Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 15


__ADS_3

Pagi itu kota Vancauver diselimuti salju tebal membuat semua orang malas untuk beranjak dari tempat peraduannya, seperti halnya yang dilakukan Ayumi, jam telah menunjukan pukul sembilan pagi dan gadis itu masih berbaring di bawah selimut tebalnya. Ia baru pulang ke apartemnya pukul empat, hari ini merupakan hari liburnya di cafe sedangkan kuliah sudah mulai memasuki libur natal dan tahun baru.


Keinginannya untuk memanjakan diri dengan tidur seharian harus pupus karena ketukan di pintu apartemenya, ia mencoba tak menghiraukan ketukan yang semakin kencang itu dengan menutup kepala menggunakan selimut dan bantal sampai akhirnya ia menyerah, dengan malas dan mulut melontarkan segala macam omelan akhirnya ia membuka pintu yang sepertinya sebentar lagi akan berlubang karena ketukan yang tak henti-hentinya itu.


Dan disanalah pria itu berdiri menjulang berbalut jaket tebal warna kuning dan hitam dengan logo dari merk terkenal di dada kirinya, membuat model yang mengiklankan jaket musim dingin itu akan merasa malu ketika harus bersanding dengan Erik yang terlihat luar biasa, rambutnya tertata rapi seperti biasa, dengan senyum miring khas menghiasi bibir merahnya menjadikan ia seperti malaikat kematian yang diturunkan ke bumi untuk membuat jantung para wanita berhenti berdetak karena menatapnya.


"Morning, Iris," ucapnya sambil tersenyum memerhatikan Ayumi yang tengah menatapnya dengan mata yang masih setengah mengantuk dan rambut berantakan lengkap dengan piyama Mini Mouse warna merah membuat gadis itu terlihat sangat menggemaskan.


Ayumi memutar bola matanya ketika mendengar nama panggilan yang disematkan Erik untuknya, setelah mengetahui Kevin memanggil Ayumi dengan 'Angel', ia tak mau kalah dengan memanggilnya dengan sebutan 'Iris' yang ia ambil dari salah satu nama Dewi Yunani (Dewi Pelangi) dan melarang Kevin memanggil Ayumi dengan nama panggilannya yang tentu saja tak dihiraukan oleh pria itu.


"Erik, kau telah membangunkanku dari waktu hibernasiku yang hanya satu hari ini," ucap Ayumi sambil berjalan ke arah sofa lalu memeluk boneka minionnya kemudian tidur menggelung seperti anak kucing di atas sofa, melihat itu Erik hanya tersenyum sambil meletakkan kantung plastik yang ia bawa di atas meja.


"Maafkan aku." Erik berjongkok di hadapan Ayumi sambil mengelus-elus rambut hitam milik gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Tapi sekarang kau harus bangun, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Erik, tangannya masih mengelus rambutmya yang membuat Ayumi semakin merasa nyaman, "Iris.. ayo cepat bangun!" Perintah Erik kali ini sambil mendorong badan Ayumi untuk duduk, yang langsung saja mendapat protes dari gadis itu.


"Ya Tuhan, tidak bisakah kalian membiarkanku tidur?!" Rengek Ayumi sambil merebahkan kepalanya di bahu Erik yang telah duduk disampingnya.


"Kalian?" Erik bertanya yang hanya dijawab Ayumi dengan gumaman.


"Iya, Kevin menghubungiku dari tadi dan dia berhenti menggangguku setelah aku berjanji akan memberikannya suntikan Euthanasia (suntik mati) kalau masih mengganggu tidurku."


Erik tertawa mendengar perkataan Ayumi, "Iris, sebaiknya kau jangan ragu-ragu untuk memberikannya suntikan itu. Tenang saja aku akan menjadi alibi untukmu."


Ayumi terseyum sambil menyurukan kepalanya di bahu Erik. Wangi parfum pria di sampingnya seperti memiliki zat adicted yang membuat kecanduan, ia sangat menyukai wanginya yang khas pria membuat saraf-saraf tubuhnya merasa tenang dan nyaman, ia hampir saja kembali terlelap ketika Erik kembali membangunkannya.


"Iris, maafkan aku tapi sebaiknya kau bangun. Kau boleh kembali tidur dalam perjalanan kita nanti ok?"


