Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 13


__ADS_3

"Apa tidak terlalu cepat?" Kevin bertanya dengan mata lurus menatap lautan di hadapannya.


"Apa maksudmu?" Ayumi balik bertanya, ia duduk di sisi pria yang akhir-akhir ini telah menjadi sahabat dekatnya, saat ini mereka tengah duduk di pinggir pantai, menikmati suara deru ombak dan desiran angin musim dingin.


"Pria itu," ucap Kevin singkat yang langsung dipahami oleh Ayumi. Gadis itu terdiam beberapa saat menatap deburan ombak yang berkejaran di hadapannya, seolah mereka bisa memberi jawaban yang ia cari.


"Entahlah," ucapnya pelan, hanya itu yang keluar dari mulut Ayumi yang kini menghembuskan napas pelan mencoba meyakini hatinya sendiri.


"Berapa lama kau telah mengenalnya?" Kevin menatap Ayumi yang masih menatap lautan, mengawasi burung camar yang terbang rendah mencari makan.


"Apa kau tahu tentang keluarganya? Apa makanan favoritnya? Hobinya? Ckk kau bahkan belum tahu tanggal ulang tahunnya," ucap Kevin dengan mata tajam memandang gadis berambut hitam yang kini diam mematung.


"Aku tak tahu, Kevin, aku tak tahu!" Seru Ayumi dengan putus asa, ada kerapuhan dalam sorot mata gadis itu yang membuat hati Kevin merasa iba, "Aku tak tahu.." kembali Ayumi berucap dengan lirih, "Jujur saja, kadang aku masih bertanya, apa aku yakin? Tapi... hati tak bisa dibohongi. Setiap aku bersama dengannya aku merasa nyaman, seolah-olah aku telah menemukan pecahan puzzle di dalam hatiku yang selama ini hilang."


"Apa kau tak merasa nyaman bersamaku?"


"Tidak, bukan begitu maksudku, tentu saja aku merasa nyaman denganmu hanya saja kenyamanan yang dirasa berbeda." Ayumi memandang Kevin mencoba menjelaskan tentang perasaannya, "Setiap aku bersamamu, aku seperti bersama dengan keluargaku, dengan seorang Kakak yang tak pernah aku miliki, seperti pulang ke rumah di saat lelah, kau selalu ada untuk memberiku semangat, kau seperti sebuah rumah yang melindungiku. Tapi dengan Erik berbeda... seperti ada yang berbeda di sini." Ayumi menyentuh dadanya dengan sorot mata berbinar, yang membuat Kevin mendengus lalu kembali menatap lautan.


"Dulu aku pasti akan menertawakan orang yang mengatakan kalau jatuh cinta itu tidak perlu alasan, tapi sekarang aku merasakannya sendiri, Kevin, aku tak tahu kenapa yang pasti aku merasakannya."


"Jadi kau mencintainya?" Kevin kembali bertanya, Ayumi terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia menatap Kevin dengan keyakinan penuh.


"Iya aku mencintainya."


"Ini gila! Tidak masuk akal," ujar Kevin yang kini berdiri menjulang di depan Ayumi yang masih duduk beralas pasir pantai, "Kau baru mengenalnya tak lama sebelum kau mengenalku. Apa yang kau tahu tentang dia? Selain dia seorang dosen? Tidak ada, Ayumi!"


"Aku tahu! Kau tak perlu mengingatkanku tentang itu, Kevin. Aku tak pernah merencanakan untuk jatuh cinta kepada seseorang dalam waktu sesingkat ini, tapi semua datang dengan tiba-tiba tanpa aku sendiri sadari." Ayumi menarik napas panjang sebelum melanjutkan kembali ucapannya, ia melihat pria berkulit putih dan berambut coklat itu kembali duduk di sebelahnya dengan menekukan kedua kakinya yang panjang.


"Kau tahu, cinta tak tergantung dengan waktu berapa lama mereka kenal. Orang yang telah lama saling kenal belum tentu akan saling jatuh cinta, tapi orang yang saling jatuh cinta maka seiring waktu mereka akan saling mengenal."


"Kau terlalu banyak membaca novel percintaan."


Ayumi tersenyum mendengar perkataan Kevin, "Mungkin dulu aku akan menertawakan mereka yang berkata seperti itu, sama sepertimu. Tapi sekarang, aku mengalami dan merasakan sendiri."

