
Ayumi mengerang ketika berusaha membuka mata ia merasakan kepalanya berdenyut hebat, lalu kembali memejamkan mata hanya untuk sekedar menghalau sedikit rasa sakit yang menusuk pelipisnya.
"Kau sudah bangun?" Suara berat milik pria yang akhir-akhir ini ia hindari membuatnya kembali membuka mata sempurna. Disanalah pria itu berdiri dengan membawa nampan di tangannya.
"Kau harus makan bubur lalu minum obat, kau demam tinggi semalaman," ujar Erik sambil duduk di pinggir tempat tidur Ayumi yang langsung saja menaikan selimutnya sampai menutupi hidung dan hanya memperlihatkan kedua bola mata hitam milik gadis itu, melihat tingkah Ayumi, Erik hanya menatapnya dingin dan untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap tanpa sepatah katapun.
"Kau mau bangun sendiri lalu makan bubur ini atau kau ingin aku membangunkanmu lalu menyuapimu?" Tanya Erik masih tanpa ekspresi dan suara dinginnya yang sukses membuat Ayumi langsung berusaha untuk duduk.
Tapi baru saja ia mengangkat kepalanya sedikit ia langsung mengernyit ketika merasakan sakit yang menusuk seperti ada ratusan jarum yang merajam kepalanya, sambil memegang kepala dengan tangan kiri ia akhirnya bisa duduk walaupun dengan perjuangan yang sangat keras. Erik bisa melihat wajah Ayumi yang memucat dan terlihat kesakitan lalu dengan sigap ia menyusun bantal di belakang punggung gadis itu hingga ia bisa bersandar dengan nyaman.
"Terima kasih," ucap Ayumi lemah sambil bersandar dengam wajah bercucuran keringat dingin menandakan kalau gadis itu benar-benar sakit.
"Kevin semalam datang membawa makanan dari Ibunya John, tapi aku rasa kau belum bisa memakan makanan itu jadi aku membuatkanmu bubur," ujar Erik sambil menyerahkan nampan berisi satu mangkuk bubur yang masih panas.
Mungkin Ayumi akan sangat bahagia mendengar Erik membuatkan bubur untuknya andai saja ia tidak dalam keadaan yang sangat lemah bahkan hanya untuk mengangkat sendok yang terlihat bergetar ditangannya, melihat itu Erik langsung mengambil alih kembali nampan itu lalu mulai menyuapi Ayumi yang kini menatapnya dengan sorot mata tak terbaca.
"Aku bisa makan sendiri." Ayumi menolak untuk disuapi Erik yang langsung menatapnya dengan pandangan menusuk.
"Sekarang bukan saatnya untuk menjadi keras kepala, untuk mengangkat sendok saja kau tidak sanggup," ujar Erik sambil menjejalkan satu sendok bubur yang mau tak mau akhirnya di terima Ayumi. Tak ada kata yang terucap di antara mereka berdua, dalam kebisuan Erik dengan telaten menyuapi Ayumi yang masih tertunduk lemah dan merasa malu karena harus menerima diperlakukan seperti bayi oleh pria itu.
"Apa kau semalaman menjagaku di sini?" Ayumi berusaha memecah keheningan yang terasa kaku sambil menatap Erik yang tengah meniup bubur dalam sendok supaya tak terlalu panas sebelum menyuapkannya ke dalam mulut Ayumi, Erik menganggukkan kepala sambil kembali menyendok bubur lalu meniupnya kembali.
"Bukankah kau bilang Kevin semalam datang?"
Erik menghentikan aktifitasnya ketika mendengar pertanyaan Ayumi yang kini mulai terlihat sedikit membaik tidak sepucat tadi.
"Iya, dia datang ketika aku tengah menggendongmu dan hampir saja memukulku karena mengira aku yang telah membuatmu pingsan di pinggir jalan."
Ucapan Erik itu sukses membuat Ayumi tersedak dan terbatuk-batuk hingga memerah, dengan santai Erik memberikan segelas air putih lalu menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan lembut.
"Maafkan aku," ujar Ayumi setelah ia bisa berbicara walaupun dengan batuk-batuk kecil dan akhirnya berdehem untuk melegakan tenggorokannya.
"Kenapa kau meminta maaf padaku? Itu bukan salahmu, Kevin hanya salah paham saja," ujar Erik sambil berjalan ke arah dapur untuk menyimpan nampan berisi mangkuk bubur dan gelas yang sudah kosong.
"Maaf karena telah merepotkanmu, seharusnya kau pulang saja semalam tidak perlu menjagaku," ucap Ayumi sambil menatap Erik yang tengah berdiri di seberang ruangan tepatnya di bagian dapur sederhana miliknya.
