Gue Jadian Sama Elo?? Mimpi...

Gue Jadian Sama Elo?? Mimpi...
Dia Milikku


__ADS_3

"Hati-hati sayang " ucap bunda khawatir sambil memegang pintu mobil.


Daffa mengantarkan Mentari pulang kerumah setelah sebelumnya mendatangi toko kue milik bunda Mentari.


Mengetahui anaknya pingsan di sekolah, bunda Mentari langsung menutup toko dan ikut pulang kerumah sambil menelvon ayah Mentari.


Daffa dengan perlahan menggendong Mentari yg masih tidur. Wajahnya masih pucat.


"Tunggu sebentar, tante buka pintu dulu ".


Setelah terbuka, Daffa lalu membawa Mentari masuk ke kamarnya. Daffa membaringkan Mentari diatas kasur yg berwarna biru. Lalu dia menatap sekeliling kamar ini.Hampir semua benda dan cat di kamar ini berwarna biru. Barangnya juga tertata sangat rapi.


" Apa yg kamu perhatikan Daffa "?? tanya bunda yg daritadi memperhatikan Daffa.


"Kamarnya rapi " jawabnya.


Bunda tersenyum mendengar jawaban Daffa yg cuma sepatah. Putrinya selalu bilang jika teman dekatnya ini sangat irit bicara.


"Dan wangi ".


" Mentari sangat suka aroma bunga mawar Daf. Itulah kenapa kamarnya selalu wangi " jawab bunda.


Bunda duduk di samping Mentari lalu membelai pipinya. Daffa sudah menceritakan semua kejadian yg menimpa putrinya di sekolah. Dirinya tidak menyangka jika selama ini Mentari mendapatkan bullying di sekolah.


"Kenapa kamu menyimpan semua masalah ini sendirian sayang "?? ucap bunda Mentari lirih. Hatinya sakit melihat putri kesayangannya diperlakukan sampai seperti ini.


" Mentari tidak mau tante dan om khawatir " jawab Daffa yg mendengar ucapan bunda Mentari.


Dia juga pernah menanyakan hal ini pada Mentari. Kenapa tidak jujur saja pada bundanya kalau dia di bully disekolah.


"Mentari memang seperti itu Daffa. Dulu juga begitu ".


" Dulu "??? tanya Daffa.


" Iya. Di sekolah lamanya juga seperti ini. Hanya karena dia menjadi juara lomba memasak, teman sekelasnya membully Mentari. Tante dan om tidak akan tau kejadian itu kalau istri adik ipar tante tidak memberitahu pada om dan tante ".


" Apa yg terjadi pada Mentari tan "??.


Bunda melihat kearah Daffa sebelum menjawab pertanyaannya. Terlihat kesedihan dimatanya . Daffa yg menyadari hal itu segera menghampiri bunda Mentari lalu berjongkok didepannya sambil menggenggam tangannya.


" Tante, Mentari baik-baik saja kan "??.


" Dia tidak baik-baik saja Daffa " jawab bunda sambil menutup wajahnya. Bunda menangis pelan.


"Maksud tante "?? dada Daffa berdebar melihat bunda Mentari tiba-tiba menangis.


"Tantenya Mentari kebetulan adalah seorang psikolog. Saat Mentari pulang dari lomba hari itu dia bersikap seperti biasanya.


Tapi tantenya yg kebetulan ada disini bisa melihat kalau mental Mentari sedang terganggu. Matanya kosong dan juga sedikit menjaga jarak pada om dan ayahnya. Dia mendekati Mentari untuk menanyakan apa yg terjadi. Setelah dibujuk selama 1minggu, barulah Mentari berani bercerita setelah sebelumnya meminta pada tantenya supaya tidak memberitahukan pada siapapun.


