
Matahari masih bersinar terang ketika Ayumi berdiri di pinggir pagar tembok atap Rumah Sakit, hari ini UGD tidak sesibuk biasanya jadi para dokter jaga bisa sedikit beristirahat. Matanya menatap pantai Haeundae dimana berderet payung merah tempat para pengunjung pantai duduk menikmati pemandangan tanpa harus terkena sinar matahari langsung. Rambutnya yang kini berwarna coklat hasil kreasi para ahli hadiah dari Kevin dikuncir kuda membiarkan angin musim semi membelai leher jenjangnya, telinganya seperti biasa dihiasi oleh earphone putih yang mengalunkan suara merdu milik Glenn Lewis, tangannya menggenggam botol yogurt rasa anggur yang telah kosong.
Pemandangan indah, suara merdu salah satu penyanyi favoritnya dan suasana yang tenang ternyata tidak bisa mengalihkan pikiran gadis itu dari sosok pria yang ia temui di kamar inap Yuri tadi, ia masih ingat bagaimana mata pria paruh baya itu menatapnya tajam penuh selidik. Ayumi kembali menggelengkan kepala putus asa, daritadi ia berpikir, menggali memorinya tentang pria yang ternyata Ayah dari mantan kekasihnya itu. Ia seperti pernah bertemu dengannya, tapi kapan? Dimana?
“Aaargghh!” Ayumi mengacak-acak rambutnya putus asa karena tidak berhasil menemukan jawaban.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Suara berat milik seseorang yang ia sangat kenal mengagetkannya, membuatnya terperanjat sambil memegang dadanya.
“Ya Tuhan, kau mengagetkanku!”
"Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya pria yang tampak luar biasa tampan walaupun hanya mengenakan kaos putih dan celana blue jeans itu yang hanya tersenyum miring melihat keterkejutan gadis yang berdiri di sampingnya, ia lalu menatap ke kejauhan seperti yang dilakukan Ayumi tadi.
“Tidak ada,” jawab Ayumi singkat sambil kembali menatap ke depan, dimana terpampang kesibukan dan kemegahan kota terbesar kedua di Korea Selatan yang berdampingan dengan pemandangan pantai yang damai dimana beberapa Busan seagul tengah berjemur di atas bebatuan dan pasir putih.
Mereka berdua hanya terdiam menikmati kebersamaan seperti yang biasa mereka lakukan di Vancouver. Dulu mereka merasa damai dan saling memiliki hanya dengan duduk memandang matahari terbenam di Stanley park atau di Vancouver Look out yang menyuguhkan pemandangan eksotis di atas ketinggian. Jadi untuk saat ini biarkan keegoisan mereka menang untuk beberapa saat, biarkan mereka kembali mengenang saat-saat terindah dalam hidup mereka, biarkan mereka merasakan kembali debaran jantung yang saling bertalu hebat hanya dengan berdiri berdampingan berbagi pemandangan yang tersuguh, berbagi hembusan angin musim semi yang menerpa wajah meraka... ya, biarkan mereka kembali merasakan kedamaian di dalam jiwa mereka... hanya beberapa saat, ya hanya beberapa saat yang sangat berarti.
“Jadi... sekarang kau telah berpacaran dengan Soo Hyuk?’ Erik memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya.
Ayumi melirik pria itu sesaat sebelum kembali menatap kedepan, “Iya,” jawabnya dengan suara pelan seolah dirinya sendiripun ingin menyangkal hal itu.
"Apa kau mencintainya?” Erik kini menatap mata Ayumi berusaha mencari kesungguhan dari mata bulat itu.
Ayumi kembali terdiam, mereka saling pandang beberapa saat saling mencari jawaban di dalam jendela hati itu, “Apa kau mencintai Yuri?” Ayumi mengajukan pertanyaan yang sama.
“Aku meminta jawaban bukan sebuah pertanyaan."
“Kenapa aku harus menjawabmu di saat kau pun tak bisa menjawab pertanyaan yang sama.”
__ADS_1
“Iris...”
“Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi.” Ayumi menatap Erik dengan sungguh-sungguh, “Bagiku... Iris, sudah mati ketika kau meninggalkanku dulu dan memutuskan bertunangan dengan perempuan lain, sekarang yang berdiri dihadapanmu adalah Ayumi Maheswara, seorang gadis biasa yang berprofesi sebagai dokter, dan dia telah memiliki seorang kekasih seorang ahli bedah.” Ayumi bisa melihat rasa sakit pada mata tajam milik pria yang masih mengisi hatinya, tapi tidak... ia tidak boleh terpengaruh oleh sorot mata itu, ia harus bisa melupakannya dan melanjutkan hidupnya, bukankah itu yang membuat ia mengambil keputusan untuk berpacaran dengan Dr. Lee, untuk bisa melupakannya?
“Baiklah kalau itu keputusanmu... tapi bagiku kau tetaplah Iris, dewi pelangi yang mewarnai hidupku, dan disaat kau pergi, maka aku hanya akan seperti mayat hidup yang sudah tak memiliki kehidupan.” Perkataan Erik itu membuat hati Ayumi terasa diremas, ada perasaan sedih yang menggelayari hatinya.
“Erik..., aku mohon jangan seperti itu! Kenapa kau sangat egois? Bukankah kita sudah membicarakan ini? Bukankah kita sudah setuju untuk melanjutkan hidup kita masing-masing seolah-olah kita adalah dua orang yang tak saling mengenal? Demi Tuhan, kau telah bertunangan!”
“Tapi tidak dengan Soo Hyuk! Aku mohon tidak dengannya!”
“Kenapa tidak boleh denganku?” Suara berat dan tajam itu mengejutkan keduanya dan membuat mereka memalingkan wajah menatap sosok yang tengah berjalan mendekat. Wajahnya mengeras menahan amarah, matanya menatap tajam, menusuk bak seorang predator. Ayumi memucat merasakan dingin yang langsung merayap di tulang punggung hingga tengkuknya, tapi tidak dengan Erik, pria itu tak gentar dengan tatapan intimidasi itu, dia balik menatap tajam.
“Katakan, kenapa dia tidak boleh denganku?” suara dingin milik Dr. Lee kembali terdengar, “Apa kau pikir aku akan meninggalkannya sama seperti yang telah kau lakukan?”
Erik terkejut mendapati kalau pria dihadapannya telah mengetahui masalah antara dirinya dan Ayumi. Apa mungkin gadis itu telah menceritakan semuanya pada pria dengan suara berat itu? Tidak, Ayumi bukan gadis seperti itu dan untuk kali ini ia akan memercayainya.
Dr. Lee mencibir mendengar pertanyaan itu, dan sialnya ia hanya mengangkat bahu sebagai jawaban yang membuat Erik semakin dilanda penasaran.
“Itu tidak penting darimana aku mengetahui tentang sejarah kalian. Tapi sekarang jawab pertanyaanku... kenapa tidak boleh denganku?” Dr. Lee kembali bertanya dengan sedikit penekanan di dalam suaranya.
“Sebaiknya kita pergi sekarang," ucap Ayumi sambil menarik tangan Dr. Lee yang langsung saja di tepis pria itu dengan kasar sampai tangannya memerah, bahkan ia melakukannya tanpa menatap gadis itu karena matanya masih fokus menatap Erik yang terperanjat melihat Ayumi diperlakukan kasar sepert itu.
“Yaah!!! Apa yang kau lakukan?!” Erik menggeram sambil mendorong tubuh pria di hadapannya hingga terjerembab kebelakang, tak terima diperlakukan seperti itu dengan amarah yang telah membuncah ia bangkit lalu mulai menyerang Erik, yang membuat Ayumi berteriak ketakutan.
Tak ada yang mau mengalah dalam pertarungan itu, Ayumi hanya bisa berteriak, ia mencoba melerai tapi Lee Soo Hyuk mendorongnya hingga ia terjatuh, lututnya terluka karena saat ini ia menggunakan rok selutut, Erik yang melihat itu kembali murka, ia memukul dokter ahli bedah itu tanpa ampun, tapi pria itu bukan lawan yang mudah baginya. Ia juga harus merasakan beberapa pukulan fatal yang melukai dirinya.
Tak menghiraukan keselamatannya sendiri gadis itu menerjang di antara keduanya, Dr. Lee baru saja mengangkat tangannya untuk memukul Erik ketika Ayumi memeluknya erat.
