Girl In The Winter

Girl In The Winter
Bab 43


__ADS_3

Ayumi telah melewati masa kritis dan telah sadar tapi masih ditempatkan di ruang ICU, ayah Ayumi telah datang dari Indonesia dan ia terlihat hancur ketika menyaksikan putri kecilnya tergeletak dengan berbagai macam kabel yang menempel tubuhnya.


“Ayu, baik-baik saja, Pah... Papah jangan menangis lagi,” ucap Ayumi dengan lemah setelah melihat ayahnya berulang kali menghapus air matanya yang keluar dalam diam.


Ayah Ayumi mengangguk berusaha tegar, “Tentu saja Ayu baik-baik saja, karena Ayu putri papah yang paling kuat.” Ayumi tersenyum lemah mendengar ucapam ayahnya itu.


Mata bulatnya yang terlihat begitu lelah dan kesakitan menatap ayahnya dengan lembut. Hatinya sakit ketika melihat kerutan-kerutan halus mulai menghiasi wajahnya yang tampan, rambutnya yang dulu berwarna hitam tebal kini telah dihiasi beberapa rambut putih, betapa waktu telah berputar dengan cepat.


“Maafin Ayu karena sudah membuat Papah khawatir.”


“Sttt... Ayu jangan dulu banyak bicara, Ayu harus banyak istirahat.”


“Ayu… merasa lelah, Pah... kemarin Ayu sempat bertemu Mamah.”


Ayah Ayumi terkesiap ketika mendengar ucapan lemah putrinya, tangannya langsung menggenggam tangan putrinya dengan erat yang di balas Ayumi dengan genggaman lemah, bibirnya kembali menyunggingkan senyuman sama lemahnya dari yang tadi.


“Tadinya Ayu mau ikut Mamah.” Ayah Ayumi menggelengkan kepala dengan tegas, airmata kembali membasahi pipinya.


“Tapi, Mamah bilang sekarang belum waktunya... Ayu belum pamit sama Papah.”


“Tidak... tidak Ayu, jangan berkata seperti itu... Papah tak akan mengijinkan Ayu pergi sekarang!” ucap ayah Ayumi dengan airmata yang berurai.


“Maafin Ayu karena sudah jadi beban Papah selama ini.”


Ayah Ayumi kembali menggelengkan kepala dengan tegas, lehernya tercekat, airmata semakin deras keluar.


“Ayu, cahaya hidup Papah, bagaimana bisa Ayu jadi beban Papah... Papah mohon jangan berkata seperti itu lagi.”


Airmata Ayumi kini bergulir membasahi pipinya, “Tapi Ayumi bukan putri yang baik.”


“Ayu putri Papah yang paling baik.”


“Maafin Ayu, Pah, karena belum bisa membalas budi Papah, dan Ayu sepertinya tak akan bisa membalasnya... Ayu... Ayu...”


“AYU! Apa yang terjadi...dokter, dokter, DOKTER!!!” Ayah Ayumi berteriak ketika melihat Ayumi seperti sesak dan mesin yang terhubung ke badannya berbunyi nyaring.


Para dokter langsung berhamburan memasuki ruangan ICU, Dr. Lee berlari ketika mengetahui keadaan Ayumi, dia bertertiak menyuruh mereka semua minggir, mesin EKG kini berbunyi satu nada panjang yang menandakan jantung Ayumi tak berdetak.

__ADS_1


“Tidak.. tidak.. aku mohon TIDAK!!!” Dr. Lee berteriak dengan cemas, salah seorang dokter memberinya alat pacu jantung yang langsung digunakannya untuk membuat jantung Ayumi kembali berdetak. Tubuh Ayumi melonjak ke atas ketika alat itu ditempelkan ke dadanya, tapi garis yang terlihat masih garis lurus. Ia berteriak untuk meningkatkan kekuatan alat itu, tubuh Ayumi kembali melonjak tapi langsung terhempas ke atas kasur, hingga akhirnya Dr. Lee melempar alat itu, ia kini naik ke atas tempat tidur Ayumi, dan melakukan CPR atau napas buatan.


“Ayolah, Angel, Aku mohon!” bisik Dr. Lee diantara kegiatannya melakukan CPR, tangannya menekan dada Ayumi sebelum ia meniupkan udara melalui mulutnya untuk mengisi paru-paru gadis itu.


