
" Aku pulang "...
Seorang gadis barusaja memasuki halaman rumah yg sederhana.
Rumahnya tidak terlalu besar, disamping dan depan rumah ini banyak tumbuh pepohonan yg ditata sangat rapi.
Beberapa bunga yg sedang mekar menambah suasana asri rumah itu.
" Sayang, gk baik perawan teriak2 kaya gitu. Malu kalo tetangga dengar " ucap seorang wanita paruh baya yg berdiri didepan pintu.
"Hehe, iya2 maaf Bun.
Mentari lagi seneng soalnya " jawab gadis yg bernama Mentari itu.
"Memang apa sih yg bikin anak bunda seneng sampai teriak2 kaya tadi.
Coba ceritain ke bunda " tanya wanita itu sambil mengajak putrinya masuk kedalam rumah.
Mentari meletakkan buku yg baru saja dia beli. Dia dan ibunya duduk di ruang tamu.
"Bunda tau gak apa yg baru aja Mentari beli "??.
" Apa sayang "??.
" Mentari akhirnya nemuin buku resep yg selama ini Mentari cari.
Lihat nih bun " ucapnya senang sambil menunjukkan sebuah buku resep masakan pada ibunya.
"Waahh, selamat ya sayang. Bunda bakalan nyicipin masakan baru nih kayaknya " jawabnya sambil melihat2 buku itu.
Putrinya sangat suka memasak. Setiap hari selalu memasak makanan lezat untuk orangtuanya.
"Bunda bisa aja deh. Oya bun, gimana toko hari ini?? Ramai gk "?? tanya Mentari.
Ibunya memiliki sebuah toko roti tidak jauh dari rumahnya.
" Alhamdulillah sayang, hari ini lumayan banyak pembeli. Banyak juga yg pesan buat acara mereka ".
" Alhamdulillah kalo gitu bun. Semoga selalu laris ya bun usaha kita.
Ayah dimana bunda?? Kok gk keliatan dari tadi "?? tanya Mentari saat tidak melihat keberadaan ayahnya.
" Ayah lagi istirahat dikamar. Baru aja pulang dari sekolah " jawab ibunya.
Ayahnya adalah seorang guru SMA negeri. Sering pulang malam karena banyaknya tugas disekolahnya.
"Hayoo, siapa yg ngomongin ayah tadi "?? tanya ayahnya yg baru keluar dari kamar.
Sepertinya baru selesai mandi.
" Tu anak kesayangan ayah yg nanyain " jawab ibunya sambil menggeser duduknya.
__ADS_1
"Oh, jadi cuma anak ayah aja nih yg nyariin, bundanya enggak "?? godanya pada wanita disebelahnya yg tersipu malu.
Mentari tertawa melihat kedua orangtuanya. Dia sangat beruntung memiliki orangtua yg selalu penuh kasih sayang.
" Ayah, Mentari boleh cerita nggak "??.
" Boleh dong. Memangnya anak ayah mau cerita apa "?? tanyanya pada Mentari.
" Tadi pas Mentari beli buku, Mentari gk sengaja tabrakan sama orang. Ayah tau gk dia siapa "??.
" Mana ayah tau sayang. Kan ayah gk disana tadi " jawab ayahnya.
"Hehe, iya juga ya. Yah, seorang anak boleh gk sih benci ke orangtuanya"??.
Ayah dan bunda terkejut mendengar pertanyaanku. Mereka menatap lama kearahku.
" Kenapa Mentari bicara seperti itu "?? tanya bunda.
" Bukan Mentari bunda, tapi orang yg nabrak Mentari tadi. Kayaknya dia lagi ada masalah sama orangtuanya deh bun. Wajahnya kayak orang yg lagi nahan emosi " jelasku.
"Darimana kamu tau kalau dia ada masalah dengan orangtuanya sayang "?? tanya ayah.
" Tadi Mentari nanya ke dia yah ".
" Sayang, gk baik ikut campur masalah orang lain. Kita tidak boleh menilai dari sudut pandang kita saja saat mendengar ceritanya.
Bisa saja dia yg melakukan kesalahan lalu orangtuanya marah " jelas ayah padaku.
"Tapi Mentari kasihan liatnya yah. Keliatan banget kalo dia tu lagi tertekan ".
