
Waktu berlalu dengan cepat, Yuri telah keluar dari rumah sakit beberapa hari setelah pertemuan terakhir Erik dan ayumi. Ya… itu benar-benar pertemuan terakhir mereka, setelah malam itu Erik tak pernah bertemu gadis itu lagi, mereka mencoba menghindar satu sama lain, mereka hanya akan saling memerhatikan dari kejauhan.
Hubungan Ayumi dan Dr. Lee semakin dekat, mereka selalu menghabiskan waktu setiap hari bersama, layaknya sepasang kekasih mereka akan makan siang bersama di kantin rumah sakit dan itu membut siapa saja melihatnya merasa iri karena keserasian keduannya. Di akhir pekan mereka akan pergi kencan, dari mulai nonton bioskop ataupun mengeksplore tempat-tempat wisata yang ada di Busan, dan kegiatan yang terakhirlah yang membuat Ayumi merasa bahagia. Mereka pergi ke Beomeosa atau kuil Beomeo yang terletak di kaki gunung Geumjeong yang telah berusia sekitar 1300 tahun, serta melihat pagoda batu tiga tingkat yang menjadi harta karun Korea Selatan, mereka bahkan mengunjungi berbagai macam taman yang ada di kota pelabuhan terbesar ke 3 di dunia itu, dan salah satunya adalah taman PBB.
Perlahan gadis itu sudah mulai menerima kehadiran pria itu di sampingnya, perlakuannya yang sangat perhatian dan juga baik sedikit demi sedikit sudah bisa mulai mengisi hatinya walaupun disaat sendiri ia masih suka menangis karena merindukan Erik dan yang bisa ia lakukan hanya memeluk boneka minionnya. Tapi Ayumi belum bisa melepaskan kalung berliontin bunga salju pemberian pria itu walaupun Dr. Lee telah memberikan kalung dengan liontin inisial mereka berdua.
Bulan Mei merupakan bulan terakhir musim semi di Busan dimana semua bunga telah mekar dengan sempurna, setiap taman dihiasi bunga warna warni yang di tata apik, pohon sakura yang ditanam hampir disemua trotoar jalanan telah mekar seluruhnya membuat kita seolah dipayungi oleh kelopak bunga pink ketika kita berjalan di antaranya. Ketika musim indah seperti itulah ibunya meninggal.
Prof. Choi, Kevin dan Ayumi hari ini tengah melakukan upacara tahunan kematian ibunya. Ayah dan kakaknya mengenakan stelan rapi hitam-hitam begitu juga dengan dirinya yang mengenakan rok hitam selutut lengkap dengan stoking dan blazer hitam. Mereka berjalan menyusuri pemakaman yang berada tak jauh dari Beomeosa, pemakaman itu layaknya seperti tempat pemakaman di Indonesia yang ditanami rumput hijau dan sebuah nisan sebagai petanda.
Entah kenapa setiap Ayumi mendatangi makam perempuan yang telah melahirkannya itu, selalu ada getaran hebat yang merambati hatinya. Tiba-tiba ia merasakan kesedihan yang mendera hatinya, juga rasa rindu. Walaupun ia belum pernah sekalipun bertemu dengan perempuan yang seharusnya ia panggil dengan sebutan ibu itu, tapi ternyata ikatan diantara mereka sangat kuat layaknya hubungan ibu dan anak. Bahkan ketika pertama kali datang ke sana bersama Kevin, ia menangis tersedu-sedu sambil bersimpuh di hadapan gundukan tanah itu, berharap andai ia melakukan hal itu ibunya akan hidup lagi dan memeluknya erat. Tapi sekarang ia sudah mulai terbiasa walaupun rasa sedih itu tetap ada.
