password untuk membuka kunci pintu, setelah terbuka dengan cepat ia segera masuk.


Dengan kaki diseret ia berjalan menuju kamar yang ukurannya lebih luas daripada kamarnya di Vancouver. Tubuhnya langsung ambruk di atas tempat tidurnya yang tertutup bedcover berwarna putih dengan tebaran gambar bunga sakura berwarna pink, di kepala tempat tidurnya tergeletak dengan manis sebuah boneka minion yang sengaja dia bawa dari Vancouver, boneka yang selalu menemaninya tidur setiap hari, boneka hadiah dari seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Dadanya terasa sesak seolah terhimpit batuan besar, tapi tak ada airmata yang keluar, ia hanya terlentang tak bergerak, matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Selama sejam ia tetap tak bergerak, sampai akhirnya bunyi telepon gengamnya membuyarkan segala lamunannya.


Ia terduduk untuk mengambil benda kecil yang terus berdering itu di dalam tas kulitnya, setelah melihat nama yang terpampang di layarnya, tiba-tiba dadanya kembali sesak, matanya perih. Jarinya yang gemetar memijit tombol berwarna hijau, ia meletakan benda itu di telinganya.


"Yaah! Kenapa lama sekali?" airmatanya kini tak kuasa lagi tertahan setelah mendengar suara seseorang yang selalu melindungunya,"Apa kau sudah sampai apartemen? Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan? Apa kau sedang mandi? Apa kau tahu kalau aku menghubungi dari tadi, tapi kau tak mengangkatnya? Ckk, kau membuat Oppamu ini merasa khawatir."


Ayumi mencoba menahan isak tangisnya dengan menekan mulutnya menggunakan punggung tangan. Ya Tuhan, ia sangat menginginkan kakak tirinya itu ada di sana saat ini, ia membutuhkan seseorang untuk bersandar, tapi ia berada jauh di Seoul dengan segudang aktifitas keartisannya.


"Ayumi, kenapa kau diam saja? Apa kau baik-baik saja?" Kevin mulai terdengar curiga karena tak ada jawaban dari gadis yang masih sekuat tenaga menahan tangisnya.


"Ayumi, bicaralah!" Serunya setelah beberapa saat tetap tak ada jawaban dari adiknya.


"Sial, Ayumi! Bicaralah atau aku akan menghubungi polisi dan meminta mereka memeriksamu di apartemen."


"K-Kevin!" seru Ayumi yang tak kuasa lagi menahan isak tangisnya, kini ia tersedu-sedu sambil terus memanggil nama Kevin.


"Ayumi, apa yang terjadi? Katakan padaku, apa yang terjadi!" Suara Kevin terdengar sangat khawatir, tapi itu malah membuat tangis Ayumi semakin menjadi, "Jangan kemana-mana, kau dengar aku? Jangan kemana-mana dan jangan melakukan hal bodoh! Tunggu aku, aku akan ke sana sekarang!"


Kevin menutup telepon, secepat kilat ia mengambil jaketnya dan seperti orang gila ia berlari keluar dari ruang latihan. Saat ini ia sedang berada di gedung manajemennya tengah berlatih untuk konser mereka di Jepang lusa.


"Kevin, kau mau kemana?" Managernya bertanya setelah melihat pria bermata coklat itu berlari menuju pintu keluar.


"Aku akan kembali besok pagi, aku berjanji!" Ia menjawab tanpa menghentikan larinya, dia bisa mendengar Managernya itu mengutuk tapi dia tidak peduli, yang ada dipikirannya saat ini adalah berada di samping gadis itu secepatnya. Ia bisa merasakan penderitaan yang tengah dialami adik tirinya itu. Tanpa berpikir panjang ia langsung menghentikan taxi dan menuju Incheon.


Entah berapa lama Ayumi menangis sampai ia tertidur tapi akhirnya suara bel apartemen membangunkannya, dengan perlahan ia berdiri, matanya mengernyit karena merasakan rasa sakit menusuk kepalanya. Sambil memegang kepala ia berjalan menuju pintu dimana seseorang tengah memijit belnya dengan tak sabar. Dan matanya tiba-tiba terbelalak melihat sosok tinggi menjulang di hadapannya yang terengah-enagah seperti baru saja melakukan lari maraton.


"Ke-vin? Apa yang kau lakukan di sini malam-malam? Apa kau di usir oleh Managermu?"


Kevin melongo tak percaya mendengar pertanyaan perempuan yang matanya terlihat bengkak akibat meningis terlalu lama dan mendengar dari suaranya yang serak sepertinya ia juga baru saja bangun tidur.

