
Ervina, Lisa dan Maya berlari cepat kearah ruang UKS setelah mengetahui apa yg terjadi.
Saat mereka sedang belajar, tiba-tiba terjadi kegaduhan di sebelah kelas mereka. Semua murid segera berlari keluar ingin tau apa yg terjadi lalu terlihat Daffa berlari keluar dari kelasnya.
"Nes, ada ribu-ribut apaan sih. Terus kenapa tu si Daffa lari2 kayak gitu " tanya Maya.
Agnes lalu menceritakan semua kejadian tadi.
Mereka begitu kaget saat tau kalau teman mereka telah di bully sampai pingsan.
"Dimana Mentari "??? tanya Ervina pada Rian saat melihat mereka bertiga duduk di luar ruang UKS.
" Masih pingsan. Daffa ada di dalam " jawab Rian.
Maya menangis mendengar temannya pingsan.
"Bener kan kecurigaan gue kemaren. Harusnya kita gk ninggalin Mentari sendirian "ucapnya sambil terisak.
Rendra yg tidak tega melihat musuh bebuyutannya menangis, segera memeluknya. Dia menepuk punggung Maya lembut.
" Udah jangan nangis, ini bukan salah lo kok " hiburnya.
Maya yg sedikit lupa kalau Rendra adalah musuhnya membalas pelukan Rendra. Saat dia menyadari siapa Rendra,dia dengan sengaja membiarkan airmata dan ingusnya menempel di baju Rendra.
"Bisa ae lo Ndra cari2 kesempatan " bisik Rian ditelinga Rendra.
Rendra terkekeh pelan sambil menempelkan jari di bibirnya.
Ervina berusaha melihat kedalam. Dia masih belum tenang sebelum melihat keadaan Mentari. Begitupun Lisa, dia berjalan mondar mandir di depan pintu.
"Lo udah kaya setrikaan tau gk Lis. Jalan bolak balik dari tadi " ejek Ervin.
"Iya, bikin sakit mata tau gk. Sini, duduk ma gue aja " ucap Rian menarik tangan Lisa agar duduk disampingnya.
"Halahh, modus lo biji kacang " ejek Ervin.
Rian hanya tertawa.
Rendra masih dengan baik hatinya memeluk Maya yg menangis. Tanpa dia sadari seragamnya sudah basah terkena airmata dan ingus Maya. Merasa sudah cukup meninggalkan tanda di bajunya, Maya lalu melepaskan pelukannya.
"Makasih ya Ren udah kasih pelukan biar gue tenang " ucap Maya sambil memasang wajah penuh kesedihan.
(buat para reader's, kalian bayangin sendiri kayak gimana expresi Maya. Author udah guling2 gk jelas ngebayangin Maya 🤣🤣🤣)
"Iya May sama-sama. Lo gk usah sedih lagi, Mentari gk bakalan kenapa-kenapa ".
Maya menganggukkan kepalanya. Masih dengan expresi sedihnya, dia menatap mata Rendra.
" Ren "...
" Apa May "??? jawab Rendra pelan. Entah kenapa dadanya berdebar melihat tatapan Maya.
" Duhh, gue kenapa nih. Kok gue deg-degan gini. Mana suaranya lembut gitu " batin Rendra.
__ADS_1
"Makasih ya" ucap Maya sambil tersenyum manis.
"Kan tadi udah " jawab Rendra yg terpesona dengan senyuman Maya.
"Makasih udah ngerelain seragam lo buat ngelap ingus gue ".
Rendra melongo mendengar ucapan Maya. Sementara Ervin dan Rian berusaha membungkam mulut mereka menahan tawa melihat sahabat mereka hanya di kerjai oleh Maya.
" Elo.. elo... "
"Apa...
Hehe, emang enak gue kerjain. Itu balesan karena lo pernah ngerjain gue. Sekalian hadiah karena lo udah berani meluk gue tadi.
Lo pikir gue cewek gampangan yg bisa seenak jidat lo peluk-peluk".
Maya sangat puas melihat Rendra tidak bisa berkata-kata. Dia puas akhirnya bisa balas dendam ke Rendra. Walaupun tadi sempat merasa nyaman dipelukan Rendra.
" Keterlaluan lo May. Nyesel gue udah terpesona ke elo tadi " ucap Rendra kesal lalu meninggalkan mereka.
Maya terpaku mendengar perkataan Rendra. Semua yg disini juga kaget mendengar ungkapan perasaan Rendra.
"May, susul sono. Rendra ngambek tu " ejek Ervina.
"Ogah ah. Biarin aja, ntar juga balik sendiri " jawab Maya.
Hatinya sedikit terharu mendengar perkataan Rendra. Tapi dia nggak bakalan semudah itu percaya. Bisa saja Rendra cuma ngerjain dia, pikirnya.
