Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 34


__ADS_3

Lee Soo Hyuk menatap Ayumi tajam dan itu membuat gadis itu merasa tidak nyaman seolah-olah ia tertangkap basah tengah melakukan suatu kejahatan. Mereka terdiam beberapa saat, suasana canggung menyeruak kepermukaan, tak ada seorangpun yang membuka mulutnya, Dr. Lee masih menatap Erik dan Ayumi bergantian, sedangkan Joonie terlihat bingung dengan kondisi yang tiba-tiba canggung itu.


"Aku mentraktirnya makan malam," ucap Erik santai memecah keheningan.


"Kau... apa?" Tanya Dr. Lee tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Aku mentraktirnya makan malam karena dia telah menyelamatkan adikku."


"Dia... apa?"


"Apa kau ada masalah dengan pendengaranmu?" Tanya Erik dingin, matanya menatap Dr. Lee tajam yang juga tengah menatapnya tak kalah tajam.


"Adikmu?"


"Joon Seo, sekarang dia sedang ada di sini, apa kau tak melihatnya?" Tanya Erik masih dengan nada dingin.


"Apa kabar, Soo Hyuk hyung?" Joonie melambaikan tangannya di depan Dr. Lee yang sepertinya baru menyadari keberadaan dirinya.


"Oh.. Joon Seo, kau ada di sini?"


"Iya... dari tadi," jawab Joonie dengan senyum dipaksakan.


"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Dr. Lee sambil menarik kursi lalu duduk bergabung dengan mereka.


"Aku di rampok."


"Kau di rampok?"


Joonie mengangguk, "Untung saja Noona datang dan menyelamatkanku," ucapnya sambil tersenyum menatap Ayumi.


"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Dr. Lee dengan pandangan cemas, yang di jawab Ayumi dengan anggukan dan sebuah senyuman yang membuat Erik menggerutukan giginya.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau menghajar mereka?" Goda Dr. Lee yang membuat Ayumi tertunduk malu.


"Dia menelepon polisi tepat di hadapan mereka semua benarkan, Noona?" Joonie yang menjawab pertanyaan Dr. Lee sambil tersenyum bangga.


"Sebenarnya... aku tak tahu siapa yang ku hubungi," ucap Ayumi pelan sambil tertunduk.


"Kau apa?" Tanya Joonie tak percaya.


"Aku terlalu takut untuk mengingat no telpon polisi, jadi aku asal pijit saja," lanjut Ayumi yang membuat ketiga pria itu menatapnya tak percaya.


"Jadi itu sebabnya kau lari?" Lanjut Joonie setelah pulih dari keterkejutannya.


"Aku lari karena mereka mengejarku."


"Mereka mengejarmu!" Seru Erik dan Dr. Lee berbarengan, yang membuat Joonie menatap mereka berdua heran.


"Tidak, mereka tidak mengejar Noona, tapi mereka lari karena mereka pikir, Noona, benar-benar menelpon polisi."


"Benarkah?" Tanya Ayumi sambil membelalakan matanya yang bulat.


"Iya, aku mendengarnya ketika mereka mengumpat, 'sial, sebaiknya kita pergi sekarang!'" Ujar Joonie memeragakan apa yang diucapkan para perampok.


"Aah.. seharusnya tadi aku tidak lari."

__ADS_1


Joonie mengangguk menanggapi ucapan Ayumi, sedangkan Erik dan Dr. Lee hanya bisa membuang napas lega karena gadis itu baik-baik saja.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Erik setelah menyadari kalau pria berhidung runcing itu bukan tanpa alasan berada di tempat yang sama dengan mereka.


Dr. Lee mengangkat alisnya santai, "Aku sedang makan malam bersama rekan-rekanku."


"Jadi, kenapa sekarang kau tidak bersama mereka?" Lanjut Erik santai yang membuat Dr. Lee mengerutkan alisnya.


"Apa kau mengusirku?"


"Tidak, aku hanya bertanya."


"Kau sepertinya keberatan kalau aku bergabung dengan kalian."


Erik diam beberapa saat, mata tajamnya menatap Dr. Lee dingin, "Apa kau akan pergi kalau aku mengatakan keberatan?"


Ayumi mengalihkan perhatiannya dari Joonie ke arah dua pria di hadapannya, dan ia bisa merasakan ketegangan di sekitar mereka, begitu juga dengan Joonie. Ia mengerutkan alisnya berpikir bagaimana ketegangan itu bisa terjadi? Yang ia ketahui dulu mereka berdua adalah teman dari zaman SMA. Joonie memang tidak begitu menyukai Yuri tunangan Erik yang kebetulan adik Lee Soo Hyuk, tapi tidak dengan Dokter itu ia cukup menyukainya walaupun kadang sifatnya menyerupai Lucifer.


