Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 22


__ADS_3

Bab 22


But don't you remember?


Tapi tak ingatkan kau?


Don't you remember?


Tak ingatkah kau?


The reason you loved me before


Alasanmu dulu mencintaiku


Baby, please remember me once more,


Kasih, ingatlah aku sekali lagi


When was the last time you thought of me?


Kapan terakhir kali kau memikirkanku?


Or have you completely erased me from your memory?


Ataukah kau telah sepenuhnya menghapusku dari ingatanmu?


I often think about where I went wrong


Sering kuberpikir dimanakah salahku


The more I do, the less I know,


Semakin banyak yang kulakukan, semakin sedikit yang kutahu


Sepenggal bait dari lagu yang mengalun indah di telinganya membuat Ayumi menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan mencoba sedikit meringankan beban yang menghimpit dadanya. Matanya kembali menatap keramaian ketika ia merasakan seseorang berdiri di sampingnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang ketika melihat sosok pria yang telah membuat hatinya merasakan cinta dan juga kesakitan secara bersama-sama.


"Aku tahu kau pasti akan berada di sini," ucap Erik santai sambil menatap ke depan seperti yang gadis itu lakukan tadi.


Ayumi kembali merasakan sakit dan kecewa yang mendera hatinya, ia berbalik hendak meninggalkan Erik ketika pria itu berkata sesuatu yang membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


"Jadi dia suami Ibumu?" Erik berbalik mengahadap Ayumi, tubuhnya bersandar kepada pagar tembok, tangannya dimasukan ke dalam saku celana hitamnya.


Tak ada jawaban dari Ayumi, ia hanya diam menunggu apa yang akan pria itu ucapkan selanjutnya, "Ku lihat kau telah menerima kehadiran mereka, bahkan kau memiliki seorang Kakak, benarkah?" Lanjutnya tapi masih tidak ada tanggapan dari gadis yang berdiri di hadapannya, "Baguslah, aku ikut berbahagia untukmu. Tapi kenapa kau tidak memberitahu mereka tentang kekasihmu?"


Ayumi mendengus mendengar ucapan Erik, "Kau ingin aku memberitahu mereka tentangmu?" Ucap Ayumi dengan suara dingin, "Kau ingin aku memberitahu mereka tentang kau yang sudah pergi meninggalkanku tanpa kabar berita hampir tiga tahun ini, dan tiba-tiba muncul di hadapanku dan telah memiliki tunangan, kau ingin aku memberitahu mereka tentang itu?" Lanjut Ayumi dengan suara penuh dengan emosi dan amarah yang membuat Erik sedikit tersentak kaget.


"Bukan aku, tapi kekasihmu yang lain," ucap Erik yang membuat Ayumi mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?"


"Tidak usah berpura-pura seperti itu Ayumi, aku tahu semuanya." Erik maju mendekati Ayumi yang masih diam terlihat bingung, matanya yang tajam menatap gadis itu dingin, "Ah, apa karena sekarang dia artis jadinya kau takut itu menjadi sebuah skandal yang akan menghancurkan karirnya?" Lanjut Erik yang membuat Ayumi mengerutkan keningnya tak mengerti.

__ADS_1


"Apa sebenarnya yang kau bicarakan?" Ayumi bertanya yang hanya membuat pria di hadapannya terlihat semakin marah.


"Aku bilang jangan berpura-pura dihadapanku!" Teriak Erik yang membuat Ayumi tersentak, "Aku tahu semuanya, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kalian berdua saling berpelukan, bahkan tadi siang aku melihatnya dari atas bagaimana kalian berdua makan siang bersama, saling tersenyum bahagia tanpa menghiraukan orang-orang di sekeliling."


Ayumi berusah mencerna ucapan Erik yang berapi-api, ia mengerutkan alisnya sambil berpikir sampai akhirnya ia mengetahui maksud pria di hadapannya itu.


"Kau mengira aku berpacaran dengan Kevin?"


Erik mengangkat alisnya, "Bukankah itu benar?" Ucapnya dingin, "Dan biar kutebak kau pindah ke sini juga karena mengikuti kekasihmu itukan?" Lanjutnya dengam suara dingin.


Ayumi menarik napas panjang, kini amarah mendesak dadanya, dengan mata nyalang ia menatap Erik yang juga menatapnya dingan.


