
Bab 41
Langit sudah mulai gelap, udara dingin mulai merambati tubuh gadis mungil itu yang hanya berbalut celana pendek, kaos dan kardigan tipis. Tak terpengaruh oleh keadaan sekitar Ayumi masih duduk di sana memandang pemandangan yang telah berganti dari pemandangan matahari tenggelam menjadi kerlip lampu kota yang gemerlap tak menyadari ada seseorang yang kesepian diantara gemerlapnya
"Ayu yakin, bahkan Papah, Rama, Kevin dan juga Appa, orang-orang yang menyayangi Ayu dengan tulus akan segera melupakan Ayu setelah Ayu tiada, jadi Mamah jangan ragu lagi... Mamah jemput Ayu sekarang ya, Mah?" bisik Ayumi dengan berurai air mata.
"Apa yang kamu bicarakan?"
Suara berat milik seseorang membuat gadis itu membalikan badannya, dan disanalah pria bermata coklat dengan tinggi menjulang tengah berdiri dengan terengah-engah seperti baru saja lari menaiki bukit itu. Wajahnya terlihat kusut, matanya memandangnya dengan rasa khawatir dan itu malah membuat air mata Ayumi semakin keluar dengan deras.
Kevin berjalan mendekati Ayumi yang masih duduk dengan berurai air mata kemudian ikut bergabung bersamanya duduk di atas tanah di samping makam wanita yang telah ia anggap sebagai ibunya. Untuk beberapa saat ia hanya terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun, tangannya merangkul bahu Ayumi lalu menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya.
Tak lagi menahan tangisnya, gadis itu menumpahkan semua beban yang menghimpit dadanya di dalam pelukan pria yang selalu ada di sampingnya, memberinya bahu untuk bersadar, pelukan hangat yang menyembunyikannya dari kejamnya dunia. Entah berapa lama ia menangis dalam pelukan pria yang dengan sabar mengelus punggungnya mengirimkan kekuatan, setelah di rasa perempuan dalam dekapannya sedikit tenang ia mulai melepaskan pelukannya lalu menghapus air matanya.
"Apa yang kau bicarakan dengan Eomma?" Kevin bertanya sambil menatap Ayu dengan lembut.
"Tidak ada," jawab Ayumi singkat sambil mengalihkan pandangannya ke arah depan.
Angin malam kembali berhembus kencang, membuat gadis itu mengerutkan tubuhnya. Melihat itu Kevin membuka jaketnya lalu menyampirkannya di bahu Ayumi.
"Kenapa kau datang ke sini bukanya mencariku?"
Ayumi melirik Kevin sekilas tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Apa kau merindukan Eomma?"
Ayumi mengangguk lemah sebagai jawaban.
"Aku juga sangat merindukannya," lanjut Kevin dengan suara lirih, "Tapi sekarang dia sudah bahagia di sana, tak lagi merasa kesakitan dan aku yakin dia sekarang sedang melihat kita." Kevin menengadah menatap langit gelap yang hanya dihiasi sedikit bintang dan cahaya bulan.
"Dia pasti sedih melihatmu seperti ini karena selama sisa hidupnya dia selalu berdoa untuk kebahagianmu... Kau tidak sendiri Ayumi, kau memilikiku, Rama dan juga dua orang Ayah yang sangat mencintaimu, jadi jangan berpikiran untuk menyusul Eomma dalam waktu dekat ini, atau aku akan menyusulmu dan membawamu kembali."
__ADS_1
Ayumi terkesiap mendengar ucapan Kevin, dia menatap pria itu tak percaya.
"Kau pikir hanya kau saja yang belajar bahasa Korea? Aku juga belajar bahasa Indonesia, walaupun aku belum bisa mengucapkannya tapi aku bisa mengerti apa yang kau ucapknn, jadi Ayumi Maheswara kau tidak bisa lagi memarahiku menggunakan bahasa Indonesia," ucap Kevin dengan nada bangga yang membuat Ayumi sedikit tersenyum.