__ADS_1
Apartemen Ayumi memang sederhana hanya ada satu ruangan, tempat tidur single menempati ujung ruangan, sebuah meja belajar berada tepat dipinggirnya yang dihiasi deretan buku-buku yang tertata dengan rapi dan satu buah lemari pakaian berada di bagian ujung tempat tidur, sebuah sofa warna kuning berada di tengah ruangan menghadap meja tempat televisi 21' berada, sedangkan kamar mandi dan dapur bersebelahan berada di ujung ruangan lainnya, hanya dengan satu pandangan saja kita bisa melihat seluruh ruangan itu dengan gampang, tapi Ayumi adalah sosok yang rapi dan bersih sehingga apartemen sederhana itu terlihat nyaman untuk ditempati.
Beberapa saat Erik hanya diam membisu sambil berpangku tangan menatapa Ayumi yang tengah duduk di atas tempat tidur, ia lalu berjalan menuju lemari pendingin satu pintu untuk mengambil apel, memotongnya menjadi potongan-potongan kecil yang disusunnya di atas piring kecil.
"Kevin yang memintaku untuk menjagamu, ia harus pergi karena ada urusan penting," ujar Erik sambil berjalan mendekati Ayumi, "Apa kau berharap kalau Kevin yang menjagamu?" Lanjut Erik sambil duduk di kursi belajar milik Ayumi.
"Tidak, aku telah terbiasa hidup sendiri jadi aku tak mengharapkan siapapun menjagaku." Ayumi menjawab sambil mengambil obat yang diserahkan Erik dan mengernyit ketika melihat beberapa tablet obat yang harus ia minum, tanpa banyak tanya ia langsung meminumnya.
Erik menatap Ayumi beberapa saat sebelum akhirnya ia membuka suara, "Tapi apa kau akan lebih bahagia kalau Kevin yang menjagamu?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Ayumi menatap Erik yang terlihat serius walaupun wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi, beberapa saat hanya ada keheningan diantara mereka berdua, sampai akhirnya Ayumi mengangkat bahunya sambil menatap ke arah depan dengan pandangan kosong.
"Entahlah, mungkin saja... setidaknya Kevin tak akan menuduhku atau menghakimiku seperti yang kau lakukan."
Erik terlihat menegang mendengar jawaban Ayumi, tapi ini sudah waktunya ia tak boleh menghindar lagi untuk menyelesaikan masalah yang telah tertunda cukup lama.
"Apakah ini saatnya kau bertanya, apa aku suka mengajak pria-pria masuk ke dalam apartemenku? Atau kau akan bertanya apa aku selalu ditemani pria semalaman ketika aku sakit?" Tanya Ayumi sambil menatap Erik dengan sorot mata terluka.
Erik hanya terdiam menatap Ayumi yang tengah menatapnya menunggu jawaban.
"Bukankah itu sudah sangat terlambat? Apa kau tahu kalau satu kampus tengah mengolok-olokku karena kejadian siang itu?" Erik terkejut mendengar ucapan Ayumi, selama ini tidak pernah ada yang berani mengungkit soal kejadian di taman belakang di hadapannya, mungkin karena ia seorang dosen tapi berbeda dengan Ayumi yang hanya seorang Mahasiswi dan seharusnya ia menyadari hal itu.
"Siapa yang melakukan itu padamu?" Ujar Erik dengan geram, mendengar nada suara Erik yang penuh amarah membuat Ayumi sedikit terperanjat, tapi ia dengan cepat bisa mengendalikan dirinya sehingga kembali bersikap normal.
"Sekarang semua itu sudah tidak penting, semua sudah terlambat... aku bisa mengatasinya sendiri." Ayumi berkata sambil memainkan jari-jari tangannya di atas selimut yang membungkus tubuh mungilnya.
"Selama ini aku selalu berusaha untuk berbicara dan meminta maaf kepadamu, tapi kau selalu menghindariku."
"Aku? Menghindarimu?" Seru Ayumi dengan sorot mata penuh amarah, "Kau memang selalu datang ke cafe tapi hanya untuk memesan makanan, apa kau pernah sengaja menemuiku di sana?" Tanya Ayumi masih dengan penuh amarah sambil menatap Erik yang duduk terdiam.
"Di kampus apa kau pernah berusaha mendekatiku? Kau hanya menatap dari kejauhan. Iya, aku tahu kau selalu mengawasiku tapi apa kau berharap aku yang akan mendatangi terlebih dahulu untuk memohon permintaan maaf darimu?"
Erik hanya bisa diam seribu bahasa karena semua yang dikatakan gadis itu benar, ia sekarang terlihat bak seorang pengecut dan untuk pertama kalinya ia tak berkutik dihadapan seorang perempuan. Ruangan kembali hening, Erik tak tahu harus mengatakan apa atau lebih tepatnya dari mana dia harus memulai perkataannya.
"Sudahlah semua sudah berlalu," ucap Ayumi memecah keheningan sambil membetulkan letak bantalnya dan bersiap untuk tidur.
__ADS_1
"Aku rasa obatnya sudah bereaksi aku mulai mengatuk, kau sebaiknya pulang untuk beristirahat terima kasih karena telah menjagaku." Ayumi menatap Erik yang masih duduk terdiam di atas kursi belajarnya.
