
“Ayu, bagaimana kau tahu kalau dia adalah pendonormu?”
Ayu kembali menatap ayahnya dengan sorot mata lembut, “Papah lupa kalau Ayu adalah salah satu dokter di sini?” Ayumi tersenyum sebelum melanjutkan kembali ucapnnya, “Salah satu teman residen Ayu mengatakan kalau darah Ayu itu darah langka tapi untung saja Ayahnya Erik memiliki tipe darah yang sama, jadi Ayu bisa selamat atas pertolongannya.”
Semua orang kembali terdiam setelah mendengar penjelasan Ayumi, Radit Maheswara menatap putrinya lalu beralih menatap Erik dan untuk beberapa saat mereka saling menatap seolah tengah berbicara, Erik membelalakan matanya sambil menggelengkan kepala setelah mengerti kalau akhirnya saat ini tiba dan mereka tak bisa menghindar lagi. Radit Maheswara menatap Erik dengan penuh prihatin dan dengan menyesal mengangguk menandakan kalau yang ia pikirkan benar, inilah saatnya memberi tahu tentang kebenaran status Ayumi.
“Ayu, ada yang perlu kau tahu, sebenarnya dia adalah temanku dan ibumu ketika masih kuliah dulu,” Radit Maheswara memulai ceritanya, “Dan sebenarnya dia adalah...”
“Ayu sudah tahu,” ucap Ayumi yang membuat semua orang kemblai terbelalak mendengarnya.
“Kau sudah mengetahuinya?” tanya Erik tak percaya yang dijawab gadis itu dengan anggukan.
“Iya aku tahu kalau Ayahmu, Ayahku dan Ibuku berteman ketika mereka kuliah di Jepang,” ujar Ayumi sambil menatap Kim Minhyuk, ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan kembali ucapannya, “Ketika aku bertemu dengannya pertama kali di ruang Yuri, aku seperti pernah melihatnya tapi aku lupa dimana dan kapan, sampai akhirnya aku melihat foto yang selalu ada di dalam dompetku dan pada saat itulah aku menyadari kalau mereka saling mengenal.”
Ayumi menatap Kim Minhyuk untuk beberapa saat, “Tuan Kim, ceritakan padaku tentang Ayahku ketika masih kuliah dulu, apa dia pria yang hebat?” Ayumi bertanya dengan sorot mata tajam yang membuat Kim Minhyuk terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk.
“Ayahmu adalah pria yang hebat,” jawabnya yang membuat Ayumi tersenyum bangga.
“Aku sudah tahu kalau Ayahku adalah pria yang hebat... apa anda tahu Tuan, dia membesarkanku seorang diri tanpa Ibuku disampingnya, dia merawatku dan menyayangiku dengan sepenuh hati. Dia tak peduli dengan cibiran orang-orang tentang kami, dia akan selalu membelaku walaupun apa yang terjadi, dia akan terbangun di malam hari ketika hujan deras karena tahu kalau aku tengah ketakutan, dia akan terjaga sepanjang malam ketika aku sakit, bahkan dia akan menamaniku bermain rumah-rumahan.” Ayumi mendengus tertawa mengingat masa kecilnya yang ia lewatkan dengan ayahnya.
__ADS_1
“Ia selembut seorang ibu dan setegas seorang Ayah, ia adalah Ayah yang tak akan tergantikan untukku, dan seandainya aku terlahir kembali aku akan meminta kepada Tuhan agar menjadikan Radit Maheswara sebagai Ayahku kembali, aku tidak ingin Ayah yang lain,” Ayumi menggelengkan kepalanya dengan tegas, “Tidak, aku tidak tak ingin yang lain, aku hanya ingin Ayahku yang sekarang.”
Ruangan kembali hening, semua orang berusaha mencerna setiap ucapan Ayumi yang mengandung seribu makna, Radit Maheswara yang pertama kali menyadari hal itu, ia menatap putrinya beberapa saat sebelum akhirnya berujar.
“Ayu... apa kau...”
“Tuan Kim, kita hanya memiliki jenis darah yang sama dan untuk itu aku mengucapkan terima kasih karena darahmu yang mengalir di tubuhku aku bisa hidup,” ucap Ayumi yang kembali membuat semua orang terbelalak, mereka kini yakin kalau gadis itu sudah mengetahui kebenarannya.