“Ayolah.. jangan lakukan ini padaku!” Dr. Lee berteriak sambil berurai air mata yang membuat dokter yang lain ikut meneteskan air mata. Sedangkan di luar Erik, Kevin, Rama, Dr. Choi dan juga Ayah Ayumi sudah tak bisa menguasai diri mereka, airmata terus mengalir membasahi pipi semuanya.


“Iris, aku mohon bertahanlah!” Erik memohon sambil berjalan mundar mandir di depan ruang ICU dimana masih terdengar nada panjang dari mesin EKG.


“Kak Ayu, jangan tinggalin kita sekarang!” Seru Rama diantara tangisnya.


“Dia kembali!” terdengar seruan salah satu dokter perempuan yang membuat semuanya saling pandang dengan harapan besar.


“Dr. Lee, kau berhasil... dia telah kembali!”


Dengan napas terengah dan tubuh lemas Dr. Lee turun dari tempat tidur dan seketika ia berlutut di samping tempat tidur Ayumi, tangannya menggenggam tangan Ayumi yang terhubung dengan selang inpus.


“Terimakasih... terimakasih,” bisik Dr. Lee berulang-ulang sambil menaruh kepalanya di atas tangan Ayumi yang ia genggam.


“Dr. Lee, maafkan saya,” ucap salah satu dari dokter yang ada di sana mengembalikan kembali dokter ahli bedah itu kedalam hiruk pikik ruangan ICU.


“Tekanan darahnya menurun dan... stok darah negatif kita telah menipis.”


“Stok mereka juga sama telah menipis.”


Dr. Lee bangkit berdiri matanya tajam menatap dokter resigen itu yang kini terlihat memucat, “Kau cari semua orang yang bergolongan darah negatif di seluruh Busan, dan bawa mereka ke sini untuk melakukan donor. Apa kau paham?!”


“Ba..baiklah,” ucap dokter itu dengan gugup lalu secepat kilat keluar dari ruangan itu.


Dr. Lee keluar dari ruang ICU yang langsung dikerubuni ke empat orang yang dari tadi menunggu di depan ruangan itu.


“Untuk saat ini kami berhasil menyelamatkannya, tapi tekanan darah Ayumi menurun drastis dan dia memerlukan pendonor secepatnya. Tuan Maheswara, apa kau sudah melakukan tes?”


Ayah Ayumi itu mengangguk tapi ia terlihat ragu dan itu tak luput dari perhatian semuanya.


“Baiklah, aku akan melihat hasilnya sekarang, dan ku harap darah anda cocok dengan darah Ayumi, sehingga bisa melakukan transfusi secepatnya.”


Ayah Ayumi tertunduk sambil menggelengakan kepala lemah.

__ADS_1


“Papah memiliki golongan darah yang sama denganku B positif, sedangkan Kak Ayu memiliki golongan darah seperti Ibunya.”


Penjelasan Rama itu sukses membuat Kevin dan Dr. Choi membelalakan mata sambil menatap mereka tak percaya.


“Tidak... Eomma memiliki golongan darah B negatif, bukan AB negatif.”


Ucapan Kevin itu jelas membuat semua orang membelalakan mata, kalau kedua orangtua Ayumi memiliki golongan darah yang berbeda dari gadis itu, maka ada kemungkinan Ayumi bukan putri dari Minami atau Raditya Maheswara.


“Papah, sebenarnya apa yang terjadi?” Rama bertanya dengan sorot mata bingung, pria berumur pertengahan lima puluh itu menatap putri bungsunya sebentar lalu menatap Dr. Lee yang juga tengah menatapnya.


“Apa tidak ada donor lain?” tanyanya sambil menatap Dr. Lee penuh harap tak memedulikan tatapan semua orang yang mengharapkan penjelasan.


“Saat ini kami sedang mencari pendonor yang cocok, golongan darah Ayumi adalah golongan darah terlangka di dunia. Sebenarnya golongan darah itu bisa menerima donor dari golongan darah mana saja yang memiliki type dan jenis yang sama, tapi saat ini stok darah kami sedang menipis. Sedangkan Ayumi semalam sudah kehabisan banyak darah dan memerlukan transfusi darah yang cukup banyak. Oleh sebab itu untuk berjaga-jaga kami memerlukan donor yang akan selalu siap kapanpun, dan keluarga langsung memiliki kemungkinan paling besar untuk memiliki jenis dan type darah yang sama jadi saya harap untuk menghindari hal yang tidak diinginkan seperti tadi, kita harus menemukan keluarga langsung dari Ayumi yang memiliki golongan darah sama.”