Sepulang dari makam Kevin dan Ayumi memutuskan untuk pergi jalan-jalan di Haeundae setelah sebelumnya mereka berganti pakaian dengan mengenakan pakaian casual. Kevin layaknya selebritis dia mengenakan topi baseball dan kacamata hitam sebagai penyamaran, walaupun sedikit sia-sia karena tetap saja beberapa orang mengenalinya tapi ia tak ambil pusing, dengan santai ia merangkul bahu adiknya yang hari ini terlihat santai dengan celana putih pendek, kaos garis-garis berwana pink dan cardingan panjang tipis berwarna abu-abu muda, lengkap dengan sepatu ketsnya dan rambut di kuncir ia terlihat seperti mahasiswi yang sedang berlibur.
"Jadi kau sekarang sudah bisa melupakan, pria itu?" Kevin bertanya sambil meminum jus mangga miliknya, saat ini mereka tengah berjalan menyusuri pertokoan mewah yang ada di kawasan elit itu.
Ayumi hanya membuang napas berat lalu menggeleng sebagai jawaban, "Tapi aku sudah memutuskan akan mulai memikirkan hubunganku dengan Senior Lee dengan lebih serius," jawab Ayumi sambil meminum jus strawberi float miliknya.
Tadi sebelum ia pergi ke makam ibunya, ia telah melakukan hal yang besar walaupun terasa sulit di awal tapi akhirnya ia merasa lega setelah menanggalkan kalung berliontin bunga salju, menaruhnya di dalam kotak kecil untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam kotak besar bersama dengan boneka minionnya. Mulai hari ini, itu semua hanyalah benda masa lalunya yang harus ia kubur dalam-dalam. Kini di leher jenjangnya terlihat sebuah kalung baru berhiaskan liontin inisial dirinya dan juga kekasihnya. Ayumi tersenyum ketika membayangkan bagaimana reaksi dari Dr. Lee besok ketika melihat ia mengenakan kalung pemberiannya.
"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Kau pasti berkhayal yang tidak-tidak," ucap Kevin sambil menggelengkan kepala.
"Tidak," jawab Ayumi singkat sambil tertunduk.
"Yaah! Itu... aku melihatmu tersenyum lagi."
__ADS_1
Mereka tengah tertawa karena Kevin menggodanya ketika mata bulat itu menangkap siluet tubuh dari orang yang menjadi bahan candaan mereka.
"Oh, apa yang dia lakukan di sini?" Ayumi mengerutkan alisnya ketika melihat Dr. Lee berjalan tak jauh dari mereka.
"Sebaiknya kita ikuti dia, siapa tahu dia berselingkuh. Dan kalau itu benar maka aku punya alasan untuk meninjunya," ucap Kevin yang membuat Ayumi protes.
"Yaah! Dia tak akan melakukan itu." Ayumi memercayai pria berhidung runcing itu, walaupun di dalam hatinya ia sedikit merasa takut kalau apa yang diucapkan Kevin itu benar.
Kevin menarik Ayumi mengikuti kemana Dr. Lee pergi, alis mata Ayumi berkerut ketika melihat pria itu memasuki salah satu butik gaun pengantin terkenal, dan seketika ia mengetahui tujuan pria itu datang ke sana dan kalau dugaannya benar maka pria yang ia berusaha untuk lupakan juga ada di sana.
"Tidak, sebaiknya kita pergi saja." Ayumi tersenyum kecut dan setelah berpikir sejenak akhirnya Kevin bisa menebak alasan gadis itu bersikap seperti ini.
"Ini kesempatanmu untuk lebih memantapkan hatimu... ayolah, lagi pula aku perlu menggunakan toilet mereka,” ucap Kevin dengan terburu-buru yang sepertinya sudah tak bisa lagi menahannya, akhirnya dengan setengah hati ia berjalan mengikuti pria itu.
"Aku kemari bersama temanku yang baru saja masuk, Lee Soo Hyuk, apa kau tahu dimana mereka?" Kevin bertanya yang membuat pelayan itu memerah dan tanpa bertanya lagi dia menuntun mereka ke lantai atas yang berfungsi sebagai tempat fitting pakaian.