"Apa karena pria kurang ajar itu sehingga kau melarikan diri seperti ini?" Kevin bertanya dengan lembut, membuat Ayumi membuang napas panjang.
"Bukan... bukan hanya karena dia, tapi aku sudah lelah dengan semua ini... semua orang seperti tidak menginginkanku, mereka meninggalkanku dengan gampangnya, dan menganggapkan tak lebih dari sekedar permainan yang bisa mereka tinggalkan tanpa memedulikan perasaanku."
Kevin terdiam dan dia bisa merasakan rasa sakit yang di rasakan adik tirinya itu.
"Kau tahu Ayumi, seharusnya kau bersyukur saat ini karena kau mengetahui tentang kebenaran ini sekarang disaat semuanya baru saja di mulai. Tuhan begitu sangat menyayangimu sehingga dia tidak menutupi perbuatan jahat mereka terlalu lama, Dia memberi tahu secara langsung supaya kau cepat terlepas dari permainan mereka."
Ayumi tertunduk mencerna ucapan Kevin, apa memang seperti itu? Kalau memang Tuhan menyayanginya kenapa Tuhan membiarkan dia kehilangan orang-orang yang ia sayangi?
"Tapi kenapa Tuhan mengambil Eomma secepat itu? Kenapa Tuhan menjauhkanku dari orang-orang yang aku sayangi?"
"Karena Tuhan lebih menyayangi Eomma, Tuhan tak mau melihat Eomma merasakan kesakitan terlalu lama karena itulah Tuhan mengambilnya secepat itu. Tuhan tidak menjauhkan orang-orang yang kau sayangi, Tuhan hanya menjauhkan orang-orang yang tidak menyayangimu dan membuatmu terluka, karena Tuhan lebih tahu siapa yang mencintaimu dan menyanyangi dengan tulus dan Tuhan akan membiarkan mereka selalu ada bersama denganmu.,seperti aku.” Kevin tersenyum menatap Ayumi yang juga tersnyum menatapnya, “Tuhan tahu kalau hari ini kau akan terluka karena itu Dia mengirimku ke sini untuk menjaga dan menghiburmu, karena Tuhan tahu aku mencintai dan menyanyangimu dengan tulus."
"Kau mungkin benar, tapi kalau Tuhan menyayangiku kenapa Dia tidak memanggilku sekarang? Membebaskanku dari rasa kecewa dan menyatukanku dengan Ibuku di surga?"
"Karena Tuhan sangat mencintaiku, Appa, Rama dan juga Ayahmu, kalau Dia memanggilmu sekarang maka hidup kami semua akan hancur, kami akan kehilangan orang yang paling berharga, dan yang pasti Tuhan memiliki rencana yang lebih indah untukmu."
Ayumi memandang Kevin, menatap mata coklat miliknya mencari kebenaran di sana, dan kini ia yakin tentang kebenaran yang diucapkan pria itu kalau dia memiliki arti penting dalam hidupnya.
"Apa aku memiliki arti penting dalam hidup kalian?"
Kevin tersenyum, tangannya merapihkan rambut Ayumi yang berantakan, "Tentu saja, kau sangat penting untukku... untuk Appa, Rama dan juga Ayahmu, dan juga... untuk pria itu."
"Pria itu?" Ayumi bertanya bingung.
"Aah.. aku benci mengakuinya," ujar Kevin sambil mengacak-acak rambutnya, "Iya, pria itu... Erik, dia mencarimu ke seluruh Busan seperti orang gila."
__ADS_1
"Erik mencariku?" tanya Ayumi tak percaya.
"Iya, dia mengkhawatirkanmu, kau lihat bukan hanya aku yang mengkhawatirkanmu tapi juga pria itu... dan aku yakin ini dia." Kevin mengeluarkan telepon denggamnya kemudian meringis ketika tebakannya tepat.
"Dia ada bersamaku, kau tunggu di sana." Kevin menutup teleponnya kembali lalu menatap Ayumi sambil tersenyum, "Sebaiknya kita pergi sekarang, atau dia akan menghancurkan Busan untuk menemukanmu."