Dia dianiaya oleh teman-temannya. Mereka menguncinya didalam gudang yg gelap tanpa makan dan minum. Saat itu teman lelaki di kelasnya hampir melakukan pelecehan sexual padanya dan untungnya pihak sekolah yg sedang mencarinya berhasil menemukan dan menyelamatkan Mentari. Mentari memohon dihadapan kepala sekolah untuk tidak menceritakan masalah ini kepada kami berdua. Tapi rupanya semua itu berdampak pada psikologis Mentari. Dia tidak mau keluar kamar, tidak mau bicara, dan tidak mau sekolah. Kami semua bingung. Barulah tantenya Mentari menceritakan apa yg terjadi. Kami semua syok mendengar cerita tantenya. Ayah dan om Mentari mendatangi pihak sekolah untuk menuntut kejadian ini. Kami langsung mengeluarkan Mentari dari sekolah itu. Selama setahun ini dia melakukan pengobatan Daf. Dia belum pulih benar. Tante sangat khawatir melihatnya sekarang, tante takut dia kembali trauma".


Hati Daffa menjadi sangat sesak mendengar cerita tentang Mentari. Daffa lalu memeluk bunda Mentari yg masih menangis.


" Tenanglah tan, Daffa akan menjaga Mentari mulai sekarang. Daffa tidak akan membiarkan Mentari mengalami hal-hal buruk lagi ".


Saat kami sedang menemani Mentari dikamar, tiba-tiba saja pintu didorong dengan kuat. Suara langkah kaki yg tergesa-gesa berjalan kearah kami.

__ADS_1


" Ayah " panggil bunda sambil berlari kepelukan ayah Mentari.


"Apa yg terjadi bun "?? tanya ayah Mentari.


" Mentari kita menjadi korban bully lagi yah. Di sekolah sempat pingsan karena kepalanya terbentur tembok " jawab bunda Mentari terisak.


Ayah Mentari begitu kaget saat mendengar ucapan istrinya. Dia menatap sedih putrinya yg sedang berbaring tidur. Lagi-lagi putrinya mengalami hal seperti ini.


Ayah Mentari melepaskan pelukan istrinya lalu berjalan kearah tempat tidur. Matanya berkaca-kaca melihat wajah putri kesayangannya yg terlihat pucat.


"Kenapa kamu diperlakukan seperti ini nak,?? Kamu adalah gadis yg baik, kenapa mereka tega menyakitimu "?? bisiknya sambil mencium kening putrinya.


" Om, ini salahku yg tidak menjaga Mentari ".


Daffa yg sejak tadi diam membuka mulutnya berbicara. Dadanya sakit melihat orangtua Mentari begitu terluka melihat keadaan Mentari.


" Daffa bisakah kamu tinggalkan kami bertiga. Lebih baik kamu pulang saja " ucap ayah Mentari setelah mendengar Daffa bicara.


"Maaf om, Daffa tidak akan meninggalkan Mentari" jawab Daffa lalu duduk disamping Mentari.


"Kamu bisa datang kemari lagi besok ".


" Daffa sudah bilang tidak akan meninggalkan Mentari. Daffa akan tinggal disini sampai Mentari sembuh ".


" Apa kamu tidak lihat Mentari sedang sakit. Lebih baik kamu pulang sekarang sebelum saya mengusirmu " bentak ayah Mentari yg mulai habis kesabarannya. Bunda Mentari yg melihat suaminya mulai marah, segera menarik tangannya. Mengelus pelan punggung suaminya.


"Daffa, tante mohon. Kamu pulang dulu " ucap bunda Mentari memelas.


"Maaf tante, Daffa tetap akan disini. Tidak peduli jika om membunuhku sekalipun, Daffa tetap tidak akan pergi dari sini. Lebih baik om dan tante keluar, Mentari sedang istirahat " jawab Daffa datar.


Daffa lalu berbaring disamping Mentari,mengusap lembut wajahnya yg pucat. Dia tidak peduli dengan kemarahan ayah Mentari. Dia hanya akan memperdulikan Mentari saja.


"Anak itu benar-benar kelewatan bun. Dia bahkan menyuruh kita keluar dari kamar putri kita sendiri ".


" Ayah, Daffa seperti itu karena sangat khawatir dengan Mentari. Duduklah, bunda akan membuatkan teh untuk ayah " ucap bunda Mentari lalu segera membuat teh untuk suaminya.


"Sebenarnya apa yg terjadi bun,?? Kenapa putriku bisa sampai seperti itu "?? tanya ayah Mentari.