"Kau!" Seru Ayumi dengan suara menggeram, "Kau pergi tiga tahun lalu tanpa ada kabar sekalipun darimu. Seperti orang gila aku menunggu. Seperti orang gila aku mengirim mu pesan setiap hari yang tak pernah di jawab sekalipun. Seperti orang gila aku merindukanmu!" Ayumi menarik napas panjang sebelum kembali menumpahkan segala kekesalannya, "Dan sekarang kau berdiri dihadapanku dengan segala omong kosong itu." Ayumi mendengus sesaat, "Kini ku tahu betapa bodohnya aku karena menunggumu sampai sekarang, betapa bodohnya aku karena menangis setiap malam merindukanmu, betapa bodohnya aku karena percaya kau akan kembali kepadaku, dan betapa bodohnya aku karena mencintaimu!"


Erik tersentak mendengar semua ucapan Ayumi yang menatapnya dengan sorot mata terluka, "Tapi kau, kau bahkan tidak mengabariku hanya untuk memutuskan hubungan kita setelah kau bertunangan, kau bahkan tidak mengakui mengenalku dan sekarang kau bahkan menuduhku mengkhianatimu?"


Ayumi berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah karena emosi, keduanya terdiam tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut masing-masing untuk beberapa saat, langit sudah memerah, menampakkan lembayung senja yang menyorot dua insan yang dulu saling mencinta kini hanya saling terdiam dengan emosi berkecambuk.


"Sekarang, siapa yang berkhianat? Ketika kau sendiri sudah memiliki seorang tunangan sedangkan aku... aku masih larut dengan perasaanku sendiri, perasaan yang sama dengan tiga tahun lalu ketika kita masih bersama," ucap Ayumi memecah keheningan setelah bisa mengendalikan emosinya dan kembali bersikap normal.


Erik masih terdiam, hatinya berdebar ketika mendengar ucapan Ayumi, gadis itu masih mencintainya sampai sekarang sama seperti dirinya, tapi malam itu ia melihatnya sendiri dan itu telah membuktikan semuanya.


"Aku melihatnya Ayumi, aku melihatnya dengan kepalaku sendiri bagaimana dia berlutut di hadapanmu sambil menggenggam kedua tanganmu sebelum akhirnya dia memelukmu dengan senyum mengembang di bibirnya."


Ayumi mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang diucapkan pria dihadannya yang menatapnya tajam.


"Apa maksudmu?" Tanya Ayumi yang membuat amarah Erik kembali muncul.


Wajah Ayumi memucat, tidak ada lagi api amarah dalam matanya yang ada kini adalah sorot mata simpati.


"Keluargaku mengenalkan Yuri sebagai kekasihku, tapi hatiku tidak mengakui itu, hatiku mencari sosok lain, sosok yang selalu membuatku menatap langit tanpa tahu apa yang aku cari, sampai akhirnya aku melihat pelangi dan hatiku berdebar kencang ketika melihat itu, tanpa dikomando bibirku berkata 'Iris'."


Mata Ayumi kini terlihat berkaca-kaca mendengar cerita Erik dan alasan kekasihnya itu menghilang selama ini.


"Namamu... namamulah yang pertama kali ku ingat, Ayumi... kau!" Seru Erik dengan suara bergetar, "Mereka memaksaku untuk segera bertunangan, tapi aku selalu menolaknya karena aku tahu, gadis itu bukanlah Iris yang membuat hatiku berdebar kencang, dia bukan gadis yang membuatku sangat menyukai salju dan matahari terbenam, dia bukan gadis yang membuat hatiku terasa hangat."


Ayumi tak bisa lagi menahan airmatanya yang mulai mengalir membasahi pipinya, dan dengan kasar ia menghapusnya.


"Aku terus mencari sosok itu selama hampir setahun. Perlahan ingatanku mulai kembali, potongan-potongan gambar ketika aku menghabiskan waktu denganmu yang pertama kali muncul, sampai akhirnya semua ingatanku kembali beberapa bulan yang lalu," Erik menarik napas sebelum melanjutkan kembali ucapannya, "Setelah aku mengingat semuanya, seperti orang gila aku pergi ke Kanada karena merindukanmu, bahkan aku menentang kedua orangtuaku yang memohon untuk tidak kembali ke sana dan menerima pertunangan yang telah mereka atur. Tapi tidak... aku lebih memilih untuk kembali kesisimu, Ayumi. Dengan perasaan bahagia aku menempuh perjalanan itu berharap kau sedang menungguku di bawah pohon maple di Stanly park ditemani novel dan musik yang keluar dari earphone seperti biasanya, dan kau akan berlari kepelukanku setelah melihatku."