"Sebaiknya kau pergi duluan, aku akan ke toilet." Kevin langsung berbelok meninggalkan Ayumi sendirian. Tadi pelayan mengatakan kalau ia akan menemukan Dr. Lee di ruang fitting 4. Ia berjalan menyusuri koridor yang di kanan kirinya terdapat pintu-pintu dengan tulisan, office, fitting room 1, fitting room 2, fitting room 3 dan akhirnya fitting room 4 yang berada di paling ujung.
Ayumi memegang dadanya untuk menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba menggila, setelah mengambil napas panjang ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu tapi ternyata pintu itu tak tertutup rapat, ia membuka sedikit pintu berwarna putih itu seketika senyumnya terbit ketika melihat sosok Lee Soo Hyuk yang tengah duduk dengan bertumpang kaki di sofa berwarna merah marun. Ayumi baru akan masuk menyapa ketika ia mendengar suara lembut milik Yuri yang sepertinya tengah mencoba pakaian pengantinnya.
"Oppa, apa kau sudah melakukannya?" tanya Yuri sambil menatap pantulan dirinya di depan kaca, dengan satu orang pegawai terlihat sedang merapihkan pakaian pengantin yang melekat pas membalut tubuh langsing gadis itu.
"Melakukan apa?" tanya Dr. Lee malas sambil memainkan teleponnya.
"Memutuskan gadis itu."
__ADS_1
Lee Soo Hyuk kini menatap adiknya dengan mata tajamnya.
"Oppa, jangan katakan kalau kau belum melakukannya!" seru Yuri sambil menatap DR. Lee tak percaya.
"Kenapa aku harus memutuskan, Ayumi?"
Kini Yuri ternganga mendengar pertanyaan kakaknya.
"Apa kau lupa, aku memintamu mendekatinya supaya kau bisa mencampakkannya dan membuatnya terluka seperti pada saat Soo Hyuk Oppa mencampakkanku karena dia," ujar gadis itu dengan penuh amarah.
"Dia tidak ada hubungannya dengan penolakan Soo Hyuk dulu, dia bahkan belum bertemu gadis itu ketika dia menolakmu."
"Oppa, jangan katakan kau telah jatuh cinta kepada wanita itu?" Yuri bertanya dengan suara menggeram, matanya nyalang menatap kakaknya yang kini masih duduk menunggu giliran mencoba stelan jasnya yang telah dipesankan ibunya. Dr. Lee terdiam beberapa saat sambil menatap adiknya yang kini terlihat akan meledak.
"Tidak," jawabnya singkat yang berhasil membuat Yuri sedikit tenang.
"Kalau begitu kau putuskan dia secepatnya... aku mendengar kalian sudah semakin dekat dan sepertinya dia sudah mulai jatuh cinta kepadamu. Seung Won oppa akan menikah denganku, dan kau pria yang dia kira sangat mencintanya akan mencampakannya," Yuri tersenyum membayangkan ide jahatnya, "Bukankah itu sangat sempurna, dia akan merasakan sakit hati yang kurasa ketika Seung Won Oppa meninggalkanku dulu, " lanjutnya dengan seringai jahatnya, matanya menatap kakaknya yang hanya duduk terdiam.
Suara benda jatuh membuat mereka berdua menatap ke arah pintu dan seketika mata mereka terbelalak menyaksikan dua orang yang menjadi objek pembicaraan mereka tengah menatapnya dengan sorot mata terluka dan juga marah.
"Soo Hyuk Oppa," ucap Yuri dengan tergagap, tubuhnya tiba-tiba saja membeku karena rasa takut yang disebabkan oleh tatapan penuh amarah di kedua mata tajam milik pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Ayumi." Lee Soo Hyuk langsung melompat berdiri ketika melihat sosok perempuan yang telah mengisi harinya itu tengah menatapnya dengan sorot mata terluka dan itu membuat dadanya terasa sesak.
*****
__ADS_1