"Apa kau datang ke sini bersama para Dokter yang lain?" Ayumi bertanya mengalihkan perhatian kedua pria yang masih saling menatap tajam.


Dr. Lee menatap Ayumi dan seketika sorot matanya berubah lembut, "Iya, mereka di sana." Dengan kepalanya ia menunjuk sekumpulan orang yang duduk di meja luar lantai dua sebuah restoran sea food mewah tak jauh dari mereka.


Ayumi menatap kumpulan itu ia mengenal mereka semua dan salah satu di antara mereka ada sepasang mata yang walau dari kejauhan ia bisa merasakan kalau mata itu menatapnya tajam, mata milik dokter ahli kandungan, Dr. Mi Rae.


Dr. Lee mengikuti arah pandang Ayumi yang terlihat sedikit syok, dan sekarang dia mengerti kenapa gadis itu terlihat ketakutan.


"Jangan hiraukan Nenek sihir itu," ucap Dr. Lee sambil menatap Ayumi.


"Nenek sihir?" Joonie menatap sekeliling mencari sosok jahat yang di sebut Dr. Lee. Begitu pula dengan Erik, tapi dia langsung bisa menemukan sosok itu ketika ia melihat mata tajam penuh kebencian tengah memerhatiakan mereka semua.


"Hyung, bisakah kau membawa kami berkeliling dulu? Aku ingin melihat pemandangan Busan malam hari," ujar Joonie penuh semangat, dan Erik bisa melihat mata berbinar Ayumi ketika mendengar permintaan adiknya itu, dan tanpa sadar ia tersenyum.


"Kita lihat saja nanti," ucap Erik sambil berdiri, di susul Joonie dan Ayumi.


"Ayumi, kau pulang bersamaku!" Perintah Dr. Lee membuat ketiga orang yang tengah bersiap pergi menatap kearahnya.


"Tapi bukankah kau bersama teman-temanmu?" Tanya Ayumi yang terlihat bingung.


Dr. Lee mengangkat sebelah bahunya acuh tak acuh, "Aku bisa pulang lebih dulu," jawabnya santai.


"Dia datang bersamaku jadi dia pulang bersamaku. Kita pergi sekarang!" Perintah Erik dengam suara dinginnya yang membuat Ayumi dan Joonie mengangguk.


"Aku bilang, dia pulang bersamaku!" Suara geraman dingin milik Erik menghentikan kegiatan ketiganya yang tengah memakai jaket musim semi mereka.


"Ayumi, kau pulang bersamaku!" Perintahnya dengan suara tegas dan tak ingin menerima penolakan.


"Jangan berbicara kasar seperti itu kepadanya!" Geram Erik yang tak menyukai nada bicara Dr. Lee yang kini tampak terkejut dengan kemarahan temannya yang terkenal bisa mengendalikan diri dengan baik.


Ayumi melihat Erik yang hendak melangkah mendekati Dr. Lee dengan sorot mata penuh dengan amarah. "Erik, cukup!" Reflek tangan Ayumi mencengkram lengan pria yang kini menatapnya tak percaya bisa mendengar gadis itu kembali memanggil namanya. Berbeda dengan Dr. Lee dan Joonie yang terkejut mendengar Ayumi memanggil nama barat pria bermata tajam itu.


"Aku akan pulang dengannya." Ayumi sambil memandang Erik menenangkan, ia kemudian berbalik menatap Dr. Lee yang masih memerhatikan mereka berdua.


"Senior, kita pergi sekarang," lanjutnya sambil berjalan meninggalkan mereka semua, Dr. Lee langsung berjalan dengan cepat menyusulnya setelah dia sadar dari keterkejutannya.


Erik dan Joonie hanya bisa berdiri menatap kepergian mereka berdua yang semakin menjauh menuju tempat parkir mobil.

__ADS_1


"Jadi... apa itu dia?" Joonie bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Dia?" Tanya balik Erik yang juga masih menatap punggung Ayumi yang kini telah berbelok dan mulai menghilang.


"Iris," jawab Joonie yang membuat Erik terbelalak menatapnya, bagaimana mungkin adiknya mengetahui tentang Iris, "Aah... ternyata tebakanku benar." Joonie tersenyum miring setelah melihat reaksi dari kakaknya itu.


"Bagaimana kau tahu tentang... Iris?"


Joonie terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Erik, "Kau selalu memanggilnya di saat tak sadarkan diri, Hyung," ucap Joonie lemah ketika mengingat ia hampir saja kehilangan kakak satu-satunya itu beberapa waktu lalu.


