
Gadis bermata bulat itu berjalan menyusuri halaman Universitas Busan tempat dia akan menuntut ilmu. Rambutnya yang sekarang berwarna coklat dikuncir kuda sembarang hingga terlihat beberapa helaian rambut keluar dari ikatannya, dengan mengenakan celana blue jeans pudar, kemeja putih berlengan pendek, syal abu-abu yang melilit lehernya, tas ransel kulit berwarna coklat di punggungnya, tak lupa earphone yang selalu setia menemani bertengger manis di kedua telinganya membuat ia terlihat seperti mahasiswi tingkat pertama daripada mahasiswi kedokteran yang tengah mengambil spesialisasi.
Dengan penampilan yang sederhana itu ia telah menarik perhatian beberapa mahasiswa di sana, ia baru saja menghadap sekertariat untuk menyusun jadwal kuliah yang akan dijalani mulai minggu depan. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan tatapan penasaran yang mengirinya sampai akhirnya seseorang menghadang jalannya.
Ayumi mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berani menghalangi jalannya tapi dadanya langsung berdetak cepat ketika mata bulatnya bertatapan dengan pemilik mata hitam yang tajam.
"Oh tidak lagi," keluh Ayumi sambil menatap malas kearah Erik yang berdiri menjulang di hadapannya, "Jangan katakan kalau kau jadi dosen di sini," lanjut Ayumi sambil menggelengkan kepala.
Tapi sayangnya tebakan Ayumi itu benar, "Aku dosen di sini."
"Ya Tuhan.. apa di dunia ini hanya ada UBC dan Universitas Busan saja!" Seru Ayumi sambil berjalan meninggalkan Erik yang mengikutinya dari belakang.
"Iris, kita harus bicara!" Ucap Erik sambil berjalan cepat mengimbangi Ayumi yang juga berjalan cepat berusaha pergi menjauh dari pria itu.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.. dan jangan panggil aku, dengan nama itu lagi." Ayumi berbalik menatap Erik dengan sorot mata mengancam.
"Tentu saja ada yang harus kita bicarakan... Iris... Ayumi! Berhenti!" Teriak Erik ketika melihat gadis itu terus berjalan dengan cepat meninggalkannya berdiri sendiri di depan lapangan parkir dan teriakannya itu sukses membuatnya menjadi pusat perhatian, sedangkan gadis yang ia teriaki malah semakin cepat melangkahkan kakinya pergi menjauh.
Erik masuk ke dalam mobil sport hitamnya mulai menyusul Ayumi yang tengah berjalan menuju halte bis, tanpa berpikir panjang ia menghentikan kendaraannya dan keluar untuk menarik gadis yang memberontak masuk ke dalam mobilnya dan tanpa memedulikan teriakan protes Ayumi, Erik menginjak gas mobilnya dalam-dalam dan melesat membelah jalanan kota Busan.
Pria itu tidak mengindahkan semua teriakkan dan makian Ayumi yang memintanya untuk berhenti, mobil Audi miliknya membuktikan kecepatanya dalam berlari membelah jalanan, sampai akhirnya kendaraan itu berhenti di Pantai Songjeong, pantai berpasir putih dekat bukit Dalmaji, di sebelah timur kawasan Haeundae.
Ayumi langsung turun dengan wajah cemberut, ia menggerutu menggunakam bahasa Indonesia yang tentu saja tak di mengerti Erik yang juga mulai turun dari mobil dan mengikuti gadis itu.
__ADS_1
"Ayumi, tunggu sebentar... kita benar-benar harus bicara!"
"Apalagi yang mau dibicarakan? Semua sudah selesai."
"Aku mohon berhentilah!" Seru Erik tanpa menghentikan langkahnya untuk mengejar Ayumi yang berjalan cepat menyusuri pantai berpasir putih yang tampak sepi siang itu.
"Aku minta maaf!" Teriak Erik yang langsung menghentikan langkah Ayumi, "Aku salah... aku mengaku salah.. aku benar-benar minta maaf," lanjutnya dengan putus asa, penyesalan yang ia rasa dari kemarin benar-benar telah menggerogoti jiwanya, ditambah lagi adegan antara gadis itu dan Lee Soo Hyuk di atap kemarin sore benar-benar telah membunuhnya, karena bagaimanapun gadis itulah yang selalu bersemayam di hatinya.
Ayumi membalikan badan menghadap Erik yang berdiri beberapa meter di depannya, "Kenapa kau meminta maaf padaku? Bukankah kemarin kau sangat yakin dengan apa yang kau pikirkan?" Ucapnya sambil terus menatap mata tajam milik pria itu yang sekarang tampak sedih.
