Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 8


__ADS_3

Ayumi terbangun dengan badan yang terasa segar, semalam ia baru bisa tidur jam 4 pagi dan jam 7 harus segera siap-siap pergi bekerja di cafe John, setelah diterima magang di UGD rumah sakit selain ilmu baru yang ia terima, Ayumi juga mempelajari bagaimana memanfaatkan waktu luang walaupun hanya beberapa menit untuk tidur. Perlahan ia membuka mata tapi langsung ditutup lagi karena kilau cahaya matahari menusuknya, ia mengangkat tangan untuk melindungi penglihatan dari sinar keemasan itu, matanya sudah mulai bisa beradaptasi, ia mengerjap-ngerjap mencoba mengingat di mana ia saat ini.


"Kau sudah bangun?"


Ayumi menatap arah suara berat itu, sepasang mata hitam segelap malam tengah menatapnya dengan tajam tapi ada kilat lembut di sana, awalnya ia hanya mengedip-ngedipkan mata bingung menatap wajah tampan yang mengangkat sebelah alis ke arahnya sampai akhirnya menyadari di mana ia tertidur. Secepat kilat ia duduk, matanya memandang sekeliling lalu menghembuskan napas lega karena tidak ada siapapun di taman itu.


"Untunglah kau bangun, kakiku sudah mulai kesemutan." Erik meringis ketika mengangkat kakinya.


"Kenapa aku bisa tidur di sana?" Suaranya terdengar gugup, matanya menatap bingung ke arah kaki panjang milik pria di hadapannya.


"Kau asalnya tidur di sini." Erik menepuk bahunya, "Tapi aku merasa kau kurang nyaman, jadi aku menidurkanmu di pangkuanku."


Semburat merah mewarnai pipi Ayumi yang putih, "Maafkan aku, apa aku berat?"


Untuk beberapa saat Erik hanya menatap Ayumi tak percaya dengan pertanyaan gadis itu, 'apa dia berat?' dia bertanya soal berat badannya ketika mengetahui kalau dia terbangun dalam pangkuan seorang pria asing? Erik berdehem sebelum menjawab pertanyaan itu, "Untuk ukuran perempuan sekecilmu, kau sangat berat." Erik berdiri sambil melakukan peregengan kecil untuk menghilangkan pegal-pegal badannya.


"Seharusnya aku tak makan terlalu banyak," gumam Ayumi tapi Erik masih bisa mendengarnya.


Erik berbalik menatap Ayumi yang tengah membereskan tasnya, "Apa kau sering terbangun dalam pangkuan pria?"


Pertanyaan Erik itu sukses membuat Ayumi menghentikan kegiatannya, ia membelalakan mata menatap pria yang berdiri menjulang di depannya. Ayumi masih terdiam menatap Erik yang menatapnya tajam, ia masih bingung dengan pertanyaannya itu.


"Tidak usah kau jawab, sepertinya aku sudah mengetahuinya, perempuan sekarang hanya berpura-pura naif dan polos sebagai topeng saja, seharusnya aku menyadari itu dari awal." Erik mencibir terlihat menghina Ayumi yang mukanya sudah mulai memerah menahan amarah menyadari perkataan pria yang tengah berdiri di hadapannya dengan melipat tangannya di atas dada.


Dengan marah Ayumi langsung berdiri, "Apa maksudmu?" Ia mendongak menatap Erik yang berdiri tepat di depannya, dagunya diangkat tinggi, rahangnya mengeras, tatapan matanya menusuk penuh amarah.


Erik hanya mengangkat bahunya melihat Ayumi seperti itu, "Kau tidak terlihat kaget apa lagi marah ketika bangun tidur tadi, jadi apa aku salah bertanya seperti itu?" ia berbicara santai sambil mengangkat alis matanya.


Ayumi memejamkan matanya, berusaha meredam emosi yang berkobar di dalam dirinya, "Kau pikir aku tak kaget? Apa kau tak liat aku hampir saja melompat ketika sadar aku tidur dimana?" Suaranya gemetar menahan amarah karena merasa dihina oleh pria yang bahkan belum begitu mengenal siapa dia sebenarnya.

__ADS_1


"Tapi kau tidak kelihatan marah, kau malah bertanya 'apa aku berat?'" Erik membuat tanda kutip dengan kedua tangannya sambil berjalan lalu menyandarkan badannya di pohon maple.


"Jadi maksudmu seharusnya aku berteriak atau memukulmu?" Erik mengangkat bahunya santai, "Apa kau telah berbuat yang tidak-tidak padaku?" Ayumi menatap mata Erik yang terkesiap kaget.


"Jangan sembarangan bicara! Aku tak melakukan apa-apa!" Erik menggeram marah, matanya dingin menusuk tajam Ayumi yang terbelalak melihatnya bersikap seperti itu.


Ayumi terlihat kaget dan takut untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia bisa kembali berpura-pura bersikap normal walaupun dadanya berdetak sangat kencang antara marah dan takut.


"Jadi maksudmu aku harus marah dan memukulmu padahal kau tak melakukan apa-apa padaku?"


"Bukankah perempuan memang seperti itu? Menganggap apa yang dipikirkannya selalu benar tanpa memedulikan kebenarannya."


Ayumi menarik napas panjang sebelum kembali menatap Erik yang masih menatapnya dingin, "Aku tak tahu siapa yang membuatmu berpikiran seperti itu, yang perlu kau tahu... tidak semua orang sama jadi jangan pernah menyamakanku dengan orang lain, apalagi kau bahkan tidak mengenalku sama sekali."