Daffa tiba-tiba berdiri di pintu. Entah sejak kapan dia disana.
"Lo pada ngapain disini "??.
" Nungguin tukang sate,!!!.
Ya mau ngeliat Mentari lah Daf. Aneh banget si nanya nya. Heran gue "!! sewot Maya.
" Mentari gimana"??
Udah sadar "?? tanya Rian yg masih duduk disamping Lisa. Lisa hanya mendengarkan mereka sejak tadi. Dia sibuk membujuk jantungnya supaya berhenti berdebar.
" Udah " jawab Daffa cuek lalu kembali masuk ke dalam.
"Astaga tu anak. Tadi ngamuk kaya sapi gila. Sekarang malah berlagak kayak gk punya dosa. Gk tau apa ni badan remuk gara2 nahan dia " omel Ervin yg kesal melihat Daffa cuek.
"Lo gk papa Vin "?? tanya Ervina yg khawatir mendengar perkataannya.
" Tangan gue sakit sayang " rengeknya manja saat melihat Ervina khawatir padanya.
"Jangan percaya Er. Modus dia " cibir Rian sambil menarik Lisa masuk kedalam. Maya menjulurkan lidahnya kearah Ervin yg sedang cemberut karena Ervina meninggalkannya.
Mereka semua masuk kedalam menemui Daffa dan Mentari.
Mentari terlihat sangat pucat. Dia tersenyum lemah saat melihat teman-temannya datang.
__ADS_1
"Mentari "??? panggil Ervina, Maya dan Lisa.
Mereka segera berhamburan memeluk Mentari.
"Aku gk papa. Nggak usah sedih gitu " hibur Mentari melihat ketiga temannya terlihat sangat sedih.
"Gimana gk sedih coba, lo di bully sampe pingsan dan kita gk tau apa-apa. Lo kenapa gk cerita si Mentari " tanya Maya.
"Iya Mentari, harusnya lo jangan simpen masalah lo sendiri. Ada kita bertiga yg bakal bantuin lo " timpal Ervina.
"Sebagai teman, oh bukan-bukan. Gue ralat.
Sebagai sahabat, kita harus saling mendukung dalam suka dan duka. Kita harus saling membantu " ucap Maya sambil memegang tangan Mentari.
"Iya, mulai sekarang kalo ada apa-apa lo harus cerita ke kita bertiga Mentari. Kita hadapin sama-sama" Lisa ikut menggenggam tangan Mentari.
"Makasih ya kalian bertiga udah baik banget ke aku. Lain kali aku pasti cerita ke kalian ".
Mentari, Ervina, Lisa dan Maya saling berpelukan. Mulai hari ini Mentari bukan hanya teman mereka, tetapi sahabat mereka.
" Lepasin. Kalian bikin Mentari gk bisa nafas " ucap Daffa sambil melipat tangan di dada.
Dia begitu lega melihat Mentari-nya kembali bersinar meskipun wajahnya masih pucat.
"Lo ya Daf, sekalinya buka mulut langsung bikin ancur suasana " omel Maya yg tidak terima kebahagyaannya terganggu.
Rendra yg tadi merajuk tiba-tiba masuk ke ruangan.
"Udah lo ngambeknya " ledek Ervin.
"Kenapa gk ada yg nyusulin gue sih " protes Rendra.
"Lo pikir lo anak TK yg mesti dibujukin pas lagi ngambek apa Ren " ejek Rian.
Rendra mendengus diejek kedua sahabatnya. Matanya melihat kearah Maya yg juga sedang tertawa mengejek padanya.
"Tukang ngambek ".
Rendra melengos mendengar perkataan Maya.
Bel sekolah berbunyi tanda istirahat.
" Ayo pulang " ajak Daffa pada Mentari. Dia segera membawa tas Mentari lalu membantunya turun dari ranjang.
"Lo ati-ati ya Mentari, kita pasti nengokin lo pas pulang sekolah ".
Mentari tersenyum pada teman-temannya sebelum meninggalkan sekolah. Daffa dengan penuh perhatian menggendong Mentari. Tidak mempedulikan siulan dan teriakan dari para siswa lainnya.
" Daffa romantis banget ya. Gk nyangka gue cowok cuek kayak dia bisa perhatian juga ke cewek " ucap Ervina sambil memperhatikan bagaimana Daffa memperlakukan Mentari dengan sangat romantis.
"Gue juga romantis kok Er. Lo mau di gendong juga kayak Mentari "?? goda Ervin.
" Gue gk ngomong sama elo " jawab Ervina lalu meninggalkan mereka semua menuju kantin.
__ADS_1
Rian menoyor kepala Ervin setelah merayu Ervina tanpa rasa malu tadi.
Mereka semua lalu menyusul ke kantin karena perut mereka juga mulai merasa lapar.