Dengan malas akhirnya ia kembali duduk tegak sambil memeluk boneka kesayangannya tapi hanya bertahan berapa detik sebelum akhirnya ia kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Dalam hati Erik merasa kasian melihat kekasihnya yang terlihat begitu lelah karena kurangnya tidur akibat magang di UGD rumah sakit terbesar di Vancouver. Tapi ia tidak mau melewatkan begitu saja waktu kosong yang jarang sekali mereka miliki, setelah sebelumnya Kevin berhasil 'menculik' kekasihnya pada liburan minggu lalu, maka sekarang ia tak akan membuat hal itu terjadi lagi.


"Sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Ayumi lemah dengan mata masih terpejam.


"Kau akan menyukainya, aku janji," ucap Erik sambil tersenyum, tangannya mengeluarkan dua tempat makan plastik yang tadi ia bawa, setelah membuka tutup tempat makan itu seketika wangi khas makanan favorit Ayumi langsung menyeruak menggoda hidung mancung gadis itu yang langsung saja duduk tegak dengan mata terbuka lebar.

__ADS_1


"Kau.. bagaimana kau tahu?" Tanya Ayumi dengan semangat sambil menatap nasi goreng seafood yang menjadi favoritnya.


"Well, tadi aku sengaja ke tempat David untuk membeli sarapan buat kita dan dia bilang kalau kau sangat menyukai nasi goreng seafood."


Ayumi mengangguk dengan mata berbinar menatap Erik yang kini tersenyum lebar karena berhasil membuat kekasihnya terjaga dengan sempurna. Mata Ayumi semakin berbinar ketika Erik menyodorkan satu porsi makanan khas Indonesia itu kehadapannya, tapi ketika ia akan mengambil tempat makan itu Erik menarik kembali sambil mengacungkan jari telunjuknya di hadapan muka Ayumi.


"Kau boleh memakannya, tapi dengan satu syarat," ujar Erik membuat Ayumi membuang napas berat tak sabar.


"Baiklah, apa itu?" Ayumi berpangku tangan tanda akan menyerah membuat Erik tersenyum penuh kemenangan.


"Kau boleh memakannya, tapi setelah itu kau akan ikut pergi seharian ini bersamaku. Setuju?"


Ayumi terdiam beberapa saat sambil menatap pria yang tengah tersenyum sambil menaikan sebelah alis matanya, yang akhirnya membuat gadis itu menerima kekalahannya. Untuk saat ini senyuman Erik dan nasi goreng seafood lebih menggodanya daripada tidur.


"Baiklah, kau menang. Sekarang berikan aku nasi goreng itu!"


***


"Dengar! Kau bilang aku akan menyukainya. Aku – tidak - menyukainya!" Teriak Ayumi putus asa, dia berusaha berdiri tapi kesulitan karena kakinya terikat dengan papan ski. Saat ini mereka tengah berada di Cypress Mountain, salah satu tempat ski di Vancouver dimana Olimpiade ski biasa diadakan setiap musim dingin.


Melihat Ayumi yang terlihat kesulitan bangun, akhirnya untuk kesekian kalinya Erik membantu gadis itu untuk kembali berdiri di atas papannya, masih dengan memegang tangan Ayumi, ia berusaha membuat kekasihnya itu berdiri tegak dan seimbang.


"Kau sangat jenius dalam pelajaran, tetapi kenapa tidak dalam hal olah raga," ucap Erik sambil menatap Ayumi putus asa, selama hampir satu jam setengah ini ia telah berusaha mengajarkan gadis itu bermain ski tapi selalu berakhir dengan jatuhnya gadis dalam berbagai macam gaya.


"Aku tidak hadir ketika Tuhan membagikan kemampuan olah raga," jawab Ayumi asal yang mau tak mau membuat Erik tersenyum.


"Hei.. Tuhan Maha Adil, ia memberikan kepintaran dalam hal belajar kepadaku dan memberikan kepintaran olah raga kepada orang lain.. Bukankah tidak adil kalau aku mengambil semua kepintaran itu." Ayumi menatap Erik dengan mata bulatnya sambil tersenyum manis dan menaikan alis mata yang membuat pria itu mencubit pipi mulus kekasihnya.


"Tapi Tuhan memberikan itu semua kepadaku. Oh iya jangan lupa! Tuhan juga memberikan ketampanan kepadaku."