Ayumi ingin berteriak itulah yang selalu ia lakukan di waktu luangnya selama hampir dua tahun ini, duduk di taman berharap kekasihnya muncul di balik pohon.


"Tapi ketika aku sampai di lobi hotel, aku melihatmu keluar dari lift terlihat cantik dengan gaun berwarna biru, kau berjalan tergesa-gesa ke arah taman belakang, aku hendak menyusulmu ketika aku melihat Kevin mengejarmu lengkap dengan pakaian resminya."


Ayumi mengingatnya sekarang, kejadian pada malam kelulusannya dan malam yang sama ketika ia mengetahui Kevin adalah kakak tirinya.


"Aku kehilangan jejak kalian berdua untuk beberapa saat, sampai akhirnya aku melihat kau duduk di bangku taman dengan pria itu berlutut di hadapanmu, tangan kalian saling menggenggam sebelum akhirnya ia memelukmu dengan bahagia," ucap Erik dengan suara penuh emosi.


Ayumi menatap Erik, "Apa kau mendengar apa yang kami bicarakan saat itu?"


Erik tersenyum mengejek mendengar pertanyaan Ayumi, ia kembali berjalan ke arah pagar tembok, badannya bersandar, kakinya disilang, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, matanya kembali menatap Ayumi tajam.

__ADS_1


"Apa aku perlu mendengar bagaimana dia mengungkap rasa cintanya padamu? Atau mendengar bagaimana dia melamarmu?" Tanya Erik dengan sinis.


"Jadi apa yang kau lakukan setelah itu? Pulang kembali ke Korea dan menerima pertunangan itu?" Tanya Ayumi tak menggubris ucapan Erik yang penuh ejekan.


"Iya, setidaknya Yuri setia menungguku walaupun aku telah memutuskannya setelah aku bertemu denganmu, tapi dia tetap setia menungguku, ketika aku hilang ingatan dialah yang ada disampingku, bahkan ketika aku menolak bertunangan denganya dan pergi menemuimu dia masih setia dan menerimaku dengan tangan tangan terbuka."


Hati Ayumi terasa sakit mendengar segala puja puji pria yang ia cintai kepada perempuan lain seolah pengorbananmya selama ini tidak ada artinya.


"Baguslah, setidaknya dia dapat kepercayaan darimu, tidak seperti aku yang tidak kau percayai sama sekali," ujar Ayumi sinis.


"Aku memercayaimu, aku percaya kau tidak akan mengkhianatiku tapi rupanya aku salah, kau dengan gampangnya berpindah kelain hati," ujar Erik dengan suara menggeram.


"Kalau kau percaya padaku kenapa kau tidak bertanya padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi!" Seru Ayumi, dadanya naik turun, napasnya memburu, ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, "Kau malah pergi tanpa bertanya dan langsung menerima pertunangan dengan perempuan lain. Apakah pernah terpikir kalau hari itu dia memberi ucapan selamat padaku karena aku lulus dengan nilai terbaik? Atau mungkin saja dia sedang menghiburku karena aku sedang sedih dan mengharapkan kau hadir di pesta kelulusan itu? Atau mungkin saja dia, Kakakku?"


Erik terdiam mendengar ucapan Ayumi yang menggebu-gebu, hati kecilnya mengutuk diri sendiri karena pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun dari gadis itu, tapi ego mempertahankanya dalam kekeras kepalaan.


"Dan kau pikir aku percaya itu semua?" Tanya Erik dengan santai yang membuat Ayumi semakin terluka.


"Iya, tentu saja kau tidak memercayaiku," bisik Ayumi dengan mata berkaca-kaca, "Bodohnya aku karena memercayaimu dengan menyerahkan hatiku padamu hanya untuk terluka," lanjut Ayumi dengan suara bergetar dan membuat hati Erik terasa sesak.