"Kau benar, aku hanya akan menjadi orang paling egois ketika hanya memercayai apa yang ingin kupercayai saja.. dan aku benar-benar egois ketika hanya menganggap kalau hanya akulah yang paling benar tanpa meminta penjelasanmu terlebih dahulu."
"Bukankah sekarang sudah terlambat untuk meminta sebuah penjelasan?"
"Tidak.. aku tidak akan meminta penjelasan lagi darimu.. semua sudah jelas dan... aku salah... aku salah karena tidak memercayaimu," ucapnya lirih.
"Jadi apa maumu?" Ayumi berusaha tak terpengaruh dengan sorot penyesalan yang ditunjukan Erik.
"Aku hanya ingin kau memaafkanku… maafkan semua kebodohan dan keegoisanku selama ini," ucap Erik dengan suara lirih yang membuat Ayumi mulai sedikit goyah, hatinya bergetar ketika melihat ketulusan dari sorot mata pria itu.
"Baiklah... aku memaafkanmu… apa itu sudah cukup?"
Erik terdiam mendengar pernyataan dingin dari Ayumi, tentu saja dia tahu gadis itu tidak akan segampang itu untuk memaafkannya setelah apa yang telah dia dilakukan.
__ADS_1
"Sekarang, pergilah...tinggalkan aku sendiri." Ayumi membalikan badan lalu kembali berjalan meninggalkan Erik yang masih mematung.
"Aku mencintaimu!" Teriak Erik diantara deburan ombak dan desiran angin laut yang membuat gadis di depannya berhenti melangkah, "Aku masih mencintaimu... sangat mencintaimu," lanjutnya sambil berjalan mendekati Ayumi yang mematung mendengar ungkapan perasaan pria yang telah menyakitinya itu.
Ayumi berdiri tak bergerak, jantungnya berdetak kencang seolah mengkhianati dirinya sendiri yang ingin bersikap normal mendengar pengakuan cinta pria itu. Angin laut musim semi menerpa tubuhnya yang hanya mengenakan atasan kemeja tipis, walaupun musim semi tapi suhu udara yang di bawah sepuluh derajat cukup membuat gadis itu mulai merasakan dingin yang menjalari tubuhnya. Dan momen itu tidak disia-siakan Erik begitu saja, ia langsung membuka jaketnya dan menyampirkannya di bahu Ayumi yang tentu saja awalnya menolak tapi kali ini Erik tidak mau menerima penolakan.
"Demi Tuhan, Iris! Kau kedinginan!"
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi!"
"Baiklah, tapi tolong pakai jaketnya, jangan keras kepala."
Ayumi akhirnya menyerah, dia membiarkan pria itu memakaikan jaket merah miliknya. Demi Tuhan, bukan karena keras kepala ia menolak memakai jaket pria itu, tapi takut... takut hatinya akan kembali goyah.
Mereka kini saling berhadapan dengan jarak satu helaan napas saja. Tangan Erik masih memegang ujung jaketnya yang kini dipakai Ayumi, kedua mata mereka sama-sama terpejam menikmati saat kebersamaan yang mereka impikan, keduanya menghirup wangi tubuh masing-masing mencoba mengisi paru-paru mereka dengan wangi yang mereka rindukan.
Tangan Ayumi mengepal mencoba menahan diri untuk tidak menjatuhkan diri ke dalam pelukan pria yang masih mengisi hatinya itu. Begitu juga dengan Erik yang masih mencengkram ujung jaketnya dengan kuat hingga jari-jarinya memutih... demi Tuhan, dia ingin sekali menarik gadis itu ke dalam pelukannya seperti yang dia impikan selama ini, tapi tangannya seolah tak kuasa menembus dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka berdua.
Tak bisa menahan diri lebih lama lagi perlahan kepala Erik semakin mendekat, ia menempelkan keningnya dengan kening Ayumi yang masih memejamkan matanya erat, napas mereka memburu berusaha menahan hawa nafsu yang menjalari seluruh tulang membuat kaki mereka sedikit goyah seperti tak kuasa menahan berat tubuhnya.
Erik dengan perlahan mulai mendeketkan bibirnya dengan bibir merah Ayumi, ia semakin berani ketika matanya yang berkabut menatap Ayumi yang masih terpejam. Ia sudah bisa merasakan helaan napas hangat gadis itu di bibirnya ketika telapak tangan Ayumi menahan dadanya.
*****
__ADS_1