Ayumi tertawa mendengar ucapan Erik yang terdengar sangat percaya diri. Mau tak mau, ia mengakui hal itu, kekasihnya itu selain tampan juga jenius dalam bidang seni lukis dan ia pandai bermain ski.


"Oh hentikan itu, tapi kau tidak bisa bermain gitar," ujar Ayumi sambil memakai kembali kacamatanya siap-siap untuk meluncur.

__ADS_1


"Ckkk.. apa hebatnya bisa main gitar dan bernyanyi." Erik berkata dengan malas karena ia mengetahui Kevin sangat lihai bermain gitar dan bernyanyi dengan suara merdu. Ayumi tertawa mendengar ucapan itu, tak mau memperpanjang perbincangan yang pasti akan membuat kekasihnya uring-uringan, Ayumi akhirnya memutuskan untuk mulai meluncur.


"Kalau aku masih jatuh, ini adalah permainan ski pertama dan terakhirku, Erik, apa kau paham? Lain kali kalau kau mengajakku ke sini lagi, aku lebih baik membuat boneka salju saja sambil menunggumu main ski."


Erik hanya bisa tertawa mendengar ucapan Ayumi. Ia memberi pengarahan kepadanya dan gadis itu pun meluncur menuruni bukit. Setelah beberapa meter Ayumi akhirnya berteriak bahagia karena berhasil meluncur tanpa terjatuh, ia terus meluncur ke bawah. Melihat itu Erik ikut tertawa bahagia sambil berteriak memberikan semangat.


Area itu semakin melandai yang membuat Ayumi semakin cepat meluncur ke bawah, membuatnya kehilangan kendali, kepalanya tiba-tiba jadi kosong melupakan semua intruksi Erik mengenai cara mengendalikan dan menghentikan papan ski, semua intruksi itu seolah-olah menghilang terbawa angin yang menyapu mukanya dengan sangat kencang, ia semakin panik ketika merasakan lintasannya cemakin curam yang membuat lajunya bertambah.


"ERIIIK... INI TAK MAU BERHENTI! YA TUHAN... ERIK, TOLONG AKU!!!" Ayumi berteriak dengan cemas karena tidak bisa menghentikan papan skinya. Mendengar teriakan kekasihnya membuat Erik mengumpat dan cepat-cepat meluncur dengan keahlian seorang profesional ia berusaha mengejar Ayumi.


"AAAAAAA...!!!" Ayumi berteriak kencang ketika papan skinya terus melucur lurus menuju pagar pembatas lintasan.


"Sial!" Umpat Erik setelah melihat kemana arah papan milik Ayumi, ia semakin menaikan kecepatan laju papannya sampai akhirnya ia berhasil berada di samping kekasihnya, secepat kilat ia menangkap tubuh ramping gadis itu hingga mereka berdua terjatuh dan berguling-guling di atas salju beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.


"Iris! Katakan sesuatu, apa kau terluka?" Tanya Erik sambil membungkuk di atas tubuh Ayumi yang masih terdiam tak bergerak.


"Demi Tuhan, Iris, katakan sesuatu!" Erik mengguncang tubuh Ayumi berharap gadis itu merespon ucapannya.


"Erik... aku bersumpah akan membunuhmu kalau kau mengajakku bermain papan sialan ini lagi. Apa kau paham?!"


Erik terdiam beberapa saat mencoba mencerna ucapan Ayumi yang terlihat sangat serius, sampai akhirnya ia tertawa karena merasa lega kekasihnya sudah bisa memarahinya lagi yang pertanda kalau ia baik-baik saja, Erik kini berbaring di samping gadis itu.


"Ya Tuhan, kau membuatku sangat takut, Iris."


"Oh percayalah, aku jauh lebih takut."


Untuk sesaat mereka hanya terdiam dalam posisi masih berbaring di atas hamparan salju, berusaha menenangkan debaran jantung yang tadi sempat meningkat, sampai akhirnya terdengar suara tawa Ayumi yang awalnya pelan menjadi lebih keras setelah mendengar Erik ikut bergabung tertawa dengannya.


"Tadi itu sangat… gila," ucap Ayumi diantara tawanya.


"Benar-benar gila." Erik menyetujui ucapan kekasihnya, mereka kembali tertawa di antara hembusan angin musim dingin yang entah mengapa tak lagi sedingin biasanya karena kehangatan di dalam hati keduanya yang tengah mereka rasakan sudah cukup untuk melawan kebekuan disekeliling mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2