" Sayang, tidak ada orangtua yg mau melihat anaknya tidak bahagya. Mereka pasti punya alasan sendiri untuk setiap perlakuan mereka pada anak2nya. Sama seperti ayah dan bunda. Ayah melarang kamu pacaran karena ada alasannya. Bukan karena ayah jahat dan tidak pernah mengalami masa muda sepertimu. Tapi karena ayah ingin yg terbaik buat kamu. Ayah ingin kamu fokus belajar untuk mengejar cita2 kamu. Supaya hidup kamu sukses. Percayalah nak, jika seorang wanita bisa menjaga harga dirinya sebaik mungkin, pasti suatu hari akan ada laki2 yg baik datang melamarnya " jelas ayah panjang lebar.
"Iihhh, ayah ko ngomongnya sampe ke lamaran segala. Mentari belum mau menikah ayah. Mentari masih mau sekolah" rengekku.
"Lho, memang bener ko yg ayah bilang. Contohnya ya bundamu ini. Bundamu sangat menjaga harga dirinya saat remaja. Makanya ayah bisa cinta mati ke bundamu. Susah lo dapetin cinta bunda kamu dulu. Belum lagi kakekmu yg galak itu ".
" Memang bener bun yg bilang ayah "?? tanyaku.
Bunda membelai kepalaku. Dia tersenyum sangat manis.
" Mentari, seorang wanita harus bisa menjaga mahkotanya. Mahkota itu yg akan kita berikan pada laki2 yg berhak, yaitu suami kita.
Wanita juga harus menjaga prilakunya. Bunda mengajarkan sopan santun padamu agar nantinya orang menilaimu gadis baik2.
Tidak mudah sayang menjaga harga diri wanita, apalagi dizaman sekarang. Bunda tidak ingin harga dirimu hancur karena pergaulan yg salah. Berteman boleh dengan siapapun, tapi kita harus punya batasan " jelasnya sambil membelai kepalaku.
Aku diam mendengarkan nasihat ayah dan bunda. Tidak ada yg salah dari perkataan mereka.
Aku berjanji dalam hatiku tidak akan membuat mereka kecewa. Aku akan menjaga baik2 harga diriku.
Semua nasihat akan aku simpan baik2 dikepalaku.
__ADS_1
***
Ervin memasukkan mobilnya kedalam garasi. Dia baru saja pulang bermain dengan teman2nya.
Dia memasuki rumahnya. Seorang pelayan menyambutnya diruang tamu.
"Baru pulang den " sapanya.
"Iya bi. Bibi belum tidur "?? tanyaku pada bi Minah. Dia sudah cukup lama bekerja dirumah ini. Aku sudah menganggapnya seperti orangtuaku sendiri.
" Belum, lagi nunggu den Ervin pulang " jawabnya.
"Memangnya ada apa bi, ko nungguin Ervin "?? tanyaku heran. Aku memang memintanya untuk tidak menungguku pulang jika sudah lewat dari jam 7.
" Itu den, nyonya tadi telfon ".
" Mommy telfon?? Tumben telfon kerumah, biasanya mommy telfon ke hanphone Ervin.
Terus mommy bilang apa bi "?? tanyaku lagi.
" Nyonya bilang dua minggu lagi pulang ke indonesia den. Tuan juga ikut pulang kemari ".
" Oh, ya sudah. Terima kasih bi.
Bibi istirahat aja ".
Setelah pamit, bi Minah meninggalkanku diruang tamu.
" Ada apa ya, tumben banget mommy sama daddy balik ke indonesia gk ngabarin gue langsung ".
Aku menaiki tangga lalu masuk kekamarku.
Tubuhku sudah sangat gerah karena sejak bolos sekolah tadi aku tidak ganti baju.
Aku masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
Setelah itu, aku berbaring diranjang, menatap langit2 kamarku.
" Gimana caranya ya gue bisa dapetin Ervina sebelum studytour??
Mana tu cewek galak banget lagi. Gengsi dong gue kalo sampe ditolak Ervina.
Duuh, pusing gue ".
Aku pusing sendiri memikirkan ide untuk mendekati Ervina.
" Apa gue tembak langsung aja ya???.
Eh, tapi jangan deh. Bisa2 abis gue diamuk sama tu cewek. Pasti dia bakalan ngucapin banyak sumpah serapah buat gue. Tapi lucu juga sih kalo liat dia marah. Ngegemesin gimana gitu ".
Aku tertawa sendiri mengingat kemarahan Ervina. Ntah kenapa aku gk bosen2nya gangguin dia. Aku terus memikirkan ide sampai akhirnya mataku terlelap.
__ADS_1