Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 42


__ADS_3

Ruangan UGD tiba-tiba terlihat sibuk setelah Ayumi yang berlumuran darah di dorong memasuki ruangan itu, beberapa dokter yang mengenali gadis itu terlihat terkejut dan langsung memberikan pertolongan pertama. Erik dan Kevin yang terlihat gemetar karena takut sesuatu hal yang buruk menimpa orang yang mereka sayangi hanya bisa berdiri dengan perasaan cemas melihat para dokter melakukan tugasnya, memasingi Ayumi dengan berbagai macam alat untuk mengecek kondisinya.


“Kau sudah menghubungi ahli bedah? Kita harus melakukan operasi secepatnya!”


“Itu, Dr. Lee sudah datang!”


Semua orang kini menatap Dr. Lee yang berlari dengan wajah cemas menuju dokter yang berkerubun memeriksa Ayumi, seketika matanya terbelalak dan wajahnya memucat melihat gadis yang membuatnya jatuh cinta dan juga telah ia sakiti, tergeletak tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.


“Tidak! Kau, jangan berani menyentuh tubuhnya, apa kau paham!” Erik berteriak sambil menarik kerah baju pria yang matanya hanya tertuju pada tubuh tak bergeming di hadapannya.


“Aku minta dokter lain! Apa di Rumah Sakit ini tidak ada lagi dokter bedah? Kalian dengar, jangan biarkan baj*ngan ini menyentuh tubuhnya!” Erik kembali berteriak membuat semua orang di ruangan itu saling pandang tak mengerti tentang apa yang terjadi.


“Dia adalah dokter bedah terbaik di sini,” ucap Dr. Choi yang berjalan terburu-buru setelah mendapat telepon dari Kevin tentang kondisi putrinya, “Jadi biarkan dia yang mengoperasi putriku.”


“Tapi dia...”


Kevin menyentuh bahu Erik, matanya tajam menatap Dr. Lee, “Kalau sesuatu terjadi padanya, aku akan membunuhmu, apa kau paham?” ucapnya dingin, kemudian dia memberi perintah kepada Erik untuk melepaskannya yang langsung menghambur ke arah Ayumi.


Dr. Lee menanyakan kondisi Ayumi kepada para dokter dan perawat yang masih belum pulih dari keterkejutan mereka dengan kejadian tadi, hingga ahli bedah itu harus berteriak membentak untuk menerima jawaban dari mereka semua. Dia tiba-tiba saja membeku ketika matanya menangkap sesuatu yang berkilauan di leher gadis itu, sebuah kalung berliontin inisial mereka berdua yang kini telah kena bercak darah.

__ADS_1


Jantungnya serasa diremas, dadanya sakit, matanya memanas ketika menyadari arti dari gadis itu mengenakan kalung pemberiannya, ia telah menantikan Ayumi mengenakan kalung itu selama ini tapi tidak dalam kondisi berdarah seperti ini, kondisi yang sedikit banyak disebabkan oleh dirinya.


“Dr. Lee... Dr. Lee!”


Ia kembali tersadar setelah salah seorang dokter memanggilnya beberapa kali, dokter itu kini memintanya untuk melihat layar monitor yang memerlihatkan hasil pemeriksaan Ayumi secara menyeluruh.


“Siapkan ruang operasi 2, kita akan melakukan operasi secepatnya.”


“Dr. Lee, hasil darahnya telah keluar.. dr. Ayumi memiliki darah AB- dan persediaan darah negitif kita terbatas.”


“Sial!” Dr. Lee memaki lalu memandang Erik, Kevin dan juga Dr. Choi yang dengan cemas menanti hasil pemeriksaan Ayumi.


“Aku keluarganya, dia adikku!”


Tak menghiraukan nada sinis Kevin, Dr. Lee kini menatap Dr. Choi, “Prof. Choi, Ayumi memiliki darah AB negatif dan dia telah kehilangan banyak darah, kita memerlukan donor darah secepatnya.”


Dr. Choi terkesiap mendengar golongan darah langka yang dimiliki putrinya, golongan darah yang hanya dimiliki oleh 1% orang di dunia ini, yang artinya stok darah golongan itu sangat langka. Walaupun masih bisa menerima donor dari type darah negatif lainnya tapi pendonor darah negatif sangatlah jarang dan satu-satunya yang memungkinkan melakukan pendonoran adalah keluarga kandungnya.


“Baiklah, aku akan menghubungi Ayahnya di Indonesia tapi sepertinya ia tidak bisa datang secepatnya... Rama! Young Jung, kau hubungi Rama, beritahu tentang kondisi Ayumi dan minta ia datang secepatnya.”

__ADS_1


Tanpa mengerti apa yang tengah terjadi secepatnya pria itu menghubungi adik Ayumi, sedangkan Erik kini tengah berjongkok di samping gadis itu sambil menggenggam tangannya erat, sampai akhirnya seorang dokter memintanya untuk menjauh karena Ayumi harus segera dipersiapkan untuk melakukan operasi.


