Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 11


__ADS_3

Hujan mengguyur kota Vancouver dari pagi, menandakan musim dingin yang telah datang menggantikan musim gugur membuat semua orang harus bersiap-siap dengan pakaian tebal yang dapat melindungi tubuh mereka dari hawa dingin yang menusuk. Dengan memakai jaket musim dingin warna merah, Ayumi berjalan dengan cepat di bawah lindungan payung transparannya, berbaur dengan para mahasiswa lain yang melakukan hal yang sama agar bisa segera memasuki ruangan kampus yang hangat.


"Ayumi!" Yuki melambaikam tangannya memberi tanda kalau ia sudah menyiapkan bangku untuk gadis itu di sebelahnya, "Apa kau memakai sepeda ke sini?" Yuki bertanya setelah melihat jaket Ayumi cukup basah yang sekarang ia sampirkan di belakang kursinya, hembusan udara hangat dari penghangat ruangan langsung memanjakan kulitnya.


"Jangan bodoh, John akan membunuhku kalau berani memakai sepeda di musim dingin," jawab Ayumi sambil mengeluarkan cardingan di dalam tasnya dan mengenakannya, walaupun ruangan cukup hangat tapi ia masih bisa merasakan dingin menjalari tubuhnya.


Yuki tertawa mendengar ucapan temannya itu yang kini tengah melilitkan syal rajut putih untuk melindungi lehernya, "Jadi bagai mana bisa jaketmu basah seperti itu? Apa kau tak memakai payung?"


Ayumi menatap Yuki sambil menaikan alisnya, "Yuki sayang, tidak semua orang memakai mobil pribadi ke kampus seperti dirimu, jadi sebagian orang... seperti aku… harus berjalan ke halte di tengah guyuran hujan dan angin yang cukup kencang untuk naik bis sampai ke sini, dan sialnya lagi hujan masih belum berhenti ketika aku turun dari bis. Jadi disinilah aku, kedinginan dengan jaket yang basah," ucap Ayumi sambil membuang napas berat dan menatap Yuki yang tengah memandangnya dengan penuh simpati.


"Anak malang," ujar Yuki sambil menepuk bahu sahabatnya itu, "Apa ini saatnya aku bersyukur?" Yuki menatap Ayumi yang tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


"Oh iya, seharusnya kau sangat bersyukur," ucap Ayumi sambil merebahkan kepalanya di atas meja.


"Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat tidak begitu sehat." Yuki terdengar khawatir melihat Ayumi yang wajahmya sangat pucat.


"Tidak, aku hanya kurang tidur saja," jawab Ayumi dengan mata terpejam.


"Ya Tuhan, badanmu panas." Yuki terperanjat ketika tangannya menyentuh kening Ayumi yang panas.


"Aku akan baik-baik saja setelah tidur sebentar, akhir-akhir ini aku kurang tidur." Ayumi melipat tangannya di atas meja untuk di jadikan bantalan kepalanya, mereka masih memiliki waktu setengah jam sebelum mulai perkuliahan.


Untuk beberapa saat Yuki menatap Ayumi yang terlihat begitu lelah, ia tengah menimbang apa perlu ia mengatakan pada temannya itu mengenai kejadian tadi malam? Beberapa kali ia membuka mulutnya tapi ia mengurungkannya kembali, dan akhirnya ia memantapkan hati memutuskan memberitahunya.


"Ayumi." Yuki memanggil nama gadis itu dengan sangat pelan.


"Hmm."


"Ada yang harus aku katakan kepadamu," ujar Yuki dengan ragu-ragu.


"Apa? Katakan saja, aku mendengarkan." Ayumi membetulkan posisinya dengan mata masih terpejam.


"Hmm.. semalam ada seorang pria yang datang menemuiku, dia... mencarimu." Ayumi membuka matanya ketika memdengar seseorang mencarinya.