__ADS_1


Mereka terdiam beberapa saat yang terdengar hanya deburan ombak dan hembusan angin musim dingin membuat keduanya merapatkan jaket tebalnya. Kevin berdiri lalu menjulurkan tangannya untuk membantu Ayumi berdiri, mereka kini berjalan menyusuri pinggir pantai.


"Aku hanya tak mau kau terluka, Angel," ucap Kevin memanggil Ayumi dengan panggilan kesayangan yang biasa ia gunakan ketika memanggil gadis itu, "Aku tahu bagaimana dulu kau begitu terluka dan mati-matian menghindari pria itu. Tapi hanya dalam satu malam semua berubah, sekarang Erik sudah seperti bayanganmu. Sebenarnya apa yang terjadi malam itu, Angel?"


Ayumi terdiam memikirkan kejadian malam satu minggu ke belakang ketika ia pingsan dalam pelukan Erik, dan ketika ia sadar pria itu mengungkapkan perasaannya, ada rasa bahagia dalam hatinya ketika mendengar pengakuan dari pria yang telah tanpa sadar mencuri hatinya, tapi ada rasa sedih karena ia dengan begitu gampangnya menyerahkan hati dan perasaannya kepada pria yang belum ia kenal dengan baik.


Seminggu ini Erik telah berperan sebagai kekasih yang baik, ia akan selalu berada di samping Ayumi seperti yang Kevin katakana, Erik telah menjadi bayangannya. Pagi-pagi ia akan menjemput Ayumi dan mengantarkannya ke cafe, sorenya ia akan menunggu gadis itu di kampus, lalu mereka makan malam bersama sebelum akhirnya Ayumi pergi untuk magang di rumah sakit.


Erik bahkan tidak memedulikan orang-orang di kampus yang memandangnya ketika ia tengah menunggu Ayumi, semua sudah mengetahui hubungan antara dosen yang mempunyai julukan patung es dengan seorang mahasiswi kedokteran yang jenius.


"Angel, kau mendengarkanku?" Ucapan Kevin itu sukses membuat Ayumi tersadar dari lamunannya, sekarang mereka tengah melintasi Stanley Park menuju halte bis.


"Maafkan aku, iya tentu saja aku mendengarkanmu."


"Apa yang terjadi sebenarnya malam itu sampai kau pingsan?"


Ayumi menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Kevin yang berjalan di sampingnya, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk.


"Kau... apa?" Tanya Kevin yang kini diam mematung menatap Ayumi yang terlihat bingung melihat reaksi Kevin yang terlihat begitu terkejut mendengarnya.


"Aku bertemu dengan suami Ibuku," ucap Ayumi sambil kembali berjalan menyusuri trotoar jalanan Vancouver yang ramai sore itu, semua orang berjalan dengan cepat berlindung di bawah jaket-jaket tebal musim dingin atau coat yang melindungi tubuh mereka.


"Apa yang dia katakan?"


"Tidak banyak, ia hanya ingin bertemu denganku." Ayumi kembali terdiam, raut wajahnya berubah dan itu tidak lepas dari pengawasan Kevin.


"Apa dia membicarakan Ibumu?" Ayumi mengangguk sebagai jawaban, kini mereka tengah duduk di kursi halte menunggu bis kota.


"Kau tahu, pria itu... maksudku suami Ibuku bilang, dia baru mengetahui tentang aku beberapa hari sebelum Ibuku meninggal, dia bilang dia sangat menyesal terlambat mengetahui tentangku, seandainya ia mengetahui dari awal ia berkata akan mencariku dan kami bisa hidup bersama-sama. Tapi semua sudah terlambatkan?"


Kevin hanya terdiam mendengar pertanyaan Ayumi, karena ia tahu gadis itu tidak memerlukan sebuah jawaban atas pertanyaannya itu.


"Kau tahu, aku bahkan mempunyai seorang Kakak, tentu saja bukan Kakak kandung tapi ia anak dari pria itu. Dia bilang Ibuku sangat baik, dia merawat anak pria itu seperti anaknya sendiri, dia sangat menyanyangi 'Kakakku' ini." Ayumi tertawa hambar ketika menyebut tentang kakak lengkap dengan tanda kutip yang ia buat dengan jarinya.

__ADS_1


"Ironis bukan? Ketika ia membuang darah dagingnya sendiri, ia malah membesarkan anak orang lain yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan penuh kasih sayang."


Ayumi kembali mendengus ketika membayangkan bagaimana Ibunya membesarkan orang lain dengan kasih sayang, ia menengadahkan kepala sambil menarik napas panjang, matanya menatap langit senja kota Vancouver yang mulai menggelap. Kevin masih terdiam mendengarkan cerita Ayumi, ia menatap gadis di hadapannya yang selama ini berpura-pura tegar padahal ia tahu serapuh apa gadis itu.