"Aku rasa tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan, percuma aku menjelaskan segalanya karena kau hanya akan memercayai apa yang kau percaya benar, dan kau tahu? Itu hanya membuatmu menjadi orang egois dan melukai orang lain."


Erik tersentak mendengar ucapan Ayumi, mata tajamnya berusaha mencari kebenaran di dalam mata hitam Ayumi tapi yang terlihat di sana hanya sorot mata terluka yang membuat hatinya terasa sakit karena dia yang menyebabkan itu semua.


Tiba-tiba Ayumi mendengus sinis yang membuat Erik bingung, "Apa kau tahu? Ini kedua kalinya kau menghakimiku tanpa bertanya apapun padaku."


Erik terdiam, ia ingat kejadian di taman kampus pada musim gugur yang lalu, "Tapi sekarang berbeda, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri." Erik tak mau kalah membuat Ayumi hanya bisa membuang napas, kepalanya menengadah menatap langit yang berwarna jingga tua dengan sekumpulan burung terbang menambah ke indahan sore itu.


"Kau lihat burung-burung itu?" Ayumi bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kumpulan burung yang terbang berkelompok, "Apa yang kau pikirkan ketika melihat mereka terbang?"


Erik terdiam matanya ikut menatap burung-burung yang sudah mulai menjauh, sebelum kembali menatap Ayumi yang tengah menatapnya.


"Mungkin kau berpikir burung-burung itu terbang menikmati kebebasan mereka di sore yang sangat indah." Ayumi tersenyum memikirkan betapa beruntungnya burung-burung itu karena tidak harus merasakan berbagai masalah yang menghimpit dada.


"Tapi kita tidak tahu, mungkin saja mereka sedang kebingungan mencari sarang untuk malam ini atau mereka sedang kelaparan dan mencari tempat yang bisa mengganjal perut mereka. Kita tidak tahu, Erik, apa yang sebenarnya terjadi hanya dengan melihat saja." Ayumi menarik napas panjang, sedangkan Erik diam membeku menyadari arti ucapan Ayumi.


"Setiap mata memiliki pandangan sendiri-sendiri tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Kau percayalah apa yang ingin kau percayai walaupun belum tentu itu sebuah kebenaran, dan akhirnya akan menjadikanmu orang yang paling egois."


Ayumi menatap Erik untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan pria itu yang masih terdiam. Langkangnya terhenti, badannya kembali menghadap pria dengan tinggi menjulang itu, "Pernahkah terpikir olehmu kalau aku pindah ke sini bukan semata-mata karena keluarga baruku, tapi supaya aku bisa lebih mudah mencari dan menemukanmu?" Erik terbelalak mendengar ucapan Ayumi, dadanya kembali berdetak kencang.


"Tapi itu semua sudah tidak ada artinya," Ayumi menelan ludahnya yang terasa pahit, "Selamat atas pertunanganmu," lanjut Ayumi sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Erik yang membeku, keraguan mulai menghimpit dadanya, apa yang dipikirkannya salah selama ini? Dalam hati ia mengutuki diri sendiri atas kebodohannya selama ini.


***


Ayumi berjalan di lorong Rumah Sakit dengan perasaan yang bercampur aduk, rasa lelah karena pekerjaan, kurangnya tidur selama beberapa bulan terakhir ini, dan juga masalah yang baru saja menghampirinya membuat emosinya berkecamuk. Ia tak bisa lagi membendung air matanya ketika melihat sosok pria tinggi berlesung pipi dan mata coklatnya tengah menatapnya dengan lembut dan Ayumi bisa melihat di balik masker yang menutup sebagian wajah tampan itu, bibirnya tengah tersenyum kepadanya.


Sambil terisak ia mulai berlari menuju sosok yang selalu ada disaat ia membutuhkan tempat bersandar, sosok yang selalu melindunginya selama beberapa tahun terakhir ini, dan tangisnya pecah ketika ia menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Kevin yang hangat.


Walau terlihat bingung, tapi ia tidak bertanya apapun, yang ia lakukan hanya memeluknya erat berusaha menyembunyikan tubuh ringkih gadis itu dari masalah duniawi, dan memberikan tempat bersembunyi untuk beberapa saat sebelum akhirnya harus kembali menghadapi kerasnya hidup.


****

__ADS_1


__ADS_2