
Matahari bersinar terik menembus jendela rumah sakit dimana Ayumi dirawat, ia berdiri di depan jendela, di sebelahnya berdiri tiang penyangga inpus yang selangnya masih menempel di tangan kiri, mata hitamnya menatap kejauhan terlihat kosong, pikirannya berkelana.
Tidak ada yang tahu apa yang ada dipikiran gadis itu, selama ini ia selalu terlihat biasa saja di depan semuanya, dia tertawa dan mengatakan kalau dia baik-baik saja. Tapi tidak, dia tidak baik-baik saja, bagaimana mungkin dia baik-baik saja setelah semua yang terjadi.
"Apa yang sedang kau lakukan di sana? Kau harus banyak istirahat."
Ayumi tersentak kembali dari lamunannya lalu membalikan badan menghadap si pemilik suara berat yang kini tengah berdiri di depan pintu, tubuh tinggi tegapnya berbalut kemeja kotak-kotak merah hitam berlengan panjang yang digulung sampai sikut, terlihat pas dengan celana hitamnya.
Ayumi tersenyum melihat pria yang selama ia dirawat tak pernah meninggalkannya walau hanya sedetik, dan hari ini ia memaksa pria itu untuk pulang dan beristirahat, tapi lihat... pria itu sepertinya hanya mandi dan berganti pakaian saja.
"Kenapa kau tidak beristirahat saja di rumah?" Tanya Ayumi sambil menatap pria bermata tajam itu lembut.
Erik berjalan dengan perlahan mendekati sosok perempuan yang sangat ia cintai, senyum mengembang tatkala mata tajamnya menatap mata bulat milik gadis itu, tangannya tanpa dikomando terangkat untuk memeluk tubuh mungilnya, tapi sesuatu di dalam hatinya mengingatkan tentang status mereka yang sebenarnya.
Erik langsung mengepalkan kedua tangannya dan memasukannya ke dalam saku celana untuk menahan keinginannya memeluk gadis itu. Hatinya terasa perih mengingat sosok yang selama ini ia rindukan ada dihadapannya tapi sebuah tembok yang lebih tinggi dan lebih besar menghalangi mereka untuk saling mencinta.
"Karena aku sangat merindukanmu," jawab Erik sambil tersenyum, mata tajamnya kini menarap Ayumi sedih.
Erik tersentak, matanya terbelalak, tubuhnya diam mematung, dadanya berdetak hebat ketika tiba-tiba tanpa peringatan terlebih dahulu gadis itu memeluknya erat, kepalanya disurukan ke dada bidangnya hingga hidungnya bisa mencium bau khas Ayumi yang selalu ia rindukan.
“Apa kau tidak ingin memelukku?” tanya Ayumi dengan suara teredam di balik dadanya.
__ADS_1
Erik memejamkan matanya erat-erat, demi Tuhan dia sangat ingin memeluk gadis itu tapi dia takut... takut tak bisa melepaskannya, seandainya bisa dan diperbolehkan ia akan memeluk gadis itu seumur hidupnya, tapi cinta mereka terlarang. Bukan hanya orangtua yang melarang bahkan Tuhan-pun akan murka seandainya mereka nekad memertahankannya.
Perlahan Erik mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu mulai melingkarkannya ditubuh Ayumi yang semakin erat memeluknya, kepalanya ia surukan di rambut panjang gadis itu untuk menghirup wanginya yang mengisi setiap tempat di dalam paru-parunya dan menyimpanya di dalam jiwa terdalam.
“Aku bohong kalau tidak ingin memelukmu,” ucap Erik sambil kembali menghirup wangi tubuh gadis itu.
“Jadi, kenapa kau tidak memelukku kalau kau ingin melakukannya.”
‘Karena aku tak bisa,’ Erik menjawab dalam hati, dia kembali memejamkan matanya sebelum berkata, “Karena aku tak ingin kau terluka, bukankah kau baru saja menjalani operasi?” yang dijawab Ayumi dengan anggukan lemah.
Ruangan itu kembali hening, keduanya seolah tak ingin merusak kebersamaan saat itu dengan percakapan-percakapan yang tak berarti, biarkan mereka menikmati kebersamaan dalam keheningan yang lebih bermakna.
Sampai akhirnya Erik menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Ayumi menjauh, matanya kembali menatap mata hitam bulat milik gadis itu, “Sebaiknya kau kembali ke tempat tidur dan beristirahat.” Erik memecah keheningan yang ditanggapi Ayumi dengan cemberut.
Erik tersenyum mendengar ocehan Ayumi seperti anak kecil yang merajuk sambil berjalan ke arah tempat tidur.
“Kalau kau sudah sembuh, kau boleh pergi kemanapun yang kau inginkan” Erik menyelimuti kaki Ayumi yang kini sudah kembali duduk di atas tempat tidur.
“Kau benar,” Ayumi tersenyum sambil menatap Erik lembut, “Kalau aku sudah sembuh aku ingin kita berdua.. hanya kita berdua pergi ketempat-tempat cantik, kau akan merekam setiap perjalanan kita dengan kameramu dan aku yang akan menjadi objek fotomu, aku akan berusaha terlihat sangat cantik di depan kameramu sehingga kau tak akan mencari objek cantik lainnya dan hanya memfokuskan lensa kameramu kepadaku saja.”
Erik terdiam mendengar ucapan Ayumi, tangannya menggenggam selimut dengan lebih kencang, ia harus mengatur emosinya terlebih dahulu sebelum ia menatap gadis itu lalu tersenyum.
__ADS_1
“Tenang saja, aku tak akan mengarahkan lensa kameraku kepada wanita lain selain kepadamu.”
Ayumi mengangguk sambil tersenyum puas mendengar ucapan Erik, Ayumi baru saja membuka mulutnya ketika pintu kamar rawatnya di ketuk lalu ayahnya masuk yang langsung membuat mata gadis itu berbinar dan senyum lebar terbit di bibirnya tapi senyum itu langsung hilang ketika melihat seseorang di belakang ayahnya, bukan hanya Ayumi tapi Erik juga ikut membelalak melihat sosok yang sangat ia kenal kini berdiri di hadapan mereka.
Keheningan tiba-tiba menyelimuti ruangan itu, semua orang terlihat tak merasa nyaman dengan kodisi saat ini, Ayumi menatap sosok pria paruh baya di hadapannya dengan pandangan penuh misteri.
“Bagaimana keadaanmu hari ini, Yu?” Radit Maheswara memecah keheningan yang membuat Ayumi mengalihkan pandangannya ke arah ayahnya dan seketika sorot matanya berubah menjadi lembut.
“Sudah lebih baik, Pah,” jawabnya sambil tersenyum yang membuat ayahnya mengangguk mengerti.
“Ayumi, beliau adalah Kim Minhyuk dan beliau adalah...”
“Ayahnya Erik,” potong Ayumi sambil kembali menatap Kim Minhyuk yang juga tengah menatapnya, “Dia Ayahmukan?” Ayumi bertanya sambil menatap Erik yang berdiri di samping tempat tidur dan ia melihat pria itu mengangguk sebagai jawaban.
“Apa kabar Tuan? Kita pernah bertemu sebelumnya.”
“Baik... bagaimana keadaanmu?” tanya Kim Minhyuk dengan gugup.
“Berkat donor darah yang anda berikan, aku sudah jauh lebih baik, terimakasih.”
Semua orang kini menatap Ayumi tak percaya, apakah dia sudah mengetahui kebenarannya?
__ADS_1
***