Bunda Mentari segera menceritakan apa yg didengarnya tadi dari Daffa. Termasuk kejadian setahun lalu yg diceritakan pada Daffa.


Ayah mengusap wajahnya. Dia terlihat bersalah sudah memaki Daffa dengan sangat kasar tadi. Dia begitu marah karena Daffa memaksa tetap tidak mau pergi dari sini.


Saat ayah dan bunda Mentari sedang berbicara, tiba-tiba pintu rumah ada yg mengetuk.


" Sebentar " teriak bunda sambil berjalan membuka pintu.


"Selamat siang, apa benar ini rumah nona Mentari,?? Kami dokter yg dipanggil kemari oleh tuan muda Daffa " ucap orang yg tadi mengetuk pintu.


"Benar, ini rumah Mentari anak saya " jawab bunda yg masih berdiri di depan pintu. Dia kaget karena tiba-tiba ada dua dokter berdiri di depan pintu rumahnya.


"Bolehkah saya masuk,?? Tuan muda Daffa meminta saya untuk segera memeriksa nona Mentari ".


" Oh maaf dok.


Mari silahkan masuk " jawab bunda mempersilahkan dokter itu masuk lalu mengantarkan ke kamar putrinya. Ayah Mentari kemudian menyusul istrinya dan dokter itu ke kamar.


"Tuan muda " sapa kedua dokter itu saat melihat Daffa yg sedang berbaring disamping Mentari.

__ADS_1


Bunda sangat lega melihat betapa perhatiannya Daffa pada putrinya. Bahkan meminta dokter langsung kemari untuk memeriksa keadaan Mentari.


"Periksalah " jawab Daffa datar tanpa merubah posisinya. Dia memperhatikan dokter yg sedang memeriksa. Terlihat kening dokter berkerut saat selesai memeriksa Mentari.


"Katakan saja " perintah Daffa.


"Maaf tuan muda, sepertinya nona ini...


" Namanya Mentari. Gadis ini milikku " jawab Daffa menatap tajam dokter yg tadi bicara.


Orangtua Mentari terkejut mendengar Daffa yg mengklaim jika putri mereka adalah miliknya.


Ayah Mentari tersenyum menyadari sifat Daffa yg sepertinya akan sangat posesif pada putrinya.


"Maaf tuan muda, nona Mentari sekarang membutuhkan seorang psikolog. Karena kondisi nona sepertinya sedang tertekan " jawab dokter itu sedikit takut.


"Kalian carikan saja dokter terbaik disini ".


Daffa lalu kembali membelai wajah Mentari. Dia merasa khawatir jika apa yg ditakutkan bunda Mentari kembali terjadi.


" Tidak usah dokter, ada kerabat kami yg akan mengobati putri kami " cegah bunda Mentari.


"Tapi tuan muda...


" Sudahlah, kalian pergi saja " ucap Daffa sambil membetulkan selimut Mentari.


"Baiklah tuan muda kami permisi. Selamat siang bapak ibu " pamit dokter.


"Terima kasih dokter " jawab ayah lalu mengantarkan mereka keluar.


Setelah kembali mengantar dokter, ayah Mentari kembali masuk ke kamar. Ayah dan bunda Mentari terus memperhatikan Daffa yg menatap putri mereka.


Sebelum akhirnya mereka membiarkan Daffa menemani Mentari yg masih tertidur karena meminum obat saat di sekolah tadi.


Mereka lalu menghubungi Lena, adik ipar mereka lalu menceritakan keadaan Mentari dan memintanya untuk datang kerumah.


*


*


*


*


*


*


*


 


Jika ada para reader's yg penasaran kenapa lebih banyak menceritakan tentang Daffa dan Mentari,, jawabannya adalah karena author sengaja.... hehhehe...


Daffa dan Mentari adalah pemanis buatan author sebelum mengemas kisah romantis tokoh utamanya. Sebentar lagi author akan fokus ke tokoh utamanya ko. Jadi para reader's pastiin untuk terus vote and like novel ini ya......


Amicuuu......

__ADS_1


 


__ADS_2