Mereka bertiga duduk dengan cemas di depan ruang operasi, tak ada sepatah katapun yang keluar dari ketiganya, semua larut dalam doa masing-masing untuk kesembuhan orang yang mereka sayangi, sesekali mereka akan berdiri dan berjalan mundar mandir hanya untuk menyalurkan ketegangan yang dirasa. Operasinya sendiri telah berjalan selama 2 jam, masalah donor darah untuk sementara bisa diatasi dengan pendonoran darah golongan A-, tapi pihak rumah sakit tetap meminta pihak keluarga yang memiliki golongan darah sama untuk bersiap seandainya diperlukan.


Rama sambil berurai airmata berlari menuju ruang operasi, tangisnya tak bisa lagi di bendung ketika sampai di sana yang langsung di dekap Kevin yang juga sudah tak bisa menahan airmatanya, sedangkan Erik terlihat tengah berbincang dengan seseorang di telepon. Dia tengah meminta pengacaranya untuk melaporkan Yuri atas tabrak lari yang dialami Ayumi, karena dia sangat yakin kendaraan yang menabrak perempuan yang dia cintai adalah milik Yuri, mantan tunangannya.


3 jam berlalu tapi belum ada tanda-tanda operasi telah selesai, semua orang sudah terlihat sangat lelah tapi tak ada seorangpun yang mau beranjak dari ruang tunggu yang mencekam itu. Beberapa orang dokter teman residen Ayumi memberikan mereka kopi panas untuk menghangatkan badan. Mata Rama sudah membengkak karena tak berhenti menangisi kakaknya, sebelumnya secara bergantian mereka telah melakukan pengecekan darah tapi sayang darah mereka tidak ada yang cocok untuk menjadi donor Ayumi karena Rama memiliki golongan darah B positif, sedangkan Erik, Kevin dan Dr. Choi memiliki golongan darah umum yaitu O positif.


Hampir 4 jam Ayumi menjalani operasi, beberapa orang perawat beberapa kali terlihat berlari untuk mengambil persedian darah dan itu semakin membuat semuanya terpuruk dalam kecemasan. Rama yang tak berhenti menangis sedari tadi kini tertidur dalam dekapan Kevin. Sedangkan Erik terlihat sangat putus asa dan hancur ketika di depan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan bagaimana seseorang dengan sengaja melukai perempuan yang ia cintai dengan sepenuh hati hingga hampir kehilangan nyawa, dan ia berjanji dalam hati tak akan memaafkan siapapun yang melakukan itu kepada kekasihnya walaupun itu adalah mantan tunangannya sendiri.


Setelah 5 jam lebih akhirnya lampu di atas pintu ruang operasi akhirnya mati dan tak lama kemudian, Dr. Lee yang masih mengenakan pakaian operaasi lengkap keluar dari sana dan langsung di sambut semuanya dengan harap-harap cemas.


“Kami telah berhasil mengatasi pendarahan di paru-paru dan juga ginjalnya, serta melakukan pemasangan pen di dua tulang rusuknya yang patah, tapi dia masih harus melewati masa kritis selama 24 jam ini. Yang perlu kita lakukan adalah berdoa semoga dia bisa melewatinya dan melihatnya sadar. Ia akan segera dipindahkan keruang ICU.”


Dr. Lee memberikan penjelasan yang membuat keempatnya sedikit menghembuskan napas lega, kemudian dia pergi pamit meninggal mereka semua dengan langkah cepat. Ia bersyukur karena Ayumi bisa melewati operasi dengan baik walaupun sempat mengalami kritis karena darahnya turun drastis dan jantungnya sempat berhenti berdetak tapi ia berhasil mengembalikannya setelah berjuang mati-matian tanpa kenal menyerah, walaupun sebagian dari dokter yang berada di sana telah memintanya untuk menyerah, tapi tidak ia tak boleh kehilangan gadis itu atau ia akan ikut mati bersamanya.


Hatinya terasa sakit ketika kembali mengingat tubuh ringkih Ayumi yang bersimpah darah, jantungnya serasa diremas, matanya terasa panas dan ketika pintu ruangannya tertutup ia tak bisa lagi membendung tangisnya yang ia tahan dari tadi. Bagaimanapun niat awalnya ia mendekati gadis itu hanya karena permintaan adiknya untuk membuatnya terluka, tapi tak bisa dipungkiri kalau gadis bermata bulat itu telah mencuri hatinya seutuhnya, telah menempatkannya ditempat paling istimewa di dalam hatinya, ya ia telah jatuh cinta kepadanya disaat pertama melihat gadis itu memasuki gedung rumah sakit Busan.


***

__ADS_1


__ADS_2