Erik menarik napasnya panjang, ia lalu berjalan menuju tempat parkir tanpa menjawab pertanyaan Joonie yang sepertinya sudah mengetahui jawabannya tanpa ia beritahu. Mereka berdua mengisi perjalanan pulang dengan diam, walaupun banyak pertanyaan yang ingin Joonie ajukan tentang mengapa kakaknya itu meninggalkan Ayumi dan memilih bertungangan dengan perempuan lain? Mengingat ia mengetahui bagaimana Erik sangat mencintai gadis bernama Iris, yang tak lain adalah Ayumi.


"Bagaimana kau mengetahuinya?" Erik bertanya memecah keheningan di dalam mobil, dan Joonie bersyukur karena akhirnya ia tak lagi harus merasa tegang duduk di samping kakaknya yang memberengut dari tadi.


"Mata itu tidak bisa membohongi, Hyung, walaupun kau berkata dingin padanya tapi matamu selalu menatapnya lembut, aku hampir saja berpikir kalau kalian berdua baru saja jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Kalian?" Tanya Erik setelah menyadari kalau adiknya menggunakan kata jamak bukan kata tunggal.


"Aish... Hyung, apa kau tidak melihat bagaimana Noona menatapmu? Awalnya aku pikir semua perempuan pasti akan melihatmu seperti melihat daging sapi premium." Joonie berkata dengan santai tanpa menghiraukan tatapan membunuh dari kakaknya karena menyamakan dirinya dengan daging sapi.


"Tapi dia melihatmu seperti wabah penyakit yang harus dihindari."


"Yaah! Setelah tadi menyebutku daging sapi, sekarang kau menyebutku wabah penyakit?"


"Maksudku, setiap perempuan yang melihatmu mereka pasti ingin berkenalan denganmu, tapi Ayumi Noona tadi seperti ingin menghilang setelah melihat mu, tapi matanya menatapmu penuh rasa rindu begitu juga dengan caramu menatapnya, Hyung. Aku berpikir pasti ada sesuatu di antara kalian berdua. Aku bertambah yakin ketika Soo Hyuk Hyung datang dan untuk pertama kalinya aku melihatmu tidak bisa mengontrol emosi seperti itu, jiwa posesifmu keluar."


Joonie menatap Erik yang tengah berkonsentrasi menyetir sebelum ia melanjutkan ucapannya.


"Hyung, kau tahu kalau kau itu seperti boneka salju yang dingin dan tanpa ekspresi?"


Erik tersenyum miring sambil mengangguk, "Kau seperti para mahasiswaku dulu di UBC yang menjulukiku boneka es."


"Nah, berarti mereka pintar!" Seru Joonie sambil menepuk tangannya, yang membuat Erik menatapnya dengan pandangan menusuknya.


"Sorry, Hyung."


"Jadi apa sebenarnya yang mau kau katakan?"


Joonie kini duduk miring menghadap Erik dengan serius, "Maksudku, kau adalah pria yang tak pernah memerlihatkan emosi yang ada di dalam hatimu, tapi malam ini aku melihatmu diam-diam tersenyum dengan tulus, aku melihatmu marah dan... aku melihatmu cemburu."


"Aku tidak cemburu."


"Kau seperti mau menelannya hidup-hidup hanya karena dia tersenyum kepada pria lain, Hyung! Sudahlah akui saja kalau kau cemburu."


Erik terdiam beberapa saat, tapi Joonie tak mau mengalah dia terus menatapnya memaksanya untuk mengakui perasaannya, dan akhirnya Erik mengalah dia membuang napas berat yang membuat senyum adiknya yang berlesung pipit itu muncul.


"Baiklah kau benar tapi hanya sedikit, ingat hanya sedikit!"


Joonie tersenyum penuh kemenangan mendengar pengakuan kakaknya, "Baiklah, tapi karena kecemburuanmu yang sedikit itu malah membuat keyakinanku semakin besar kalau ada hubungan di antara kalian, tapi... itu semua langsung terbukti benar pada saat dia memanggilmu dengan nama baratmu." Joonie mengangguk puas dengan hasil prediksinya yang akurat.


Erik kembali terdiam, mereka kini tengah memasuki ruang parkir di bawah apartemen milik pria itu, setelah memarkirkan mobilnya, mereka tak langsung keluar dari sana dan hanya duduk dengan tangan masih di atas kemudi.


"Jadi kenapa kalian putus?" Tanya Joonie penasaran, "Jangan katakan kalau itu karena Soo Hyuk Hyung?" Lanjutnya masih menatap Erik yang kini membuang napas panjang lalu membuka sabuk pengaman dan siap-siap keluar dari mobilnya.


"Bukan karena dia... tapi karena kebodohanku sendiri," ucapnya lirih sambil keluar dari mobil meninggalkan Joonie dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


***


__ADS_2