
"Apa kau sudah makan siang?" tiba-tiba Dr. Lee merangkul bahu Ayumi dari arah belakang yang membuat gadis itu hampir saja melompat karena kaget.
"Senior! Apa yang kau lakukan? Semua orang melihat kita," bisik Ayumi sambil melepaskan tangan dokter tampan itu dari bahunya.
"Biarkan saja, biar semua orang mengetahui kalau sekarang kau telah menjadi milikku," ujarnya santai sambil tersenyum.
Ayumi terdiam, dadanya merasakan sesuatu yang aneh ketika mendengar kata-kata itu bukan rasa bahagia layaknya orang yang jatuh cinta tapi lebih kepada perasaan takut kalau keputusannya tadi malam untuk memberikan kesempatan kepada pria itu salah, dan perasaan bersalah karena seolah-olah memanfaatkannya untuk melupakan yang lain.
Sepanjang perjalanan pulang tadi malam mereka isi hanya dengan keheningan, mereka larut dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya tiba di depan apartemen, Ayumi baru saja akan pamit ketika pria bermata tajam dan berhidung runcing itu memecah keheningan.
"Tidak bisakah kau melupakannya?"
Ayumi terlihat terkejut ketika mendengar suara rendah milik pria itu yang terlihat sangat terluka, dan ia tahu dirinyalah yang telah membuatnya terluka.
"*Apa kau tahu siapa dia?"
"Seung Won*?"
Jantung Ayumi kini terasa mau copot mendengar pria di sampingnya menyebut nama asli dari pria yang coba ia lupakan.
__ADS_1
"Bagaimana kau mengetahuinya?"
Ayumi masih ingat pandangan nanar dari mata yang biasanya menatap tajam itu ketika menatapnya dan itu membuatnya merasa sangat bersalah.
"Aku mengetahuinya dari cara bagaimana kalian saling menatap satu sama lain, dan tadi... kau memanggilnya dengan sangat akrab."
Pada saat itu Ayumi hanya bisa diam tertunduk, ia pikir ia telah begitu hebat dalam menyembunyikan perasaannya sendiri tapi ternyata orang lain dengan gampang menebaknya.
"*Ayumi, dia telah bertunangan dengan adikku."
"Aku tahu! Kau tak perlu mengingatkanku tentang itu, dan kau tak perlu khawatir aku akan merebutnya dari adikmu... aku tak akan melakukan itu, kau bisa memegang ucapanku*."
"Baiklah aku percaya," ucap Dr. Lee setelah diam beberapa saat, "Jadi Ayumi, aku mohon beri aku kesempatan untuk membantumu melupakannya, beri aku satu kesempatan untuk menggantikannya di hatimu, beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku."
Ayumi terdiam mendengar ucapan pria yang kini menatapnya sambil mencengkram bahunya, dalam keremangan cahaya di dalam mobil ia masih bisa melihat kesungguhan dan ketulusan dari ucapannya. Ayumi terdiam larut dalam tatapan mata tajam pria itu sebelum akhirnya ia menggelengkan kepala.
"Tidak.. Senior... maafkan aku... bagaimana bisa aku menerimamu di saat hatiku masih memikirkan pria lain? Bagaimana bisa aku melakukan hal seperti itu kepada pria sebaikmu?"
"Ayumi... bagaimana bisa kau mengisi hatimu dengan pria lain kalau kau tidak memberi kesempatan kepada yang lain untuk mendekatimu?"
__ADS_1
Ayumi membuang napas panjang ketika mengingat pembicaraan mereka berdua tadi malam yang berakhir dengan kemenangan pria yang kini berjalan di sampingnya, dengan gigih ia akkhirnya bisa meyakinkan dirinya untuk memberikan apa yang dimintanya, yaitu sebuah kesempatan.
"Mau kemana kita?" Tanya Ayumi terkejut ketika menyadari mereka kini tengah berada di dalam lift.
"Ayahku menelepon, dia memintaku datang ke ruangan Yuri," jawab Dr. Lee santai sambil tersenyum, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana hitamnya.
"Tapi..." ucap Ayumi gugup.
"Tidak usah khawatir, pria itu tidak ada di sana, aku dengar kedua orangtuanya datang jadi sepertinya baru nanti sore mereka akan menjenguk adikku."
Tapi perkiraan dokter ahli bedah itu salah, ruangan VVIP tempat adiknya di rawat kini terlihat penuh oleh beberapa orang, Ayumi mengenal Tuan dan Ny. Lee yang tengah duduk di sofa bersama sepasang suami istri yang kini menatap mereka menyelidik.
"Waaah siapa yang datang ini? Soo Hyuk… ah! Aku rasa aku harus memanggilmu Dr. Lee, kau terlihat sangat tampan dengan jas putihmu itu," ucap seorang wanita yang terlihat anggun dengan dress selutut berwarna broken white, berhiaskan kalung mutiara yang juga satu set dengan anting dan gelangnya. Wanita berambut sebahu itu kini berdiri untuk memeluk Dr. Lee yang harus menunduk supaya wanita itu bisa mengecup pipinya sambil tersenyum.
"Anda juga terlihat cantik seperti biasanya," puji Dr. Lee sambil memerlihatkan senyum mautnya.
Kini Dr. Lee membungkuk dan bersalaman dengan seorang pria paruh baya yang memiliki karisma sangat kuat di balik jas warna abu-abunya, Ayumi yakin kalau pria itu sangat tampan di saat mudanya karena sampai sekarangpun ia masih memiliki guratan-guratan ketampanannya.
Dada Ayumi berdetak kencang, alisnya berkerut, mata bulatnya kini bertatapan dengan mata hitam milik pria paruh baya itu yang terlihat sedikit terkejut ketika menyadari keberadaannya. Ia sepertinya telah bertemu pria itu, tapi kapan? Dimana? Otaknya berputar mencoba mengingat tapi berakhir dengan kebuntuan, ia sama sekali tidak bisa mengingatnya.
__ADS_1
*****