Ayah Ayumi terlihat semakin pucat ketika mendengar penjelasan Dr. Lee, tubuhnya goyah, ia langsung terduduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu, kepalanya bertumpa pada kedua tangannya yang sesekali akan memijit pelipis kepalanya, Rama ikut duduk di samping ayahnya, ia mengelus punggung pria yang ketika kecil suka ia naiki layaknya cowboy menunggangi kudanya.


“Pah, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Rama lembut yang membuat pria paruh baya itu menatapnya dengan sorot mata terluka, bingung dan juga sedih.


“Papah akan menjelaskannya nanti, tapi saat ini ada yang harus Papah lakukan untuk menyelamatkan Kakakmu.”


Pria itu kini berdiri, matanya menatap semua orang yang sedari tadi menunggu jawabannya, “Aku akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan putriku, termasuk menyeret ******** yang akan menjadi pendonor untuknya,” ucap ayah Ayumi itu dengan tegas membuat semua orang hanya bisa terdiam melihat pria itu berjalan dengan terburu-buru keluar dari rumah sakit.


Beberapa jam telah berlalu semenjak kepergian Raditya Maheswara ayah Ayumi, tak ada yang mengetahui kemana pria itu pergi. Keadaan Ayumi telah berangsur baik, setelah bergilir Kevin, Rama dan sekarang giliran Erik yang menemani gadis itu di dalam ruang ICU.


Tangannya tak pernah sekalipun melepaskan genggamannya dari tangan mungil yang memucat, ia memang belum sadar, alat pernapasan kembali terpasang menutupi hidung mancungnya, matanya terpejam seolah ia tengah tertidur dengan nyenyak.


“Aku tahu kau sangat lelah tapi aku mohon jangan menyerah, aku berjanji tak akan meninggalkanmu dan akan selalu ada di sampingmu untuk menjadi penopang hidupmu di saat kau lelah seperti sekarang. Apa kau mau pergi berlibur untuk menghilangkan penatmu selama ini? Aku akan membawamu berlibur ke Kanada, kita akan mengunjungi John, dia pasti sangat merindukanmu, kita akan pergi hiking di Stanley Park untuk melihat matahari terbit di atas batu seperti pertama kali kita bertemu, kita akan melewati sepanjang siang itu di bawah pohon maple. Kau akan tidur di pangkuanku sambil membaca novel favoritmu, oh iya kita akan pergi makan siang di tempat David, kau pasti sangat merindukan nasi goreng seafood buatannya, iyakan? Dan sorenya kita akan melihat matahari terbenam di Vancouver Look Out, aku akan memelukmu dari belakang dan kita akan berbagi earphone yang mengalunkan lagu-lagu merdu. Bukankah itu rencana yang hebat? Maka dari itu kau harus segera bangun dan sehat seperti semula.”


Ucapan Erik terhenti ketika seseorang memasuki ruangan itu, matanya terbelalak kaget ketika menyadari siapa yang baru saja memasuki ruangan itu.


“A..abeoji? (Ayah)apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Erik dengan nada terkejut begitu pula dengan ayahnya yang terlihat bingung dan sama terkejutnya ketika menatap Erik yang masih menggenggam tangan Ayumi.


Di belakang ayahnya menyusul ayah Ayumi yang juga memasuki ruangan itu. Erik menatap kedua pria paruh baya itu bergantian, jantungnya serasa berhenti berdetak ketika menyadari kemungkinan yang terjadi.


“Tidak... tidak... kumohon jangan katakan kalau itu benar!” Erik memohon dengan memelas sambil menggelengkan kepalanya kuat.


Ayah Ayumi menatap pria bermata tajam yang kini telah mulai memerah karena menahan air mata dengan penuh simpati, ia mengalihkan tatapannya ke arah Ayumi yang masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Kim Minhyuk, dia adalah putri Minami Takeda, Ayumi Maheswara... putrimu.”


*****


__ADS_2