__ADS_1


"Mencariku?" tanya Ayumi tak mengerti kenapa ada orang yang mencarinya melalui Yuki.


"Iya, dia meminta nomer teleponmu, tapi aku tidak memberikannya," ucap Yuki dengan cepat sambil melambaikan tangan.


Ayumi bangun dari posisinya menjadi duduk mengahadap Yuki dengan serius.


"Apa aku mengenalnya? Siapa dia?"


Ayumi bisa melihat Yuki sedikit tegang dan gugup, dia terlihat ragu untuk berbicara.


"Dia... suami almarhum Ibumu," ujar Yuki dengan pelan, dia menatap Ayumi yang kini diam mematung.


Beberapa saat Ayumi hanya menatap Yuki berharap temannya itu akan berkata kalau ia hanya bercanda dan ia masuk kedalam acara candid camera atau apapun itu, tidak seperti sekarang yang menatap dirinya dengan penuh rasa simpati dan penyesalan karena harus menyampaikan berita itu kepadanya.


"Suami almarhum Ibuku?" Ayumi kembali bertanya dengan tergagap, ia melihat Yuki mengangguk dan itu cukup untuk membuat kepalanya terasa pusing, ia menaruh kepalannya di kedua tangannya yang bertumpu di meja, jari-jari tangannya menjambak rambutnya pelan.


"Apa kau baik-baik saja?" Yuki mengelus punggung Ayumi yang terlihat rapuh, "Maafkan aku, seharusnya aku tak memberitahumu." Ayumi menggelengkan kepala mendengar perkataan temannya yang terdengar sangat menyesal.


"Tidak, ini bukan salahmu" Ayumi mengambil napas panjang, "Apa yang ia inginkan dariku?"


Ayumi hanya memandang sederet no telepon yang tertulis di sana dan sebuah nama yang tidak ia kenal.


"Dr. Choi Jung Woo?" Ayumi mengerutkan alis ketika ia membaca nama suami dari almarhum Ibunya, "Sepertinya bukan nama Jepang."


"Bukan, ia orang Korea Selatan," jawab Yuki yang langsung membuat Ayumi menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan cukup keras.


"Ya Tuhan, lagi-lagi pria Korea," ucapnya pelan, ada apa dengan dirinya yang akhir-akhir ini selalu dikelilingi pria Korea, pertama Erik, dosen yang beberapa hari ini selalu ia hindari seperti wabah penyakit menular, kemudian Kevin, teman barunya yang pertemuan pertama mereka mengingatkan akan dirinya dahulu, dan sekarang suami almarhum Ibunya yang ingin bertemu dengan dirinya.


"Maafkan aku, ini memang bukan urusanku tapi aku berharap kau menghubunginya siapa tahu ia bisa memberitahu tentang Ibumu, minimal kau akan mengetahui sosok seperti apa Ibu kandungmu itu dan siapa tahu ia mengetahui alasan Ibumu meninggalkanmu."


Ayumi terdiam memikirkan ucapan Yuki dan semua ucapannya benar, tapi apa ia siap menerima semua kenyataan yang akan terpampang di depan mata nanti mengenai alasan ibunya meninggalkan dirinya ketika masih bayi? Ayumi kembali merebahkan kepalanya di atas meja, memejamkan mata mencoba memantapkan hati yang kini terbelah dua, satu sisi ia ingin melupakan semua tentang wanita yang telah melahirkan yang kemudian meninggalkannya. Ia telah memaafkan semua, menutup lembaran masa kecil yang suram tanpa kasih sayang seorang ibu dan menatap masa depan yang terbentang luas di hadapannya. Tapi di sisi lain ia ingin mengetahui kebenaran di balik semua tindakan ibu kandungnya, tapi apa ia sudah siap menerima semua kebenaran yang akan terpampang di hadapannya nanti? Apa hatinya sudah siap untuk kembali terluka ketika seseorang akan mengorek luka yang bahkan belum mengering itu?