"Dia mengajakku ke Korea."


"Apa?"


"Pria itu mengajakku ke Korea, dia bilang Ibuku di makamkan di suatu tempat di Kota Busan. Dia memintaku untuk mengunjungi Ibuku." Suara Ayumi terdengar lirih, kepalanya menunduk menatap kakinya yang tengah mengetuk-ngetuk trotoar.


"Apa kau akan pergi?" Kevin bertanya dengan hati-hati sambil menatap Ayumi yang kini balik menatapnya sebelum akhirnya kembali tertunduk lalu menggelengkan kepala lemah.


"Entahlah, aku... aku belum memikirkannya," jawab Ayumi lemah, kesunyian menghinggapi mereka berdua di antara kebisingan suara kendaran yang memadati kota terpadat di Kanada itu.


"Kau tahu." Ayumi memecah keheningan setelah beberapa saat hanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing, "Ibuku... maksudku suami Ibuku bilang kalau Ibuku sangat menyesal karena menyembunyikan tentangku dari dia." Ayumi menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya dan Kevin bisa melihat sorot mata terluka dari mata bulat sekelam malam itu.


"Yang Ibuku sesali adalah ia menyembunyikan tentangku dari suaminya, bukan karena ia telah membuangku!" Ayumi menatap Kevin dengan berapi-api, ia bisa mendengar getaran suara gadis itu yang marah karena sedih dan terluka, "Dia memerlukan beberapa waktu untuk mencari keberadaanku, karena Ibuku hanya mengatakan kepadanya kalau Ia telah meninggalkanku di salah satu panti asuhan di Osaka... sebuah panti asuhan, Kevin!" Lanjut Ayumi seolah-olah mau menegaskan kalau ia telah di buang di panti asuhan.


Kevin hanya terdiam berusaha menjadi pendengar yang baik, karena untuk saat ini gadis itu hanya memerlukan tempat untuk menumpahkan seluruh amarah dan unek-uneknya.


"Aku bahkan baru mengetahuinya kalau aku ditinggalkan di panti asuhan." Ayumi menatap Kevin dengan pandangan getir walaupun bibirnya berusaha tersenyum.


"Setelah ia menemukan panti asuhan itu, ia baru mengetahui kalau aku telah dibawa Ayahku ke Indonesia, dari sana Ia kehilangan jejakku sampai akhirnya takdir berkata lain ketika satu bulan yang lalu Ia ikut konfrensi di Vancouver dan bertemu dengan teman Ibuku yang mengetahui tentang keberadaanku."


Ayumi mengingat pria yang menjadi suami almarhum Ibu kandungnya itu terlihat begitu gembira ketika bertemu dengannya, seolah-olah ia telah bertemu dengan anaknya yang telah lama hilang. Sungguh ironis memang itu terjadi ketika Ibunya sendiri tidak pernah sekalipun mencari dirinya.


"Dia berkata kalau dia akan menjaga dan memenuhi semua kebutuhanku karena aku adalah putri Ibuku yang telah merawat dan menyayangi putranya. Aku tak memerlukan itu semua saat ini, Kevin, disaat Ibuku sendiri telah tiada dan tak pernah mengakui keberadaanku," ucap Ayumi dengan suara pelan lalu kembali terdiam, ia kemudian berdiri, kepalanya menengadah ke atas, perlahan tangan kanannya terulur untuk merasakan salju yang mulai turun dengan perlahan mengirimkan sensasi dingin dan lembut yang dengan ajaib sedikit mengobati kesedihan yang tengah ia rasakan.


Kevin masih terdiam memerhatikan Ayumi yang kini tengah tersenyum menatap butiran-butiran putih yang berjatuhan dari langit, perlahan ia ikut berdiri di samping gadis itu menatap jalanan yang mulai memutih, larut dalam perasaannya, mencoba menyelami perasaan gadis di sampingnya.


Perjalanan menuju apartemen Ayumi dilalui dalam diam, hanya suara merdu dari Yonghwa CNBlue yang keluar dari earphone milik gadis itu yang menemani keduanya, Ayumi dan Kevin berbagi lagu yang menjadi soundtrack salah satu drama Korea Heartstring yang seolah-olah mewakili semua perasaan terpendam gadis itu terhadap ibunya selama ini.


***

__ADS_1


__ADS_2