Semua orang kembali terdiam, Kim Minhyuk dan juga Radit Maheswara menatap Ayumi dengan sorot mata sedih, sedangkan Erik hanya bisa memandang langit-langit ruangan itu dengan perasaan hancur, waktunya sudah habis untuknya bersama dengan kekasihnya.
“Maafkan aku karena terlambat mengetahuinya, maafkan aku karena tak ada di sampingmu selama ini,” ucapnya lirih, Erik kini sudah tak bisa lagi berdiri di sana lebih lama setelah mengetahui kalau selama ini Ayumi telah mengetahui kebenarannya. Ia berjalan ke arah jendela dan menatap kejauhan hanya untuk memantapkan hatinya dan menghimpun keberanian untuk melanjutkan hidupnya tanpa gadis itu disisinya.
“Ayu...”
“Tidak, Pah... jangan meminta telalu banyak dari Ayu untuk saat ini, Ayu belum bisa melakukannya.” Ayumi mengetahui apa yang akan diucapkan ayahnya, ia akan meminta dirinya untuk memaafkan ayah biologisnya, tapi untuk saat ini ia belum bisa melakukannya.
“Tidak... dia benar, Radit. Aku berhak mendapatkan ini semua, aku akan menjadi orang paling egois seandainya masih berani meminta dia menerimaku.” Kim Minhyuk tersenyum masam, “Aku tak akan memaksamu untuk menerimaku, tapi aku juga tak ingin kehilangmu untuk kedua kalinya... jadi aku akan kembali lagi,” lanjut pria itu yang membuat Ayumi hanya bisa terdiam sambil menatapnya, sebelum akhirnya pria itu pergi keluar dari kamarnya disusul oleh Radit Maheswara, hingga hanya meninggalkannya dan Erik kembali dalam keheningan.
“Jadi sejak kapan kau mengetahuinya?” tanya Erik tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
__ADS_1
Ayumi terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan pria itu, “Aku mendengarnya ketika Appa menjelaskannya kepada kalian semua... aku mendengar semuanya dengan sangat jelas.”
“Jadi pada saat itu kau sudah sadar?” Erik bertanya tak percaya.
Ayumi mengangguk, “Iya, aku telah sadar,” jawab Ayumi lirih, Erik membuang napas berat lalu kembali menatap keluar jendela.
“Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau sudah mengetahuinya?”
Ayumi kembali terdiam, ia turun dari tempat tidurnya dan sambil mendorong tiang inpusan ia berjalan mendekati Erik.
“Karena untuk pertama kalinya aku ingin menjadi orang egois,” jawab Ayumi sambil memeluk tubuh Erik dari belakang, “Aku ingin memercayai apa yang ku percaya benar, bahwa semua itu salah, kau bukanlah Kakakku. Aku ingin memercayai itu.” Ayumi semakin mengeratkan pelukannya.
Erik hanya bisa memejamkan mata, tangannya kini menangkup tangan Ayumi yang berada di atas perutnya, “Tapi... ini salah,” ucapnya lirih sarat akan rasa sakit.
“Aku tahu, tapi untuk kali ini aku ingin kita menjadi orang egois, kita akan menganggap kalau ini tidak salah, kalau kita bukanlah saudara, kita hanyalah dua orang yang saling mencintai, untuk hari ini saja kita akan memercayai itu semua, hanya untuk hari ini sampai matahari terbenam... ya sampai matahari terbenam biarkan kita menjadi egois, karena besok ketika matahari terbit kita akan kembali terbangun dan akan kembali mengikuti permainan takdir yang begitu kejam.”
Ruangan kembali hening, mereka benar-benar menikmati kebersamaan yang mereka miliki sampai sang surya kembali keperaduan. Mereka berpelukan menatap semburat jingga yang perlahan mulai tampak di atas langit kota Busan, tanpa terasa airmata keduanya mengalir dalam diam, warna langit kini semakin menua membuat keduanya semakin mengeratkan pelukan hingga akhirnya sang surya benar-benar tak tampak dan ketika sang rembulan mulai tampak di atas langit gelap kota Busan maka pelukan keduanyapun terlepas.
Ayumi kini sendiri berdiri di depan jendela menatap gelapnya langit malam, tak adalagi sosok tinggi tagap yang lengan kokohnya memeluk tubuhnya erat seperti beberapa saat yang lalu dan untuk pertama kalinya ia membenci matahari tenggelam, karena pada hari ini bersama dengan tenggelamnya matahari ia kembali kehilangan orang yang sangat berarti.
__ADS_1
****