Ayumi membuang napas panjang, kepalanya berdenyut hebat, perasaan lelah secara fisik dan mental yang ia rasakan akhir-akhir ini telah mencapai puncaknya, tubuhnya tidak bisa lagi diajak kompromi, ini adalah batas pertahanan tubuhnya yang kini sudah mulai merasa lelah dan kesakitan. Untuk saat ini ia telah memutuskan akan melupakan semua masalah yang menghampirinya, ia akan memberikan waktu kepada tubuh dan pikirannya untuk beristirahat dan kembali pulih sebelum menghadapi semua masalah yang telah berbaris rapih menghadang di depan.

__ADS_1


Rencana tinggallah rencana, rupanya Tuhan telah memiliki rencana yang lebih apik untuk gadis mungil itu, keinginan untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya buyar sudah ketika seseorang tengah menunggunya di depan gedung apartemen gadis itu.


"Ayumi?"


Untuk sesaaat ia hanya diam mematung memandang pria paruh baya dengan pakaian resmi berwarna biru dongker lengkap dengan coat coklat dan syal yang melilit lehernya memberi kehangatan di tengah udara dingin yang menusuk.


"Iya." Dengan tergugup akhirnya ia berhasil menjawab pertanyaan pria asing yang langsung tersenyum lembut ketika nendengar ucapannya itu.


"Senang bertemu denganmu, aku Choi Jung Woo, suami Ibumu," ujar pria itu yang langsung membuat Ayumi semakin memucat, dadanya berdegup kencang bahkan kakinya terasa lemah hanya untuk menopang tubuh ringkihnya sendiri.


***


Erik memarkir mobilnya di depan gedung apartemen sederhana bercat putih yang sudah memudar. Hampir setiap malam ia melakukan itu, menatap ke arah jendela di lantai dua berharap melihat siluet tubuh gadis yang beberapa hari ini menghindarinya. Sebut saja ia pengecut atau apapun karena telah menyakiti hati gadis yang telah membawa sisi lain dirinya yang selama ini terpenjara di dasar alam bawah sadarnya.


Sungguh ia tak bermaksud menyakiti gadis itu, semua yang diucapkan hari itu keluar begitu saja ketika membayangkan gadis itu tertidur di pangkuan pria lain, tapi semua sudah terlanjur, kata yang sudah terucap tidak bisa ditarik lagi, pedang yang telah tertancap tetap akan meninggalkan luka.


Pagi itu ia bermaksud untuk meminta maaf dan memperbaiki keadaan tapi yang tersuguh dihadapannya adalah diluar rencana yang telah ia susun, ketika ia melihat gadis itu di dalam pelukan pria lain hilang sudah kata maaf yang akan terucap, yang ada hanyalah amarah yang membuncah di dada dan keegoisan kembali menguasai hati, bak seorang pengecut yang kalah sebelum bertarung ia membalikkan badan meninggalkan gadis itu larut dalam permasalahan yang ia ciptakan sendiri.


Kini ia mengetahui segalanya pria itu, Kevin, hanya seorang rekan kerja Ayumi di cafe tempat ia bekerja tapi semua sudah terlambat, gadis itu menghindarinya seperti ia seorang pesakitan yang berbahaya. Erik menghembuskan napas berat mengingat beberapa hari ini ia hanya bisa melihat Ayumi dari kejauhan, ia telah beberapa kali mencoba mengajak gadis itu berbicara tapi selalu menemui kegagalan.


