
Ruangan itu tiba-tiba hening, semua orang memokuskan pandangannya kepada dua insan yang saling pandang. Wajah Ayumi memucat seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Orang yang hampir dua tahun ini menghilang tanpa jejak, orang yang telah membuatnya tak percaya lagi dengan cinta, orang yang telah membuat hatinya membeku dan orang yang sangat ia rindukan kini berdiri dihadapannya.
"Apa kalian saling mengenal?" Yuri bertanya memecah keheningan.
Erik hanya mengangkat alisnya tanpa mengalihkan pandangannya dari perempuan yang kini terlihat lebih cantik dari terkhir kali ia melihatnya, perempuan yang selalu hadir di setiap mimpi-mimpinya, perempuan yang ia rindukan, perempuan yang telah membuat semua mimpinya hancur berkeping-keping.
"Dia salah satu mahasiswi di UBC, tempat aku mengajar di Kanada," jawab Erik tenang membuat Ayumi mematung, matanya menatap Erik dengan sorot mata terluka. Mahasiswi, jadi Erik hanya menganggapnya seorang mahasiswi.
"Dia muridmu? Bukankah kau dosen seni?" Kali ini Dr. Lee yang bertanya, ia berdiri di samping Ayumi sambil menatap Erik menyelidik.
Erik balik menatap dokter pembimbing Ayumi itu dengan sorot mata dingin, "Bukan, dia bukan muridku, tapi hampir semua dosen mengenalnya karena kepintarannya."
Wajah Ayumi semakin memucat, ia kini benar-benar merasa terluka, penantian dan kerinduannya selama ini hanya sia-sia karena orang yang ia rindukan hanya menganggapnya sebagai murid yang pintar tidak lebih dari itu, ia bahkan tidak mengakui kedekatan mereka selama ini.
Bodoh, bisik Ayumi dalam hati, ia perempuan bodoh karena telah jatuh cinta kepada pria berhati dingin dihadapannya. Ia mengutuki kebodohanya sendiri, matanya menatap Erik dengan sorot mata terluka, yang kini juga sedang menatapnya, alisnya sedikit berkerut melihat sorot mata itu, dadanya terasa di remas dan sakit, ia tahu ucapanya telah melukai gadis yang ia cintai tapi hatinya jauh lebih sakit ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat apa yang dilakukan gadis itu.
Suara tawa Dr. Choi menyadarkan keduanya dari pikiran masing-masing, sekarang semua orang menatap ayah tiri Ayumi itu yang tengah menatapnya dengan bangga.
"Dia memang sangat pintar, dia bahkan mendapat nilai sempurna ketika kelulusannya kemarin," ucap Dr. Choi dengan bangga.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya Tuan Lee dengan antusias, yang di jawab Dr. Choi dengan anggukan yang bersemangat, "Bagus, putraku juga sangat pintar mereka akan menjadi pasangan yang cocok," lanjutnya yang di sambut tawa semuanya, kecuali dua orang yang saling berhadapan, mereka hanya terdiam seribu bahasa.
"Bukankah kau sudah memiliki kekasih?" Erik bertanya yang membuat ruangan itu kembali hening, semua orang menatap Ayumi yang masih terdiam.
"Sepertinya kau tahu banyak tentang dia." Dr. Lee memecah keheningan, tangannya di lipat di atas dada, matanya tajam menatap pria dihadapannya yang hanya berdiri santai.
Erik kembali menatap Dr. Lee dingin, "Aku pernah melihatnya bersama pria, dan gadis secantik dia," Erik kembali menatap Ayumi yang masih terdiam, "Pasti banyak yang suka, iyakan?"
Ayumi hanya bisa diam seribu bahasa, keheningan menyelimuti ruangan itu untuk kesekian kalinya, semua orang menanti jawabannya, "Ayumi, apa yang dikatakannya benar? Kanapa kau tidak mengenalkannya pada Appa? Apa Kakakmu mengenalnya?" Dr. Choi bertanya yang membuat gadis itu menarik napas panjang.