__ADS_1
“Berhenti! Aku mohon berhenti!” teriaknya dengan suara bergetar karena rasa takut. Lee Soo Hyuk masih berusaha menyingkirkannya, tapi sekuat tenaga ia memeluk pria yang masih diliputi amarah itu.
Erik terdiam melihat Ayumi memeluk pria lain di hadapannya, seketika amarahnya menguap menyisakan rasa sakit yang mendera di dada. Ia berusaha mengatur napasnya yang masih memburu, kemudian meludah tapi bukan air liur yang keluar tapi darah kental berwarna merah segar, dengan punggung tangannya ia melap mulutnya dan bisa merasakan perih karena luka.
“Kau ingin tahu kenapa aku melarangnya berhubungan denganmu?” dengan napas masih terengah dan mata masih dipenuhi kabut emosi ia menatap Lee Soo Hyuk yang juga tengah berusaha mengatur napasnya.
“Itu karena... kau!” Erik menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, “Karena aku tahu siapa kau sebenarnya. Kau yang dengan mudah mencampakkan perempuan hanya karena masalah sepele, kau yang menganggap perempuan hanyalah sebuah barang yang bisa kau buang kapan saja dan menggantinya dengan yang baru, kau yang bahkan tak percaya akan arti cinta, dan kau pikir aku akan membiarkan perempuan yang aku cintai bersama pria seperti itu?”
Erik bisa melihat Ayumi terkesiap mendengar ucapannya tadi, tapi ia harus tahu kebenarannya dengan pria seperti apa ia tengah berhubungan.
“Dan kau pikir kau lebih baik dariku?” Dr. Lee mencibir mendengar ucapan Erik, “Kau bahkan meninggalkannya dan disaat ia terluka, kau bahkan bertunangan dengan perempuan lain, dan sekarang kau memintanya untuk memaafkanmu dan kembali padamu?”
Erik menatap Ayumi yang masih memegang lengan Lee Soo Hyuk, menahannya supaya ia tak bergerak, entah siapa yang berusaha ia lindungi. Apa ia melakukan itu untuk melindunginya atau untuk melindungi kekasihnya, yang jelas ia bisa melihat sorot matanya yang kini tengah merasa ketakutan teramat sangat.
“Kesalahanku telalu besar untuk bisa dimaafkan,” Erik menjawab sambil menatap Ayumi lembut, “Tapi yang jelas aku tak akan pernah menyentuh tubuhnya dan melukainya, seperti yang telah kau lakukan.”
Lee Soo Hyuk terkejut mendengarkan ucapan Erik, ia menatap perempuan di sampingnya dan seketika matanya terbelalak ketika melihat luka di lutut dan juga tangannya.
“Ayumi...” Ucap Dr. Lee dengan nada dan sorot mata menyesal.
“Inilah yang paling aku takutkan... kau tak pernah bisa mengontrol emosimu, dan percayalah disaat kau melukainya lagi.. aku tak segan-segan akan kembali menghajarmu,” ujar Erik sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
Dr. Lee tak memedulikan kepergian Erik, matanya masih mencari-cari luka lain di tubuh Ayumi yang matanya tak lepas menatap punggung Erik, hatinya terasa sakit melihat sosok pria itu berjalan perlahan meninggalkannya. Tanpa dikomando kakinya melangkah hendak mengejar pria itu ketika ia merasa seseorang mencengkram pergelangan tanganya, kini matanya beralih menatap sosok yang tengah memerhatikannya sedari tadi.
“Maafkan aku telah membuatmu terluka.” Ayumi bisa merasakan kesungguhan dan rasa penyesalan dari sorot mata itu, dan seketika hatinya kembali bimbang. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya tersenyum mencoba menenangkan pria dihadapannya.
“Kau terlihat kacau,” Ayumi meringis menatap luka di wajah tampan pria itu, baju dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini terlihat berantakan. Untuk saat ini ia perlu mengalihkan perhatian dan pikirannya dari masalah ini, “Ayo, kau perlu diobati.” Ayumi menarik pria itu pergi dari sana, untuk saat ini ia akan berperan sebagai kekasih dan dokter yang baik, tapi dalam hatinya ia juga ingin memerankan peran yang sama untuk pria yang kini entah berada dimana dengan lukanya.
__ADS_1
***