Ia menyalakan kembali mesin mobil Jeep Ranegade putihnya bersiap-siap meninggalkan tempat itu untuk kembali ke apartemennya yang tak jauh dari sana, tapi matanya menangkap sosok gadis yang tanpa ia sadari telah menguasi pikiran dan hatinya itu tengah duduk di cafe yang berada di sudut jalan berhadap-hadapan dengan seorang pria paruh baya. Erik memicingkan mata mencoba melihat sosok pria itu dengan jelas, tapi ia tidak mengenalinya ini pertama kali Erik melihat pria yang masih terlihat tampan di usia pertengahan lima puluhan itu, dari kejauhan ia bisa melihat Ayumi terlihat gugup, wajahnya pucat di bawah sorotan lampu cafe, ingin rasanya ia menghampiri mereka dan bertanya siapa pria itu? Tapi ia mengurungkannya, ia tak punya hak untuk itu yang bisa ia lakukan hanyalah duduk di belakang kemudi sambil mengawasi dari kejauhan.


Beberapa menit yang terlewatkan sudah seperti siksaan tanpa akhir bagi Erik karena harus menyaksikan gadis yang akhir-akhir ini menyita perhatiannya duduk berduaan dengan pria yang jauh lebih tua di sebuah café. Kaki kanannya bergerak-gerak, jari tangannya mengetuk-ngetuk kemudi mobil, kesabarannya hampir saja habis dan ia bersiap keluar dari tempat persembunyiannya ketika melihat kedua orang itu berdiri dan mulai berjalan keluar dari cafe.


Erik memokuskan matanya ke arah mereka berdua, dadanya berdetak kencang seiring langkah mereka yang mendekati tempatnya berada, sampai akhirnya sebuah mobil Mercy hitam berhenti di depan mereka. Erik mengerutkan alis menatap dengan sorot mata tajam, detak jantungnya semakin cepat, pikiran-pikiran negatif mulai memasuki kepalanya, ia mengatur napas mencoba mengusir semua pikiran itu, dan akhirnya Erik bisa bernapas lega setelah ia melihat hanya pria itu yang masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Ayumi yang masih berdiri mematung seorang diri.


Erik kembali memerhatikan Ayumi yang kini tengah berjalan dengan terhuyung-huyung sampai akhirnya gadis itu bersandar di tiang lampu jalan tapi beberapa saat kemudian tubuh gadis itu ambruk seolah kakinya tak lagi kuat menopang tubuh mungilnya, tanpa dikomando Erik secepat kilat keluar dari mobil, berlari menuju tubuh yang kini tengah terduduk tak berdaya berselimut udara malam musim dingin yang menusuk tubuh.


"Apa kau baik-baik saja?"


Erik berjongkok di hadapan Ayumi yang kini menatapnya dengan pandangan nanar, hatinya terasa pedih melihat pandangan gadis itu yang sarat akan penderitaan, dengan lembut Erik membantu Ayumi berdiri walau dengan susah payah akhirnya gadis itu berhasil berdiri, beberapa saat Ayumi hanya diam membisu sambil menunduk tak berani mengangkat kepalanya hanya untuk sekedar menatap mata pria di hadapannya. Kedua tangan mungilnya menggenggam jaket Erik dengan kencang seolah-olah mencari sesuatu untuk menopang tubuhnya yang terasa lelah dan sakit.


"Ayumi, kau baik-baik saja?" Erik kembali bertanya dengan suara menyerupai bisikan, tapi gadis itu hanya tertunduk sambil menggelengkan kepala lemah, badannya mulai bergetar bukan karena rasa dingin yang ia rasakan. Seolah memahami perasaan yang sekarang dialami gadis mungil itu, Erik menariknya ke dalam pelukan memberikan kehangatan dan kenyamanan.

__ADS_1


Seperti menemukan tempat persembunyian yang nyaman Ayumi menyurukan kepalanya ke dalam kehangatan dada bidang milik Erik dan mulai terisak menumpahkan segala penat yang menghimpit dadanya sedari tadi. Menyadari betapa terluka gadis itu, Erik mengeratkan pelukannya memberikan kenyamanan, untuk sesaat menyembunyikan gadis itu dari kelamnya malam dan dinginnya udara yang menusuk tulang, sampai akhirnya ia merasakan tubuh mungil itu lunglai tak sadarkan diri dalam pelukannya.


***


__ADS_2