"Tak usah khawatir aku akan mengatakan kepada Kevin kalau kau telah menjagaku dengan sangat baik, bukankah kau menjagaku karena Kevin yang menyuruhmu? Jadi kau tak usah khawatir," lanjut Ayumi sambil merebahkan badannya dan tidur miring memunggungi Erik.
Beberapa saat Erik hanya menatap punggung Ayumi yang terlihat sangat rapuh, ingin rasanya ia memeluk tubuh itu dan memberikan perlindungan.
"Maafkan aku, aku tahu aku salah... kau boleh bilang aku pengecut atau apa saja, tapi aku takut... aku takut kalau bicara denganmu, aku akan kembali menyakiti hatimu, aku takut tak bisa mengontrol mulutku yang tajam ini." Erik membuang napas berat sambil berdiri kemudian duduk di pinggir tempat tidur Ayumi yang masih diam tak bergerak.
"Aku memang salah, untuk sesaat ketika melihatmu tertidur di bawah pohon aku lupa dimana kita berada saat itu, bahkan aku lupa kalau aku sedang bersama murid-muridku, yang aku ingin lakukan saat itu hanyalah berlari ke arahmu dan memberikan kenyamanan untukmu." Ayumi masih terdiam tak bergeming mendengar ucapan Erik itu.
"Aku memang tak berhak untuk melakukan pembelaan diri di hadapanmu, semua memang salahku. Ketika melihat matamu yang terluka karena ucapanku siang itu, aku merasakan luka yang sama dan dalam hati aku mengutuk ucapan dan kebodohanku sendiri karena tidak langsung mengejarmu dan meminta maaf padamu." Erik mengambil napas panjang lalu membuangnya perlahan sebelum melanjutkan perkataannya.
"Pagi itu aku sengaja datang ke cafe untuk bertemu dan meminta maaf padamu, tapi yang kulihat di sana adalah kau dalam pelukan pria lain dan itu membuat amarahku kembali muncul, aku pergi tanpa mengatakan apa-apa," ujar Erik dengan lemah.
"Tapi akhirnya aku mengetahui kalau pria itu hanya seseorang yang berusaha kau tolong, John yang menceritakannya padaku sore itu ketika aku kembali ke cafe dan Kevin memperkenalkan diri sebagai pelayan baru di sana." Erik mengingat sore itu ia kembali ke cafe hanya untuk memastikan hubungan Ayumi dan pria yang memeluknya, dan John menjelaskan semua kesalaha pahaman itu kepadanya.
"Besoknya aku kembali ke cafe, aku melihatmu di sana tapi sudah terlambat kau mulai menghindariku, aku selalu berharap kalau kau yang datang melayaniku tapi kau selalu meminta orang lain untuk melakukan itu."
"Semua memang salahku, seharusnya aku mendatangimu langsung dan meminta maaf tapi untuk pertama kalinya aku tak tahu apa yang harus aku ucapkan kepada seorang perempuan. Sampai akhirnya kau semakin menjauh," ucap Erik pelan.
"Kau tahu, beberapa hari ini aku tersiksa karena kau selalu menghindar, aku seperti kehilangan arah dan aku tahu itu semua salahku karena telah menyakitimu.. aku mohon maafkan aku," ujar Erik dengan lirih, perlahan ia membaringkan badannya di samping Ayumi kemudian memeluk tubuh ringkih gadis itu yang langsung saja menegang di bawah pelukakannya menandakan kalau Ayumi belum tertidur.
"Berteriaklah, maki aku kalau kau marah padaku, jangan kau menyiksaku dengan menghindariku dan mengacuhkan diriku karena itu lebih menyakitkan untukku," lanjut Erik sambil menaruh pipinya di atas pucuk kepala Ayumi yang masih terdiam.
"Sekali lagi maafkan aku, aku tak bermaksud menyakitimu, aku hanya tak bisa membayangkanmu tertidur di atas pangkuan pria lain." Erik mengambil napas panjang sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Kau perlu tahu kalau aku sangat egois, aku tak mau berbagi dirimu dengan siapapun, aku hanya ingin kau menjadi milikku, karena aku menyukaimu, Ayumi."
Erik dapat merasakan tubuh Ayumi yang kembali menegang bahkan ia bisa mendengar suara jantung gadis itu yang berdetak cepat, diam-diam ia tersenyum karena mengetahui bukan hanya dirinya yang merasakan debaran didadanya.
"Bukan Kevin yang menyuruhku menjagamu tapi aku yang mengusir pria itu dari sini, karena hanya aku yang akan merawatmu saat kau sakit, hanya aku yang akan menjadi sandaranmu saat kau lelah, hanya aku yang akan menghapus air matamu, karena hanya aku yang sangat mencintamu."
Erik mencium kepala Ayumi lembut kemudaian mengeratkan pelukannya sampai akhirnya ia memejamkan mata dan untuk pertama kalinya ia bisa tersenyum dengan penuh kedamaian dengan seorang gadis yang ia cintai dalam dekapannya yang tanpa ia ketahui kini tengah tersenyum lembut walau dengan air mata perlahan bergulir di pelupuk matanya.
***
__ADS_1