"Dia benar aku mempunyai seorang kekasih," ucap Ayumi yang membuat semua orang saling pandang, "Tapi dia meninggalkanku hampir tiga tahun yang lalu," lanjutnya sambil menatap Erik tajam, "Dia bahkan pergi tanpa memberi kabar apapun, seperti menghilang ditelan bumi. Mungkin saat ini dia sedang bersama kekasihnya, tanpa mengingat kalau aku ada dan dengan bodoh menunggunya selama ini."
"Apa itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu, Dosen Kim?" Tanya Ayumi dengan suara dingin yang membuat Erik terdiam.
Semua mata kini terpusat kepada Erik yang akhirnya mengangkat bahunya acuh, dan itu hanya membuat Ayumi semakin terluka. Ayumi menarik napas panjang, ia sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi untuk berada di ruangan yang sama dengan pria yang berpura-pura tidak mengenalnya itu.
"Jadi sekarang kau tidak punya kekasih?"
Ayumi menatap Dr. Lee yang bertanya dengan santai.
__ADS_1
"Tidak," jawabnya tegas yang membuat dokter tampan itu tersenyum miring.
"Bagus, karena sekarang kau jadi kekasihku.” Dr. Lee tersenyum sambil menatap Ayumi yang menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya.
***
Hanya diperlukan satu buah korek api dan bensin untuk membakar hutan yang luas. Dan hanya diperlukan mulut satu orang dan sebuah tindakan sederhana untuk menyebarkan gosip pacaran Ayumi dan Dr. Lee Soo Hyuk di seluruh Rumah Sakit. Hanya sebuat teriakan, "Sayang, tunggu aku!" dari dokter Vampire itu di depan seorang perawat yamg tengah berjaga maka seperti api yang menjalar membakar hutan kering, hanya dalam beberapa menit semua orang di seluruh Rumah Sakit sudah mengetahui berita itu.
Ayumi baru keluar dari ruang UGD dimana tadi sempat terjadi kehebohan karena tabrakan beruntun ketika dokter ahli bedah itu memanggilnya dengan mesra, dia bahkan berlari mengejarnya dan tentu saja itu merupakan pertunjukan yang cukup membuat siapapun yang melihatnya akan berpikir lain.
Semua orang kini menatap Ayumi dengan penasaran, spekulasi beredar, bahkan taruhan mulai di buka tentang berapa hari dokter playboy itu akan meninggalkan Ayumi. Tapi ia tak perduli dengan semua itu, ia tak perduli dengan bisik-bisik di sekelilingnya, ia tak peduli ketika para perawat dan dokter perempuan menatapnya dengan pandangan menghina karena akhirnya seperti mereka semua ia telah jatuh ke dalam pesona sang Vampire.
Yang harus ia lakukan adalah memasang earphonenya dan semua bisik-bisik itu tak akan terdengar, tapi tidak dengan pikiran dan hatinya yang terluka, tidak ada yang bisa menutupi itu semua.
Ayumi kini berada di atap Rumah Sakit, tempat favoritnya untuk menyendiri. Dari sini ia bisa melihat pemandangan matahari terbenam yang sudah menjadi seperti ritual baginya setiap hari. Earphone putih menaminya dengan setia, kali ini suara Adelle yang mengalun lembut dari benda mungil itu, tangannya bertumpu di pagar tembok matanya menatap ke kejauhan, angin menerpa wajahnya memberikan kesejukan dan untuk sesaat menerbangkan semua masalahnya yang menimpanya hari ini.
Suara sirine ambulan terdengar dari bawah, begitu juga dengan jalanan yang penuh dengan lalu lalang kendaraan, sebagai kota terbesar ke dua setelah Seoul dan kota pelabuhan terbesar di Korea Selatan, kota ini memang selalu terlihat ramai, tapi keramaian itu tidak berpengaruh kepada Ayumi karena ia selalu merasa kesepian, ia selalu merindukan pria yang tadi ia temui, pria yang tak mengakuinya.
****
__ADS_1