__ADS_1


"Demi Tuhan, Ayumi, kau membuatku seperti orang gila berlari dari Seoul ke Busan karena mendengarmu menangis seolah kalau hidupmu akan segera berakhir, dan sekarang kau bertanya kenapa aku ada di sini?" oceh Kevin sambil menerjang masuk apertemen lalu duduk di sofa coklat muda yang ada di ruangan itu.


"Maafkan aku,” ujar Ayumi lemah setelah menyadari apa yang tengah terjadi. Dia kini ikut duduk di sebelah Kevin yang menatapnya dengan penuh selidik, sedangkan dia hanya bisa tertunduk sambil menekuk wajahnya.


"Jadi katakan padaku apa yang telah terjadi?" tanpa basa-basi Kevin langsung bertanya sambil menatap Ayumi meminta jawaban, tapi gadis itu hanya membuang napas berat. Kevin mengangkat alisnya menunggu, tapi lagi-lagi gadis itu kembali membuang napas berat.


"Kau tahu, aku berlari seperti kesetanan ke sini setelah mendengarmu menangis, aku bahkan meninggalkan jadwal latihanku untuk persiapan konser lusa. Dan setibanya aku di sini kau hanya akan terdiam seperti itu?"


"Kau tidak berlari, kau pasti naik KTX."


"Pesawat... aku naik pesawat, KTX terlalu lama. Ok lupakan naik apa aku ke sini, tapi aku tak ada waktu lama, besok aku harus kembali ke Seoul atau Managerku akan membunuhku. Jadi kita mulai ceritamu sekarang."


Ayumi menarik napas panjang sebelum akhirnya memulai ceritanya, Kevin hanya terdiam mendengar gadis itu bercerita, kondisinya saat ini sudah jauh lebih tenang, tak ada lagi tangisan yang menyayat hati walaupun ia masih bisa mendengar dari suaranya yang bergetar kalau Ayumi masih belum bisa menerima kenyataan ini seutuhnya. Ayumi telah selesai bercerita dan hasilnya sekarang di sekeliling mereka bertebaran tissu yang digunakan gadis itu untuk membuang ingus dan melap airmatanya, dan Kevin hanya bisa menarik napas berat melihat itu semua.


"Kalau kau memang masih mencintainya seharusnya kau memertahankan cintamu dari dulu," ujar Kevin sambil kembali memberi Ayumi tissu.


“Tapi dia meninggalkanku dan telah bertunangan dengan perempuan lain." Ayumi membuang ingus dengan suara kencang lalu melempar tissunya sembarang.


"Dia memang bodoh, tapi itu semua hanya kesalah pahaman, seharusnya kalian sudah bisa menyelesaikannya saat itu juga lalu memutuskan apa yang akan kalian lakukan selanjutnya, bukannya saling menyakiti seperti ini."


"Aku tahu, tapi tahukah kau di saat kau memikirkan perasaan tunangannya yang akan terluka karena ditinggal tunangannya. Pria itu sudah terluka terlebih dulu karena harus meninggalkan orang yang dia cintai dan menjalani hidup dengan perempuan yang tidak dia cintai sama sekali. Bahkan perempuan itu sekarang akan jauh terluka karena harus hidup dengan pria yang mencintai perempuan lain."


Seperti ditampar Ayumi membelalakan mata terkejut mendengar ucapan Kevin yang kini menatapnya penuh simpati karena baru menyadari itu semua.


"Sekarang kita kembalikan padamu. Seandainya kau mencintai seorang pria yang tak mencintaimu tapi mencintai perempuan lain, apa kau tidak akan merasa lelah? Dan bayangkan ketika kau harus menikah dengan pria yang masih mencintai mantan kekasihnya dengan seluruh jiwanya, apa kau tidak akan terluka?" Kevin merasa kasihan melihat Ayumi yang baru menyadari kesalahannya.


"Ayumi, aku tahu kau melakukan itu karena tidak ingin membuat perempuan lain merasakan kesakitan seperti yang kau rasakan karena ditinggal seseorang yang kau cintai. Tapi tanpa sadar kau telah membuat beberapa orang terluka... termasuk kau dan dokter itu."


Ayumi terdiam menyadari kebodohannya, seharusnya ia mendengarkan apa yang Kevin ucapkan dulu untuk memertahankan cintanya kalau memang dia masih mencintai Erik, tapi dia terlalu naif, dengan hanya memikirkan perasaan Yuri dari sudut pandangnya tanpa memikirkan perasaan Erik dan juga dirinya.