Ayumi membungkuk mengambil tasnya yang tergeletak di atas rumput bersiap-siap untuk pergi, ia kembali menghadap Erik yang masih menatapnya dengan dingin, "Kau tahu kenapa aku tidak marah padamu?" Ia menatap mata Erik yang kini tengah berdiri santai sambil bersandar ke batang pohon maple, "Karena aku percaya padamu," perkataan Ayumi itu membuat pria itu menaikan alisnya sedikit dan ada kilatan rasa kaget dari sorot mata tajamnya.


"Aku pikir… aku percaya kalau kau sebenarnya adalah sosok yang hangat dan baik, kau hanya menggunakan topeng dingin tak berperasaanmu itu karena kau ingin sembunyi dari semuanya." Ayumi menarik napas dalam-dalam, matanya tak lepas sedikitpun dari mata hitam yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata yang berbeda, ada kilat amarah di sana.


"Ya, kau benar." Suara Ayumi hanya berupa bisikan lirih yang membuat hati Erik sedikit bergetar karena bisa merasakan sakit yang dirasakan gadis itu dan matanya yang bulat membenarkan rasa sakit di dada gadis itu, "Aku memang bodoh karena menganggapmu pria yang baik dan hangat." Ia berkata sambil tersenyum pedih, "Hari ini kau telah membuktikannya, kalau hatimu telah membeku."


Ayumi berbalik meninggalkan Erik yang masih berdiri mematung di bawah pohon, tapi setelah beberapa langkah gadis itu berhenti lalu membalikan badannya menatap Erik untuk terakhir kalinya sambil berkata dengan suaranya yang bergetar.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa kau sering mendekati perempuan yang sedang tidur sendiri lalu membaringkannya di atas pangkuanmu?" Mata Erik terbelalak mendengar pertanyaan Ayumi yang memandangnya dengan sorot mata terluka, sedih dan marah, "Dan sekali lagi kau benar, aku memang bodoh karena telah menangisi kematian orang yang telah membuangku tapi.. bagaimanapun dia adalah orang yang telah bertarung nyawa dengan melahirkanku, dia adalah Ibu kandungku," ucap Ayumi dengan suara bergetar sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Erik yang masih diam mematung memandang punggung gadis itu yang semakin menjauh.


Ayumi berjalan dengan cepat tak memedulikan tatapan dan bisik-bisik para mahasiswa yang melihatnya, ia terus berjalan menuju fakultas kedokteran lalu masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi paling belakang dengan muka masih ditekuk.


"Hei, apa kau baik-baik saja?" Yuki yang baru saja datang heran melihat temannya duduk di belakang dengan muka cemberut.


"Tidak! aku tidak baik-baik saja." Ayumi menjawab sambil mengeluarkan buku-buku pelajarannya dari dalam tas.

__ADS_1


"Apa ada hubungannya dengan berita mengenai Ibumu?" Yuki terdengar hati-hati ketika bertanya.


"Tidak, aku sudah bisa menerima berita kematian ibuku."


"Jadi ini ada hubungannya dengan dosen seni yang tampan itu?"


Ayumi terkejut mendengar pertanyaan temannya yang kini tengah senyum menggodanya.


"Ayolah seisi kampus ini telah mengetahuinya."


"Apa maksudmu?" Ayumi kini memfokuskan dirinya menatap Yuki


"Taman belakang? Pohon maple? Tidur siang dan Dosen tampan? Apa kau ingat?"


Ayumi terbelalak mendengar perkataan Yuki.


"Ya Tuhan! Bagaimana kau tahu?" Ia berbisik sambil menarik kursinya mendekat.


"Well, Sweety, semua orang sudah mengetahuinya." Yuki mengangguk meyakinkan, mendengar itu Ayumi hanya bisa memejamkan mata lalu menunduk sambil menutup mukanya dengan kedua tangan, jadi ini alasan para mahasiswa tadi menatapnya.


Perlahan dia menegakkan badannya lalu menghembuskan napas panjang sebelum dia melihat ke sekeliling kelas, semua orang diam-diam melirik padanya lalu berbisik-bisik bahkan ada juga yang terang-terangan memerhatikannya.


"Kenapa kau tak pernah bercerita padaku kalau kau berkencan dengannya?" Yuki menatap Ayumi dengan antusias.


"Aku tak berkencan dengannya," Yuki hanya mengangkat alis matanya tak percaya dengan jawaban Ayumi, "Aku serius, aku bahkan tak begitu mengenalnya." Ayumi kini terlihat putus asa mencoba meyakinkan temannya itu.


"Dengar... kau harus menjelaskannya padaku nanti."


Ayumi terselamatkan oleh kedatangan Profesor Medison yang membuat seisi ruangan langsung terdiam dan memulai ujian hari ini. Selama pelajaran berlangsung Ayumi tidak bisa berkonsentrasi, pikirannya bercabang kepada kejadian beberapa waktu lalu di taman belakang. Pria yang menghabiskan hari libur bersama waktu itu benar-benar berbeda dengan yang ia temui di taman belakang tadi, tidak ada tatapan lembut dan senyum hangat seperti waktu itu yang ada adalah tatapan dingin yang menusuk siapapun yang dilihatnya.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya Ayumi melihat jam tangan putih yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya itu, ia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu lalu pergi ke tempat di mana semua orang tidak akan menatapnya dengan sorot menyelidik. Akhirnya mata kuliah itu berakhir dan secepat kilat gadis itu keluar dari sana tak menghiraukan suara cempreng milik Yuki memanggilnya, ia sedang tidak dalam kondisi ingin menjelaskan apapun. Tatapan serta bisik-bisik menemaninya selama perjalanan menuju gerbang keluar UBC, ia baru bisa bernapas lega setelah berhasil duduk di kursi bis menuju tempat dimana orang-orang tak akan menatap dan berbisik-bisik di belakangnya.


*****


__ADS_2