Ayumi tersenyum mendengar ucapan Kevin lalu menerima uluran tangan pria itu yang telah berdiri, sebelum pergi Kevin menatap makan ibunya lalu tersenyum.
"Eomma, kau tidak usah khawatir sekarang aku akan menjaga anak nakal ini supaya tidak lari lagi dan aku berjanji akan membuatnya bahagia, jadi kau jangan berani-berani menjemputnya sekarang atau aku akan sangat marah, apa kau paham, Eomma?!"
Ayumi kembali tersentuh dengan ucapan kakak tirinya itu. Ya, ternyata dia sungguh egois ketika sempat meminta ibunya untuk menjemputnya. Kevin benar dia masih memiliki orang-orang orang yang mecintainya dengan tulus seperti dirinya, Rama, Ayahnya, Dr, Choi dan juga... Erik.
Erik mencintainya? Ya tentu saja ia mengetahui hal itu. Tidak diragukan lagi seberapa besar pria bermata tajam itu mencintanya walaupun kadang sifatnya yang terkesan egois dan mengakibatkan berakhirnya hubungan mereka, tapi ia tak pernah meragukan cinta pria itu, begitu pula dengan rasa cintanya walaupun sempat terbesit dalam pikirannya untuk mulai mencintai pria lain tapi ia yakin cintanya tak akan sebesar mencintai Erik.
Kevin menghentikan kendaraannya di pinggir jalan apartemen Ayumi, dia menatap ke seberang depan dimana mobil Erik telah terparkir di sana dan dia bisa melihat pria itu langsung turun dari kendaraannya setelah melihat kendaraan Kevin menepi tak jauh darinya.
"Ckk.. kau lihat itu?" Ayumi ikut melihat ke depan seketika dadanya berdetak kencang seperti biasanya ketika dia melihat sosok pria bermata tajam itu.
"Sekarang aku yakin kalau dia benar-benar mencintaimu, aku bisa dengan tenang memercayakanmu padanya." Kevin menatap Ayumi dengan lembut, "Mungkin ini jalan dari Tuhan untuk menyatukan kalian berdua, jadi jangan buang-buang kesempatan ini pergilah kepadanya."
Ayumi tersenyum yang dibalas Kevin dengan sebuah senyuman sambil menganggukkan kepala seolah ia memberikan ijin adiknya itu untuk pergi menuju pria yang ia cintai yang membuat gadis itu menatapnya lembut.
"Kau tahu? Seandainya kau bukan Kakak tiriku, aku mungkin sudah jatuh cinta kepadamu.. terima kasih karena kau selalu ada untukku, Oppa."
Kevin membelalakan matanya bahagia ketika mendengar gadis itu memanggilnya 'Oppa', tak bisa berkata-kata ia kembali menganggukan kepalanya mantap. Dan akhirnya dengan yakin dan senyum mengembang Ayumi keluar lalu berjalan perlahan menuju Erik yang menatapnya dengan sorot mata rindu dan juga cinta.
Erik bisa bernapas lega setelah melihat gadis yang ia cintai berjalan ke arahnya dengan keadaan baik-baik saja, ia sempat berpikiran buruk kalau gadis itu akan melakukan hal nekad yang akan membuatnya menyesal seumur hidup, tapi untung saja Ayumi bukan perempuan berpikiran sempit yang akan melakukan tindakan yang tidak-tidak. Erik tersenyum lembut ketika melihat Ayumi semakin mendekat, dia baru saja akan menyebrang jalanan sepi itu ketika tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan kecepatan penuh.
"AYUMI!!!" Erik berteriak, ia mulai berlari untuk menyelamatkan gadis itu tapi semua terlambat ketika kendaraan itu menghantam tubuh mungil Ayumi hingga terhempas mengenai jendela depan dan akhirnya ambruk tak bergerak di tengah jalan dengan bersimpuh darah.
"Tidak.. tidak.. tidak! Iris, aku mohon bangunlah!"
__ADS_1
*****