"Tapi sekarang mereka akan menikah, semua sudah benar-benar terlambat."


"Tidak ada kata terlambat, apa kau pernah nonton Run away bride? Kau lihat bahkan Julia Robert melarikan diri di detik-detik terakhir pernikahannya."

__ADS_1


Ayumi tersenyum mendengar ucapan Kevin, "Itu hanya film, Kevin."


"Yaah, kalau kau mau, kita bisa menculik Erik pada saat itu dan kalian bisa melarikan diri bersama."


Ayumi kembali tersenyum mendengar rencana Kevin, tapi lagi-lagi salah satu sudut hatinya yang terdalam dia tidak bisa melakukan itu, dia mungkin akan hidup berbahagia dengan pria yang dia cintai tapi dia akan merasa bersalah seumur hidupnya dan dia tidak mau hidup dalam perasaan itu.


Seolah memahami apa yang dipikirkan Ayumi, Kevin kembali membuang napas berat matanya menatap Ayumi lembut, "Kau tahu, kalian berdua sama-sama bodoh dan keras kepala... aaahhh, seandainya aku jadi dia dan kau bukan adikku, aku akan menculikmu, membawamu ke pulau terpencil dan kita akan hidup bersama selamanya di sana."


Ayumi mendengus tertawa mendengar ide gila dari Kevin, itulah dia, pria yang akhirnya selalu membuatnya tertawa dalam kondisi apapun.


"Yaah, apa sebaiknya kau menikah denganku? Kau bahkan belum masuk daftar keluarga, kita harus melakukannya sekarang juga sebelum Appa mendaftarkanmu di dalam kartu keluarga."


Ayumi kini benar-benar tertawa mendengar ide gila lainnya dari Kevin, "Dan Appa akan mati berdiri ketika mengetahuinya."


'"Tidak, dia akan memaafkan kita kalau kita memberinya cucu yang banyak, bagaimana ideku baguskan?"


"Yaah!!! Hentikan, dasar gila!" seru Ayumi sambil tertawa.


Kevin bersyukur kalau akhirnya gadis itu bisa tertawa, walaupun ia tahu hatinya belum pulih seutuhnya dan mengingat kepribadiannya ia tahu keputusan apa yang telah diambil adiknya itu dan ia tidak berhak ikut campur. Ia hanya memberi masukan sedangkan keputusan akhir tetap menjadi hak seutuhnya gadis bermata bulat itu.


"Baiklah ini sudah sangat larut." Kevin melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 2 pagi. "Kau harus tidur sekarang, kalau tidak besok pagi kau akan terlihat seperti panda bengkak!"


"Yaahh!!" Ayumi protes sambil memukul lengannya.


"Atau kau ingin kita membuat cucu buat Appa sekarang? Jadi mau tidak mau dia akan merestui pernikahan kita setelah tahu ada baby Choi di dalam perutmu."


""Yaahh!!! Dasar mesum!" Ayumi kembali berseru sambil memukuli Kevin yang membuat pria itu berteriak minta ampun.


"Aku tak mengerti bagaimana bisa para pria bodoh itu jatuh cinta pada gadis sekasar ini," ucap Kevin setelah Ayumi menghentikan pukulannya sambil mengelus lengannya yang memerah karena serangan tadi.


Mendengar itu Ayumi hanya tertawa, "Baiklah kita tidur sekarang, sebentar aku akan membawa bantal dan selimut untukmu," ujarnya sambil berjalan menuju kamar.


Kevin membaringkan badannya di atas sofa yang terlihat terlalu pendek untuk tubuhnya yang tinggi, matanya menatap langit-langit apartemen sederhana itu, tangannya di lipat di atas dada, bibirnya menyunggingkan senyuman mengingat apa yang baru saja ia katakan. Seandainya... seandainya gadis itu tahu kebenaran dan ketulusan dari setiap ucapannya, seandainya Erik bukanlah pria yang dicintai gadis itu, sendainya ia hanyalah seorang pria biasa bukan anak dari ayahnya, dan banyak lagi seandainya yang selalu mengisi pikirannya dari pertama kali ia berjumpa dengan gadis itu. Di atas mercusuar berlatar matahari tenggelam Vancouver, gadis bermata bulat itu telah berhasil mencuri hatinya... aaah seandainya dia bukanlah gadis kecil ibunya.

__ADS_1


***


__ADS_2